?Keutamaan Ilmu bagian I?

beda alim dan bodoh? SEORANG YANG BERILMU AKAN SELAMAT DARI PENYIMPANGAN ?
Oleh
? Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-
 

? Memang beda seorang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Seorang yang berilmu tentu akan lebih yakin daripada orang yang tidak berilmu. Seorang yang berilmu tentu akan beramal lebih tepat dan lebih sempurna daripada seorang yang beramal serampangan . Seorang yang berilmu akan bersikap lebih tepat daripada orang-orang yang bodoh yang diombang-ambingkan perasaan emosionalnya.

? Allah -Ta’ala- berfirman :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar:9)

? Pada ayat ini Allah katakan setelah menyebutkan orang-orang shalih yang berdiri di tengah-tengah malam, beribadah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dengan khusyu dan ikhlas mengharapkan kebaikan di akhirat dan takut dari  adzab-Nya. […]

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 4)

Kebodohan Ingkarus Sunnah IV (Gerakan Sholat Dalam A-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Sesungguhnya kelompok ingkarus-sunnah hanyalah satu kelompok pemalas dan bodoh yang berusaha mencari alasan untuk dapat menghindar dari beban-beban ibadah. Betapa tidak, mereka dengan terang-terangan dan arogan menentang kewajiban shalat dan puasa, padahal keduanya disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an. Bahkan mereka berani memperolok-olokkan orang yang melakukan shalat dengan menyatakan sebagai penyembahan terhadap dinding. Karena mereka menganggap shalat hanyalah doa, maka setiap orang yang berdoa, maka dia telah mengerjakan shalat.

Apakah mereka menganggap diri mereka mengikuti al-Qur’an? Sungguh mereka tidak mengikuti al-Hadits dan tidak pula mengikuti al-Qur’an. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Kalau saja mereka membaca al- Qur’an dengan benar mereka akan tahu bahwa semua gerakan-gerakan shalat, bahkan juga bacaan bacaannya terdapat dalam al-Qur’an.

Perintah Shalat
Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan untuk shalat di antaranya firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا ِلأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. البقرة: 110

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kalian usahakan bagi diri kalian, tentu kalian akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah: 110)

وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ. الأنعام: 72

Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepada-Nya.Dan Dialah Rabb Yang kepada-Nya-lah kalian akan dikumpulkan. (al-An’aam: 72)

Perintah-perintah shalat ini sangat banyak dalam al-Qur’an. Dan sebagian besarnya diiringi dengan gerakan-gerakan shalatnya, seperti berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain. Maka tidak bisa diartikan secara sempit hanya berdoa. Kita lihat ayat-ayat berikut:

Perintah Berdiri
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memelihara shalat kemudian menyebutkan salah satu gerakannya yaitu berdiri.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ. البقرة: 238

Peliharalah segala shalat (kalian), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalat kalian) dengan khusyu`. (al-Baqarah: 238)

Perintah ruku’
Pada ayat lain Allah memerintahkan untuk menegakan shalat kemudian menyebutkan perintah ruku’ di dalamnya.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku. (al-Baqarah: 43)

Perintah sujud
Demikian pula perintah sujud tidak kalah banyaknya dalam al-Qur’an. Yang juga beriringan dengan perintah shalat. Lantas kapan mereka sujud jika tidak dalam shalat?
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً. الإنسان: 26

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (al-Insaan: 26)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الحج: 77

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, beribadahlah kepada Rabb kalian dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapatkan kemenangan. (al-Hajj: 77)

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا. النجم: 62

Maka bersujudlah kepada Allah dan beribadahlah kepada (Dia). (an-Najm: 62)

Shalat tidak hanya berdoa
Kalau saja shalat hanya berdoa tentu bisa dilakukan sambil berdagang dan bekerja. Namun Allah menyebutkan dalam ayatnya jika kita selesai shalat silakan bekerja kembali mencari karunia Allah. Maka jelaslah bahwa shalat adalah lebih dari sekedar berdoa.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الجمعة: 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung. (al-Jum’at: 10)

Waktu-waktu shalat
Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kewajiban shalat adalah kewajiban yang berwaktu. yakni memiliki waktu-waktu yang tertentu. Allah berfrman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا. النساء: 103

Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat (kalian), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kalian telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (an-Nisaa’: 103)

