Hukum Membaca Hadis Nabi dengan Suara Tartil

HUKUM MEMBACA HADITS NABI صلى الله عليه وسلم DENGAN TARTIL

📀Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:
Barakallahu Fiikum, pertanyaan kedua pada surat ikhwah dari Yaman, mereka mengatakan dalam pertanyaan kedua, bolehkah menggunakan tajwid al Quran seperti untuk membaca hadits Nabi صلى الله عليه وسلم dan yang lainnya?

Jawaban:
Dalam tafsir firman Allah تعالى:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَاب

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab.” (Ali Imran: 78)

Sebagian ulama belakangan menyebutkan bahwa di antara perbuatan memutar-mutar lidah membaca al kitab adalah seseorang membaca selain al Qur’an di atas sifat bacaan al Qur’an.

Contohnya, kita membaca hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم seperti membaca al Qur’an atau membaca perkataan ulama seperti membaca al Qur’an. […]

Bolehkah Menjadikan Bunyi Klakson Sebagai Pengganti Salam

Hukum Menyalakan Klakson Sebagai Pengganti Salam

❍ Berkata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمہ الله تـــعالـــﮯ :

❍ وأما ما يفعله بعض الناس إذا مرّ وهو يركب سيارته فإنه يضرب البوق ، فإن هذا لا يكفي في السلام ، وليس من السنة، اللهم إلا أن بعض الناس يقول : ( أنا لا أريد به السلام ؛ لكن أريد أن ينتبه ثم أسلم عليه ) هذا أرجو ألا يكون به بأس ، وأما أن يجعله بدلاً عن السلام ، فإن هذا – لا شك – خلاف السنة ، ( فالسنة أن يسلم الإنسان بلسانه -وإذا كان الصوت لا يُسمع- فإنه يشير بيده ؛ حتى ينتبه البعيد أو الأصم . . ❍

📚 شرح رياض الصالحين ( ٤ / ٤٠٤)

“Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang apabila dia melewati (seseorang) ketika dia mengendarai mobilnya, kemudian dia menyalakan klakson, hal ini tidak cukup sebagai salam, dan bukan termasuk sunnah, kecuali mungkin sebagian orang mengatakan:” Aku tidak menginginkan dengannya salam, akan tetapi aku hanya ingin agar dia lebih perhatian setelah itu aku mengucapkan salam padanya,” […]

Hukum Berjabat Tangan Setelah Salam dari Shalat?

Bid’ah Berjabat Tangan Setelah Salat

Pertanyaan keenam dari fatwa nomor 16843

Pertanyaan 6 :

Seorang imam dari Turki membiasakan berjabat tangan setelah salat Idul Fitri. Hal itu juga ia lakukan pada setiap selesai salat lima waktu selama lebih dari empat tahun. Imam tersebut berdiri di tempat salatnya lalu para makmum mendatanginya dan berjabat tangan dengannya satu per satu. Orang yang pertama kali berjabat tangan berdiri di sampingnya, kemudian orang kedua berdiri di samping orang pertama, orang ketiga berdiri di samping orang kedua, dan seterusnya hingga selesai meskipun jumlah makmum ratusan orang. Seorang imam Arab juga biasa berjabat tangan setelah salat Subuh. Ketika kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Kami melihat saudara-saudara kami dari Turki melakukan demikian.” Kami telah melarangnya, tetapi dia tetap melakukannya. Bagaimana pendapat Anda tentang masalah ini?

Jawaban 6:

Kebiasaan berjabat tangan setelah salat fardu antara imam dan makmum atau antara makum yang satu dan yang lainnya, termasuk bid’ah dan tidak memiliki dasar, dan wajib ditingalkan, […]

Fatwa Ulama tentang Hukum Menyimpan Uang di Bank

بسم الله الرحمن الرحيم

*💰🏠Hukum menitipkan uang di bank*

📝Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i  rahimahullah ditanya:

Apa hukum menyimpan uang di bank tanpa mengambil bunganya dengan berdalil dengan firman Allah Ta’ala, artinya: “bagi kalian pokok harta kalian…”?

Jawaban:  […]

Teori Darwin Manusia Berasal dari Monyet, Bagaimana Hukumnya?

🍌 HUKUM PENDAPAT :
“MANUSIA BERASAL DARI MONYET”

🌿 Syaikh Ibnu Utsaimin -rohimahulloh ta’ala- berkata : “Pendapat ini tidak benar! Yaitu bahwa asal-usul manusia dari kera. Akan tetapi justru orang yang berpendapat seperti itulah yang monyet, karena akal dan pandangannya telah berubah. Maka pantas kita namai dia itu MONYET dan bukan manusia walaupun bersosok manusia.” […]

Hukum Shalat di Mushala Jika Ada Masjid Besar

🏡🌴Asy Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya:

💡Disisi kami terdapat “pondokan” yang kami shalat didalamnya shalat lima waktu, karena didalamnya di kumandangkan adzan akan tetapi tidak ditegakkan shalat berjamaah, maka apa hukum shalat kami di dalamnya?

☑️ Beliau menjawab:
🔅Jika yang dimaksud dengan “pondokan” tersebut adalah mushalla, maka tidak diperbolehkan shalat di dalamnya jika terdapat masjid besar.

🔅Jika terdapat masjid besar, maka shalat berjamaah harus dilaksanakan di masjid besar yang terdapat di dalamnya imam dan muadzin masjid.

🔅Jika di satu kampung hanya ada “pondokan” dan masjid kecil, maka diperbolehkan shalat berjamaah di pondokan tersebut dengan mengumandangkan adzan dan iqamah, dan menunjuk imam yang bertugas mengimami jamaah di setiap waktu shalat. Jika tidak ada imam, maka yang menjadi imam adalah siapa saja yang hadir dalam jamaah namun ia termasuk ahli istiqamah dan layak menjadi imam. Jika tidak ada muadzin tetap, maka yang menjadi muadzin adalah siapa saja yang bisa adzan. […]

[ TANYA-JAWAB ] Sisa Mani Keluar dari Farji, Membatalkan Wudhu?

Bagaimana hukumnya bila seorang istri saat shalat mengeluarkan sisa mani dari farjinya? Dikarenakan sebelumnya dia berjima’ dengan suaminya. Apakah dia harus membatalkan shalatnya. Dan apakah itu membatalkan wudhu?

and…@hotmail.com

 

Dijawab Oleh: al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari […]

[ TANYA-JAWAB ] Siapa Saja Mahram Itu??

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah مُحْرِمٌ , mimnya di-dhammah, yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Adapun mahram bahasa Arabnya adalah ,مَحْرَمٌ mimnya di-fathah.

Mahram dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mereka kita bagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama, mahram karena nasab (keturunan), kedua mahram karena penyusuan, dan ketiga mahram mushaharah (kekeluargaan karena pernikahan).

Kelompok yang pertama ada tujuh golongan:

[…]