Metode Selamat (Bagian 1)

Metode Selamat

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Metode salaf, ahlus sunnah wal jaa’ah dalam memahami agama ini sangat tepat dan selamat dari berbagai macam penyimpangan.

1. Dalam masalah Tauhid
Mereka, para ulama ahlus sunnah selalu mementingkan tauhid dan menjeaskan bahwa tauhid لا اله إلاا الله bermakna “Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah” (uluhiyyah), sebagaimana terkan-ung dalam ayat:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا… النساء: 36

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun… (an-Nisaa’: 36)

Dengan prinsip ini, mereka selamat dari kekafiran atheisme yang tidak bertuhan dan selamat pula dari paganisme yang bertuhan banyak.

2. Dalam masalah Asma’ wa Sifat
Mereka, para ulama ash-habul haits (ahlus sunnah) tidak berani berbicara tentang sifat-sifat Allah kecuali apa yang telah dikatakan oleh Allah dalam al-Qur’an dan apa-apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih. Mereka tidak berani pula menarik maknanya kepada makna lain selain apa yang terdapat pada teksnya. Karena masalah sifat-sifat Allah adalah ghaib, tidak ada seorang pun yang dapat menebak-nebak atau memikirkan dzat Allah.

وَلِلَّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. الأعراف: 180

Hanya milik Allahlah asma’ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (al-A’raaf: 180)

Mereka tidak berani pula membayangkan seperti apa atau bagaimananya.
Maka di samping mereka selamat agamanya, juga selamat akalnya. Orang-orang yang mencari-cari sendiri tentang dzat Allah akan tersesat agamanya dan orang yang membayangkan seperti apa atau bagaimana Allah akan rusak akal-nya.

3. Dalam masalah Ibadah
Mereka, para pengikut salafus shalih, tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sunnah). Mereka tidak berani merubah-rubah, mengganti, mengurangi atau menambahi dari hasil pemikirannya sendiri. Sebagaimana para rasul memerintahkan kepada kaumnya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ. الشعراء: 144

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (asy-Syu’araa: 144)

Yakni bertakwanya kepada Allah tetapi dengan mengikuti dan mentaati rasul-Nya. Maka Tata cara ibadah menurut mereka sudah baku (tauqifiyyah) tidak bisa diubah-ubah.
Dengan demikian mereka selamat dari kebid’ahan-kebid’ahan (ajaran-ajaran baru) yang tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang pertama. Dan selamat pula dari kesesatan para pengingkar sunnah yang menciptakan agama baru.

4. Dalam masalah sunnah
Mereka –sesuai dengan sebutannya ahlus sunnah– senantiasa berpegang dengan sunnah (ajaran nabi) sebagai tafsir dari al-Qur’an, sehingga mereka dapat memahami al-Qur’an dengan tepat seperti apa yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena ucapan, perbuatan dan perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah terjemahan dari al-Qur’an. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. رواه مسلم وأحمد وأبو داود

Bahwasanya perangai Rasulullah adalah al-Qur’an. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

sehingga mereka selamat dari kesalahpahaman dalam panafsiran al-Qur’an dan selamat dari kesesatan.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضُ. رواه الحاكم عن أبي هريرة، وصححه الألباني

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelah berpegang dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Dan keduanya tidak akan terpisah hingga menemuiku di telaga Haud. (HR. Hakim; Syaikh al-Albani menshahihkanya dalam Shahih Jami’us Shaghir)

5. Dalam pemahaman terhadap al-Qur’an dan sunnah
Mereka mengetahui bahwa generasi terbaik umat ini adalah para shahabat nabi. Maka mereka meyakini bahwa para shahabat lebih memahami al-Qur’an dan sunnah. Sehingga dalam memahami, menyimpulkan dan menerapkan al-Qur’an dan sunnah, mereka melihat ucapan-ucapan para shahabat dan keterangan-keterangan dari mereka, karena yang akan mendapatkan keridhaan dari Allah adalah para shahabat Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. التوبة: 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah: 100)

Sehingga mereka selamat pula dari kesalah-pahaman dan kekeliruan dalam penerapan al-Qur’an dan sunnah.

6. Dalam masalah shahabat nabi
Ahlus sunnah menganggap bahwa para shahabat adalah generasi yang terbaik dan semuanya merupakan rawi-rawi yang adil dan jujur, sehingga mereka menerima riwayat-riwayat haditsnya. Bagi mereka kesepakatan para shahabat merupakan dalil (hujjah) setelah al-Qur’an dan sunnah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa umatku tidak akan sepakat atas kesesatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ. رواه الترمذي عن ابن عمر، وصححه الألباني في صحيح جميع الصغير

Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan. Dan tangan Allah di atas jama’ah. (HR. Tirmidzi; Syaikh al-Albany menshahihkannya dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)

Sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah melihat para hamba dan mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebaik-baik hati para hamba, maka ia jadikan untuk diri-Nya dan diutus sebagai rasul-Nya. Kemudian Allah melihat hati-hati para hamba dan melihat hati-hati para shahabat adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah jadikan sebagai pendukung-pendukungnya, pembela-pembela-Nya dan berperang di atas agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin itu sebagai kebaikan, maka di sisi Allah hal itu baik. Sebaliknya apa yang dilihat oleh mereka sebagai kejelekan, maka di sisi Allah hal itu merupakan kejelekan. (Atsar Hasan Mauquf; diriwayatkan oleh Thayalisi, Ahmad dan Hakim menshahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi; Demikian komentar Syaikh al-Albani dalam Takhrij Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 470)

Keyakinan ini menyelamatkan mereka dari apa yang telah menyesatkan kaum Syi’ah Rafidhah. Dengan caci-makian mereka terhadap para shahabat, gugurlah syariat ini, karena para shahabat adalah pembawa-pembawa ilmu dan rantai rawi yang pertama yang menjembatani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan generasi-generasi setelahnya.

7. Dalam masalah hadits
Para ulama ahlus sunnah tidak sembarangan menerima riwayat suatu hadits, karena sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ucapan-ucapan para shahabat (atsar-atsar) didapat oleh mereka melalui silsilah para rawi yang telah mereka periksa, apakah rawi-rawi tersebut terpercaya (tsiqah), kuat hafalannya (dhabit), sanadnya bersambung (mutashil) ataukah kebalikannya. Sehingga dengan ilmu (Musthalahul hadits) tersebut, mereka memisahkan antara hadits-hadits yang shahih dan hadits-hadits yang dhaif. Kemudian mereka memakai yang shahih dan meninggalkan yang dhaif.

Hingga mereka selamat dari penyimpangan dikarenakan menyangka itu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan selamat dari kebid’ahan yang dikira perintah nabi ternyata bukan dan selamat pula dari ancaman-ancaman Allah terhadap orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam sebuah hadits yang mutawatir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ. متفق عليه

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempatnya dalam neraka. (HR. Bukhari Muslim dan lain-lainnya)

8. Dalam masalah jihad
Jihad dengan makna perjuangan dakwah menyampaikan syariat agama Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus berlangsung setiap saat sepanjang masa.

Adapun jihad bermakna perang menumpahkan darah musuh merupakan ibadah yang dilakukan secara berjama’ah yang tidak bisa dilakukan kecuali bersama seorang penguasa (imam). Dan yang diperangi adalah orang-orang kafir harbi. Namun bukan menunggu munculnya imam tertentu seperti Syi’ah Rafidhah, tapi dengan penguasa muslim yang ada sekarang.

Dengan prinsip mereka ini, kaum muslimin selamat dari fitnah dan kekacauan. Kalau saja dibiarkan setiap muslim “berperang” sendiri-sendiri, membunuh orang-orang kafir di mana pun dia temui, maka akan terbunuh orang kafir yang tidak layak dibunuh (perempuan, anak-anak, kafir dzimni, dan kafir mu’ahad) bahkan bisa jadi akan membunuh orang-orang muslim yang dianggap kafir. Maka yang terjadi adalah kekacauan dan pertumpahan darah sesama kaum muslimin.

9. Dalam masalah iman
Para ulama ahlus sunnah sejak zaman salafus shalih sampai hari ini meyakini bahwa iman bisa bertambah dan bisa berkurang bahkan bisa hilang sama sekali. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

(Bersambung)

Belajar Mengucapkan “SAYA TIDAK TAHU”

Belajar Mengucapkan “SAYA TIDAK TAHU”

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Di samping golongan para pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, ada pula golongan yang “sok tahu”. Mereka berbicara sesuatu tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal itu akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata yaitu mata dunia, Ya’juj wa ma’juj adalah pasukan mongol dan lain-lain.

Maka pada kesempatan kali ini akan kami bawakan beberapa dalil dan ucapan para shahabat dan ulama yang membimbing kita untuk bejalar mengatakan “tidak tahu” terhadap hal-hal yang memang tidak diketahui, apalagi pada perkara-perkara ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Allah Subhanahu Wara’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً. (الإسراء: 36)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan ten-tangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya. (al-Israa’: 36)

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan kepada kita agar tidak berbicara tentang sesuatu, kecuali dengan ilmu. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan perkara-perkara ghaib, apakah yang berkaitan dengan dzat Allah, perbuatan Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau pun perkara-perkara yang belum terjadi dan akan datang seperti tanda-tanda hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka atau pun yang selainnya.
Dalam masalah-masalah tersebut, kita tidak mungkin bisa mengetahuinya dengan panca indera atau akal kita. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang diberitakan dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih sesai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat Radhiallahu ‘anhum

Mu’adz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu ketika ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tentang sesuatu yang tidak diketahui, maka beliau menjawab allahu wa rasuluhu a’lam. Disebutkan dalam satu hadits yang diriwayat-kan dari Mu’adz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam berkata kepada Mu’adz:

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟

Ya Mu’adz tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?
Mu’adz Radhiallahu ‘anhu menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَلاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْئًا.

Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bertanya lagi:

أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟

Tahukah engkau apa hak mereka jika telah menunaikannya?
Mu’adz menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan adab seorang shahabat ketika ditanya dengan sesuatu yang tidak dia ketahui, mereka mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”1).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam sendiri pun diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menjawab “allahu ‘alam” ketika ditanya tentang ruh, karena itu adalah urusan Allah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً. (الإسراء: 85)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urus-an Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (al-Isra’: 85)

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak malu untuk mengatakan “tidak tahu” pada perkara-perkara yang memang Allah tidak turunkan ilmu kepadanya. Atau beliau menunda jawabannya hingga turun jawaban dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Hikmah dari jawaban-jawaban beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam ini adalah: kaum Yahudi dan Musyrikin mengetahui betul bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak mengucapkan dari hawa nafsunya, melainkan wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Jika ada keterangan wahyu dari Allah beliau jawab, dan jika tidak, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam menundanya.

Imam asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya tentang satu masalah, beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Maka si penanya heran dan berkata: “Apakah engkau tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’, padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?” Beliau menjawab: “Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’ ketika Allah tanya:

أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. (البقرة: 31)

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!”. (al-Baqarah: 31)

Maka para malaikat menjawab:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. (البقرة: 32)

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (al-Baqarah: 32)
(Lihat ucapan asy-Sya’bi dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadllihi (2/51) melalui Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim karya Salim bin ‘Ied al-Hilali).

Dakwah ini adalah menyampaikan apa yang Allah turunkan dan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam jelaskan. Bukan buatan sendiri, berpikir sendiri, atau memberat-beratkan diri dengan sesuatu yang tidak ada ilmu padanya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ. (ص: 86-88)

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri).” Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi. (Shaad: 86-88

Karena ayat inilah Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu marah ketika ada seseorang yang berbicara tentang tanda-tanda hari kiamat dengan tanpa ilmu. Beliau Radhiallahu ‘anhu berkata:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيُقُلْ: اللهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ اللهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ عَلَيْهِ وَسَلاَّمَ: ((قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ)).

“Barangsiapa yang memiliki ilmu maka katakanlah! Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu maka katakanlah: ‘Allahu a’lam!” Karena sesungguhnya Allah telah mengatakan kepada nabi-Nya: ((“Kata-kanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (me-maksakan diri”))”.
(Atsar riwayat ad-Darimi juz 1/62; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayaanil Ilmi, juz 2/51; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 797; al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqih; melalui nukilan Hilyatul Alimi al-Mu’allim, hal. 59)

Demikian pula Abu Bakar Shiddiq radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang tafsir suatu ayat yang tidak beliau ketahui, beliau menjawab: “Bumi mana yang akan aku pijak, langit mana yang akan menaungiku, mau lari ke mana aku atau apa yang akan aku perbuat kalau aku mengatakan tentang ayat Allah tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki”. (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, juz 2/52; Bai-haqi dalam al-Madkhal, no. 792. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’allim, hal. 60)

Diriwayatkan ucapan yang semakna dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu dan juga dinukilkan dari para shahabat oleh para ulama setelahnya seperti Maimun bin Mihran, Amir asy-Sya’ bi, Ibnu Abi Mali-kah dan lain-lain. (Lihat sumber yang sa-ma hal. 60)
Pernah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab: “Aku tidak mempunyai ilmu tentangnya”, (padahal pada saat itu beliau sebagai khalifah –pent.). Beliau berkata setelah itu: “Duhai dinginnya hatiku (3x)”. Maka para penanya berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, apa maksudmu?” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjawab: “Yakni dinginnya hati seseorang ketika ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui, kemudian ia menjawab: “Wallahu a’lam”“. (Riwayat ad-Darimi 1/ 62-63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 794 dari jalan yang banyak. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 60)

Kejadian yang sama juga terjadi pada Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma , ketika beliau ditanya: “Apakah bibi mendapatkan warisan?” Be-liau menjawab: “Saya tidak tahu”. Kemudian si penanya berkata: “Engkau tidak tahu dan kami pun tidak tahu, lantas…?” Maka Ibnu UmarRadhiallahu ‘anhuma berkata: “Pergilah kepada para ulama di Madinah, dan tanyalah kepada mereka”. Maka ketika dia berpaling, dia berkata: “Sungguh mengagumkan, seorang Abu Abdirrahman (Yakni Ibnu Umar radhiallahu ‘anhum) ditanya sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau katakan: “Saya tidak tahu”. (Riwayat ad-Darimi 1/63; Ibnu Abdi Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171-172; al-Baihaqi dalam al-Madkhal, 796. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 61)

Datang seseorang kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah bertanya tentang satu masalah hingga beberapa hari beliau belum menjawab dan selalu mengatakan: “Saya tidak tahu”. Sampai kemudian orang itu datang dan berkata: “Wahai Abu Abdillah, aku akan keluar kota dan aku sudah sering pulang pergi ke tempatmu (yakni meminta jawaban)”. Maka Imam Malik menundukkan kepalanya beberapa saat, kemudian mengangat kepalanya dan berkata: “Masya Allah Ya hadza, aku berbicara adalah untuk mengharapkan pahala. Namun, aku betul-betul tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilya, 6/323; Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi, 2/53; Baihaqi dalam al-Madhkal no. 816; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, 2/174; Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim, hal. 63).

Dari beberapa ucapan di atas, kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita ketahui dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dilarang untuk berbicara pada sesuatu yang tidak kita ketahui.

