Tetap Sabar dan Istiqomah Saat Musibah Datang

tsunami di teluk palu sulawesi tenggara

(Audio & Transkrip) Teleconference Taushiyah Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed untuk Ikhwah Palu Sulteng

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين و تابع التابعين و من تابعهم بإحسان إلى يوم الدين
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴبا
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

 

Ikhwan fiddin a’azzakumullah, kaum muslimin rahimani wa rahimahullah

Kita sudah mendengar dan mengalami apa yang teradi pada saudara-saudara kita, pada kita di beberapa tempat yaitu musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin. Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman
ما أَصابَ مِن مُصيبَةٍ إِلّا بِإِذنِ اللَّهِ
“Tidaklah menimpa manusia satu musibah kecuali dengan izin Allah.” (QS. At Taghaabun: 11)
وَمَن يُؤمِن بِاللَّهِ يَهدِ قَلبَهُ
Siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk pada hatinya.
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيءٍ عَليمٌ
“Dan Allah atas segala sesuatu Maha Mengetahui.”

Kaum muslimin rahimani wa rahimahullah,
Ayat ini memberikan kepada kita sekian pelajaran, banyak faidah-faidah yang Allah berikan kepada kita dengan kalimat yang ringkas dalam ayat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- di surat At Taghaabun: 11.
Pertama, Allah katakan
ما أَصابَ مِن مُصيبَةٍ إِلّا بِإِذنِ اللَّهِ
“Tidaklah menimpa seseorang, menimpa satu kaum satu musibah kecuali biidznillah.”
Biidznillah.. dengan izin Allah maksudnya dengan takdir Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
“Bi qodhoihi wa qodarihi” dengan keadilan Allah, dengan hikmah Allah. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- merencanakan sesuatu. Dan Allah Maha Adil Maha Memiliki Hikmah.
Kemudian, disambung oleh Allah dengan kalimat
وَمَن يُؤمِن بِاللَّهِ يَهدِ قَلبَهُ
“Siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk pada hatinya.”

Makna ayat ini disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas -radhiallahu ta’ala ‘anhuma- yakni biidznillah; biamrillah dengan perintah Allah.. Dengan takdir-Nya.. Dengan kehendak-Nya.
Sedangkan makna barangsiapa yang beriman kepada Allah yakni..
من أصابته مصيبة فعلم أنها بقضاء الله وقدره ، فصبر واحتسب جزاه الله بهدايته

Yang maknanya; Barangsiapa yang ketika ditimpa musibah, dia tahu dengan yakin dengan keimanan bahwa ini dengan takdir dari Allah, kemudian dia sabar dan menerima apa yang Allah takdirkan, mengharapkan pahala dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- maka niscaya Allah akan memberikan pahala dalam bentuk hidayah… hidayah di dalam hatinya.

Dan hidayah sangat berharga. Hidayah sangat penting. Karena hidayah itu merupakan petunjuk di dunia agar ia selamat dari penyimpangan dan selamat dari azab Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

Maka Kaum muslimin rahimani wa rahimahullah,

Hidayah adalah ashlu kulli sa’adah.. bimbingan hidayah merupakan dasar segala macam kebahagiaan. Kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.
وقد يخلف الله عليه في الدنيا ما كان أخذه …

Dan bisa jadi pula Allah akan gantikan nanti apa yang hilang dari kita. Artinya bukan hanya pahala dari sisi Allah -Subhanahu wa Ta’ala- atas kesabarannya, tetapi juga mendapatkan gantinya dengan izin Allah -Subhanahu wa Ta’ala- di dunia ini insya Allah.
وقد يخلف الله عليه..

Dan kadang Allah gantikan dengan yang lebih baik dan lebih barakah.
Atau bahkan yang lebih banyak. Ini ucapan para Ulama –rahimahullah- tentang ayat
ومن يؤمن بالله يهد قلبه

Siapa yang beriman kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- maka Allah akan berikan petunjuk pada hatinya.
Juga dikatakan oleh Al Qomah –rahimahullah- bahwa makna ayat ini adalah
هو الرجل تصيبه المصيبة ، فيعلم أنها من عند الله
“Ayat ini bermakna siapa yang ditimpa musibah kemudian dia sadar kalau ini dari Allah dan dia menerima, artinya tidak mengeluh, tidak menggerutu atau bahkan menyalahkan takdir Allah atau menganggap Allah tidak adil atau menganggap Allah kejam dan sebagainya dengan su’udzon dengan buruk sangka, maka orang ini dalam keadaan tidak menerima apa yang Allah takdirkan.

Kata Al Qomah –rahimahullah- bahwa makna ayat
ومن يؤمن بالله يهد قلبه

Siapa yang beriman kepada Allah, Allah akan berikan petunjuk pada hatinya.
Karena ayat ini setelah bicara musibah, maka maknanya berimana kepada Allah adalah beriman bahwa musibah itu takdir dari Allah yang harus diterima dengan ikhlas dan sabar. Dengan mengharapkan pahala di sisi-Nya.
Maka kata Al Qomah
هو الرجل تصيبه المصيبة ، فيعلم أنها من عند الله
Ayat ini berkait dengan seseorang ketika ditimpa musibah dia mengetahui dengan hatinya bahwa itu dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- kemudian
فيرضى ويسلم
Kata beliau. فيرضى ويسلم maknanya ridha dan menerima.
Barakallahu fiikum, Kaum muslimin rahimani wa rahimahullah,
Sehingga musibah ini kadang bagi sebagian orang bisa azab karena dosa-dosanya, kesyirikannya, kesesatannya maka Allah timpakan azab baginya.
Bisa pula jadi ujian bagi mereka-mereka yang memiliki iman dan mereka dalam keadaan mengikrarkan;
أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
juga bertekad mengatakan dihadapan Allah
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162).
Ini seakan-akan ikrar itu harus dibuktikan. Yakni kalimat-kalimat yang ada di mulut kita, kalimat “kami beriman”.. “kami percaya”… Kami semuanya hidup untuk Allah, Allah akan uji apakah dia jujur ucapannya atau dusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
الم * أَحَسِبَ النّاسُ أَن يُترَكوا أَن يَقولوا آمَنّا وَهُم لا يُفتَنونَ
Kata Allah : Alif lam mim.. apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan menyatakan kami beriman tanpa diuji.
Artinya siapa yang menyatakan beriman akan datang ujian. Dan ujiannya berbeda-beda sesuai dengan kadar keimanannya.

Maka antum wahai kaum muslimin kaum mukminin berarti memiliki iman yang tinggi, Allah uji dengan ujian yang berat. Dengan musibah bencana yang mengerikan, berarti Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bahwa di antara kalian ada sebagian mereka memang pantas diuji dengan seberat ini, maka berhusnudzonlah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, berbaik sangkalah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, karena Allah -Subhanahu wa Ta’ala-
إن الله إذا أحب عبدًا ابتلاه
Allah kalau mencintai seseorang hamba-Nya, Allah akan uji dia.
Sehingga justru ujian yang paling berat adalah ujiannya para anbiya (para nabi).

Bukan berarti siapa dicintai tidak akan ditimpa musibah, itu pemahaman yang keliru. Justru dunia ini darrul ibtila’, dunia ini adalah tempat ujian. Ujian kadang dengan kebaikan kadang dengan kejelekan. Ada orang yang diuji dengan musibah-musibah petaka-petaka, ia bisa sabar. Ternyata ketika diuji dengan melimpahnya harta meluasnya harta tiba-tiba dia menyimpang, sesat keluar dari agama. Atau menyimpang dari sunnah ila akhirihi.

Ini berarti dia kalah dalam ujian berupa kenikmatan-kenikmatan dan kekayaan dunia. Tetapi adapun mukmin yang hakiki orang yang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya maka dia akan berjalan dengan dua syukur dan sabar. Diuji dengan kebaikan-kebaikan syukur. Diuji dengan kejeleken-kejelekan sabar, karena dia tahu semua itu dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Karena dia tahu semua itu dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- maka ketika diberi kebaikan-kebaikan yang sangat banyak maka dia akan berkata
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini fadhilah dari Allah, untuk menguji aku, apakah aku syukur atau kufur.“

