7 Pembatal Puasa

๐Ÿ”‰Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Bila kita ragu pada sesuatu yang membatalkan puasa atau tidaknya, maka apa yang wajib? Yang wajib adalah menganggapnya bukan sebagai pembatal puasa, karena ibadah itu ditetapkan dengan dalil syar’i, sehingga mesti dengan dalil syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk pembatal puasa, diantara perkara yang juga membatalkan puasa contohnya: keluarnya mani dengan syahwat karena perbuatan seseorang, seperti: berusaha mengeluarkan mani dengan tangan, bercumbu dengan istrinya hingga inzal (ejakulasi) atau lainnya.

Adapun inzal dengan sekedar memikirkan (jima’), maka tidak merusak puasanya ketika tidak menyentuh kemaluannya, berdasarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุฌุงูˆุฒ ุนู† ุฃู…ุชูŠ ู…ุง ุญุฏุซุช ุจู‡ ุฃู†ูุณู‡ุง ู…ุง ู„ู… ุชุนู…ู„ ุฃูˆ ุชุชูƒู„ู… ู…ุชูู‚ ุนู„ู‰ ุตุญุชู‡

โ€Sesungguhnya Allah memperbolehkan umatku (tidak dianggap dosa) apa-apa yang dibisikkan oleh jiwa mereka selama tidak diamalkan atau diucapkanโ€ (Muttafaqun โ€™alaihi) […]