Sebagai penutup kita dengarkan nasehat seorang ulama sebagai berikut:
“Belajarlah engkau untuk mengucapkan ’saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu –pent.), karena sesungguh-nya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai engkau tahu. tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, maka mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga kamu tidak tahu”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 2/55 melalui nukilan Hilyatul ‘Alim al-Mu’alim, Salim bin ‘Ied al-Hilaly, hal. 66)

Perhatikanlah pula ucapan Imam asy-Sya’bi rahimahullah : “Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu”. (Riwayat ad-Darimi 1/ 63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2/173; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 810. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 65)
Maka kalau seseorang ’sok tahu’ tentang sesuatu yang tidak ada ilmu padanya, berarti bodoh di atas kebodohan. Yakni bodoh tentang ilmunya dan bodoh tentang dirinya (Tidak menyadari kebodohannya).

Catatan Kaki:
1) Jawaban di atas diucapkan jika pertanyaannya berkaitan dengan masalah syari’at. Namun, jika perta-nyaannya berkaitan dengan masalah takdir dan sejenisnya, jawabannya cukup dengan “wallahu a’lam”, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam sendiri pun tidak mengetahuinya. (Demikianlah yang kami dapatkan dari Syaikh ‘Utsaimin dalam majlisnya).

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 74/Th. II 07 Rajab 1426 H/12 Agustus 2005 M

Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan

Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Makna Kehidupan
Banyak manusia yang tidak memahami arti kehidupan. Mereka hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka adalah memuaskan hawa nafsunya, “Yang Penting Puas”. Prinsip dan misi mereka adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan, perhitungan dan hisab.

Milik siapakah mereka? Apakah mereka tercipta begitu saja? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?

أَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْئٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ؟
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan? (ath-Thuur: 35)

Allah menciptakan kita, memberikan kepada kita kehidupan adalah untuk suatu tujuan dan tidak sia-sia:

أَيَحْسَبُ اْلإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia? (al-Qiyamah: 36)
Berkata Imam Syafi’i (ketika menafsirkan ayat ini): “Makna sia-sia adalah tanpa ada perintah, tanpa ada larangan.” (Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, Ibnu Katsir, jilid 4, cet. Maktabah Darus Salam, 1413 H hal. 478)

Jadi manusia hidup tidak sia-sia, mereka memiliki aturan, hukum-hukum, syariat, perintah dan larangan, tidak bebas begitu saja apa yang dia suka dia lakukan, apa yang dia tidak suka dia tinggalkan.

Hidup dan Mati Adalah Ujian
Setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian. Allah jalla jalaaluh menjadikan kehidupan dan kematian sebagai ujian. Siapa di antara manusia yang terbaik amalannya?

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلَُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh berkata: “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan sunnah”. (Iqadhul Himam al-muntaqa min Jami’il Ulum wal Hikam, Syaikh Salim ‘Ied al-Hilali, hal. 35)

Kita hidup di dunia adalah untuk diuji, siapa yang paling ikhlas amalannya hanya murni untuk Allah semata dan siapa yang paling sesuai dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan apa makna kehidupan dan apa makna kematian?

Saudaraku-saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya Allah menciptakan kita adalah untuk satu tugas yang mulia yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah turunkan kitab-kitabnya, Allah mengutus rasul-rasul?Nya adalah untuk misi ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (adz-Dzariyat: 56)
Sehingga hidup kita ini tidaklah sia-sia, melainkan kehidupan sementara yang sarat akan makna dan kelak akan ditanya tentang apa yang kita perbuat di dunia ini.

Kehidupan di dunia hanya sementara
Ingatlah, kehidupan ini hanya sebentar. Pada saatnya nanti kita akan memasuki alam kubur (alam barzakh) sampai datangnya hari kebangkitan. Lalu kita akan dikumpulkan di padang mahsyar, setelah itu kita menghadapi hari perhitungan (hisab). Dan kita akan menerima keputusan dari Allah, apakah kita akan bahagia dalam surga ataukah akan sengsara dalam neraka.

Kehidupan setelah mati ini merupakan kehidupan panjang yang tidak terhingga. Kehidupan ini disebutkan dalam al-Qur`an dengan istilah خالدين فيها (kekal di dalamnya) atau dengan أبدا (selama- lamanya) atau dengan istilah لا ينقطع (tidak akan terputus).

Sehari dalam kehidupan akhirat adalah lima puluh ribu tahun kehidupan di dunia. Maka kita bisa lihat betapa pendeknya kehidupan manusia yang tidak ada sepersekian puluh ribu dari hari kehidupan akhirat. Berapa umur manusia yang terpanjang dan berapa yang sudah kita jalani? Itu pun kalau kita anggap umur yang terpanjang, sedangkan ajal kita tidak tahu, mungkin esok atau lusa.

Oleh karena itu seorang yang berakal sehat akan lebih mementingkan kehidupan yang panjang ini. Seorang yang cerdas akan menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi.

وَابْتَغِ فِيْمَآ ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi… (al-Qashash: 77)

Namun kebanyakan manusia lalai dari peringatan Allah di atas. Mereka lebih mementingkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan lupa terhadap kehidupan akhirat yang kekal.