Maka jelas sekali –bagi orang yang berakal dan mengerti bahasa arab— bahwa shalat bukan hanya berdoa yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun satu ibadah khusus yang tertentu waktunya.
Bahkan waktu-waktu shalat yang lima pun Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Di antaranya:
Allah subhanahu wa Ta’ala sebutkan shalat subuh dan shalat ‘Isya dalam ayat berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. النور: 58

Hai orang-orang yang beriman, henaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian (luar) kalian di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kalian, sebahagian kalian (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (an-Nuur: 58)

Demikian pula Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan shalat fajar dan shalat ashar dengan ungkapan: “sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari”.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. ق: 39

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Qaaf: 39)

Sedangkan shalat sejak dhuhur sampai malam dengan kalimat sebagai berikut:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا. الإسراء: 78

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (shalat dhuhur) sampai gelap malam (shalat maghrib dan isya) dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disak-sikan (oleh malaikat). (al-Isra’: 78)

Allah subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan shalat pada dua penghujung siang (shalat fajar dan shalat maghrib) dan pada malam hari (shalat isya).
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ. هود: 114

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Huud : 114)

Perintah baca al-Qur’an dalam Shalat
Allah berfirman :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ… المزمل: 20

Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an… (al-Muzzammil: 20)

Bacaan ruku’
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bertasbih dalam ayatnya:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ. الواقعة: 74

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha agung. (al-Waaqi’ah: 74)

Maka barang siapa yang mengikuti Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “subhaana rabbiyal ‘adhimi” ketika ruku’ maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.

Bacaan sujud
Allah juga telah memeritahkan kita untuk bertasbih dengan kalimat:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى. الأعلى: 1

Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha tinggi. (al-A’laa: 1)

Maka barang siapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: ”subhaana rabbiyal a’la” maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.
Demikian pula bacaan ruku’ dan sujud sekaligus yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir-akhir hidupnya yaitu ketika mendapatkan ayat Allah yang turun ketika itu dalam surat An Nashr.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا. النصر: 3

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan minta ampunlah, sesungguhnya Dia maha menerima taubat. (an-Nashr: 3)

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk membaca dalam ruku’ dan sujudnya: subhanakallahumma rabbana wabihamdika allahummaghfirli.
Dengan demikian sangat jelas sekali bagi orang yang membaca dan mengikuti al-Qur’an dengan benar bahwa shalat adalah satu ibadah tertentu, dengan gerakan tertentu, pada waktu tertentu dan bacaan tertentu pula. siapa yang telah mengikuti apa yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya maka ia telah melaksanakan semua perintah Allah di atas. Sedangkan mereka yang mengingkari sunnah dan meninggalkan ibadah shalat, kapan mereka melaksanakan perintah-perintah Allah di atas?!

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 141/Th. III 29 Jumadil ula 142 H/15 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 3)

Kebodohan Ingkarus Sunnah III (Al-Qur’an Terpelihara Lafal dan Maknanya)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Setelah kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menjelaskan makna-makna al-Qur’an, maka Allah pun menjaga keotentikan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjamin terpeliharanya al-Qur’an secara lafadh dan maknanya. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ. الحجر: 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-dzikra (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr: 9)

Tentunya penjagaan ini tidak hanya pada lafadznya. Apa jadinya jika al-Qur’an terjaga lafadznya tetapi tidak terjaga makna-maknanya? Bagaikan penemuan lafadz-lafadz asing peninggalan jawa kuno atau mesir kuno dalam keadaan tidak ada yang mampu memahaminya.. Atau dipahami makna-makna kalimatnya tetapi tidak dipahami maksud-maksudnya sehingga manusia berselisih dan bertikai dalam memahaminya.
Sungguh tidak demikian dengan al-Qur’an! Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula bahasa Arabnya yang sampai hari ini masih dipakai dan dipergunakan. Demikian pula Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula maksud-maksudnya dan contoh-contoh prakteknya yang terkandung dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Alhamdulillah. Sehingga al-Qur’an terjaga secara lengkap lafadh, makna dan contoh prakteknya.

