Hukum Menikah karena Hamil Duluan

Status Anak Zina

Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:

  1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?
  2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?
  3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?
  4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?

(Fulanah di Solo)

Jawab: […]

Keadaan Musafir yang Tertinggal Salat Jumat

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan:
Seorang musafir mendatangi salat Jumat di suatu masjid, dan mendapati jamaah salat pada tasyahud akhir, apakah dia salat 4 rakaat atau salat dengan salatnya mereka (yakni salat Jumat, pent.)?

Jawab:
Seorang musafir tidak diwajibkan mengerjakan salat Zuhur melainkan dengan diqashar. Apabila ia mendapati shalat jama’ah kurang dari 1 rakaat, wajib baginya mengerjakan shalat Zuhur, dan shalat Dzuhur baginya adalah dengan diqashar 2 rakaat saja, karena dia bukanlah seorang yang mukim tetapi seorang musafir. Adapun apabila dia mendapati salat jamaah 1 rakaat, dia menambah 1 rakaat dan teranggap baginya sebagai salat Jumat.

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 16/61
Alih bahasa: Abdulaziz Bantul
Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan
::http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/01/musafir-yang-tertinggal-shalat-jumat.html

Jamaah Tahdzir Adalah Jamaah Rahmah

Audio Tanya Jawab

Pertanyaan:

Apa tanggapan ustadz tentang tuduhan kita adalah Jama’ah Tahdzir?

Jawab:

Sudah dijawab bahwa ternyata JAMA’ATU TAHDZIR adalah JAMA’ATU RAHMAH..!! Golongan yang sangat penyayang kepada ummatnya.

Ketika ditanyakan kepada beberapa ulama tentang “ucapanmu begini, begini pada mereka..” … “itu bukan begini bukan begitu..”, Apa jawaban mereka, jawaban ulama..??

Kami (para ulama, -pen.), “Arham bihim min abaa-ihim wa ummahatihim” (kami lebih sayang kepada mereka dari bapak mereka dan ibu mereka)…!! Bapak ibu mereka, memperingatkan dari bahaya api dunia, “hati-hati nak, itu bahaya”, api dunia..!! “Hati-hati nak, jangan main di jalan nakti ketabrak”, bahaya dunia..!! …. tapi kami memperingatkan mereka dari bahaya akhirat.”

Mana yang lebih penting..?? Mana lebih arham..?? Para ulama arham bihim..!! maka kita dikatakan sebagai Jama’tu Tahdzir untuk melecehkan.. Na’am.

Pertanyaan:

Apakah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir orang-perorangan?

Jawab:

Na’am. Ikhwani fiddin a’azzakumullah, ini berarti harus dikaji kembali kitab-kitab manhaj ini..

Dulu, Sururiyyah yang yang terdahulu … Salaf mereka yang jelek … sururiyyah yang lama … mengatakan, “tidak boleh mentahdzir dengan ta’yin. Cukup mentahdzir itu dengan umum saja.. Hati-hati dari bid’ah..” Titik. Jangan mengatakan, “fulan Syiah … jangan..!!” Ini sudah dibantah panjang lebar oleh masyayikh kibar. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sudah dibantah. Tidak benar ini.. Hati-hati dari syiah, tapi ngak tahu syiah yang mana ya..?

Ikhwani fiddin a’azzakumullah, sebutkan “fulan syi’i rafidhi”, fulan hizbi mubtadi’ … dan contohnya terlalu banyak. Sangat-sangat banyak. Termasuk dalam hadits, suatu rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ditentang oleh seseorang dengan muka yang memerah, dengan mata yang melotot, dengan otot leher yang keluar, suara yang keras,

“Yaa Muhammad i’dil..!!” (Wahai Muhammad, berbuat adillah..!!)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam betul-betul marah dengan orang ini. Sampai menyatakan, “Siapa yang berbuat adil jika aku tidak adil?”

Umar Ibnu Al-Khattab mengatakan, “Ya rasulullah biar aku penggal lehernya orang ini.. Ini munafik orang ini..” … menafikan keadilan nabi, apa bukan munafik?

Tetapi Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “biarkan dia, karena khawatir manusia akan mengatakan bahwa Rasulullah membunuh sahabatnya.”

Tetapi apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah itu? “Akan keluar dari orang ini …” ta’yin atau tidak ta’yin..?? ta’yin atau tidak ta’yin..?? TA’YIN!!