Demikian pula sebaliknya ketika dia diuji dengan kejelekan-kejelekan malapetaka dan bencana dia akan berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un kami milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita jangan merasa memiliki. Kita dan semuanya yang kita punya, semuanya milik Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Kita lahir dalam keadaan tidak memiliki apapun. Bahkan tidak berpakaian sedikitpun. Tidak beralas kaki. Tidak mempunyai apa-apa. Kemudian Allah berikan pakaian, Allah berikan alas kaki, Allah berikan rezeki, Allah berikan kebaikan sampai dia punya ini punya itu, setelah itu Allah cabut kembali dalam satu musibah. Allah uji apakah dia sabar dan menyatakan kami dari Allah, maka kalau Allah ambil kembali kami ikhlas dan ridha.
Atau jadi orang yang menyalahkan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersu’udzan berburuk sangka dan mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak pantas bagi Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berarti dia gagal dalam ujian. Berarti imannya bukan iman yang kokoh. Imannya rapuh. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah menyatakan dengan kalimat
الم * أَحَسِبَ النّاسُ أَن يُترَكوا أَن يَقولوا آمَنّا وَهُم لا يُفتَنونَ
“Alif lam mim.. apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan menyatakan kami beriman tanpa diuji. “
Allah katakan di ayat berikutnya
وَلَقَد فَتَنَّا الَّذينَ مِن قَبلِهِم ۖ فَلَيَعلَمَنَّ اللَّهُ الَّذينَ صَدَقوا وَلَيَعلَمَنَّ الكاذِبينَ
Kata Allah -Subhanahu wa Ta’ala- : Dan sungguh kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Allah pasti tahu Maha Tahu siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.

Kaum muslimin rahimani wa rahimahullah,

Termasuk di dalam kesabaran dalam menghadapi ujian dan musibah serta bencana adalah sabar untuk tetap di atas sunnah. Sabar untuk tetap di atas hukum-hukum Allah. Kalau perkara itu perkara yang haram..tetap haram. Kalau perkara itu perkara yang jelek… tetap jelek. Maka hendaklah kita hindari yang haram dan jelek. Hendaklah kita mencari yang halal. Ini dalam keadaan sebelum ada darurat yang sangat. Tetapi kalau ada darurat memang dikatakan
الضرورات تبيح المحظورات
darurat membolehkan apa yang tidak boleh. Tetapi ada batasnya, ada kadarnya. Artinya dalam kaidah ushuliyin, dalam kaidahnya ahli ushul, disebutkan
الضرورة تقدر بقدرها
faedahnya al dhoruroh yang namanya darurat “tuqoddar bi qodariha” diukur sekadarnya.

Kalau dia kelaparan ya ambil secukupnya sampai hilang laparnya. Kalau dia kehausan dia ambil walaupun itu punya siapa sekadar menghilangkan dahaganya. Setelah itu kembali hukumnya menjadi hukum asalnya bahwa apa yang bukan miliknya itu bukan haknya dan haram diambil tanpa izin pemiliknya. Itu satu contoh.
Contoh lainnya, Nas’alullah as salamah wal ‘afiah, bahwa kaum muslimin dalam keadaan dia lapar kadang-kadang mereka lupa dengan saudaranya. Padahal di antara keistimewaan kaum muslimin sebagaimana digambarkan Allah dalam Al Quran ketika menceritakan kaum Anshar. Bahwa mereka
يُؤثِرونَ عَلىٰ أَنفُسِهِم وَلَو كانَ بِهِم خَصاصَةٌ
Mereka mementingkan saudaranya dalam keadaan dirinya butuh. (QS Al Hasyr: 9)
Ini keistimewaan kaum Anshor yang dipuji oleh Allah dalam Al Quran dalam surat Al Hasyr: 9.
وَالَّذينَ تَبَوَّءُوا الدّارَ وَالإيمانَ مِن قَبلِهِم
“Yakni orang-orang yang kedapatan tempat yaitu adalah kaum anshar.”
Allah katakan
يُحِبّونَ مَن هاجَرَ إِلَيهِم
Mereka mencintai orang-orang yang hijrah di antara mereka. Sampai pada kalimat
وَيُؤثِرونَ عَلىٰ أَنفُسِهِم وَلَو كانَ بِهِم خَصاصَةٌ
Mereka mementingkan saudaranya dalam keadaan dirinya butuh.

Maka hendaklah walaupun dalam keadaan yang berat semoga Allah memberikan jalan keluar yang baik. Walaupun keadaan yang susah semoga Allah memberikan kebaikan, memberikan jalan keluar dan kemudahan. Walaupun dalam keadaan susah jangan lupa adab Islam tetap dipegang. Akhlak yang mulia tetap dipegang. Seorang mukmin tetap mukmin dengan ujian apapun. Ujian yang berat atau ujian yang kebaikan. Apakah ujian kekayaan ataukan ujian kemiskinan atau musibah-musibah yang menimpanya, dia tetap dalam keadaan mukmin dengan akhlak seorang mukmin;
– Sabar.
– Mementingkan saudaranya.
– Tidak egois.
– Tidak kemudian hasad dan dengki.
Ini tetap harus dijaga.
Akhlak Islam jangan diubah. Kenapa ketika kita dalam keadaan cukup kita di atas sunnah -masya Allah-.. ketika kita tertimpa musibah kita jadi orang yang lain. Berebut, hasad, dengki, tidak mementingkan orang lain, egois yang penting saya ila akhirihi..

