MENISBATKAN KEPADA MADZHAB IMAM YANG EMPAT

4 madzhab🔉Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan hafizhahullah

Pertanyaan:
Bolehkah fanatik kepada suatu mazhab (pendapat) yang  seseorang menganutnya pada salah satu hukum syariat meskipun dalam hal ini menyelisihi dengan yang benar? Ataukah boleh meninggalkannya dan mengikuti madzhab yang benar pada sebagian hal? Dan apa hukum berpegang satu madzhab saja?

Jawaban:
Bermadzhab dengan salah satu madzhab imam yang empat yaitu madzhab imam ahlussunnah yang empat yang sudah terkenal yang ada, dihafal dan ditulis kaum muslimin serta  menisbatkan kepada salah satu madzhab tidak terlarang. Maka dikatakan: fulan Syafi’i, , fulan Hanafi, dan fulan Maliki. Julukan ini sudah ada sejak dulu diantara ulama bahkan pada ulama senior dikatakan fulan.Hanbali seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah al-Hanbali, Ibnul Qayyim al-Hanbali dan lainnya tidaklah mengapa.
Sehingga sekedar menisbatkan kepada suatu madzhab tidak terlarang, namun dengan syarat tidak terbelenggu dengan madzhab tersebut sehingga diambil semua perkara yang ada, baik yang haq maupun batil, baik yang benar maupun yang salah. Akan tetapi diambil darinya perkara yang benar dan apa yang diketahui sebagai kesalahan tidak boleh diamalkan. Adapun jika tampak baginya pendapat yang kuat, maka dia wajib […]

Kisah Nabi Shalih dan Kaum Tsamud

Peninggalan TsamudBangsa Tsamud dapat dikatakan sebagai bangsa ‘Aad yang kedua. Mereka tinggal di daerah Hijr (sekitar 300 km utara Madinah arah Jordania) dan sekitarnya. Bangsa ini memiliki peternakan dan pertanian yang demikian berlimpah. Kenikmatan demi kenikmatan datang silih berganti. Mereka mampu mengubah bumi yang datar menjadi istana yang mempunyai hiasan begitu indah. Juga gunung-gunung cadas menjulang mereka ubah menjadi gedung-gedung yang indah. Namun mereka tidak mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari Allah ‘azza wa jalla. Mereka mengingkari itu semua. Yang lebih parah lagi, mereka melakukan peribadatan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla  kemudian mengutus kepada bangsa Tsamud, saudara mereka yang berasal dari kabilah mereka sendiri, yakni Nabi Shalih ‘alaihissalam. Mereka telah mengenal silsilah keturunan dan kedudukan Nabi Shalih ‘alaihissalam, juga keutamaan, kemuliaan, kejujuran, serta sikap amanahnya.

[…]

[AUDIO] Syarah Syarhus Sunnah Al Barbahari

شرح-السنة-دار-الصميعي📤 DOWNLOAD MP3 kajian Kitab Syarah Syarhus Sunnah

🎙Pemateri al-Ustadz Muhammad ‘Umar as Sewed -hafidzhahullah-

🕰Kajian ini dilaksanakan setiap malam Kamis, ba’da Maghrib s.d selesai

🕌Tempat Kajian : Masjid Abu Bakar ash Shiddiq, Kompleks Ma’had Dhiyaus Sunnah. Jl. Elang Raya – Dukuh Semar Gg. Putat RT 06/RW 03, Kel. Kecapi, Kec. Harjamukti. 45142

🗺 Peta Google : http://goo.gl/maps/7n7jl

📚 Download Kitab Syarah Syarah Syarhus Sunnah pdfnya disini.

(Kitab yang ada pada link ini mungkin berbeda dengan kitab yang dipakai oleh Al-Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah- saat pembahasan, tapi inti pembahasan dan matannya sama in syaa Allah)

📤 Download Audio (MP3) Lengkapnya di bawah ini ▼ (In syaa Allah diupdate setiap ada kajian baru).

▶ Silahkan dicopy dan didownload untuk kepentingan dakwah dan Tholabul ilmi (dengan tetap mencantumkan sumbernya) […]

Kisah Nabi Hud

Kaum-Aad
Sisa peninggalan kaum ‘Aad

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam kepada bangsa ‘Aad, generasi pertama yang tinggal di daerah Ahqaf di wilayah Hadhramaut (Yaman), ketika semakin bertambahnya kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap para hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka berkata, sebagaimana dalam ayat:
مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ

“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (Fushshilat:15)

Selain itu, kaum ‘Aad juga melakukan kesyirikan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan pendustaan terhadap para rasul. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam ke tengah-tengah mereka untuk mengajak mereka agar menyerahkan segala ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala satu-satunya dan melarang dari perbuatan syirik serta kesewenang-wenangan terhadap hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla.

[…]