Keutamaan Bulan Ramadan (Bag. Ke-1)

Bulan Ramadhan memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:

1⃣Bulan al-Quran

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…

Bulan Ramadhan adalah (bulan) diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas berupa petunjuk dan pembeda (al-haq dengan al-bathil)… (QS al-Baqoroh:185)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan setiap malam selalu bertadaarus al-Quran dengan Jibril.

وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Jibril menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadhan dan mengajarkan/menyimak bacaan al-Quran (dari beliau)(HR alBukhari)

Tadaarus al-Quran adalah proses belajar menepatkan bacaan al-Quran. Satu orang membaca, yang lain menyimak. Bisa dengan hafalan, atau dengan melihat mushaf. Bisa dalam hal pengucapan (kaidah-kaidah qiro’ah dan tajwid) atau pemahaman makna. Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa tadaarus al-Quran antara Nabi dengan Jibril tersebut adalah keduanya saling membaca dan menyimak bergantian. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.

Tujuan utama tadaarus adalah belajar menepatkan bacaan. Karena itu tidak benar jika tadaarus dijadikan ajang balapan bacaan, sesegera mungkin ingin menyelesaikan, tanpa memperhatikan benar tidaknya pengucapan lafadz al-Quran. Selain itu, tadaarus di masjid tidak perlu menggunakan pengeras suara yang bisa mengganggu kaum muslimin lain di sekitarnya yang sebagian mereka ada yang berdzikir, membaca al-Qur’an atau bahkan sholat.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah memperingatkan para Sahabat yang sholat dan mengeraskan bacaan qur’annya sehingga mengganggu Sahabat lain yang juga sedang sholat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ

Dari Abu Said beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beri’tikaf di masjid kemudian beliau mendengar para Sahabat mengeraskan bacaan. Kemudian beliau menyingkap tirai, dan bersabda: Ingatlah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka jangan sekali-kali sebagian mengganggu yang lain. Jangan mengeraskan bacaan satu sama lain (H.R Abu Dawud no 1135, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany)

Ramadhan adalah bulan al-Quran. Karena itu para Ulama Salaf semakin menyibukkan diri dengan al-Quran di bulan Ramadhan. Waktu mereka banyak terisi dengan bacaan al-Quran, terlebih di waktu malam.

2⃣Dibuka pintu surga, ditutup pintu neraka.

3⃣Syaithan dibelenggu

Dalil untuk poin 2 dan 3, adalah hadits:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Jika datang bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu Jahannam, dan dibelenggu para Syaithan (H.R alBukhari dan Muslim)

Jika ada pertanyaan: ‘Jika Syaithan telah terbelenggu, mengapa di bulan Ramadhan masih ada kemaksiatan’?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Imam al-Qurthuby:
1) Berkurangnya kemaksiatan terjadi pada orang-orang yang menjalankan shoum dengan benar, memenuhi syarat-syarat dan adab-adabnya dengan baik.
2) Yang dibelenggu tidaklah semua Syaithan, namun marodatus syayaathiin (Syaithan-Syaithan yang tergolong paling durhaka), sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain.
3) Pada bulan Ramadhan, kemaksiatan menjadi berkurang dibandingkan pada bulan lain (tidak berarti hilang kemaksiatan seluruhnya).
4) Seandainya seluruh Syaithan telah dibelenggu, hal-hal yang menyebabkan adanya kemaksiatan masih ada, seperti: jiwa yang buruk, kebiasaan yang buruk, dan Syaithan dari kalangan manusia.
(disarikan dari nukilan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (4/114)

4⃣Tiap malam pada bulan Ramadhan ada yang terlepas dari api neraka.

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Jika (masuk) malam pertama Ramadhan, Syaithan-syaithan dan yang paling durhaka dari Jin dibelenggu. Ditutup pintu-pintu neraka, dan tidak dibuka satupun. Dibuka pintu-pintu surga dan tidak ditutup satupun. Ada penyeru yang berseru: Wahai yang mengharapkan kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menginginkan keburukan, tahanlah. Dan Allah memiliki orang-orang yang dikeluarkan dari neraka. Dan itu terjadi pada tiap malam (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany).

Inilah yang shahih. Itqun minan Naar terjadi pada tiap malam bulan Ramadhan. Sedangkan pembagian Ramadhan menjadi 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua maghfirah (ampunan), dan 10 hari terakhir adalah itqun minan Naar adalah berdasar hadits yang tidak shahih. Dilemahkan oleh al-‘Uqoily dan al-Albany. Sesungguhnya pada tiap malam Ramadhan adalah penuh dengan rahmat, maghfirah, dan itqun minan naar. Wallaahu A’lam.

(dinukil dari Buku ‘Ramadhan Bertabur Berkah’, Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I’tishom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *