Audio Kajian Islam Ilmiah Purwokerto 24 Robi’uts Tsani 1436 H

Bismillah

Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah

Bersama : Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed

Dengan membawakan tema : Al-Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan

Waktu : 10.00 WIB s/d Selesai

Hari/Tanggal : Sabtu, 24 Robi’uts Tani 1436 H / 14 Februari 2015 M

Tempat : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

Berikut Rekaman Yang Bisa Kami Lampirkan Di sini :

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi 1

⇓ Download Disini

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi 2

⇓ Download Disini

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi Tanya Jawab

⇓ Download Disini

Semoga Bermanfaat.

Baarokallohu Fiikum

Audio Kajian Islam Ilmiah Purwokerto 24 Robi’uts Tsani 1436 H

Nasihat asy-Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah terhadap Beberapa Masalah Manhajiyyah di Indonesia

Alhamdulillah berkat rahmat dan taufiq dari Allah telah terjadi jalsah (pertemuan) para du’at/asatidzah Indonesia dengan al-Walid asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah di kediaman beliau pada Ramadhan 1433 H lalu, guna menanyakan beberapa permasalahan manhajiyyah yang menjadi perselisihan antara para duat di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, turut hadir pula asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri hafizhahullah.

Tentunya, hasil dari pertemuan tersebut bisa menjadi bimbingan dan pedoman dalam menyelesaikan perselisihan yang selama ini terjadi.Tapi, kenyataan yang ada sangat menyedihkan.Setelah pertemuan tersebut justru muncul interpretasi dan persepsi yang berbeda-beda terhadap nasehat dan arahan yang disampaikan oleh asy-Syaikh Rabi’, bahkan sebagian pihak ada yang berani membantah ucapan asy-Syaikh Rabi’.Sehingga perselisihan yang ada terus berkelanjutan. […]

Mereka adalah Orang-orang Pilihan

Sahabat Rasulullah adalah Orang-orang Pilihan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)

Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shollallahu alaihi wasallam itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah dan Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Di masa sekarang, shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menjadi sekelompok orang yang asing. Keberadaan mereka sebagai “perantara” agama yang dibawa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kepada umat berikutnya telah banyak dilupakan orang. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba memahami agama ini, sebagian besar tidak lagi menjadikan para shahabat sebagai rujukan. Tokoh-tokoh yang muncul belakangan atau pimpinan kelompoknya lebih mereka sukai untuk dijadikan sebagai teladan. Sementara para shahabat sebagai orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap agama malah mereka jauhi. […]

Bertaubat dan Kembali Berbuat Dosa

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:  Saya seorang pemuda, Allah telah memberi saya hidayah untuk meniti jalanNya yang lurus, saya memohon kepada Allah keteguhan hati. Akan tetapi saya masih memiliki sisa-sisa dosa yang saya belum mampu terbebas darinya. Hanya saja, saya bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa ini, saya memohon ampun kepadaNya, akan tetapi saya mengulanginya dan saya terjatuh padanya. Setelah hal itu terjadi, saya menyesal dan bertaubat kepada Allah akan tetapi tanpa faedah. Maka saya mengharap bimbingan apa yang mesti saya lakukan agar saya bisa mendidik jiwaku untuk beribadah kepada Allah, dan mantaati-Nya, dan bermaksiat terhadap nafsuku yg sangat mengajak kepada kejelekkan. Apakah saya berdosa dengan taubatku dari suatu dosa kemudian kembali diriku mengulangi dosa tersebut?

Jawaban: Segala pujian kesempurnaan milik Allah yg telah memberimu petunjuk untuk bertaubat, dan mengkaruniakanmu untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’aala. Ketahuilah wahai akhy, bahwasanya taubat itu menghapus dosa yg lalu. Sebagaimana islam juga menghapus dosa yg lalu. Selama engkau-bihamdillah- setiap kali terjatuh pada sebuah dosa, engkau bersegera bertaubat dengan jujur, maka engkau di atas kebaikkan in syaa Allah.Maka taubat itu menghapus dosa yg lalu, engkau tidak akan disiksa atas dosa yg engkau telah bertaubat darinya, karena sebab engkau mengulangi dosa tersebut sekali lagi. Engkau hanya akan disiksa dengan dosa yg engkau ulangi yg engkau lakukan. Kemudian jika engkau bertaubat dari hal itu, akan dihapus darimu dosa itu juga, dan demikian seterusnya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya-jalla wa’ala.

Jika engkau jujur dalam bertaubat, dan engkau menyesali atas apa telah lalu, engkau bertekad dengan tekad yg jujur untuk tidak mengulangi dan engkau meninggalkan dosa itu. Kemudian ternyata engkau diuji lagi dengannya setelah itu, maka Allah memaafkan atas apa yg telah lewat dengan taubat yg telah lalu.Dan engkau mesti melawan nafsumu untuk tidak terjatuh dalam dosa lagi, hal ini dengan beberapa cara, diantaranya :

Pertama : Berlindung diri kepada Allah dan memohon hidayah, taufik dan penjagaan padaNya. Agar Allah menolong dirimu menghadapi nafsumu dan melawannya. Agar Allah menolongmu menghadapi syaitanmu sampai engkau selamat darinya.

Dan Allah Yang Maha Suci berfirman :: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‎ ‎.البقرة‎ ‎186”Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku ini dekat. Aku mengkabulkan doanya orang yang berdoa jika dia berdoa padaKu.” (QS. Al-Baqarah 186)

Dialah yang berfirman Yang Maha Suci :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ‎ ‎غافر:60”Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Ghafir 60)

Yang kedua : Engkau harus menjauhi sebab-sebab yang bisa menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau berteman dengan orang-orang yg melakukannya, maka mesti engkau jauhi mereka sehingga mereka tidak menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau masuk rumah-rumah yg bisa menyeretmu kepada maksiat, maka jauhilah rumah-rumah tersebut berhati-hatilah darinya.Demikian, lihatlah sebab-sebab (maksiat) dan jauhilah.

Perkara ketiga ‎: Melihat kepada akibat buruk maksiat, renungilah akibat-akibat tadi, bahwasanya akibatnya itu sangat buruk, akibatnya sangat buruk. Kadang engkau akan tertimpa tidak bisa bertaubat, maka engkau akan merugi, wal’iyadzu billah. Maka hati-hatilah engkau dari akibat buruk dosa-dosa.Dan fikirkanlah sering-sering, bahwasanya engkau terkadang mendapat taufik untuk bisa taubat, kadang tidak mendapat taufik untuk bertaubat. Hati-hatilah dari maksiat dan jauhilah. Teruslah bertaubat dan jangan engkau tinggalkan. Maka ketika engkau diberi taufik untuk perkara-perkara ini, maka Allah akan menjagamu dari kejelekkan nafsumu, dari syaitanmu. Hanya Allahlah pemilik taufik.

Sumber :http://www.binbaz.org.sa/mat/20881/print

Alih Bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Apakah Harus Ambil Air Wudhu Apabila Tersentuh Wanita?

Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta’lim-ta’lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira. (Abdullah di Salatiga)

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim:
Masalah batal atau tidaknya wudhu’ seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada di antara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu’ seperti Al-Imam Az-Zuhri, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidaklah membatalkan wudhu. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Asy-Syaikh Muqbil t pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa dan walhamdulillah beliau memberikan jawaban yang gamblang. Sebagaimana yang Saudara harapkan untuk mengetahui fatwa ahlul ilmi tentang permasalahan ini, kami paparkan jawaban Asy-Syaikh sebagai jawaban pertanyaan Saudara. Namun, di sana ada tambahan penjelasan dari beliau yang Insya Allah akan memberikan tambahan faidah bagi Saudara. Kami nukilkan ucapan beliau dalam Ijabatus Sail hal. 32-33 yang nashnya sebagai berikut:
Beliau ditanya: “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram), istrinya, ataupun selainnya?” Maka beliau menjawab: “Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara yang haram, dan telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani dalam Mu’jamnya dari Ma’qil bin Yasar t mengatakan, Rasulullah r bersabda:

“Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah t berkata, Rasulullah r bersabda:
“Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan.”
Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram) tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah.
Mengenai masalah membatalkan wudhu atau tidak, maka menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’ menurut pendapat yang benar dari perkataan ahlul ilmi. Orang yang berdalil dengan firman Allah U:

“atau kalian menyentuh wanita…” (An Nisa: 43)
Maka sesungguhnya yang dimaksud menyentuh di sini adalah jima’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas c.
Telah diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah x, Nabi r shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu Nabi r.
Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’ berdalil dengan riwayat yang datang di dalam As-Sunan dari hadits Mu’adz bin Jabal z bahwa seseorang mendatangi Nabi r dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi r terdiam sampai Allah U turunkan:
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan.” (Hud: 114)
Maka Nabi r berkata kepadanya:
“Berdirilah, kemudian wudhu dan shalatlah dua rakaat.”
Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu’adz bin Jabal z. Ini satu sisi permasalahan. Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak bisa menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu, dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas c menafsirkan ayat ini dengan jima’. Wallahul musta’an.

Sumber:http://asysyariah.com/menyentuh-wanita-membatalkan-wudhu/

Rekaman Kajian Al-Istighosah atau Berdoa kepada Selain Allah Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (Syarh Kitabut Tauhid)

Bismillah
Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah Purwokerto

Bersama : Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed

Dengan membawakan tema : Al-Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (syarh kitabut tauhid)

Waktu : 10.00 WIB s/d Selesai

Hari/Tanggal : Sabtu, 19 Robi’ul Awwal 1436 H / 10 Januari 2015 M

Tempat : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

➡ Sesi 1 (1.17.48)
http://bit.ly/1sh0gM9

➡ Sesi 2 (26.26)
http://bit.ly/1sh16J5

➡Sesi Tanya Jawab (12.29)
http://bit.ly/1w77q0V

Selengkapnya lihat di
http://www.mahad-alfaruq.com/ audio-kajian-islam-ilmiah- purwokerto-10-januari-2015-m/

Semoga Bermanfaat

Baarokallohu fiikum

© Tasjilat Al Faruq Purwokerto
www.mahad-alfaruq.com

Hukum Menikah karena Hamil Duluan

Status Anak Zina

Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:

  1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?
  2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?
  3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?
  4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?

(Fulanah di Solo)

Jawab: […]

Keadaan Musafir yang Tertinggal Salat Jumat

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan:
Seorang musafir mendatangi salat Jumat di suatu masjid, dan mendapati jamaah salat pada tasyahud akhir, apakah dia salat 4 rakaat atau salat dengan salatnya mereka (yakni salat Jumat, pent.)?

Jawab:
Seorang musafir tidak diwajibkan mengerjakan salat Zuhur melainkan dengan diqashar. Apabila ia mendapati shalat jama’ah kurang dari 1 rakaat, wajib baginya mengerjakan shalat Zuhur, dan shalat Dzuhur baginya adalah dengan diqashar 2 rakaat saja, karena dia bukanlah seorang yang mukim tetapi seorang musafir. Adapun apabila dia mendapati salat jamaah 1 rakaat, dia menambah 1 rakaat dan teranggap baginya sebagai salat Jumat.

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 16/61
Alih bahasa: Abdulaziz Bantul
Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan
::http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/01/musafir-yang-tertinggal-shalat-jumat.html

Jamaah Tahdzir Adalah Jamaah Rahmah

Audio Tanya Jawab

Pertanyaan:

Apa tanggapan ustadz tentang tuduhan kita adalah Jama’ah Tahdzir?

Jawab:

Sudah dijawab bahwa ternyata JAMA’ATU TAHDZIR adalah JAMA’ATU RAHMAH..!! Golongan yang sangat penyayang kepada ummatnya.

Ketika ditanyakan kepada beberapa ulama tentang “ucapanmu begini, begini pada mereka..” … “itu bukan begini bukan begitu..”, Apa jawaban mereka, jawaban ulama..??

Kami (para ulama, -pen.), “Arham bihim min abaa-ihim wa ummahatihim” (kami lebih sayang kepada mereka dari bapak mereka dan ibu mereka)…!! Bapak ibu mereka, memperingatkan dari bahaya api dunia, “hati-hati nak, itu bahaya”, api dunia..!! “Hati-hati nak, jangan main di jalan nakti ketabrak”, bahaya dunia..!! …. tapi kami memperingatkan mereka dari bahaya akhirat.”

Mana yang lebih penting..?? Mana lebih arham..?? Para ulama arham bihim..!! maka kita dikatakan sebagai Jama’tu Tahdzir untuk melecehkan.. Na’am.

Pertanyaan:

Apakah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir orang-perorangan?

Jawab:

Na’am. Ikhwani fiddin a’azzakumullah, ini berarti harus dikaji kembali kitab-kitab manhaj ini..

Dulu, Sururiyyah yang yang terdahulu … Salaf mereka yang jelek … sururiyyah yang lama … mengatakan, “tidak boleh mentahdzir dengan ta’yin. Cukup mentahdzir itu dengan umum saja.. Hati-hati dari bid’ah..” Titik. Jangan mengatakan, “fulan Syiah … jangan..!!” Ini sudah dibantah panjang lebar oleh masyayikh kibar. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sudah dibantah. Tidak benar ini.. Hati-hati dari syiah, tapi ngak tahu syiah yang mana ya..?

Ikhwani fiddin a’azzakumullah, sebutkan “fulan syi’i rafidhi”, fulan hizbi mubtadi’ … dan contohnya terlalu banyak. Sangat-sangat banyak. Termasuk dalam hadits, suatu rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ditentang oleh seseorang dengan muka yang memerah, dengan mata yang melotot, dengan otot leher yang keluar, suara yang keras,

“Yaa Muhammad i’dil..!!” (Wahai Muhammad, berbuat adillah..!!)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam betul-betul marah dengan orang ini. Sampai menyatakan, “Siapa yang berbuat adil jika aku tidak adil?”

Umar Ibnu Al-Khattab mengatakan, “Ya rasulullah biar aku penggal lehernya orang ini.. Ini munafik orang ini..” … menafikan keadilan nabi, apa bukan munafik?

Tetapi Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “biarkan dia, karena khawatir manusia akan mengatakan bahwa Rasulullah membunuh sahabatnya.”

Tetapi apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah itu? “Akan keluar dari orang ini …” ta’yin atau tidak ta’yin..?? ta’yin atau tidak ta’yin..?? TA’YIN!!

“… Akan keluar dari orang ini …” dengan isyarat kepada dia. “Orang ini nanti akan memunculkan model manusia seperti seperti ini … seperti ini … Shalatnya mengalahkan shalat kalian, puasanya mengalahkan puasa kalian, tetapi keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruannya..”

Maka dengarkan ucapan para ulama yang menerangkan hadits ini bahwa ini tahdzir dari orang tersebut dan jangan dengarkan ucapan Salman Audah, As-Surury..!! Hizbi yang menyatakan hadits yang sama, “Lihatlah Rasulullah orang ini mengkritik dirinya dibiarkan BEBAS MERDEKA..”

Kata siapa BEBAS MERDEKA, Yaa Haadza.?? Diperingatkan dengan keras “Akan keluar dari orang ini seperti ini … seperti ini …” digambarkan dengan jeleknya, masih belum cukup kalau belum dilengkapi ucapan Rasulullah ini dengan ucapan berikutnya, “Kalau aku temui mereka, aku akan bantai, aku akan perangi mereka seperti diperanginya kaum ‘Ad.”

Masih ada lagi kalimat yang berikutnya, “mereka sejelek-jelek makhluk..!!” bayangkan… “sebaik-baik kalian adalah yang dibunuh oleh mereka sedangkan mereka adalah sejelek-jelek bangkai dibawah naungan langit..!!”

Ini semua menggambarkan tentang ini (tahdzir, pen).. nanti kedepannya akan begini.. Peringatan.. Tahdzir..

Baarakallahu fiikum.

Maka dari para Salaf sangat banyak, dari shahabat, dari tabi’in, dari tabi’ tabi’in.. akan dibahas dalam babnya dalam Kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur …

Download audio:
http://bit.ly/1vY5pnT

Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullah

Audio Tanya Jawab Kajian kitab “Fathul Majid” // Sabtu, 20 Shafar 1436H – 13/12/2014M — Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

Download kajian lengkap di sini: http://www.alfawaaid.net/2014/12/audio-al-ustadz-muhammad-as-sewed-al.html

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

Siapakah Abdul Hadi Al-Umairi, Apakah Boleh Diambil Ilmunya?

Pertanyaan:

Ustadz, ana tanya siapa sih Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi, apakah boleh diambil ilmunya?

Jawab:

Saya juga tanya.. siapa ya..??

Artinya apa? Gak dikenal.. MAJHUL!!
Tanyakan kepada Syaikh Ubaid juga ngak tahu..!!
Tanyakan ke Syaikh Rabi’ juga ngak tahu..!!

Yang saya ketahui hanya 1 jam 48 menit ceramahnya dia..menghabiskan Ustadz Luqman. Itu saya dengar lengkap!! Hampir-hampir saya ngak pernah sebetah itu mendengarkan sampai 2 jam.. tapi saat itu betul-betul saya dengarkan sampai akhir.

Banyak pertanyaan di benak saya??

Pertama ketika dia hanya karena seorang yang dia kata, “saya ngak ngerti siapa dia tapi dia begini dan begitu..”, artinya bukan ulama tapi membantahnya sampai dua jam. Menurut saya BERLEBIHAN..!! Iya kan..

Coba Syaikh Rabi dikatakan, “Syaikh katanya ustadz Muhammad, ente majhul..”, kira-kira dijawab 2 jam?? Ngak akan lah..!! Siapa saya kan gitu..!! Ini marah-marah 2 jam.. atau satu jam 48 menit tepatnya..

Yang kedua, …

▶… dengarkan selengkapnya dalam rekaman audio di bawah.

Download audio:
http://bit.ly/174CuJY

Audio Tanya Jawab Kajian Banyumas // Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafidzahullah // 18 Dzulqa’dah 1435H – 13/09/2014M // Ma’had Al Faruq Kalibagor, Banyumas

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

✪ WhatsApp Syarhus Sunnah

****************************************************

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhali حفظه الله Mentahdzir Syaikh Abdul Hadi Al-Umairy & Dustanya Kafilah MLM

Pada tanggal 13 Rabi’ul awwal 1436 H, ana dimudahkan untuk bisa bertemu dengan Al-Allamah Al-Walid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah Ta’ala, bersama beberapa ikhwan yang ikut rombongan umrah dengan ana, dan juga beberapa ikhwan yang bekerja di perusahaan bin Laden. Kami mengerjakan shalat maghrib di masjid yang biasanya Syaikhuna Rabi’ Hafizhahullah shalat di masjid tersebut.

Setelah usai shalat,ana bersalaman dengan Beliau, dan memberitakan bahwa Abdul Hadi Al-Umairi akan datang ke Indonesia dalam waktu beberapa hari ini, dan dia mentahdzir Luqman Ba’abduh dan membela Dzulqarnaen. Apakah kami menghadirinya?

Maka beliau dengan spontan menjawab sambil mengisyaratkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri berkali-kali:

لا…..لا……حذروا منه

“Tidak….tidak….peringatkan (manusia) darinya.

Pernyataan Beliau ini juga disaksikan oleh beberapa ikhwan, diantaranya Ustadz Abu Yahya solo, dan Asrul Pangkep.

Dengan persaksian, nampak nyatalah kedustaan sebagian mereka yang mengatakan adanya kedekatan hubungan antara Al-Allamah Rabi’ -Hafizhahullah wa Syafaah- dengan Abdul Hadi Al-Umairi.

Ditulis oleh: Abu Muawiyah Askari bin Jamal || Makkah Al-Mukarromah, Senin, 13-14 Rabiul awwal 1436H, Bertepatan dengan tanggal: 05/01/2015M

Penyebarannya telah diizinkan oleh Ustadz Askari hafizhahullah

〰〰〰
Sumber WhatsApp TIS

** Judul Artikel dari Kami

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=9253