“… Akan keluar dari orang ini …” dengan isyarat kepada dia. “Orang ini nanti akan memunculkan model manusia seperti seperti ini … seperti ini … Shalatnya mengalahkan shalat kalian, puasanya mengalahkan puasa kalian, tetapi keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruannya..”

Maka dengarkan ucapan para ulama yang menerangkan hadits ini bahwa ini tahdzir dari orang tersebut dan jangan dengarkan ucapan Salman Audah, As-Surury..!! Hizbi yang menyatakan hadits yang sama, “Lihatlah Rasulullah orang ini mengkritik dirinya dibiarkan BEBAS MERDEKA..”

Kata siapa BEBAS MERDEKA, Yaa Haadza.?? Diperingatkan dengan keras “Akan keluar dari orang ini seperti ini … seperti ini …” digambarkan dengan jeleknya, masih belum cukup kalau belum dilengkapi ucapan Rasulullah ini dengan ucapan berikutnya, “Kalau aku temui mereka, aku akan bantai, aku akan perangi mereka seperti diperanginya kaum ‘Ad.”

Masih ada lagi kalimat yang berikutnya, “mereka sejelek-jelek makhluk..!!” bayangkan… “sebaik-baik kalian adalah yang dibunuh oleh mereka sedangkan mereka adalah sejelek-jelek bangkai dibawah naungan langit..!!”

Ini semua menggambarkan tentang ini (tahdzir, pen).. nanti kedepannya akan begini.. Peringatan.. Tahdzir..

Baarakallahu fiikum.

Maka dari para Salaf sangat banyak, dari shahabat, dari tabi’in, dari tabi’ tabi’in.. akan dibahas dalam babnya dalam Kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur …

Download audio:
http://bit.ly/1vY5pnT

Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullah

Audio Tanya Jawab Kajian kitab “Fathul Majid” // Sabtu, 20 Shafar 1436H – 13/12/2014M — Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

Download kajian lengkap di sini: http://www.alfawaaid.net/2014/12/audio-al-ustadz-muhammad-as-sewed-al.html

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

Siapakah Abdul Hadi Al-Umairi, Apakah Boleh Diambil Ilmunya?

Pertanyaan:

Ustadz, ana tanya siapa sih Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi, apakah boleh diambil ilmunya?

Jawab:

Saya juga tanya.. siapa ya..??

Artinya apa? Gak dikenal.. MAJHUL!!
Tanyakan kepada Syaikh Ubaid juga ngak tahu..!!
Tanyakan ke Syaikh Rabi’ juga ngak tahu..!!

Yang saya ketahui hanya 1 jam 48 menit ceramahnya dia..menghabiskan Ustadz Luqman. Itu saya dengar lengkap!! Hampir-hampir saya ngak pernah sebetah itu mendengarkan sampai 2 jam.. tapi saat itu betul-betul saya dengarkan sampai akhir.

Banyak pertanyaan di benak saya??

Pertama ketika dia hanya karena seorang yang dia kata, “saya ngak ngerti siapa dia tapi dia begini dan begitu..”, artinya bukan ulama tapi membantahnya sampai dua jam. Menurut saya BERLEBIHAN..!! Iya kan..

Coba Syaikh Rabi dikatakan, “Syaikh katanya ustadz Muhammad, ente majhul..”, kira-kira dijawab 2 jam?? Ngak akan lah..!! Siapa saya kan gitu..!! Ini marah-marah 2 jam.. atau satu jam 48 menit tepatnya..

Yang kedua, …

▶… dengarkan selengkapnya dalam rekaman audio di bawah.

Download audio:
http://bit.ly/174CuJY

Audio Tanya Jawab Kajian Banyumas // Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafidzahullah // 18 Dzulqa’dah 1435H – 13/09/2014M // Ma’had Al Faruq Kalibagor, Banyumas

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

✪ WhatsApp Syarhus Sunnah

****************************************************

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhali حفظه الله Mentahdzir Syaikh Abdul Hadi Al-Umairy & Dustanya Kafilah MLM

Pada tanggal 13 Rabi’ul awwal 1436 H, ana dimudahkan untuk bisa bertemu dengan Al-Allamah Al-Walid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah Ta’ala, bersama beberapa ikhwan yang ikut rombongan umrah dengan ana, dan juga beberapa ikhwan yang bekerja di perusahaan bin Laden. Kami mengerjakan shalat maghrib di masjid yang biasanya Syaikhuna Rabi’ Hafizhahullah shalat di masjid tersebut.

Setelah usai shalat,ana bersalaman dengan Beliau, dan memberitakan bahwa Abdul Hadi Al-Umairi akan datang ke Indonesia dalam waktu beberapa hari ini, dan dia mentahdzir Luqman Ba’abduh dan membela Dzulqarnaen. Apakah kami menghadirinya?

Maka beliau dengan spontan menjawab sambil mengisyaratkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri berkali-kali:

لا…..لا……حذروا منه

“Tidak….tidak….peringatkan (manusia) darinya.

Pernyataan Beliau ini juga disaksikan oleh beberapa ikhwan, diantaranya Ustadz Abu Yahya solo, dan Asrul Pangkep.

Dengan persaksian, nampak nyatalah kedustaan sebagian mereka yang mengatakan adanya kedekatan hubungan antara Al-Allamah Rabi’ -Hafizhahullah wa Syafaah- dengan Abdul Hadi Al-Umairi.

Ditulis oleh: Abu Muawiyah Askari bin Jamal || Makkah Al-Mukarromah, Senin, 13-14 Rabiul awwal 1436H, Bertepatan dengan tanggal: 05/01/2015M

Penyebarannya telah diizinkan oleh Ustadz Askari hafizhahullah

〰〰〰
Sumber WhatsApp TIS

** Judul Artikel dari Kami

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=9253

Menjaga Kesucian Darah, Harta, dan Kehormatan Sesama Muslim

Di antara perkara yang sering merusak ukhuwah Islamiyah ialah adanya sikap dari sebagian kita yang tidak mau memaklumi bila saudaranya berbuat salah atau keliru. Padahal kesalahan yang dilakukan oleh seseorang itu bisa jadi karena lupa, salah paham, bodoh, karena belum tahu ilmunya atau karena terpaksa sehingga berbuat demikian.

Sikap pukul rata (gebyah uyah) ini banyak terjadi di kalangan kaum muslimin, bahkan juga di kalangan Ahlus Sunnah. Ketika ada orang yang berbuat salah, bukannya dinasihati atau diingatkan, malah dihadapi dengan sikap permusuhan. Terkadang digelari sebutan-sebutan yang jelek atau malah ia dijauhkan dari kaum muslimin.

Sikap yang lebih ekstrim dalam masalah ini adalah apa yang ditunjukkan kelompok Khawarij. Mereka lebih tidak bisa melihat saudaranya yang berbuat kesalahan. Orang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, dalam pandangan mereka, telah terjatuh dalam kekafiran hingga halal darah dan hartanya.

Kondisi ini tentu akan bermuara pada pecahnya ukhuwah di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim dengan sebab sebuah dosa atau kesalahan yang ia kerjakan, selama ia masih menjadi ahlul qiblat (masih shalat). Seperti dalam masalah-masalah yang masih diperselisihkan kaum muslimin di mana mereka berpendapat dengan suatu pendapat yang kita anggap salah, maka tidak bisa kita mengkafirkannya. Karena Allah memberi udzur kepada mereka. Allah berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Rabb mereka, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami pikul. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 285)

Disebutkan dalam riwayat yang shahih (HR. Muslim dari Abu Hurairah dalam Shahih beliau) bahwa Allah telah mengabulkan doa para nabi dan doa orang-orang beriman ini. Sehingga diangkatlah pena dari orang-orang yang berbuat kesalahan karena lupa atau karena ia tidak mengerti ilmunya. Juga bagi orang yang tidak sanggup memikul suatu beban.”
Orang-orang Khawarij tidak mau membedakan hal-hal tersebut. Menurut mereka, barangsiapa berbuat dosa maka dia menentang Al-Qur`an. Barangsiapa menentang Al-Qur`an berarti menentang Allah dan barangsiapa menentang Allah berarti dia kafir. Mereka menyamakan semua perbuatan salah dan menganggapnya sebagai kekafiran.

Syaikhul Islam melanjutkan: “Khawarij yang telah salah dalam hukum ini oleh Rasulullah diperintahkan untuk diperangi.
Rasulullah n bersabda:
لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ قَتَلْتُهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Sungguh jika aku sempat menjumpai mereka, aku akan perangi mereka, aku akan tumpas layaknya kaum Aad.” (Muttafaqun alaihi)
Allah l juga memerintahkan untuk memerangi mereka. Allah l berfirman:
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ
“Kalau ada dua kelompok kaum mukminin berperang maka damaikanlah keduanya. Kalau salah satunya memberontak, maka perangilah mereka sampai mereka kembali kepada Allah.” (Al-Hujurat: 9)

Ketika Ali bin Abi Thalib benar-benar menjumpai orang-orang Khawarij, maka beliau bersama para sahabat pun memerangi mereka. Begitupun seluruh imam baik dari generasi sahabat, tabi’in, atau setelah mereka sepakat bahwa Khawarij itu harus diperangi. Namun Ali bin Abi Thalib tidak mengkafirkan mereka.

Begitu pula sahabat yang lain seperti Sa’d bin Abi Waqqash dan lainnya, mereka juga memerangi orang-orang Khawarij. Namun mereka tetap menganggap Khawarij itu sebagai kaum muslimin. Sehingga cara memeranginya pun berbeda dengan memerangi orang kafir. Bila orang kafir diperangi maka hartanya menjadi ghanimah, wanita dan anak-anak mereka menjadi tawanan. Sedangkan memerangi Khawarij tidak demikian. Mereka hanya diperangi sampai mereka mau kembali ke jalan Allah dan kembali taat kepada penguasanya.

Ali bin Abi Thalib memerangi Khawarij setelah terbukti mereka menumpahkan darah dan merampas harta kaum muslimin dengan zalim. Ali bin Abi Thalib berkata: “Demi Allah, aku akan perangi mereka sampai tidak tidak tersisa 10 orang pun di antara mereka.”
Ketika para sahabat menyebut mereka sebagai kafir, maka Ali berkata:
لاَ، مِنَ الْكُفْرِ فَرُّوْا
“Tidak. Mereka justru lari dari kekufuran.”
Sikap orang-orang Khawarij yang demikian yakni khawatir terjatuh pada kekafiran inilah yang menyebabkan mereka memiliki sikap ekstrim dalam melihat perbuatan dosa. Apa akibatnya? Terjadilah perpecahan dan pertumpahan darah di tengah-tengah kaum muslimin.

Kesesatan Khawarij yang telah jelas diterangkan oleh nash dan disepakati kaum muslimin –bahkan membuat mereka boleh diperangi– tidak menyebabkan mereka boleh untuk dikafirkan. Apalagi beragam kelompok lain yang bermunculan pada masa ini, di mana mereka dihinggapi berbagai kekeliruan dan kebodohan, maka mereka tidak bisa untuk dikatakan sebagai kafir. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu tentang apa yang diperselisihkan.”
Inilah perbedaan antara Khawarij dengan Ahlus Sunnah. Khawarij menganggap kafir kaum muslimin, dan khususnya Ahlus Sunnah, karena dianggap sebagai kelompok yang pro thaghut (pro pemerintah). Namun demikian kita tetap tidak mengkafirkan mereka. Inilah bijaknya Ahlus Sunnah. Mereka berjalan dengan ilmu, bukan dengan emosi. Mereka mengetahui bahwa hukum asal darah kaum muslimin adalah terjaga. Begitu pula dengan kehormatan dan harta kaum muslimin, semuanya terjaga.

Nabi menyatakan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim saat Haji Wada, beliau n berkata:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ
“Sungguh darah, harta, dan kehormatan kalian adalah suci seperti sucinya hari ini (hari Arafah), seperti sucinya bulan ini (bulan Dzulhijjah) dan seperti sucinya negeri ini (Makkah), hingga hari kalian bertemu Rabb kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena itu kita jangan sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang sama dengan Khawarij. Yaitu tidak membedakan antara orang yang salah karena lupa, tidak tahu atau terpaksa, dengan para penentang Sunnah. Hingga akhirnya kita menyamaratakan dan menyikapi mereka dengan sikap yang sama, yaitu memusuhi dan menjatuhkan kehormatannya.
Kita harus menjaga agar darah kaum muslimin tidak tertumpah dengan cara yang dzalim, begitu pula dengan harta dan kehormatan mereka. Karena darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin adalah suci sebagaimana sucinya Hari Arafah, sucinya Kota Mekkah, dan bulan Dzulhijjah. Kita harus menjaga kemuliaan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin sebagaimana kita menjaga kemuliaan hari Arafah, Kota Makkah, dan bulan Dzulhijjah.

