Ittiba’ Kepada Rasululah -shallallahu’alaihi wa sallam- (I)

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed โ€“hafidzahullahโ€“

ANTARA TAAT DAN KEPERCAYAAN

Masalah ketaatan tidak lepas dari keimanan dan kepercayaan. Siapa yang beriman dan percaya bahwa Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah, pasti ia akan mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Karena memang diutusnya Rasul adalah untuk ditaati.

โ€œDan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allahโ€.(An-Nisaaโ€™:64)

Maka orang yang tidak mau mentaatinya berarti ia belum mengakui bahwa Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- adalah utusan Allah.

Dalam Al-Qur’an pun tidak sedikit ayat yang memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Diantaranya firman Allah -Taโ€™ala-

โ€œHai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamuโ€.(An-Nisaaโ€™:59)

Lagipula mentaati Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak bisa dipisahkan dengan ketaatan kepada Allah, karena mentaati seorang utusan adalah mentaati yang mengutusnya. Allah berfirman :

โ€œBarangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allahโ€.(An-Nisaaโ€™:80)

TAAT ADALAH MENELADANI DAN ITTIBAโ€™

Bahkan lebih daripada itu Allah memerintahkan kaum muslimin untuk meneladani seluruh akhlak dan tingkah lakunya. Dengan kata lain walaupun Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-tidak memerintahkan sesuatu amalan namun cukup perbuatan beliau sebagai sesuatu yang diperintahkan untuk diikuti. Allah berfirman :

โ€œSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalianโ€. (Al-Ahzab :21)

Kadang dalam Al-Qurโ€™an disebut dengan kalimat โ€œittibaโ€™โ€ (yang bermakna mengikuti) yang lebih luas maknanya dari ketaatan.ย  Allah berfirman :

โ€œDan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas ia berkata: โ€œHai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. ikutilah orang yang tiada minta bayaran kepadamu;mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjukโ€.(Yaasiin:20-21)

Tentunya makna ittiba’ dalam ayat di atas adalah mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, meneladani tingkah lakunya, mengikuti jalannya dan menerima persetujuannya (taqrir).

Dan Allah mengancam orang-orang yang tidak mau berjalan di jalan Rasul, dengan ancaman yang mengerikan di dunia dan di akhirat.

โ€œBarangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembaliโ€.(An-Nisaโ€™:115)

Berkata Ibnu Katsir -rahimahullah- : โ€Bahwa makna โ€œyusyaaqiqโ€ dalam ayat tersebut adalah memisahkan diri dari jalan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Rasul berada di satu jalan, sedangkan ia berjalan di jalan yang lainโ€. (Tafsir Al-Qurโ€™anul-Adhim 1/568)

ITTIBAโ€™ ADALAH LAWAN DARI IBTIDAโ€™

Perintah untuk ittibaโ€™ kepada Nabi merupakan larangan dari lawannya yaitu Ibtidaโ€™ (kebidโ€™ahan), Rasulullahย  -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

โ€œWajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnahnya para Khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-adakan, karena yang demikian adalah bidโ€™ah dan setiap bidโ€™ah adalah sesatโ€.(H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau berkata hadits ini โ€œHasan Shahihโ€)

Berkata Ibnu Masโ€™ud -radhiallahu โ€˜anhu-:

โ€œIkutilah dan jangan mengada-ada! Cukup bagi kalian!โ€(Irsyadul-Bariyyah, Hal.252)

Maka tidak bisa kita sembarangan beribadah dengan apa yang kita rasa baik kecuali setelah ada perintah dari Rasulullahย ย  -shallallahu’alaihi wa sallam-, Rasulullah ย -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

โ€œBarangsiapa yang mengerjakan satu amalan yang tidak kami perintahkan, maka akan tertolakโ€.(H.R. Bukhari dan Muslim)

MENINGGALKAN YANG DILARANG

Termasuk taat kepada Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- adalah meninggalkan apa yang dilarangnya. Maka semua yang Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- haramkan adalah haram, walaupun tidak ada rinciannya dalam Al-Qurโ€™an seperti; hewan buas yang bertaring, keledai jinak. Yang demikian karena sudah ada sekian banyak ayat yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- secara global, seperti dalam perang Khaibar, Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengharamkan keledai jinak.

Kemudian beliau berkata setelah itu : โ€œSebentar lagi akan muncul seseorang yang bersandar diatas sofa dan disampaikan kepadanya satu hadits dar hadits-haditsku, kemudian dia menolak dan berkata: โ€œAntara kami dan kalian adalah Kitabullah, apa yang kita dapati halal kita halalkan dan apa yang kita dapati haram kita haramkanโ€. Ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang di haramkan oleh Rasulullah seperti apa yang di haramkan oleh Allahโ€.(H.R. Ibnu Majah, Abu Dawud dan Baihaqi)

Dalam hadits diatas Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- sudah mengetahui dari Allah akan munculnya para penolak Sunnah (Inkarus-Sunnah).

Bersambung in syaa Allah…

Sumber :

๐Ÿ“‡ Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi 27 / th.IV โ€“20ย  Syaโ€™banย  1429 H / 22ย  Agustus 2008 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.