Hukum Membatalkan Puasa Sunnah

🔷🔷 HUKUM MEMBATALKAN PUASA SUNNAH

💫💫 Oleh Syaikh Al ‘Allamah Al Faqih Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ta’ala.

🖋🖋 Soal:
Apakah boleh orang yang berpuasa sunnah untuk membatalkan puasanya kapan saja ia mau?

✅✅ Jawab:
Iya, boleh baginya untuk membatalkan puasanya.

🌴 Akan tetapi, yang lebih utama ialah menyempurnakan puasanya.

🌷 Kecuali, ada hal-hal yang menyebabkan ia perlu untuk berbuka, seperti: memuliakan tamu, cuaca yang sangat panas dan yang semisalnya.

🌄 Hal ini karena telah datang hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menunjukkan apa yang telah kami sebutkan di atas. Hanya Allah-lah yang memberikan taufiq.

📚📚 Majmu’ Fatawa: 15/421.

==========

📜 حكـم قـطع صـيام التطـوع

❉ للشيخ العـلامة الفـقيه ❉
عبـد العـزيز بن عـبد الله بن بـاز
-رَحِـمَهُ اللهُ تَعَـالَى-

❪✵❫ السُّـــ↶ــؤَال ُ:

ﻫﻞ ﻳﺠـﻮﺯ ﻓـﻲ ﺻـﻴﺎﻡ اﻟﺘﻄـﻮﻉ ﺃﻥ ﻳﻔـﻄﺮ اﻟﺼـﺎﺋﻢ ﻣﺘـﻰ ﺷـﺎء؟

❪✵❫ الجَــ↶ـــوَابُ :

◉ ﻧﻌـﻢ ﻳﺠـﻮﺯ ﻟـﻪ ﺫﻟـﻚ ، ﻟﻜـﻦ اﻷﻓـﻀﻞ ﻟـﻪ ﺃﻥ ﻳـﻜﻤﻞ اﻟﺼـﻴﺎﻡ ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜـﻮﻥ ﻫﻨـﺎﻙ ﺣﺎﺟـﺔ ﻟـﻹﻓـﻄﺎﺭ ، ﻛـﺈﻛـﺮاﻡ ﺿـﻴﻒ ﺃﻭ ﺷـﺪﺓ ﺣـﺮ ﻭﻧﺤـﻮ ﺫﻟـﻚ

☜ ﻷﻧـﻪ ﺛﺒﺖ ﻋـﻦ اﻟﻨﺒـﻲ ﺻﻠـﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠـﻴﻪ ﻭﺳـﻠﻢ ؛ ﻣـﻦ ﺣـﺪﻳﺚ ﻋـﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿـﻲ اﻟﻠﻪ ﻋـﻨﻬﺎ ؛ ﻣـﺎ ﻳـﺪﻝ ﻋﻠـﻰ ﻣـﺎ ﺫﻛـﺮﻧﺎ. ﻭاﻟﻠﻪ ﻭﻟـﻲ اﻟﺘـﻮﻓـﻴﻖ.

📚 المصـدر : 〘مجمـوع فـتاوى〘15/421〙

➖➖➖

🌎 WhatsApp Salafy Cirebon
⏯ Channel Telegram || https://t.me/salafy_cirebon

📳 Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️

Hukum Bercanda

🏞🌅🌌 MENJAUHI CANDAAN DAN HIBURAN

✍ Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H) rahimahullah berkata di dalam Al-Fath (2/443) :

Candaan dan hiburan, hukum asalnya adalah dijauhi. Sehingga hendaknya seseorang membatasinya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh dalil, baik dari sisi waktu maupun sifatnya, untuk memperkecil penyelisihan terhadap hukum asal. Wallahu a’lam.”

‏قال الحافظ ابن حجر العسقلاني (ت: ٨٥٢ ه) في الفتح (٤٤٣/٢):
“والأصل التنزه عن اللعب واللهو فيقتصر على ما ورد فيه النص وقتا وكيفية تقليلا لمخالفة الأصل، والله أعلم”.

🌍 Sumber : https://twitter.com/athar_fawaid?/status/1068567350146940928

➖➖➖

🌎 WhatsApp Salafy Cirebon
⏯ Channel Telegram || https://t.me/salafy_cirebon

📳 Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah

◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻

Hukum Mengucapkan Selamat Natal / Nyepi / Waisak / Imlek / Valentine Day?

Soal:

Apa hukum mengucapkan selamat untuk orang kafir yang merayakan hari raya keagamaannya?

Jawab:

Seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat hari raya untuk perayaan ‘Ied (hari raya) keagamaan orang-orang kafir.

Sebab, hal itu termasuk bentuk keridhaan terhadap kebatilan mereka dan membuat mereka senang.