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَاْلأَخرَاةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (al-A’laa: 16-17)
Allah hanya meminta kepada kita dalam kehidupan yang pendek ini untuk beribadah kepada-Nya semata dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Hanya itu. Kemudian Allah akan berikan kepada kita kebaikan yang besar di kehidupan yang panjang yaitu kehidupan akhirat

Kematian adalah pasti
Alangkah bodohnya kalau kita lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang membuang kesempatan kehidupannya di dunia hingga kematian menjemputnya. Padahal Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimajukan dan dimundurkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya. (al-A’raaf: 34)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)

Untuk itu Allah dan rasul-Nya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati dalam keadaan Islam. (Ali Imran: 102)
Dengan demikian berarti kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita, sehingga ketika datang kematian kita dalam keadaan Islam.

Ibnu Katsir berkata: “Beribadah kepada Allah adalah dengan taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah agama Islam karena makna Islam adalah pasrah dan menyerah diri kepada Allah… yang tentunya mengandung setinggi-tingginya keterikatan, perendahan diri dan ketundukan”. (lihat Fathul Majid, Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaih hal 14) Yakni kita diperintahkan untuk pasrah dan menyerah kepada Allah. Diri kita dan seluruh anggota badan kita adalah milik Allah, maka serahkanlah kepada-Nya.
“Ya Allah kami hamba-Mu, milik-Mu, Engkau yang menciptakan kami dan memberikan segala kebutuhan kami. Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu, kami pasrah dan menyerah untuk diatur, dihukumi, diperintah dan dilarang. Kami taat, tunduk, patuh karena kami adalah milikmu.”

Inilah makna Islam sebagaimana terkandung secara makna dalam sayyidul istighfar:

أََللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا سْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Ya Allah Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah (yang patut disembah) kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku di atas janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku perbuat. Aku mengakui untuk-Mu dengan kenikmatan-Mu atasku. Dan aku mengakui dosa-dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, juz 7/150)
Tidaklah seseorang meminta ampun kepada Allah dengan doa ini kecuali akan diampuni.

Dengan ikrar dan pernyataan kita tersebut, kita sadar bahwa semua anggota badan kita adalah milik Allah. Untuk itu harus digunakan sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kita harus menggunakan tangan kita sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus menggunakan kaki kita untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah. Mata, lisan dan telinga kita harus dipakai pada apa yang dibolehkan oleh Allah karena pada hakekatnya semua itu milik Allah.

Siapakah yang lebih jahat dari orang yang menggunakan sesuatu milik Allah untuk menentang Allah? Sungguh semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan akan ditanyakan langsung pada anggota badan tersebut. Mereka (anggota badan tersebut) akan menjawab dengan jujur di hadapan Allah untuk apa mereka digunakan.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (al-Isra’: 36)

Kematian sebagai peringatan
Ayat-ayat dalam alQur`an yang menceritakan tentang kematian terlalu banyak. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari akan terjadinya kematian ini. Namun mengapa kebanyakan mereka tidak menjadikan kematian sebagai peringatan agar bersiap-siap menuju kehidupan abadi dengan kebahagiaan di dalam surga. Sesungguhnya manusia yang paling bodoh adalah manusia yang tidak dapat menjadikan kematian sebagai peringatan. Dikatakan dalam sebuah nasehat:

مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ
Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur`an cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.
Saat ini wahai kaum muslimin, kita masih mempunyai peluang dan kesempatan, maka sekarang juga kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada rabb kita. Waktu ini bagaikan pedang, jika kita tidak mengisinya maka ia akan menikam kita. Sebagaimana dikatakan oleh para salaf:

اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تُقَطِّعْهُ قَطَّعْكَ.
Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak memutusnya (mengisinya) maka dia yang akan memutusmu (menghilangkan kesempatanmu).
Jika ia tidak cepat dimanfaatkan dia akan membunuh kesempatan kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌُ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. (HR. Bukhari)
Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia. Namun sayang, kebanyakan manusia lalai daripadanya dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, hingga kesempatan itu hilang dengan datangnya kematian.

(Dikutip dari buletin Manhaj Salaf, Edisi: 55/Th. II, tgl 21 Shafar 1426 H, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed)

Dauroh Sehari: “Kejahatan Penggembosan dan Sikap Lembek Terhadap Manhaj Al-Haq”

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dengan mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hadirilah Kajian Ilmiyah Islamiyah 1 Hari.

Dengan tema:

ﺟﻨﺎﻳﺔ ﺍﻟﺘﺨﺬﻳﻞ ﻭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ الحق

# Kejahatan Penggembosan dan Sikap Lembek Terhadap Manhaj al-Haq #

Pembicara -insyaAllah- : Al Ustadz Usamah Faishal Mahri -hafidzahullah-
Tempat: Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq
Waktu: Ahad, Pukul 09.00 WIB s.d. selesai
Tanggal: 21 Jumadil-Ula 1435 H / 23 Maret 2014 M
Alamat: Kompleks Ponpes Dhiya As-Sunnah
Jl. Elang Raya Dukuh Semar, Kecapi, Harjamukti, Cirebon

Info :
081312222345 (Ahmad Salafy)

InsyaAllah LIVE di
Streaming Radio di http://salafycirebon.com
Radio 107.7 Mhz Adh-Dhiya FM
Streaming radio Miratsul Anbiya Indonesia di www.miratsul-anbiya.com

