iman

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

🌏 Iman kepada Allah adalah iman kepada keesaan Allah, keesaan dalam kepemilikan terhadap alam semesta yakni bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- satu-satunya yang memiliki alam semesta ini, yang menciptakannya, dan yang mengatur segala urusannya. Inilah yang sering disebut dengan Tauhid Rububiyah.

🕋Termasuk iman kepada Allah adalah keimanan bahwa Allahlah satu-satunya yang berhaq untuk diibadahi. Setiap orang yang beriman  bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu di alam ini, yang menguasainya dan mengaturnya, maka semestinya dia hanya menghambakan diri  kepada-Nya.
📖 Dalam Al-Qur’an seringkali Allah menyebutkan perintah untuk beribadah dikaitkan dengan sifat Rububiyah-Nya, seperti Allah katakan :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.(Al-Baqarah :21-22)

✔ Di dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia untuk beribadah dengan mengingatkan mereka bahwa Allahlah yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, serta yang menciptakan langit dan bumi. Yang demikian adalah agar manusia sadar bahwa segala sesembahan yang lain adalah bathil dan tidak tepat untuk diibadahi karena mereka tidak menciptakan apapun dan tidak memiliki sesuatu apapun di alam ini dan tidak berkuasa sedikitpun dalam mengatur alam ini.  Allah -Ta’ala- berfirman :

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“Dan apa-apa yang mereka seru selain Allah, tidak dapat menciptakan sesuatu apapun, sedang mereka itu (sendiri) diciptakan”. (An-Nahl:20)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”. (Al-Haj:73)

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa`atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan”. (Al-Furqaan:3)

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ . أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ . أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Bahkan mereka tidak yakin (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thuur:35-37)

✔ Dengan demikian seorang yang beriman kepada Rububiyah Allah semestinya dia mengerti tentang betapa lemahnya makhluk-makhluk yang diibadahi itu, kalau dia memiliki iman bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu, maka semestinya dia beribadah hanya kepada-Nya. Karena tidak ada makhluk manapun yang memiliki kemampuan untuk menciptakan alam semesta ini, semestinya ia berdo’a kepada Allah Sang Pencipta (Al-Khaliq).

▶ Maka kita pertanyakan kepada mereka-mereka yang mengaku beriman bahwa Allah pencipta langit dan bumi tapi ternyata mereka meratap dan berdo’a kepada orang yang telah mati, beribadah kepada kuburan para wali dan mengharapkan keselamatan, kekayaan, jodoh dan hajat-hajat lainnya kepada tempat-tempat yang dianggap keramat.

❓Kita pertanyakan kepada mereka, apakah mereka beriman bahwa Allah satu-satunya pencipta langit dan bumi atau meyakini bahwa benda-benda itupun menciptakan?

❓Kita pertanyakan apakah mereka beriman bahwa Allahlah satu-satunya yang menentukan taqdir? Bahwa Allahlah yang menjadikan seluruh apa yang terjadi di alam ini? Atau mereka menganggap benda-benda tadi juga ikut andil dalam menentukan?
▶ Kalau mereka menjawab dengan jawaban pertama (yakni Allahlah satu-satunya yang menciptakan), semestinya mereka meminta hajat-hajatnya hanya kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- saja. Kalau jawabannya jawaban kedua (yakni benda-benda itupun menciptakan), maka ia telah kafir, murtad keluar dari Islam.
Alhamdulillah kenyataannya hampir seluruh mereka menyatakan dengan tegas bahwa Allahlah satu-satunya yang menciptakan langit dan bumi dan apa saja diantara keduanya. Mereka meyakini bahwa Allahlah yang menentukan taqdir dan seluruh apa yang terjadi di alam ini.

❓Maka pertanyaan selanjutnya; mengapa mereka masih tetap berdo’a dan meminta kepada orang-orang yang telah mati, kuburan-kuburan para wali, dan lain-lain? Apakah mereka gila (stress)? atau tidak memahami apa-apa yang diucapkannya? atau mungkin mereka orang yang kesurupan berbuat tanpa sadar apa-apa yang menyelisihi keyakinannya?
Allah  berfirman :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ . اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak berakal”. (Al-‘Ankabuut:61-63)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah segala yang kamu seru selain Allah dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (Az-Zumar:38)

❓❓Mengapa mereka tidak memahami ayat-ayat diatas kepada jimat-jimat mereka, tempat keramat mereka dan kuburan para wali mereka? Mengapa mereka tidak mengatakan seperti ayat diatas: “Kalau Allah menghendaki aku dengan kebaikan, apakah jimat-jimat itu bisa menghalanginya?!” atau “Kalau Allah menghendaki aku dengan kejelekan, apakah tempat-tempat keramat dan kuburan-kuburan itu dapat menghalanginya?!”

✔ Kembali kita ke masalah iman, bukankah yang namanya iman mencakup keyakinan, ucapan, dan perbuatan? Maka dalam keimanan pada Rububiyahpun harus ada konsekuensi dalam bentuk amal perbuatan. Dan konsekuensi dari beriman dengan Rububiyah  adalah; seorang hamba harus menghambakan dirinya kepada-Nya, berdo’a dan ber-istighosah hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain.
☝🏼Mengesakan Allah dalam beribadah inilah yang dikatakan Tauhid Uluhiyah.

📇 Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi 19/th.IV 03 Jumadil Ula 1429 H / 09  M e i 2008 M

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.