Berarti dia kurang sabar (Saya tidak bilang tidak sabar. Kurang sabar). Artinya kesabarannya kurang sempurna. Karena kesabaran yang sempurna adalah dia tetap dalam kaidah-kaidah Islam. Tetap dalam akhlak Islam. Dan tetap dalam sunnah nabawiyah.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- akan memberikan kabar gembira bahkan Allah sudah memberikan kabar gembira wabasysyirish shobiriin.. beritakan kabar gembira.
Kepada siapa? Kepada orang-orang yang sabar.
الَّذينَ إِذا أَصابَتهُم مُصيبَةٌ قالوا إِنّا لِلَّهِ وَإِنّا إِلَيهِ راجِعونَ
(QS. Al Baqarah: 156)
yaitu kalau ditimpa musibah, dia berkata: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” kami dari Allah dan kami akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata Allah, lihat janji-Nya
أُولٰئِكَ عَلَيهِم صَلَواتٌ مِن رَبِّهِم
(QS. Al Baqarah: 156)

Allah akan berikan kepada mereka shalawat. Dibanggakan oleh Allah di hadapan para Malaikat, lihat hamba-Ku, aku timpakan bencana mereka tetap sabar. Lihat hamba-Ku, Aku timpakan pada mereka tsunami, zilzal, kegoncangan, kehancuran, tapi mereka tetap memujiku. Dibanggakan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- di yaumil qiyamah di hadapan para Malaikat-Nya. Wa rahmah dan Allah berikan rahmat. Allah sayangi.

Wallahi kita disayangi orang tua kita, kita bahagia. Apalagi disayangi oleh Allah Rabbul ‘alamin. Allah pencipta langit dan bumi yang memiliki semua alam ini. Yang memiliki surga dan neraka. Kalau Allah sayang pada kita, Allah akan selamatkan kita dari api neraka dan Allah akan masukkan kita dalam jannah-Nya dan keridhaan-Nya.
Masih ada yang ketiga,
وَأُولٰئِكَ هُمُ المُهتَدونَ
Mereka akan mendapatkan bimbingan hidayah.
Perhatikan ayat ini dengan ayat yang tadi yang sedang kita bahas.
وَمَن يُؤمِن بِاللَّهِ يَهدِ قَلبَهُ
“Siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan hidayah pada hatinya.”
Sama. Di dalam ayat ini,
وَبَشِّرِ الصّابِرينَ
Diakhiri dengan kalimat
وَأُولٰئِكَ هُمُ المُهتَدونَ
Mereka yang mendapatkan hidayah.

Sedangkan dalam ayat yang tadi surat At Taghabuun, siapa yang beriman kalau musibah itu dari Allah maka niscaya Allah akan berikan hidayah dalam hatinya.

Ikhwan fiddin a’azzakumullah, kaum muslimin rahimani wa rahimahullah

Tidak kita bantah tidak kita nafikan, kalau kejadian alam itu bisa dinalar sebab akibatnya. Kita tahu ada sebab akibat, kalau begini akan terjadi begitu. Kalau begitu akan terjadi begini. Kalau goncang maka air akan datang ke darat. Itu iya. Tetapi siapa yang menciptakan sebab dan musababnya? Allah.

Siapa yang menakdirkan penyebabnya sehingga terjadi musababnya? Siapa yang menakdirkan sebab dan siapa yang menakdirkan akibat? Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Maka terimalah ini takdir Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Allah menghendaki sesuatu yang Maha Adil. Allah menghendaki sesuatu yang sangat hikmah yang kadang kita tidak tahu apa hikmah di balik itu. Pasti ada. Ada ujian bagi sebagian. Ada azab bagi sebagian. Dan ada pelajaran bagi yang lainnya.
نسأل الله التوفيق و الأفية و الهداية و الرحمة
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Download Audio: https://bit.ly/2CfY4yl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.