Dauroh 3 Cirebon

Dauroh 3 Cirebon

Rute Menuju Ma’had Dhiyaus Sunnah, Cirebon di sini: http://salafycirebon.com/rute-menuju-mahad-dhiyaus-sunnah-cirebon.htm

Peta Menuju Mahad Dhiya' Sunnah

Peta Menuju Mahad Dhiya’ Sunnah

Mohon sebarkan..
بارك الله فيكم

Murottal Al-Quran Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Plus Khutbah Jumat

Bacaan Murottal Al-Quran Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed*

MP3 Al-Fatihah

MP3 An-Naba’

MP3 An-Naazi’at

 

Bonus Khutbah Jumat & Khutbah Ied Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed –Hafizhahullah-

02_Hikmah ibadah haji.mp301_Ahlu bid’ah sulit bertobat.mp3

03_Fitnah syubhat dan syahwat.mp3

04_anak istri merupakan ujian.mp3

khutbah jum’at ust.muhammad as-sewed 12-08-2011.wav

001_13-01-2012 tikaman syiah terhadap para shohabat.mp3

01_khutbah idul fitri 2011.wav

02_06-11-11 khutbah idul adha.mp3 

Download Kajian Ustadz Muhammad Umar As-Sewed :

Ahlus Sunnah Peduli Terhadap Urusan Umat Islam

  1. Ahlus Sunnah Peduli Terhadap Urusan Umat Islam 01.mp3
  2. Ahlus Sunnah Peduli Terhadap Urusan Umat Islam 02.mp3

Faidah Menundukkan Pandangan Mata

  1. Faidah Menundukkan Pandangan Mata.mp3

Sumber: http://belajarkenalislam.blogspot.com/2012/01/murottal-ust-muhammad-as-sewed.html

Ruju’ Kepada Kebenaran adalah Ciri Ahlus Sunnah

Ruju’ Kepada Kebenaran adalah Ciri Ahlus Sunnah
(Kata Pengantar Buku Meredam Amarah Terhadap Pemerintah)

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed -Hafidzahullah-

Dakwah Salafiyyah sejak dulu tidak pernah terikat dengan pribadi manapun kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Dakwah Salafiyyah juga tidak pernah terikat dengan organisasi apapun. Dakwah ini hanya terikat dengan Al Quran dan As Sunnah di atas pemahaman para shahabat radiyallahu ‘anhum dan seluruh Salafus Shalih yang dibawa para Ulama Ahlus Sunnah.

Pengikut dakwah Salaf Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk mengkaji ilmu dan mengamalkannya di atas sumber-sumber tersebut. Karena itu, mereka senantiasa berjalan di atas ilmu dan bimbingan para ulama.

Namun para Salafiyyun (pengikut dakwah Salafiyah) bukanlah orang-orang yang ma’shum yang terbebas dari kesalahan. Mereka sangat mungkin untuk tergelincir dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan Dan sebagai realisasi dari sikap tunduk mereka di hadapan kebenaran, setiap terjadi penyimpangan dari jalan yang lurus atau penentangan terhadap ulama, segeralah mereka saling mengingatkan dan meluruskannya. Sehingga kritik, koreksi, teguran, atau bantahan ilmiah adalah sesuatu yang sangat wajar dalam sejarah perjalanan dakwah ini. Sebaliknya sikap taqlid, membebek dan ikut-ikutan sama sekali tidak dikenal oleh Ahlussunnah dan Salafiyyun.

Hidupnya budaya kritik ilmiah akan memperlihatkan siapa yang benar-benar berdiri sebagai Ahlussunnah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. Bagi mereka yang menolak kritik dan tidak mau rujuk pada kebenaran, maka mereka adalah pengikut hawa nafsu atau ahlul ahwa. Bagi Ahlus Sunnah, teguran dan kritik akan segera membawanya kembali kepada Al Haq. Sedangkan pengikut hawa nafsu, mereka akan menentang ilmu dan nasehat ulama dengan berbagai alasan. Mereka berani menarik-narik makna ayat dan hadits agar mencocoki hawa nafsu, bahkan berani mencela para ulama agar ditolak fatwanya.

Dengan prinsip ini, maka kami membuat pernyataan ruju kepada kebenaran dan kembali kepada prinsip dakwah Salafiyyah setelah kami mengalami berbagai ketergelinciran. Yakni saat kami menjalani jihad di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulteng), karena dalam jihad tersebut kami banyak terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Salaf.

Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seperti inilah yang terjadi pada Ahlul bid’ah dan hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyin (pengikut Sayyid Quthb) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya :

  1.  Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan sistim imarah dan bai’at.
  2. Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi.
  3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa.
  4. Mencari dukungan politis dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan apakah mereka Ahlus Sunnah, orang awam atau Ahlul Bid’ah.
  5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan Ahlul Bid’ah.
  6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu daya.
  7. Bermudah-mudahan dalam maksiat seperti fotografi dan ikhtilath karena mengimbangi orang awam.
  8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan dan seterusnya.

Kemudian datanglah teguran dari para ulama dengan harapan agar kami kembali kepada Manhaj Salaf dalam dakwah dan jihad serta membubarkan diri dari Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) dan Laskar Jihadnya (LJ). Maka karena kami memulai Jihad ini dengan bimbingan para ulama, maka bubarpun juga dengan bimbingan para ulama.

