Tips Menumbuhkan Ikatan yang Kuat Antara Orang Tua dengan Anak-anak

Asy Syaikh Fawwaz Al Madhkhali حفظه الله berkata:

Tiga pertanyaan, tanyakanlah ketiganya kepada anak Anda setiap hari;

  • Apa yang membuatmu senang hari ini?

  • Apa yang membuatmu sedih hari ini?

  • Adakah hal baru yang kamu pelajari hari ini?

Percakapan seperti ini akan membantu anak Anda untuk membuka hatinya dan mulai membuka pembicaraan tentang apa yang ia alami sepanjang hari.

Maka sudah seharusnya bagi Anda untuk diam dan mendengarkannya dengan baik juga menampakkan kegembiraan ketika anak Anda menceritakan hal menyenangkan yang ia alami.

Bersamaan dengan itu, tampakkanlah kesedihan ketika ia menceritakan hal tidak menyenangkan yang ia alami.

Tampakkanlah rasa bangga tatkala anak Anda menceritakan hal-hal baru yang telah ia pelajari.

Percakapan seperti ini akan bermanfaat bagi anak-anak Anda dari beberapa sisi:

👉 Anak Anda akan belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang lain melalui tanya jawab
👉 Metode ini akan membantu Anda untuk mengetahui apa yang anak Anda alami sepanjang hari
👉 Akan menanamkan pada diri anak Anda kecintaan terhadap belajar dan bahwasanya setiap hari ada hal baru yang bisa ia pelajari
👉 Melalui metode percakapan ini, Anda akan mengajarinya tata cara mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan baik
👉 Memungkinkan Anda untuk mengajarinya wajibnya bersyukur kepada Allah atas segala hal menyenangkan yang ia alami tiap hari. Dan mengajarinya untuk berdoa dan tadharru’ (merendah diri) kepada Allah agar menjauhkannya dari hal-hal yang membuat ia sedih.

  • Terkadang hati terasa letih dalam mendidik anak-anak.
  • Dan diri ini menderita karena kedurhakaan mereka.
  • Yang mana semua itu dapat menimbulkan kesedihan dan gundah gulana bagi orang tua.

Berkata Al ‘Allamah Ibnul Qayyim رحمه الله: “Sesungguhnya diantar dosa-dosa ada yang bisa dihapuskan karena kesedihan terhadap anak. Maka selamat bagi siapapun yang perhatian terhadap pendidikan anaknya di atas apa yang Allah cintai dan ridhai. Selamat atas kalian karena telah menempuh jalan yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Kalaupun kalian mendapati perkara yang membuat kalian capek dalam mendidik anak-anak maka istaghfiruu rabbakum (mintalah ampun kepada Rabb kalian)”

Muqatil bin Sulaiman رحمه الله menemui Al Manshur ¹ رحمه الله.

Al Manshur: “Nasihati aku, wahai Muqatil.”

Muqatil: “Aku menasihati Anda pada perkara yang aku lihat dari Anda atau pada perkara yang aku dengar tentang Anda?”

Al Manshur: “Pada apa yang engkau lihat dariku.”

Muqatil: “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz memiliki sebelas anak. Ia meninggalkan18 dinar. Ia dikafani dengan 5 dinar dan dibelikan tanah kuburan dengan 4 dinar. Lalu sisanya dibagikan kepada anak-anaknya.”

Dan Hisyam bin ‘Abdul Malik juga memiliki 11 anak. Dan bagian (warisan) untuk setiap anaknya adalah 1 juta dinar.

Demi Allah, wahai Amirul mukminin, suatu hari aku melihat salah seorang anak ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menyedekahkan 100 ekor kuda untuk berjihad di jalan Allah, sedangkan salah seorang anak Hisyam meminta-minta di pasar.

Manusia bertanya kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz saat ia di atas ranjang kematian (sebelum meninggal);
Apa yang Anda tinggalkan untuk anak-anak Anda, wahai ‘Umar?

‘Umar : Aku tinggalkan buat mereka ketaqwaan kepada Allah. Kalau mereka shalih, maka Allah yang akan menjadi penolong orang-orang shalih.
Kalau mereka tidak demikian, maka aku enggan untuk meninggalkan bagi mereka sesuatu yang akan membantu mereka untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala.

Maka renungkanlah, . . .

Banyak diantara manusia yang berusaha dan bersusah payah untuk mengamankan masa depan anak-anaknya dengan sangkaan bahwasanya adanya harta di tangan anak-anaknya setelah kematiannya adalah keamanan bagi mereka.

Ia lalai dari keamanan agung yang Allah sebutkan dalam kitabNya

(وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)

_Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar._ (An Nisa : 9)

Maka renungkanlah baik-baik.

📎 Sumber :
https://telegram.me/hamasatnisaia

https://telegram.me/pendidikansalaf

➖➖➖➖➖➖
¹ Al Manshur, nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Al Manshur. Khalifah pertama dinasti ‘Abbasiyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *