Audio Kajian Kitab Taisir Alam Kitab Shalat Tentang Shalat Memakai Sandal

Audio Kajian Kitab Taisir Alam Kitab Shalat Hadits ke-90 Tentang Shalat Memakai Sandal dari hadits Abu Maslamah Said bin Yazid dengan pemateri Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafidzahullah.

Anda bisa mendownload audionya pada link di bawah ini. Atau jika anda membuka melalui komputer/laptop maka bisa langsung mendengarkan audionya. Selamat menikmati.

Khutbah Jum’at Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed 05-12-2014

Khutbah Jum’at Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed 05-12-2014
Anda bisa mendownload audionya pada link di bawah ini. Atau jika anda membuka melalui komputer/laptop maka bisa langsung mendengarkan audionya. Selamat menikmati.

Audio Kajian Islam Ilmiah Purwokerto 24 Robi’uts Tsani 1436 H

Bismillah

Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah

Bersama : Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed

Dengan membawakan tema : Al-Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan

Waktu : 10.00 WIB s/d Selesai

Hari/Tanggal : Sabtu, 24 Robi’uts Tani 1436 H / 14 Februari 2015 M

Tempat : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

Berikut Rekaman Yang Bisa Kami Lampirkan Di sini :

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi 1

⇓ Download Disini

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi 2

⇓ Download Disini

Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed – BAB “Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan” – Sesi Tanya Jawab

⇓ Download Disini

Semoga Bermanfaat.

Baarokallohu Fiikum

Audio Kajian Islam Ilmiah Purwokerto 24 Robi’uts Tsani 1436 H

Nasihat asy-Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah terhadap Beberapa Masalah Manhajiyyah di Indonesia

Alhamdulillah berkat rahmat dan taufiq dari Allah telah terjadi jalsah (pertemuan) para du’at/asatidzah Indonesia dengan al-Walid asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah di kediaman beliau pada Ramadhan 1433 H lalu, guna menanyakan beberapa permasalahan manhajiyyah yang menjadi perselisihan antara para duat di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, turut hadir pula asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri hafizhahullah.

Tentunya, hasil dari pertemuan tersebut bisa menjadi bimbingan dan pedoman dalam menyelesaikan perselisihan yang selama ini terjadi.Tapi, kenyataan yang ada sangat menyedihkan.Setelah pertemuan tersebut justru muncul interpretasi dan persepsi yang berbeda-beda terhadap nasehat dan arahan yang disampaikan oleh asy-Syaikh Rabi’, bahkan sebagian pihak ada yang berani membantah ucapan asy-Syaikh Rabi’.Sehingga perselisihan yang ada terus berkelanjutan. […]

Mereka adalah Orang-orang Pilihan

Sahabat Rasulullah adalah Orang-orang Pilihan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)

Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shollallahu alaihi wasallam itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah dan Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Di masa sekarang, shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menjadi sekelompok orang yang asing. Keberadaan mereka sebagai “perantara” agama yang dibawa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kepada umat berikutnya telah banyak dilupakan orang. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba memahami agama ini, sebagian besar tidak lagi menjadikan para shahabat sebagai rujukan. Tokoh-tokoh yang muncul belakangan atau pimpinan kelompoknya lebih mereka sukai untuk dijadikan sebagai teladan. Sementara para shahabat sebagai orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap agama malah mereka jauhi. […]

Bertaubat dan Kembali Berbuat Dosa

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:  Saya seorang pemuda, Allah telah memberi saya hidayah untuk meniti jalanNya yang lurus, saya memohon kepada Allah keteguhan hati. Akan tetapi saya masih memiliki sisa-sisa dosa yang saya belum mampu terbebas darinya. Hanya saja, saya bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa ini, saya memohon ampun kepadaNya, akan tetapi saya mengulanginya dan saya terjatuh padanya. Setelah hal itu terjadi, saya menyesal dan bertaubat kepada Allah akan tetapi tanpa faedah. Maka saya mengharap bimbingan apa yang mesti saya lakukan agar saya bisa mendidik jiwaku untuk beribadah kepada Allah, dan mantaati-Nya, dan bermaksiat terhadap nafsuku yg sangat mengajak kepada kejelekkan. Apakah saya berdosa dengan taubatku dari suatu dosa kemudian kembali diriku mengulangi dosa tersebut?

Jawaban: Segala pujian kesempurnaan milik Allah yg telah memberimu petunjuk untuk bertaubat, dan mengkaruniakanmu untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’aala. Ketahuilah wahai akhy, bahwasanya taubat itu menghapus dosa yg lalu. Sebagaimana islam juga menghapus dosa yg lalu. Selama engkau-bihamdillah- setiap kali terjatuh pada sebuah dosa, engkau bersegera bertaubat dengan jujur, maka engkau di atas kebaikkan in syaa Allah.Maka taubat itu menghapus dosa yg lalu, engkau tidak akan disiksa atas dosa yg engkau telah bertaubat darinya, karena sebab engkau mengulangi dosa tersebut sekali lagi. Engkau hanya akan disiksa dengan dosa yg engkau ulangi yg engkau lakukan. Kemudian jika engkau bertaubat dari hal itu, akan dihapus darimu dosa itu juga, dan demikian seterusnya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya-jalla wa’ala.

Jika engkau jujur dalam bertaubat, dan engkau menyesali atas apa telah lalu, engkau bertekad dengan tekad yg jujur untuk tidak mengulangi dan engkau meninggalkan dosa itu. Kemudian ternyata engkau diuji lagi dengannya setelah itu, maka Allah memaafkan atas apa yg telah lewat dengan taubat yg telah lalu.Dan engkau mesti melawan nafsumu untuk tidak terjatuh dalam dosa lagi, hal ini dengan beberapa cara, diantaranya :

Pertama : Berlindung diri kepada Allah dan memohon hidayah, taufik dan penjagaan padaNya. Agar Allah menolong dirimu menghadapi nafsumu dan melawannya. Agar Allah menolongmu menghadapi syaitanmu sampai engkau selamat darinya.

Dan Allah Yang Maha Suci berfirman :: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‎ ‎.البقرة‎ ‎186”Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku ini dekat. Aku mengkabulkan doanya orang yang berdoa jika dia berdoa padaKu.” (QS. Al-Baqarah 186)

Dialah yang berfirman Yang Maha Suci :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ‎ ‎غافر:60”Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Ghafir 60)

Yang kedua : Engkau harus menjauhi sebab-sebab yang bisa menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau berteman dengan orang-orang yg melakukannya, maka mesti engkau jauhi mereka sehingga mereka tidak menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau masuk rumah-rumah yg bisa menyeretmu kepada maksiat, maka jauhilah rumah-rumah tersebut berhati-hatilah darinya.Demikian, lihatlah sebab-sebab (maksiat) dan jauhilah.

Perkara ketiga ‎: Melihat kepada akibat buruk maksiat, renungilah akibat-akibat tadi, bahwasanya akibatnya itu sangat buruk, akibatnya sangat buruk. Kadang engkau akan tertimpa tidak bisa bertaubat, maka engkau akan merugi, wal’iyadzu billah. Maka hati-hatilah engkau dari akibat buruk dosa-dosa.Dan fikirkanlah sering-sering, bahwasanya engkau terkadang mendapat taufik untuk bisa taubat, kadang tidak mendapat taufik untuk bertaubat. Hati-hatilah dari maksiat dan jauhilah. Teruslah bertaubat dan jangan engkau tinggalkan. Maka ketika engkau diberi taufik untuk perkara-perkara ini, maka Allah akan menjagamu dari kejelekkan nafsumu, dari syaitanmu. Hanya Allahlah pemilik taufik.

Sumber :http://www.binbaz.org.sa/mat/20881/print

Alih Bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Apakah Harus Ambil Air Wudhu Apabila Tersentuh Wanita?

Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta’lim-ta’lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira. (Abdullah di Salatiga)

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim:
Masalah batal atau tidaknya wudhu’ seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada di antara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu’ seperti Al-Imam Az-Zuhri, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidaklah membatalkan wudhu. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Asy-Syaikh Muqbil t pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa dan walhamdulillah beliau memberikan jawaban yang gamblang. Sebagaimana yang Saudara harapkan untuk mengetahui fatwa ahlul ilmi tentang permasalahan ini, kami paparkan jawaban Asy-Syaikh sebagai jawaban pertanyaan Saudara. Namun, di sana ada tambahan penjelasan dari beliau yang Insya Allah akan memberikan tambahan faidah bagi Saudara. Kami nukilkan ucapan beliau dalam Ijabatus Sail hal. 32-33 yang nashnya sebagai berikut:
Beliau ditanya: “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram), istrinya, ataupun selainnya?” Maka beliau menjawab: “Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara yang haram, dan telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani dalam Mu’jamnya dari Ma’qil bin Yasar t mengatakan, Rasulullah r bersabda:

“Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah t berkata, Rasulullah r bersabda:
“Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan.”
Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram) tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah.
Mengenai masalah membatalkan wudhu atau tidak, maka menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’ menurut pendapat yang benar dari perkataan ahlul ilmi. Orang yang berdalil dengan firman Allah U:

“atau kalian menyentuh wanita…” (An Nisa: 43)
Maka sesungguhnya yang dimaksud menyentuh di sini adalah jima’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas c.
Telah diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah x, Nabi r shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu Nabi r.
Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’ berdalil dengan riwayat yang datang di dalam As-Sunan dari hadits Mu’adz bin Jabal z bahwa seseorang mendatangi Nabi r dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi r terdiam sampai Allah U turunkan:
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan.” (Hud: 114)
Maka Nabi r berkata kepadanya:
“Berdirilah, kemudian wudhu dan shalatlah dua rakaat.”
Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu’adz bin Jabal z. Ini satu sisi permasalahan. Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak bisa menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu, dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas c menafsirkan ayat ini dengan jima’. Wallahul musta’an.

Sumber:http://asysyariah.com/menyentuh-wanita-membatalkan-wudhu/

Rekaman Kajian Al-Istighosah atau Berdoa kepada Selain Allah Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (Syarh Kitabut Tauhid)

Bismillah
Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah Purwokerto

Bersama : Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed

Dengan membawakan tema : Al-Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (syarh kitabut tauhid)

Waktu : 10.00 WIB s/d Selesai

Hari/Tanggal : Sabtu, 19 Robi’ul Awwal 1436 H / 10 Januari 2015 M

Tempat : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

➡ Sesi 1 (1.17.48)
http://bit.ly/1sh0gM9

➡ Sesi 2 (26.26)
http://bit.ly/1sh16J5

➡Sesi Tanya Jawab (12.29)
http://bit.ly/1w77q0V

Selengkapnya lihat di
http://www.mahad-alfaruq.com/ audio-kajian-islam-ilmiah- purwokerto-10-januari-2015-m/

Semoga Bermanfaat

Baarokallohu fiikum

© Tasjilat Al Faruq Purwokerto
www.mahad-alfaruq.com

Hukum Menikah karena Hamil Duluan

Status Anak Zina

Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:

  1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?
  2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?
  3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?
  4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?

(Fulanah di Solo)

Jawab: […]

Keadaan Musafir yang Tertinggal Salat Jumat

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan:
Seorang musafir mendatangi salat Jumat di suatu masjid, dan mendapati jamaah salat pada tasyahud akhir, apakah dia salat 4 rakaat atau salat dengan salatnya mereka (yakni salat Jumat, pent.)?

Jawab:
Seorang musafir tidak diwajibkan mengerjakan salat Zuhur melainkan dengan diqashar. Apabila ia mendapati shalat jama’ah kurang dari 1 rakaat, wajib baginya mengerjakan shalat Zuhur, dan shalat Dzuhur baginya adalah dengan diqashar 2 rakaat saja, karena dia bukanlah seorang yang mukim tetapi seorang musafir. Adapun apabila dia mendapati salat jamaah 1 rakaat, dia menambah 1 rakaat dan teranggap baginya sebagai salat Jumat.

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 16/61
Alih bahasa: Abdulaziz Bantul
Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan
::http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/01/musafir-yang-tertinggal-shalat-jumat.html