Oleh karena itulah Allah menyebut dalam kalimat di atas dengan kalimat “Adz-Dzikra” (peringatan) yang tentunya mencakup al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai bukti kita lihat kalimat yang sama pada ayat lain sebagai berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاًّ نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. النحل: 43

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai adz-dzikra (pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (an-Nahl: 43)

Apakah “ahludz dzikri” adalah orang yang hanya mengerti al-Qur’’an secara lafadz-lafadznya saja? Atau para ulama yang memahami al-Qur’an, al-Hadits dengan keterangan tafsir dan penjelasanya dari para sahabat, tabiin dan para Ulama? Tentu saja yang dimaksud adalah yang kedua yaitu para ulama yang mengerti ilmu agama secara lengkap.

Para pengingkar sunnah rupanya terpengaruh dengan racun-racun orientalis yang berupaya untuk membuat keraguan terhadap keotentikan hadits. Mereka mengatakan bahwa “hadits ditulis setelah sekian puluh tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Atau syubhat Syi’ah rafidhah yang mengatakan: “para sahabat adalah para politikus yang berebut kekuasaan maka mereka berlomba-lomba membuat hadits palsu untuk mendukung pribadinya”. Dan lain-lain.
Untuk membantah syubhat syi’ah cukup dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang memuji para shahabat dan menyebutkan keutamaan mereka.

Mengapa mereka membedakan al-Qur’an dan al-hadits padahal keduanya sampai kepada kita dengan cara yang sama yaitu dengan cara periwayatan?
Kalau alasan mereka bahwa al-Qur’an telah tercatat semasa nabi masih hidup, maka kita katakan bahwa al-hadits pun tercatat semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika alasan mereka bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, maka kita katakan bukankah hadits pun banyak yang diriwayatkan secara mutawatir?

Syubhat Orientalis
Sesungguhnya mereka para pengingkar sunnah adalah buah hasil upaya pengkaburan yang dilancarkan oleh orientalis barat. Mereka mengatakan: “Hadits-hadits ditulis setelah 90 tahun wafatnya Rasulullah, setelah banyak yang terlupakan dan hilang sehingga hadits-hadits seringkali melampaui batas dan berlebih-lebihan”.

Yang mereka maksud –sepertinya— adalah bahwa masa penulisan hadits secara resmi dengan perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Padahal bukan berarti tidak ada para shahabat yang menulis secara pribadi, seperti tulisan Abdullah bin Amr bi Ash yang catatan-catatannya dia beri nama ash-Shadiqah.
Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa kali menyuruh untuk menulis masalah-masalah fiqih seperti masalah zakat, perjanjian Hudaibiyah, khutbah beliau dan lain-lain. Di antaranya ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,:

أُكْتُبُوْا ِلأَبِي شَاهٍ. رواه البخاري

Tulislah untuk Abi Syah! (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 1 hal. 278)

Shahifah ash-Shadiqah
Adapun penulisan hadits oleh Abdullah bin Amr bin Ash adalah dengan izin khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disebutkan dalam riwayat Bukhari dari Wahb bin Munabbih dari saudaranya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِ صلى الله عليه وسلم أَحَدٌ أَكْثَرُ حَدِيْثًا عَنْهُ مِنِّي إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُوا فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ. رواه البخاري مع الفتح ج 1 رقم 113 ص 279

“Tidak ada seorang pun yang lebih banyak riwayat haditsnya daripada aku kecuali yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia dulu menulis, sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari juz 1 hal. 279)

Ibnu Hajar dalam Syarhnya menukil lafadh lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Abdullah bin Amr bin Ash:

مَا كَانَ أَحَدٌ أَعْلَمَ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنِّي إِلا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ بِيَدِهِ وَيَعِيهِ بِقَلْبِهِ وَكُنْتُ أَعِيهِ بِقَلْبِي وَلاَ أَكْتُبُ بِيَدِي وَاسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكِتَابِ عَنْهُ فَأَذِنَ لَهُ. رواه أحمد والبيهقي والعقيلي، انظر فتح الباري ج 1 ص 280

Tidaklah seorang pun yang lebih mengetahui hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam> dariku kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia menulis dengan tangannya dan memahami dengan hatinya. Sedangkan aku memahami dengan hatiku tapi aku tidak menulis dengan tanganku. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk menulis ucapan-ucapannya. Maka Rasulullah pun mengizinkannya”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan al-Uqaili dengan sanad yang hasan).

