Fatwa Ulama: Hukum Membangun Kuburan

Pertanyaan:
Saya perhatikan di daerah kami sebagian kuburan dicor dengan semen seukuran panjang 1 m dan lebar 1/2 m, dan dituliskan padanya nama mayit, tanggal wafatnya, dan sebagian kalimat seperti: “Ya Allah berilah rahmat kepada Fulan bin Fulan…”, demikian. Apa hukum perbuatan semacam ini?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz menjawab:

Tidak boleh membangun pada kubur, baik dengan cor ataupun yang lain, demikian pula menulisinya. Karena terdapat riwayat yang shahih dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang larangan membangun di atas kuburan dan menulisinya. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari hadits Jabir, ia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun.”
Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:
وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ
“dan ditulisi.”
» Read more

Nabi Luth dan Kaum Homoseks

131355403328282608

Gunung Sodom

Kisah Nabi Luth ‘alaihissalam ini seiring dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena beliau adalah murid yang belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kedudukannya seperti anak bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya menjadi nabi di masa Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam masih hidup, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya ke negeri Saddom di Palestina. Masyarakat di sana, selain berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala juga melakukan perbuatan homoseks yang belum pernah ada seorang pun melakukan kekejian ini selain mereka.

Nabi Luth ‘alaihissalam menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan melarang dari perbuatan keji tersebut (homoseks). Namun seruan itu tidak menambah kepada mereka kecuali penentangan dan kedurhakaan. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala hendak menghancurkan mereka, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus beberapa malaikat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan menyampaikan hal ini kepadanya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendebat para malaikat itu, jangan sampai membinasakan kaum Luth ‘alaihissalam dan beliau memang seorang yang penyayang dan santun. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata, » Read more

Zuhud Dalam Urusan Dunia

zuhudHUKUM HADITS: (BERLAKU ZUHUDLAH KAMU DALAM URUSAN DUNIA, NISCAYA ALLAH AKAN MENCINTAIMU) DAN PENJELASAN MAKNANYA

🔉Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Ada hadits yang berbunyi:

ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس

“Berlaku zuhudlah kamu dalam urusan dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berlaku zuhudlah kamu terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.”

Apakah hadits ini shahih dan jika shahih, maka mohon jelaskan kepada kami? Semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda

Jawaban:

» Read more

Keimanan Kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (II)

gua hira2. Sifat Risalah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Setelah kita mengimani sifat basyariah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-  kitapun dituntut untuk mengimani sifat kerasulannya. Sebagaimana Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman :

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

“Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini kecuali hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”(Al-Israa’:93)
Sifat kerasulan inilah yang diingkari oleh kaum musyrikin. Mereka tidak menerima kalau ada seorang manusia diutus sebagai Rasul. Allah -Ta’ala- berfirman tentang mereka :

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka:”Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” (Al-Israa’:94)
Maka walaupun Ahlus-Sunnah meyakini bahwa Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wa sallam- adalah seorang manusia, namun mereka meyakini bahwa ia adalah seorang manusia yang memiliki keistimewaan-keistimewaan: ia adalah sebaik-baik manusia, manusia pilihan, seorang yang diutus sebagai Rasul, pembawa agama ini kepada manusia dan seorang yang diwahyukan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- untuk diterangkan kepada manusia. » Read more

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim bagian 3

book-ikhlas

Sekali lagi Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan nikmat-Nya kepada Ibrahim ‘alaihissalam dan merahmati pula istrinya Sarah yang telah berusia lanjut dan mandul dengan berita gembira akan lahirnya seorang putra dari rahimnya, yaitu Ishaq ‘alaihissalam.

Sebagaimana dengan nabi-nabi terdahulu, ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya, mereka juga mendurhakainya. Allah subhanahu wa ta’ala pun kemudian memutuskan untuk menyiksa mereka. Nabi Luth ‘alaihissalam sendiri boleh disebut sebagai murid Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sehingga hak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadapnya sangat besar.

Datanglah para malaikat yang diutus untuk menghancurkan kaum Nabi Luth ‘alaihissalam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam wujud manusia. Ketika mereka menemuinya dan mengucapkan salam, beliau menjawab salam itu dan segera menjamu mereka. Allah subhanahu wa ta’ala memberi rezeki yang luas dan kedermawanan kepada beliau di mana rumah beliau merupakan persinggahan para tamu.

Diam-diam beliau segera menemui istrinya kemudian menjumpai tamunya sambil membawa daging anak sapi gemuk yang telah matang dan menyuguhkannya kepada mereka. Beliau berkata,

» Read more

SALAFIYYAH TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR

jalan panjang

🔉Syaikh Muhammad Amman al-Jami rahimahullah berkata:

“Barangsiapa yang diberi keteguhan oleh Allah Ta’ala dan teguh di atas aqidah yang diyakini oleh Rasulullah ‘Alaihish Shalatu Wassalam terhadap Rabbnya dalam menetapkan seluruh sifat Allah Ta’la–dan ini yang diyakini para sahabat dan tabi’in– barangsiapa berjalan di atas manhaj ini, niscaya dia termasuk golongan yang selamat bagaimanapun zaman yang akan datang.