Kata Ibnul Qayyim rahimahullah, ‘Adapun ucapan selamat untuk syiar-syiar khusus kekafiran, hal itu haram menurut kesepakatan alim ulama. Misal: ucapan selamat kepada orang kafir dalam perayaan ‘Ied (hari raya) mereka dan puasa mereka, dengan mengucapkan, ‘Semoga menjadi ‘Ied yang penuh berkah atasmu,’ ‘Selamat buatmu dengan ‘Id ini,’ atau semisalnya.

Hal itu, andaikan orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, setidaknya tergolong perkara haram. Sederajat dengan mengucapkan selamat atas perbuatan sujud kepada salib.

Hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, pembunuhan, perzinaan, dan semisalnya. Banyak orang yang tidak menghargai agama ini terjatuh dalam hal semacam itu, tanpa tahu betapa buruk perbuatan tersebut.

Barangsiapa mengucapkan selamat untuk seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kufur, sesungguhnya dirinya terancam dengan murka Allah‘azza wa jalla.” […]

Mengamalkan Satu Bid’ah Berarti Meninggalkan Satu Amalan Sunnah

🕌🌷 SUNNAH YANG DITINGGALKAN DENGAN SEBAB MENGADAKAN MAULID NABI

🎙 Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahulloh

❓ Pertanyaan :

Wahai Syekh, semoga Allah memberikan pahala kepada Anda, Anda pernah menyebutkan bahwasanya tidaklah diadakan suatu kebid’ahan melainkan akan ditinggalkan sunnah yang semisalnya -perkataan salaf. Maka sunnah yang mana yang ditinggalkan dengan sebab diadakannya bid’ah acara maulid nabi?

👍💡Jawaban : […]

Hukum Makan Daging Biawak

Alhamdulillah. Biawak dalam bahasa Arab disebut waral. Binatang ini adalah jenis binatang melata, termasuk golongan kadal besar dan sangat dikenal di negeri ini. Hidupnya di tepi sungai dan berdiam dalam lubang di tanah, bisa berenang di air serta memanjat pohon. Binatang ini tergolong hewan pemangsa dengan gigi taringnya yang memangsa ular, ayam, dan lainnya.1 Ada biawak yang lebih besar dan lebih buas, disebut komodo.

Dengan demikian, biawak haram dimakan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ
“Seluruh binatang pemangsa dengan gigi taringnya maka haram memakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Terdapat hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta lainnya.
Jangan disangka bahwa biawak (waral) adalah dhab (hewan mirip biawak) yang halal. Dhab dihalalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana dalam hadits Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘ahu:
“Ia masuk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke rumah Maimunah, lalu disajikan daging dhab panggang. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjulurkan tangannya (untuk mengambilnya). Berkatalah sebagian wanita (yang ada di dalam rumah), ‘Beritahu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apa yang akan dimakannya.’ Mereka lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah daging dhab.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menarik kembali tangannya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah binatang ini haram?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tetapi binatang ini tidak ada di tanah kaumku sehingga aku merasa jijik padanya’.” Khalid berkata, “Aku pun mencuilnya dan memakannya sementara Rasulullah n memerhatikanku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim serta lainnya) […]

💧🌊🌧❄ HUKUM HEWAN AIR

💎 Fawaid Fiqhiyyah

💧🌊🌧❄ HUKUM HEWAN AIR

✍ Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :

💦 Sesungguhnya seluruh ikan yang kecil ataupun yang besar (seperti ikan paus) halal berdasarkan keumuman sabda Nabi : “halal bangkainya”(1). Lafaz “bangkai” di sini bentuknya tunggal dan disandarkan kepada lafaz lain, maka ia mencakup seluruh hewan air secara umum.

💦 Oleh karena itu, setiap bangkai hewan laut seperti ikan yang kecil ataupun yang besarnya adalah halal. Apakah ia suci atau tidak suci? Ia suci. Dari mana kita bisa mengetahui kesuciannya? Dari sisi kehalalannya. Kita memiliki kaidah yang bermanfaat yaitu :

✅ Sesungguhnya setiap sesuatu yang halal itu suci, tetapi tidaklah setiap sesuatu yang suci itu halal.

✅ Setiap sesuatu yang najis itu haram, tetapi tidak setiap sesuatu yang haram itu najis.

📚 Fathu Dzil Jalali wal Ikram (1/60) […]

Hukum Wanita Haid Membaca Al Quran dan Kitab Berisi Doa-Doa

📖👓APAKAH BOLEH WANITA HAIDH MEMBACA KITAB YANG BERISI DOA-DOA❓

▪ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Hukum wanita haidh dan nifas membaca kitab doa-doa yang mengandung ayat-ayat al Qur’an?