Demikian pula diriwayatkan langsung dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa dia berkata:

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ. رواه أحمد وأبو داود، انظر فتح الباري ج 1 ص 281

Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku seraya berkata: “Apakah engkau menulis segala sesuatu dari Rasulullah, padahal dia manusia yang berbicara kadang marah, kadang ridha?” Aku pun berhenti menulis dan aku sampaikan kejadian itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata seraya mengisyaratkan dengan jarinya ke mulut beliau: “Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku ini kecuali kebenaran”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Oleh karena itu para ulama memadukan riwayat-riwayat di atas dengan riwayat larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis selain al-Qur’an, yaitu:

لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي. رواه مسلم

Jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an! Barangsiapa yang menulis selain al-Qur’an hendaklah menghapusnya! (HR. Muslim)

Mereka memadukannya dengan beberapa pendapat. Di antaranya mereka ada yang menyatakan bahwa hadits larangan tersebut terbatalkan dengan hadits diizinkannya menulis hadits. Yang demikian karena hadits yang melarang penulisan hadits terjadi pada awal sejarah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan diizinkannya menulis terjadi pada masa-masa akhir ketika sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an sudah turun.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 457.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwasanya hadits yang melarang adalah melarang untuk mencampurkannya dalam satu catatan antara al-Qur’an dan hadits. Demikian pula pendapat yang lain bahwa larangannya adalah umum sedangkan kebolehannya adalah khusus bagi Abdullah bin Amr bin Ash, sehingga dengan ini kekhawatiran tercampurnya al-Qur’an dan hadits hilang. (Lihat Fathul Bari, juz 1 hal. 281)

Semua ini menunjukkan bahwa hadits pun sudah ada yang tercatat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Maka tidak ada yang meragukan keotentikan hadits yang memang telah terbukti kebenarannya riwayatnya, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit seperti para orientalis kafir, Syi’ah Rafidhah dan para pengingar sunnah.

Catatan para shahabat
Apalagi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, yang berarti seluruh ayat-ayat al-Qur’an telah turun secara lengkap, maka para shahabat pun sepakat memahami bolehnya mencatat hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat itu muncullah berbagai macam shahifah-shahifah yang merupakan catatan para shahabat yang mereka tulis di dalamnya ucapan-ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti shahifah Abu Hurairah yang diberi nama ash-Shahifah dan disalin ulang serta diriwayatkan oleh muridnya Hammam ibnu Munabbih. Demikian pula shahifah-shahifah lain seperti Shahifah Sa’ad bin Ubadah al-Anshari, Shahifah Abu Musa al-Asy’ari, Shahifah Jabir bin Abdullah, Shahifah Abdullah bin Abi Aufa dan lain-lain. Bahkan di antara salinan buku-buku tersebut kini masih ada dan terpelihara di museum-museum Eropa. Semestinya para orientalis itu sudah mengetahuinya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Shahifah Abdullah bin Amr bin Ash diriwayatkan oleh cucunya Amr bin Syuaib dari ayahnya dari beliau radhiallahu ‘anhu. Maka hadtis ini adalah hadits yang tershahih. Bahkan sebagian ulama ahlul hadits menjadikannya sederajat dengan sanad Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar (rantai emas). (Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 458)

Riwayat di atas dikatakan tershahih, karena rantai para perawinya hanya ada 3 orang dan semuanya terpercaya.
Apakah setelah penjelasan ini para pengingkar sunnah masih ragu-ragu terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sungguh tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak hadits, kecuali kemalasan mereka untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena pada intinya semua yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara rinci perintah dasarnya ada dalam al-Qur’an. Seperti perintah untuk menegakkan shalat lima waktu dengan rincian-rinciannya. Kalau mereka jujur mengikuti al-Qur’an, niscaya mereka akan dapati semua gerakan-gerakan dan bacaanya ada dalam al-Qur-’an.
Mengapa mereka tidak shalat?

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 140/Th. III 15 Jumadil ula 142 H/01 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 2)

Kebodohan Ingkarus Sunnah II (Al-Hadits tafsir dari Al-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menerangkan Al Qur’an

Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur-’an dengan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam agar menerangkan pada manusia makna-makna ayat yang terkandung di dalamnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan sekedar tukang pos yang bertugas mengantarkan surat –-seperti anggapan kelompok sesat ingkarus sunnah— yang mengantarkan surat tanpa ada hubungannya dengan isi surat tersebut. Namun lebih dari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditugaskan untuk menyampaikan, menerangkan, mencontohkan dan membimbing menusia dengan Al Qur’an.Kalau mereka jujur berpegang dengan al-Qur’an, tentu mereka telah membaca ayat-ayat Allah yang memerintahkan Nabi-Nya untuk tugas-tugas tersebut, di antaranya:

Perintah penyampaian
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ. المائدة: 67

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (al-Maidah: 67)

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ. المائدة: 99

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (al-Maidah: 99)

Allah berfirman:

وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. العنكبوت: 18

Dan jika kalian mendustakan, maka umat yang sebelum kalian juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (al-Ankabut: 18)

Allah juga berfirman:

وَمَا عَلَيْنَا إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. يس: 17

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas. (Yaasiin: 17)

Perintah penyampaian ini tentunya adalah dengan penyampaian yang jelas. Bukan hanya menyampaikan lafadz-lafadz tanpa kejelasan makna.
Maka Allah pun menyatakan bahwa beliau di utus untuk menerangkan dan mejelaskan makna-makna al-Qur’an sebagai berikut:

Perintah untuk menerangkan
Allah berfirman:

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. النحل: 44

Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (an-Nahl: 44)

Allah berfirman:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ. النحل: 64

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (an-Nahl: 64)

Allah juga berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. المائدة: 15

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan ba-nyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang terang. (al-Maidah: 15)

Allah juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. ابراهيم: 4

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Ibrahim: 4)

Perintah untuk memberikan contoh teladan
Di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi easallam pun diutus oleh Allah untuk memberikan contoh dalam penerapan al-Qur-’an. Maka jadilah beliau sebagai orang pertama yang menerapkan al-Qu’an secara utuh. Kemudian Allah memerintahkan kepada manusia.manusia untuk mengikutinya dan meneladaninya.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. الأحزاب: 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab: 21)

Perintah untuk mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Setelah Allah mengutus RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberikan contoh teladan dalam pengamalan al-Qur’an, maka Allah pun memerintahkan kita untuk mengikutinya sebagaimana dalam ayat-ayat berikut: .

Allah berfirman:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لاَ يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ. يس: 20-21

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yaasiin: 20-21)

Dan Allah berfirman

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ال عمران: 31

Katakanlah(wahai Nabi): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Ali Imran: 31)

Allah juga berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. الأعراف: 158

Katakanlah(wahai Nabi): “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.(al-A’raaf 158)

Maka Allah subhanahu wa Ta’ala pun menguji kaum muslimin dengan perintah-perintahNya untuk membuktikan siapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sungguh-sungguh dan siapa yang sombong dan menolak untuk mengikutinya.

Allah berfirman:

… جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ… البقرة: 143

… Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…(al-Baqarah: 143)

Kemudian Allah menggambarkan bagaimana orang-orang beriman mendudukkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ikutan dan teladan dengan firman-Nya:

رَبَّنَا ءَامَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ. ال عمران: 53

Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). (Ali Imran: 53)

Sebaliknya orang-orang kafir merasa enggan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Allah berfirman tentang mereka sebagai berikut:

فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلاَلٍ وَسُعُرٍ. القمر: 24

Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sungguh kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila” (al-Qamar: 20)

Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari hadits
Maka jelaslah bahwa al-Qur’an tidak akan dapat dipisahkan dari Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi easallam. kita harus memahaminya seperti yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menerapkannya seperti penerapan beliau.

Dengan demikian kita harus mengetahui ucapan Rasul tentang al-Qur’an dan harus tahu pula perbuatan-perbuatan beliau dalam menerapkan al-Qur’an.
Inilah rahasianya mengapa Allah sering menyebut al-Qur’an dalam ayat-ayat Nya beriringan dengan al-Hikmah.
Seperti ucapan Allah:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ. البقرة: 151

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kalian) Kami telah mengutus kepada kalian Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan mensucikanmu- dan mengajarkan kepada-mu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.(Q.S. Al Baqarah 151)

Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. البقرة: 231

…Dan ingatlah nikmat Allah pada kalian, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian yaitu al-Kitab (al- Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…(al- Baqarah: 231)

Al-kitab sangat jelas maksudnya ya-itu al-Qur’an, kalau begitu apakah gerangan al-Hikmah yang mengiringinya? Sungguh, tidak ada ucapan siapapun yang pantas disebut bersama al-Qur’an kecuali ucapan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apakah mereka akan menafsirkan al-Hikmah dengan al-Qur’an pula, sehingga ayat itu berbunyi: “mengajarkan al-Qur’an dan al-Qur’an?”
Atau mereka akan menafsirkan al- Hikmah adalah ucapan Isa Bugis atau ucapan guru-guru dan tokoh-tokoh mereka sendiri?