Dalam permasalahan ini memang ada pengecualian. Seperti dibolehkan untuk menumpahkan darah kaum muslimin karena qishash, hukum rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, atau karena seseorang keluar dari agama Islam (murtad) yang tentunya semua ini dilakukan oleh penguasa. Ini adalah perkara pengecualian yang dibolehkan untuk menumpahkan darah seorang muslim. Dalam permasalahan harta, dibolehkan saat mengambilnya dalam rangka menjalankan perintah zakat. Sedangkan dalam masalah kehormatan, dibolehkan untuk menerangkan keadaan seorang mubtadi’ (ahlul bid’ah) -yang memiliki pemikiran berbahaya dalam masalah agama- di muka umum, sehingga umat Islam selamat dari pemikirannya.
Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah harta. Seluruh kaum muslimin harus saling menjaga harta saudaranya. Jangan sampai kita merampas harta orang lain secara dzalim, jangan menipu, atau berhutang dengan niat untuk tidak membayar. Semua perbuatan ini juga terlarang sebagaimana terlarangnya menumpahkan darah kaum muslimin.
Sungguh merupakan kejadian yang benar-benar memalukan jika ada seorang yang mengaku Ahlus Sunnah memakan harta saudaranya dengan cara yang dzalim dalam masalah perdagangan atau hutang piutang hingga terjadi permusuhan di antara mereka. Terjadi saling boikot, saling tahdzir, saling mencela, dan sebagainya hanya karena semata-mata masalah uang. Masalah ini bisa menjadi besar dan berbahaya, yang semuanya berawal hanya karena tidak dijaganya harta sesama muslim.
Untuk urusan menumpahkan darah sesama muslim, barangkali Khawarij yang paling ahli. Namun untuk urusan memakan harta sesama muslim dengan cara yang dzalim, melanggar kehormatan saudaranya yang mestinya jangan sampai dilanggar, ternyata terjadi juga di kalangan orang-orang yang mengaku Ahlus Sunnah.

Karena itu saya wasiatkan kepada kita semua dan kaum muslimin, takutlah kepada Allah. Kita bicara tentang Khawarij, bahwa mereka itu kelompok sesat yang telah melanggar hadits Rasulullah n tentang larangan menumpahkan darah sesama muslim dengan cara yang dzalim, sementara di saat yang sama kita pun melanggar hadits tersebut pada sisi yang lain.

Perbuatan mengambil harta sesama muslim dengan cara yang batil atau melanggar kehormatannya, merupakan dua keharaman yang memiliki kedudukan sama sebagaimana larangan menumpahkan darah seorang muslim dengan cara yang batil. Karena tiga masalah ini disebutkan oleh Rasulullah n dalam satu hadits di atas sebagai perkara yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar.

Mari kita mulai dari yang kecil. Kita jaga kehormatan kaum muslimin, kita hormati sesama Ahlus Sunnah dengan tidak saling mengghibah dan mencari aib saudaranya. Bila kita dapati saudara kita berbuat keliru atau melakukan sebuah kemaksiatan, maka yang pantas dilakukan adalah memberi nasihat kepadanya dengan cara yang baik. Inilah semestinya sikap seorang Ahlus Sunnah kepada saudaranya. Bukan dengan mendiamkan dan kemudian menceritakan perbuatan saudaranya itu kepada orang banyak.

Di dunia ini tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bila setiap orang dicari-cari kesalahannya, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat. Yang terjadi kemudian adalah saling membongkar aib, yang pada akhirnya jatuhlah kehormatan kaum muslimin secara bersama. Akan jeleklah keadaan kaum muslimin di mata orang lain.

Lebih-lebih bagi yang menyandang nama Ahlus Sunnah, bisa menyebabkan dakwah ini jatuh. Karena itu, jangan sampai kita menganggap remeh perkara ini. Ghibah kepada sesama muslim akan menyebabkan kehormatan kaum muslimin jatuh. Begitu pula ghibah kepada para dai dan lebih-lebih kepada para ulama, juga akan menyebabkan kehormatan mereka jatuh. Ini semua bisa menyebabkan rusaknya dakwah dan hilangnya ukhuwah Islamiyah.
Wallahu a’lam.

