Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وحسن الظن هو الرجاء. فمن كان رجاؤه حاديا له على الطاعة، زاجرا له عن المعصية، فهو رجاء صحيح.

ومن كانت بطالته رجاء، ورجاؤه بطالة وتفريطا، فهو المغرور.

ولو أن رجلا له أرض يؤمل أن يعود عليه من مغلها ما ينفعه فأهملها، ولم يبذرها، ولم يحرثها، وأحسن ظنه بأنه يأتي من مغلها ما يأتي من حرث، وبذر، وسقى، وتعاهد الأرض، لعده الناس من أسفه السفهاء.

“Husnuzhan (berprasangka baik kepada Allah) itu adalah rajā’—harapan. Maka siapa saja yang harapannya mendorongnya untuk taat dan menghalanginya dari maksiat, maka itulah harapan yang benar.

Adapun siapa yang kemalasannya ia sebut sebagai harapan, dan harapannya justru melahirkan kemalasan serta kelalaian, maka dialah orang yang tertipu.”

Beliau melanjutkan: “Seandainya ada seorang laki-laki yang memiliki tanah, kemudian ia berharap akan mendapatkan hasil yang bermanfaat darinya, namun ia mengabaikannya; tidak menabur benih, tidak membajak, tidak mengairi, dan tidak merawatnya, lalu ia berprasangka baik bahwa tanah itu akan menghasilkan sebagaimana hasil dari tanah yang dibajak, ditanami, disirami, dan dirawat—niscaya orang-orang akan menganggapnya sebagai manusia paling bodoh di antara orang-orang bodoh.”

📚 Sumber: Ad-Da’u wad Dawa’, hlm. 85

 

━━━━━━━━━━━━━
📡 SALAFY CIREBON
━━━━━━━━━━━━━
📲 WA Official
📢 t.me/salafy_cirebon
🌐 www.salafycirebon.com
📊 Media Artikel & Faedah Ilmiah

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.