Tidak cukup hanya membubarkan diri dan meninggalkan penyimpangan-penyimpangan yang kami telah terjerumus padanya, namun kami mempunyai kewajiban untuk menerangkan kepada masyarakat bahwa apa yang kami lakukan dahulu bukanlah dari Manhaj Salaf. Karena ketika itu kita mengibarkan bendera Dakwah Salafiyyah dan Ahlus Sunnah, maka kami khawatir penyimpangan-penyimpangan tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Inilah sesungguhnya yang paling penting!

Untuk itulah saya (Muhammad Umar as Sewed) sebagai salah satu mantan dari Dewan Ustadz di FKAWJ yang membawahi LJ, menerjemahkan buku berjudul Al Wardul Maqtuf fi Wujubi Tha’ati Wulati Amril Muslimin Bil Ma’ruf, yang ditulis oleh Syaikh Abu Abdirrahman Fauzi al Atsari *), yang berisi tentang bagaimana seharusnya seorang Salafi Ahlussunnah bersikap kepada penguasanya.
Ini merupakan salah satu realisasi dari sikap rujuk kami.

Dalam buku ini dimuat prinsip-prinsip Ahlus SUnnah yang berkaitan dengan tatacara memberi nasihat dan beramar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa. Juga diterangkan tentang kewajiban taat kepada penguasa selama perintahnya bukan berupa kemaksiatan. Mudah-mudahan dengan ini kita telah melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepada orang yang terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan, sebagaimana firman Nya.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al Baqarah: 160]

Dengan demikian apa yang telah kami lakukan, yang bertentangan dengan prinsip-prinsi Manhaj Salaf, kami bertaubat kepada Allah dan menyatakan dengan tegas bahwa itu bukan Manhaj Ahlus Sunnah, tetapi kekeliruan dan ketergelinciran kami. Hujjah tetap pada Al Quran dan As Sunnah, bukan pada apa yang dilakukan oleh FKAWJ atau LJ atau siapapun yang mengaku Ahlus Sunnah.

Akhirnya, kami – bersama segenap para ustadz yang dulu terlibat dalam FKAWJ/LJ – berharap kepada Allah agar mengampuni kita semua. menerima amal ibadah dan jihad kita dan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan dan Jannah. Juga kami memohon maaf kepada semua pihak dari kaum muslimin umumnya dan Salafiyyin khususnya atas kesalahan kami pada masa lalu itu.

Muhammad Umar As Sewed

(Dikutip dari terjemahan Al Ward Al Maqtuf fi Wujubi Tha’ati Wulati Amri Al Muslimina bi Al Ma’ruf, penulisan Abu Abdirrahman Fauzi al Atsari. Pengantar oleh Asy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan. Penerbit Maktabah Ahlul Hadtis 1419 H, Bahrain bekerjasama dengan Maktabah At Taubah, Riyadh. Edisi Indonesia Meredam Amarah terhadap Pemerintah, Menyikapi Kejahatan Penguasa Menurut Al Quran dan As Sunnah. Penerjemah Al Ustadz Abu Ibrahim Muhammad
Umar As Sewed. Penerbit Pustaka Sumayyah, Jl. Mangga Komplek Pasar Banjarsari Blok F Lantai 1 no 10-11 Pekalongan Tel (0285) 429410 HP/SMS 081 5872 1440. Email pustakasumayyah@plasa.com. Cetakan Pertama, Muharram 1427 H/Februari 2006)

*) Catatan Penting
Pernyataan taubat ini sesungguhnya telah lama saya tulis, namun sayang sekali karena satu dan lain hal buku yang memuat taubat tersebut tak kunjung diterbitkan oleh Maktabah Salafy Press, sampai dengan tutupnya penerbit Maktabah Salafy Press.

Alhamdulillah, buku tersebut akhirnya diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah. Namun sangat disayangkan kembali terlambatnya penerbitan buku terjemah ini sampai pada waktu penulisnya (Syaikh Fauzi Al Atsary) mendapatkan teguran dari syaikh Rabi’ ibn Hadi al Madkhali, (dari Sahab.net).

Mengingat buku ini adalah buku yang bagus dan dipuji syaikh Shalih bin
Fauzan Al Fauzan dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kaum muslimin secara umum dan khususnya orang-orang yang sedang berupaya menelusuri jejak Sunnah, maka saya menerjemahkannya sebagai teguran dan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah kami lakukan di masa Laskar Jihad, bahkan kami memuat waktu itu pujian-pujian para ulama pada penulis buku tersebut. Maka dengan catatan ini saya menyatakan berlepas diri dari kesalahan dan
penyimpangan Syaikh Fauzi Al Atsary yang terjadi kemudian.