Manhaj yang baik itu telah diketahui dan sudah menjadi kesepakatan. Barangsiapa ingin menjadi termasuk golongan yang selamat–dengan ijin Allah Ta’ala dan taufiq-Nya–hendaknya dia belajar manhaj. Hendaknya dia yakin dalam memahami manhaj dan berjalan di atas manhaj ini. Hendaknya dia tidak melihat waktu yang dia berada padanya. Karena arti salafiyyah–sebagaimana anggapan sebagian orang yang sok pintar–masa sementara yang telah berakhir!
» Read more

Keimanan Kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (I)

Rasulullah1.Sifat Basyariyah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad -shalallahu’alaihi wa sallam- adalah beriman bahwa seorang manusia, laki-laki, dari kalangan Arab, dari suku Quraisy, dari Bani Hasyim, yang bernama Muhammad bin Abdillah -shalallahu ‘alaihi wa sallam-  adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- untuk menyampaikan risalah dakwah tauhid.
Dikatakan seorang manusia karena dia tidak memiliki sifat ketuhanan, tidak memiliki sifat Rububiyah, Uluhiyah atau sifat-sifat yang khusus bagi Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.  Allah berfirman :
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا
“Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini kecuali hanyalah seorang manusia biasa yang menjadi rasul?”(Al-Israa : 93)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa”.  (Fushilat : 6)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.(Al-Kahfi : 110)
Dalam ayat-ayat diatas Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar menyatakan bahwa dirinya memang manusia biasa, » Read more

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim ke 2

book-ikhlasKarena menghancurkan seluruh berhala milik kaumnya—hanya menyisakan patung yang paling besar—Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun ditangkap dan dibawa ke tengah lapangan. Namun sesungguhnya inilah yang diharapkan beliau agar dirinya bisa menegakkan hujjah (keterangan) di depan orang banyak.

Setelah kaumnya berkumpul, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibawa ke hadapan mereka:

قَالُوٓاْ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا بِ‍َٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ٦٢ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا

“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya….’.” (al-Anbiya: 62—63)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata demikian sambil memberi isyarat ke arah patung yang masih utuh. Kaum Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berada dalam dua posisi: mau mengakui kebenaran karena tidak mungkin (tidak masuk akal) bila sebuah benda padat yang dibuat oleh tangan mereka sendiri mampu melakukan penghancuran terhadap patung-patung lain, atau mengatakan bahwa patung itulah yang menghancurkan patung-patung lain dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bebas dari tuduhan. Padahal sudah sama diketahui bahwa mereka tidak akan mungkin menjawab dengan jawaban kedua. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengatakan sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَسۡ‍َٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ ٦٣

“Maka tanyakanlah kepada berhala itu, kalau mereka memang dapat berbicara.” (al-Anbiya: 63)

(Ayat) ini menghubungkan suatu masalah dengan sesuatu yang mereka ketahui bahwa itu adalah mustahil. Pada waktu itu tampak jelas kebenaran, mereka pun mengakuinya dan kembali kepada kesadaran, lalu berkata sebagaimana diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٦٤ ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ

“Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menzalimi (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk..” (al-Anbiya: 64—65)

Yakni, mereka mengakui kebatilan sifat Ilahiyyah pada berhala tersebut dalam waktu yang begitu singkat. Tampak hujjah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat itu juga, sehingga tidak mungkin lagi bagi mereka untuk sombong menolak kebenaran tersebut.

» Read more

Bagaimana Cara Menghilangkan Sifat Sombong dan Menjadi Rendah Hati

tidak sombong

🔉Al Imam Ibnu Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Banyak sekali teks syariat dari Al-Qur’an dan sunah yang memerintahkan untuk bersikap tawaduk (rendah hati) kepada Allah dan seluruh makhluk, memuji orang -orang yang bersikap tawaduk, dan menjelaskan balasan yang akan mereka terima di dunia. Selain itu, banyak sekali teks yang melarang sikap sombong dan menjelaskan hukuman bagi orang -orang yang sombong. Pertanyaannya, bagaimana cara menghilangkan sifat sombong dan menjadi orang yang tawaduk?

Jawaban: Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim harus waspada dari sifat sombong dan selalu bersikap rendah hati. Barangsiapa “Berendah hati karena Allah satu derajat, maka Allah akan meninggikan satu derajat.” Barangsiapa bersikap sombong, maka dia terancam dihinakan Allah. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu. Seorang lelaki berkata, “Rasulullah, aku ingin pakaianku baik dan sandalku baik. Apakah hal itu termasuk kesombongan?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, » Read more

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim

book-ikhlas
Dalam berdakwah menghadapi kaumnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam banyak melakukan dialog yang penuh dengan hikmah dan hujjah, yang bila hati seseorang masih bersih niscaya akan menerima dakwah beliau. Namun mereka tetap pada kekafirannya, termasuk ayah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sendiri.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam Al-Qur’an berbagai berita dan sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam kisah itu terdapat teladan bagi kita terhadap para nabi secara umum, khususnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena sesungguhnya Allah  subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Nabi kita dan kita semua untuk mengikuti millah (agama) Ibrahim. Yang dimaksud adalah akidah atau keyakinan, akhlak dan amalan beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan hidayah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan mengajarkannya hikmah sejak masih kecil. Allah subhanahu wa ta’ala perlihatkan kepada beliau kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala di langit dan bumi. Karena inilah beliau menjadi manusia yang paling kuat keyakinan dan ilmunya dalam agama serta paling besar kasih sayangnya kepada sesama hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala utus Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ke tengah-tengah kaum musyrikin yang menyembah matahari, bulan, dan bintang. Mereka adalah ahli-ahli filsafat Shabi’ah[1] yang merupakan golongan yang paling keji dan paling besar bahayanya terhadap hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah berusaha mengajak mereka dengan berbagai cara.

» Read more

1 2 3 4 19