(Diambil dari ceramah beliau di Masjid Nurul Barokah, Yogyakarta, tanggal 27 Shafar 1428/19 Maret 2007)

Sumber: http://asysyariah.com/al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/

Sejarah Dakwah Salafiyah di Indonesia – Al-Ustadz Muhammad As-Sewed (Audio)

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafizhahullah
Sabtu, 12 Shafar 1436H – 05/12/2014M
Ma’had Darul Ihsan, Madiun

— Download audio | Mp3 versi 16 Kbps —

Sejarah Dakwah Salafiyah di Indonesia

Archive | Dropbox | 9.9 MB – [Sesi 1]

Archive | Dropbox | 7.0 MB – [Sesi 2]

Archive | Dropbox | 3.9 MB – [Sesi 3]
–| Tanya Jawab |–

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih “Save Link As …”. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Sumber: http://www.alfawaaid.net/2014/12/audio-al-ustadz-muhammad-as-sewed.html

Download Audio Muhadhoroh Islam Ilmiyah Bandung

Download Audio Muhadhoroh Islam Ilmiyah Bandung
Tempat: Masjid Ma’had Adhwa ‘Us Salaf Cileunyi
Pelajaran: Kaidah-Kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah’”
Pengkaji: Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafizhohulloh

Kaidah-kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah-(Ustadz Muhammad Umar As Sewed) 11 Dzulqa’dah 1435H-1

Kaidah-kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah-(Ustadz Muhammad Umar As Sewed) 11 Dzulqa’dah 1435H-2

24 Tanya Jawab + 1 Thausiah Untuk Ikhwah Bandung:
1. Apakah seorang yang lambat dalam menyampaikan fatwa ulama termasuk hizbiyah gaya baru ?
Tanya Jawab 1

2. Apakah dengan ditahdzirnya Dzulqarnain oleh ulama Khibar dapat dikatakan beliau sebagai ahlu bid’ah ?
Tanya Jawab 2

3. Bagai mana Syaikh Muhammad Al Imam saat ini, apakah jika ada Da’i yang membelanya patut untuk diwaspadai ?
Tanya Jawab 3

4. Apakah Abdul Ghofur al malanji adalah fatan (ahlul fitnah) apa sikap kita terhadap ustadz yang mengatakan Abdul Ghofur adalah fatan ?
Tanya Jawab 4

5. Apakah boleh seorang khatib jum’at ketika di atas mimbar mendo’akan laknat khusus ?
Tanya Jawab 5

6. Bagai mana sikap kita terhadap ustadz yang setau ana hubungannya dengan da’i MLM yang menyimpang yaitu Harits Aceh dan Abdul Barr ?
Tanya Jawab 6

7. Syaikh Al Imam mengadakan perjanjian damai dengan syi’ah Rafidhoh dengan terpaksa ?
Tanya Jawab 7

8. Benarkah sikap ustadz yang menerima bantuan dana untuk membangun masjid salafy dari donatur utama masjid AMWA Depok ?
Tanya Jawab 8

9. Berkaitan dengan Hajuri
Tanya Jawab 9

10. Bagaimana sikap saya mana kala ada orang yang satu kampung jauh dari ilmu di lingkungan orang jahil yang menanyakan boleh mendengarkan Radio Rodja ?
Tanya Jawab 10

11. Maaf Ustadz saya baru ngaji, saya dimasukan ke group Wacap oleh ikhwan tapi isinya membuat saya bingung karena isinya tidak boleh ta’lim dengan ustadz A, tidak boleh ta’lim dengan ustadz B, fitnah ini fitnah itu oleh karena itu saya harus belajar ke siapa ?
Tanya Jawab 11

12. Bagai mana dengan  asatidzah dan ikhwan bandung yang masih berhubungan dengan Dzulqarnain ?
Tanya Jawab 12

13. Apakah Habib yang ada di Indonesia adalah ahlul bait, atau kah hanya sekedar klaim belaka ?
Tanya Jawab 13

14. Apakah hukum bersama orang yang telah ditahdzir oleh ulama dengan maksud untuk menasehati ?
Tanya Jawab 14

15. Siapa itu Sofyan Chalid Ruray ?
Tanya Jawab 15

16. Apakah saya diam karena saya belum banyak hafalan al qur’an ?
Tanya Jawab 16

17. Apakah saya mengikuti tahdziran dari ulama seperti Syaikh Robi’ sedangkan saya masih bodoh ?
Tanya Jawab 17

18. Apakah tahdziran Syaikh Robi’ berlaku kepada teman-teman Dzulqarnain sedangkan yang ditahdzir cuma Dzulqarnain saja ?
Tanya Jawab 18