Sungguh sangat picik sekali, kalau mereka sampai meninggalkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menggantinya dengan ucapan manusia biasa yang bodoh dan baru belajar bahasa arab kemarin sore?

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 139/Th. III 8 Jumadil ula 142 H/25 Mei 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 1)

Kebodohan Ingkarus sunnah I (Menolak Hadits Berarti Menolak Al-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Munculnya aliran sesat ingkarus sunnah adalah sebuah fenomena yang sangat mengherankan. Seorang yang berakal sehat pasti akan memahami bahwa al-Qur’an dan sunah tidak mungkin dapat dipisahkan. Betapa tidak, Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan berkali-kali dalam al-Qur’an untuk mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang yang mentaati al-Qur’an pasti akan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita lihat beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut, di antaranya:

  1. Diutusnya Rasul untuk ditaati
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ
    الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا. النساء: 64Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan am-pun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (an-Nisaa’: 64)
  2. Wajib taat kepada Rasul
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. المائدة: 59Dan taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (al-Maaidah: 59)يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ. الأنفال: 20

    Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling daripada-Nya, sedangkan kalian mendengar (perintah-perintah-Nya), (al-Anfaal: 20)

    …وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. المجادلة: 13

    …dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (al-Mujaadilah: 13)

    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. التغابن: 12

    Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (at-Taghaabun: 12)

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. النساء: 80

    Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (an-Nisa’: 80)

  3. Wajib menerima keputusan Rasul
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا. الأحزاب: 36Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (al-Ahzaab: 36)
  4. Wajib menerima ajaran Rasul
    …وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. الحشر: 7…Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (al-Hasyr: 7)
  5. Taat kepada rasul merupakan ketaatan kepada Allah
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. النساء: 80Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (an-Nisaa’: 80)
  6. Taat kepada Rasul ciri orang beriman
    …وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. الأنفال: 1…dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian adalah orang-orang yang beriman. (al-Anfaal: 1)وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. التوبة: 71

    Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(at-Taubah: 71)

    وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ. النور: 47

    Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (an-Nuur: 47)

    إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. النور: 51

    Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (an-Nuur: 51)

  7. Taat kepada Rasul akan mendapatkan hidayah
    قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. النور: 54Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul; dan jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kalian sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepada kalian. Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (an-Nuur: 54)
  8. Rahmat bagi yang mentaati Rasul
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. ال عمران: 132Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat. (Ali Imran: 132)وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. النور: 56

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kalian diberi rahmat. (an-Nuur: 56)

  9. Taat kepada Rasul mendapatkan jannah
    تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. النساء: 13(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang-siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisaa’: 13)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. الأحزاب: 71

    niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengam-puni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (al-Ahzaab: 71)

  10. Taat kepada Rasul adalah syarat diterimanya amalan
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ
    تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ. محمد: 33Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kalian merusakkan (pahala) amal-amal kalian. (Muhammad: 33)
  11. Taat kepada Rasul jalan keluar dari perselisihan
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
    وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً. النساء: 59Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-nya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.(an-Nisaa’: 59)وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ. الأنفال: 46

    Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Anfaal: 46)

  12. Menolak taat kepada rasul terancam adzab yang pedih
    …وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا. الفتح: 17…Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (al-Fath: 17)
  13. Penyesalan orang-orang yang tidak taat kepada Rasul
    يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ. الأحزاب: 66Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. (al-Ahzaab: 66)

Dengan demikian jelaslah kebodohan kelompok ingkarus sunnah dan jelas pula bahwa mereka tidak mengikuti al-Qur’an sedikitpun. Maka para ulama menghukumi mereka dengan kafir!
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ. ال عمران: 32

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imran: 32)

Lagi pula hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan tafsir dari al-Qur-’an, yang tidak mungkin akan dapat dipisahkan.

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 138/Th. III 16 Rabi’ul Akhir 1428 H/04 Mei 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..