Sebagian pihak berdalil dengan QS. Maryam ayat 33 untuk membolehkan atau menganjurkan ucapan selamat Natal. Allah Ta‘ala berfirman:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihis salam) pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)

Jawaban atas syubhat tersebut :

1️⃣. Tidak ada dalil dari salaf.

Tidak ada satu pun dari salafush shalih yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal, padahal kaum Nasrani telah ada sejak masa mereka.

2️⃣. Tidak ada penafsiran ulama tafsir yang mendukung.

Tidak ada seorang pun dari ulama ahli tafsir yang menafsirkan ayat ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani.

3️⃣. Konsekuensi makna ucapan “selamat Natal”.

Ucapan selamat Natal secara implisit berarti pengakuan terhadap keyakinan bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan.

Kata Natal berasal dari bahasa Latin natalis yang berarti kelahiran. Secara istilah, Natal adalah peringatan kelahiran Isa Al-Masih, yang dalam ajaran Kristen dikenal sebagai Tuhan Yesus.
Dengan demikian, ikut mengucapkan selamat Natal berarti ikut mengakui dan membenarkan perayaan kelahiran Tuhan atau anak Tuhan — na‘ûdzu billâh.

4️⃣. Ayat ini justru menetapkan ‘ubudiyyah (penghambaan) Nabi Isa.

Ayat tersebut merupakan dalil bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam adalah hamba Allah, bukan Tuhan. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah:

إثبات منه لعبوديته لله عز وجل، وأنه مخلوق من خلق الله، يحيا ويموت ويبعث كسائر الخلائق

“Dalam ayat ini terdapat penetapan ‘ubudiyyah Isa kepada Allah, bahwa beliau adalah makhluk dari ciptaan Allah, yang hidup, mati, dan akan dibangkitkan sebagaimana makhluk lainnya.”

📘 (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5/230)

Maka ayat ini justru bertentangan dengan esensi perayaan Natal, yang merupakan ritual penghambaan dan penyembahan kepada Isa ‘alaihis salam.

5️⃣. Makna as-salâm bukan ucapan selamat
Kata السَّلامُ (as-salâm) dalam ayat ini bermakna keselamatan dari Allah, bukan ucapan selamat.
Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata:

والأمنة من الله عليّ من الشيطان وجنده يوم ولدت

“Makna salam dalam ayat ini adalah keamanan dari Allah atasku dari gangguan setan dan tentaranya pada hari aku dilahirkan.”

📘 (Jâmi‘ul Bayân fî Ta’wîlil Qur’ân, 15/533)

6️⃣ Salam itu ditujukan kepada siapa?

Sekalipun (secara hipotetis) salam diartikan sebagai ucapan selamat, maka ayat tersebut berbunyi:

السَّلامُ عَلَيَّ

“Salam atasku”

Artinya, salam tersebut ditujukan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, bukan kepada kaum Nasrani.

Jika seseorang ingin mendo’akan keselamatan bagi Nabi Isa ‘alaihis salam, maka hal itu boleh dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus dikaitkan dengan perayaan Natal atau dilakukan di hadapan orang Nasrani.

Kesimpulan:

Ayat QS. Maryam: 33 sama sekali bukan dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal atau ikut merayakan Natal.

 

🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴

 

📳 *WhatsApp Salafy Cirebon*
⏯ *Channel Telegram* || https://t.me/salafy_cirebon
📟 *Website Salafy Cirebon* :
www.salafycirebon.com

📊 _Menyajikan artikel Faidah ilmiah_

◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.