19. Syubhat Baru, Kalo salafusshaleh dulu ada orang yang menyimpang 100 oarang yang mentahdzir 1 ulama, tetapi kalo sekarang ada yang menyimpang 1 orang yang mentahdzir 100 ulama ?
Tanya Jawab 19

20. Bolehkah kita membaca khobar dari Situs ?
Tanya Jawab 20

21. Bila ada seorang Ustadz yang mengatakan “Saya mengikuti fatwa Syaikh Robi’, akan tetapi Ustadz Luqman bertindak buru-buru” apakah ini ada racunnya ataukah ada penyakitnya ?
Tanya Jawab 21

22. Apakah penyebab ilmu yang dipelajari menjadi tidak bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain ?
Tanya Jawab 22

23. Mohon nasihat Ustadz untuk pribadi khususnya,  untuk saya para ikhwan dan ummahat ketika mendengar berita langsung percaya tanpa tabayun khusus ?
Tanya Jawab 23

24. Dalam pemaparan tadi apakah kami masih boleh ta’lim dengan Ustadz yang ada di Bandung ?
Tanya Jawab 24

Thausiah untuk Ikhwah di Bandung
Thausiah

Semoga Bermanfaat

بَارَكَ اللّهُ فِيْكُمْ

Sumber: http://salafybandung.com/?p=549#more-549

Penerimaan Santri Baru Th. Ajaran 2014/2015 Ma’had Dhiya’us Sunnah Cirebon

Penerimaan Santri Baru Ma’had Dhiya’us Sunnah Cirebon

 (Putra dan Putri)

Tahun Ajaran 2014/2015

Waktu dan Tempat Pendaftaran

1. Waktu Pendaftaran

Pendaftaran dimulai:

Tanggal : 1 Mei s.d 17 Juni 2014

Hari : Senin – Kamis

Jam : 09.00 – 14.00WIB

Jenjang pendidikan Mutawasithoh dan Tadribud Du’at
Pengajar :

Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed,

Ustadz Zainul Arifin,

Ustadz Helmi Abdul Qodir Bajri,

Ustadz Muhammad Sungkar,

Ustadz Abu Abdillah,

Ustadz Abdulhamid

2. Sistem Belajar
Untuk Mutawasithoh adalah – insyaAllah- dengan klasikal adapun Tadribud du’at (TD)adalah CBSA( Cara Belajar Santri Aktif )

Materi yang akan diberikan -insyaAllah- meliputi : Aqidah, fiqh, tajwid, siroh, bahasa Arab, akhlaq, khot, hafalan qur’an dan hadits dll.

3. Tempat Pendaftaran

Ma’had Dhiyaus Sunnah.Jl. Elang Raya Rt. 06/03 Komplek Dhiyaus Sunnah, Dukuh Semar, Harjamukti-Cirebon
Ujian Seleksi : tanggal 18 Juni 2014 s.d 19 Juni 2014
Mulai Belajar -insyaAllah- Tanggal 9 Agutus 2014

4. Syarat Pendaftaran
– MTS : Anak usia 12 s.d 15 tahun
– TD : Usia 17 tahun keatas dan membawa surat rekomendasi dari ustadz setempat

  • Sehat Jasmani dan rohani
  • Dapat membaca serta menulis huruf latin dan arab
  • Mengisi Formulir pendaftaran
  • Fotocopy akte/surat kelahiran
  • Membayar administrasi pendidikan

↔ Tempat terbatas!!

Contact person :
1. Abu Sulaiman (081395688853)
2. Abu Khoitsamah (081911387816)

Rekaman Muhadharah Dhiya’us Sunnah Cirebon

Bismillah…

Rekaman Muhadharah Dhiyaus Sunnah Cirebon

Hari Sabtu, 17 Mei 2014

Sesi ke-1 : Ustadz Muhammad Sarbini
http://bit.ly/1hSJacG

Sesi ke-2: Ustadz Muhammad ‘Umar
Assewed
http://bit.ly/1oZuXQ7

Sesi ke-3 : Ustadz Muhammad Sarbini
http://bit.ly/1sDEL2v

Sesi ke-4 plus tanya jawab: Ustadz Muhammad Sarbini
http://bit.ly/1o0dw1Q

Baarakallahufiikum