Jawaban:
Tidak mengapa wanita haidh dan nifas membaca doa-doa yang tertulis di petunjuk manasik haji. Boleh juga ia membaca al Qur’an menurut pendapat yang benar. Karena tidak adanya dalil shahih yang dengan tegas menyebutkan wanita haidh dan nifas terlarang membaca al Qur’an. Yang ada hanyalah penyebutan secara khusus orang yang junub tidak boleh membaca al Qur’an ketika ia junub, berdasarkan hadits Sahabat Ali Radhiyallahu ‘Anhu Waardhahu. Adapun wanita haidh dan nifas maka keduanya tersebut dalam hadits Sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma: Janganlah orang yang haidh maupun junub membaca sedikitpun dari al Qur’an. Namun hadits ini dhaif (lemah) dikarenakan hadits ini dari riwayat Isma’il bin ‘Iyas dari al Hijaziyyin dan ia seorang yang lemah dalam meriwayatkan dari jalan para perawi ini.

Hanya saja wanita haidh dan nifas ini membacanya dengan hafalan tanpa menyentuh mushaf al Qur’an.

Adapun orang yang junub, maka tidak boleh ia membaca al Qur’an baik dengan hafalan maupun melalui mushaf al Qur’an hingga ia mandi junub.”

📙Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 10/209 […]

BOLEHKAH NADA DERING DENGAN SUARA ADZAN DAN BOLEHKAH PROGRAM AL-QUR’AN DI HANDPHONE

💡🔆🔆💡

🎓 Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary hafizhahullah;

🔒 Pertanyaan:
Apa hukum menginstall suara adzan di handphone untuk mengingatkan waktu shalat atau untuk membangunkan dari tidur dan yang semisalnya?

🗝 Jawaban:
Jangan engkau lakukan!..
Saya katakan: jangan lakukan hal ini! Adzan adalah ibadah. Terkadang suara adzan muncul dan meninggi, yaitu suara di HP, padahal engkau sedang berada di WC atau kamar kecil atau selainnya. Jika engkau ingin bangun maka jadikanlah sesuatu untuk mengingatkanmu! Kenapa harus dengan suara adzan?! Jelas? Ini merupakan kesalahan, baarakallahu fiikum. […]

Hukum Mengucapkan Selamat Ied dengan: “Semoga Setiap Tahun Anda dalam Keadaan Baik”

Fatwa ulama terkait Hukum Mengucapkan Selamat Ied dengan: “Semoga Setiap Tahun Anda dalam Keadaan Baik”

Fatwa Syaikh al-Albâni rahimahullâh

Apa hukum mengucapkan selamat dengan: “Semoga setiap Tahun Anda dalam Keadaan Baik” (كل عام وأنتم بخير)

🎙 Al-Imâm al-Albâni rahimahullâh berkata : “Ucapan (كل عام وأنتم بخير) tidak ada dasarnya. Cukup untukmu (mengucapkan): “Semoga Allah menerima amal ketaatanmu.”

Adapun (كل عام وأنتم بخير) ini adalah salam penghormatan orang-orang kafir yang datang kepada kita, kaum muslimin, di saat kita lalai. Dan berilah peringatan, sebab sungguh peringatan itu bermanfaat bagi kaum mukminin.”

(Sumber : Silsilah al-Hudâ wan Nûr kaset no. 323) […]

Bolehkah Menikah dengan Anak Tiri Ayah?

Pertanyaan:  Ayah saya menikah dengan seorang wanita yang memiliki anak perempuan yang masih menyusu. Setelah pernikahannya dengan ayah saya, wanita tersebut menyapih anak perempuannya. Ayah saya berkeinginan kelak bila anak perempuan tersebut telah besar, ia hendak menikahkan saya dengannya. Pertanyaannya, apakah hal tersebut dibolehkan bagi saya?

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin  menjawab:

Boleh ia menikah dengan anak perempuan yang merupakan rabibah (anak tiri/anak istri) ayahnya tersebut. Boleh bagi anak laki-laki suami menikah dengan rabibah ayahnya.

Yang menjadi kaidah di sini, pernikahan yang diharamkan dalam hubungan mushaharah atau hubungan yang terjalin karena pernikahan seorang pria dengan seorang wanita adalah ushul dan furu’ [1] istri bagi si suami secara khusus dan tidak bagi kerabat suami [2]. Demikian pula ushul dan furu’ suami menjadi haram untuk menikahi si istri secara khusus dan tidak haram untuk menikahi kerabat si istri. Akan tetapi, tiga golongan darinya, diharamkan dengan semata-mata akad, sedangkan satu golongan lagi harus disertai dengan dukhul [3], dengan perincian sebagai berikut: […]