Cirebon, 8 Mei 2006

Muhammad Umar As-Sewed

Jadwal Dauroh Bulanan Ma’had Dhiya As-Sunnah, Cirebon

  • 18 Rabi’ul Awal 1435 H/ Ahad, 19 Januari 2014

Pemateri: Al-Ustadz Abu Muawiyah Asykari (Pengasuh Ponpes Ibnul Qoyyin Balikpapan)

  • 16 Rabi’uts Tsani 1435 H/ Ahad, 16 Februari 2014

Pemateri 1: Al-Ustadz Luqman Ba’abduh (Pengasuh Ponpes Jember)
Pemateri 2: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed (Pengasuh Ponpes Dhiya As-Sunnah Cirebon)

  • 15 Jumadil ‘Ula 1435 H/ Ahad, 16 Maret 2014

Pemateri: Al-Ustadz Abdurrohman Lombok (Pengasuh Ponpes Imam Syafi’i Sumbawa, NTB)

  • 20 Jumadi Tsani 1435 H/ Ahad, 20 April 2014

Pemateri : Al-Ustadz Muhammad As-Sewed (Pengasuh Ponpes Dhiya As-Sunnah Cirebon)

  • 19 Rajab 1435 H/ Ahad, 18 Mei2014

Pemateri: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin (Pengasuh Ponpes Al-Bayyinah Sedayu, Gresik)

Download Rekaman Dauroh “Bahaya Bermanhaj tanpa Bimbingan Ulama dan Bahaya Berbicara tanpa Ilmu dalam Perkara Aqidah”

Berikut Ini Rekaman Kajian Ilmiyah yang di adakan pada Hari Ahad 16 Rabi’uts Tsani 1435H/16 Februari 2014M

Masjid Abu Bakar ash Shidiq Ma’had Dhiyaus Sunnah Cirebon

(Sesi Satu) Bahaya Bermanhaj Tanpa Bimbingan Para Ulama

(Sesi Dua) Bahaya Berbicara Tanpa Ilmu dalam Masalah Aqidah

(Sesi Tiga) Sesi Tanya Jawab

 

 

Fawaid Umroh Asatidzah 1435H (Rabiul ‘awal – Rabiul tsani)

BIMBINGAN ULAMA AHLUSSUNNAH TERHADAP TAHDZIR SYAIKH RABI’ BIN HADI AL MADKHALI

ATAS DZULQARNAIN BIN SUNUSI AL MAKASSARY

A.   Al Ustadz Qamar hafizhahullah:  (Pertemuan dengan Syaikh Hani’ bin Buraik hafizhahullah)

     –  Audio bisa di download disini

B.   Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad As Sarbini hafizhahullah: (Kronologis Pertemuan dengan para Masyaikh dan Menjawab Syubhat Khidir Al Makasari)

     –  Audio bisa di download disini

C.   Al Ustadz Abdurrahim Pangkep hafizhahullah: (Hasil Pertemuan dengan para Masyaikh, Menjawab Syubhat Khidir Al Makasari, Persaksian Tala’ubnya Dzulqarnain dan pernyataan rujuk & taubat beliau)

     –  Audio bisa di download disini

D.   Al Ustadz Qamar Suaidi hafizhahullah: (Penajaman kronologis pertemuan dengan Syaikh Hani’ dan tanggapan terkait telekonferensi beliau dengan Dzulqarnain Al Makasari di AMWA) :

     –  Audio bisa di download disini

E.   Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah: (Kronologis pertemuan dengan masing-masing masyaikh serta sikap akhir masing-masing ulama tersebut terhadap Dzulqarnain hadahullah)

     –  Audio bisa di download disini:  Sesi Pertama dan Sesi Kedua

Mudah-mudahan Bermanfaat.

Rute Menuju Ma’had Dhiyaus Sunnah, Cirebon

Dari Luar Kota (angkutan):

Dari Terminal Cirebon – Naik Becak (ongkos Rp 5.000,-) –> turun langsung di Mahad Dhiyaus Sunnah.

Dari Terminal Cirebon – Naik Angkot D2, D3, D4, D5, D6 (ongkos Rp 1.500/2.000,-) –> turun di depan Mahad Dhiya Sunnah atau di lampu merah rajawali –> Jalan sekitar 100 m ke barat menuju Mahad Dhiyaus Sunnah.

Angkot yang berasal dari kabupaten Cirebon :

Angkot GS: Gunung Sari – Sumber  –> turun di Terminal Cirebon. Ikuti rute di atas.

Angkot GC: Gunung Sari – Plered –> turun di Terminal Cirebon. Ikuti rute di atas.

Dari Luar Kota (kendaraan pribadi):

(Arah Jakarta atau tol Ciperna) – dari Terminal Cirebon arah ke timur menyusuri Jalan Ahmad Yani –> Perempatan Lampu Merah Giant belok kiri –> Perempatan Lampu merah Rrajawali  belok kiri –> Mahad Dhiyaus Sunnah berjarak sekitar 100 m.
Dari arah tegal- jawa tengah- Perempatan Lampu Merah Giant belok kiri –> Perempatan Lampu merah elang(rajawali)  belok kiri –> Mahad Dhiyaus Sunnah berjarak sekitar 100 m.

Jalur lewat Kereta:
Turun di stasiun Kejaksan naik Angkot D5 atau D6 ikut rute di atas.
Turun di Stasiun Parujakan naik Angkot D6 ikut rute di atas

Atau bisa naik ojek Rp 15.000,-

Peta Menuju Mahad Dhiya' Sunnah

Peta Menuju Mahad Dhiya’ Sunnah

1 17 18 19 20 21