Berpuasa dan berhari raya bersama Kaum Muslimin

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwasanya Nabiย  -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda :
ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููุทู’ุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชููู’ุทูุฑููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูุถูŽุญู‘ููˆู†ูŽ
โ€œPuasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Idul Fitri adalah hari di manaย  kalian berbuka dan Idul Adha adalah hari ketika kalian menyembelih kurbanโ€. (HR. Tirmidzi, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)
Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam At- Tirmidzi dari Ishaq bin Ja’far bin Muhammad, dia berkata: “Menyampaikan kepadaku Abdullah bin Ja’far dari Utsman bin Muhammad dari Abi Hurairahย  -radhiallahu ‘anhu-โ€.
Imam At-Tirmidzi mengomentari hadits ini dengan ucapan: “Hadits hasan gharib.”
Asy-Syaikh al-Albani berkata : “Saya katakan bahwa sanad hadits ini bagus, para perawinya semua tsiqah (terpercaya). Hanya pada Utsman bin Muhammad yaitu Ibnul Mughirah bin Akhnas ada pembicaraan sedikit tentangnya. Berkata al-Hafidh dalam at-Taqrib: Jujur, namun kadang keliru”. (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, hadits no. 224, hal. 440)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Majah, Ad Daruquthni dan Abu Dawud, dari jalan-jalan yang lain.
Selain itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata : » Read more

Cara Duduk Tasyahhud Akhir dalam Setiap Sholat

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

Pendahuluan

ุฅู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ู†ุญู…ุฏู‡ ูˆู†ุณุชุนูŠู†ู‡ ูˆู†ุณุชุบูุฑู‡ุŒ ูˆู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุดุฑูˆุฑ ุฃู†ูุณู†ุง ูˆู…ู† ุณูŠุฆุงุช ุฃุนู…ุงู„ู†ุงุŒ ู…ู† ูŠู‡ุฏู‡ ุงู„ู„ู‡ ูู„ุง ู…ุถู„ ู„ู‡ุŒ ูˆู…ู† ูŠุถู„ู„ ูู„ุง ู‡ุงุฏูŠ ู„ู‡ุŒ ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู…ุญู…ุฏู‹ุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู….
ุฃู…ุง ุจุนุฏ:

Sesungguhnya salah satu upaya menghindarkan diri dari fitnah yang melanda disetiap zaman adalah menyibukkan diri dalam menuntut ilmu, menghafal, murajaโ€™ah, belajar , dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada yang lain, yang dengannya seseorang dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah โ€“ shallallahu โ€˜alaihi wa sallam โ€“ bersabda:

(( ู†ูŽุถู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃู‹ ุณูŽู…ูุนูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง ุญูŽุฏููŠุซู‹ุง ููŽุญูŽููุธูŽู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุจูŽู„ู‘ูุบูŽู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ููŽุฑูุจู‘ูŽ ุญูŽุงู…ูู„ู ููู‚ู’ู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽูู’ู‚ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽุฑูุจู‘ูŽ ุญูŽุงู…ูู„ู ููู‚ู’ู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูููŽู‚ููŠู‡ู )).

โ€œSemoga Allah memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang mendengar dari kami satu hadits, lalu dia menghafalnya, hingga dia menyampaikan kepada yang lainnya. Boleh jadi orang yang membawa fiqih menyampaikan kepada yang lebih faqih, dan boleh jadi orang yang membawa fiqih tersebut tidak faqih.โ€

(HR. Tirmidzi (2656), Abu Dawud (3660), Ibnu Majah (230), dari hadits Zaid bin Tsabit โ€“ radhiyallahu โ€˜anhu โ€“ . Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Dan risalah kecil ini merupakan salah satu risalah yang bersifat ilmiah untuk membuka wawasan ilmu fiqih yang ada pada kaum muslimin, sebagai pencerahan intelektual yang menuntut seorang muslim, khususnya kalangan para penuntut ilmu syarโ€™i untuk bisa memahami setiap masalah hukum berdasarkan dalil-dalil dari sumbernya yang jernih, yaitu Al-Qurโ€™an Al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang shahih. Risalah ini menjelaskan tentang hukum dan tata cara duduk yang benar didalam shalat, disaat seorang yang melakukan shalat duduk pada tahiyyat akhir, dari shalat yang wajib maupun nafilah (sunnah), baik shalat yang berjumlah satu rakaโ€™at, dua rakaโ€™at, tiga rakaโ€™at dan seterusnya, baik shalat yang memiliki satu tasyahhud maupun dua tasyahhud. Dimana kita menyaksikan adanya perbedaan cara yang diamalkan kaum muslimin dalam cara duduk mereka, ada yang duduk iftirasy pada setiap shalat yang berjumlah dua rakaโ€™at, atau yang memiliki satu tasyahhud, dan ada pula yang melakukannya dengan cara duduk tawarruk. Sehingga sebagian kaum muslimin mempertanyakan tentang hal ini, apakah landasan masing-masing mereka yang melakukan cara duduk yang berbeda? Manakah yang benar?, manakah yang lebih sesuai dengan dalil?, apakah keduanya memang disebutkan dalam hadits? Dan yang semisalnya dari berbagai pertanyaan yang kerap diajukan kepada kami. Terlebih disaat sebagian kaum muslimin yang sudah terbiasa semenjak kecil dengan cara duduk tertentu, lalu kemudian merasa heran dengan cara yang dilakukan sebagian mereka yang shalat dengan cara duduk yang berbeda. Sehingga hal ini mendorong kami untuk mengeluarkan risalah kecil ini, agar bermanfaat bagi mereka yang ingin melihat permasalahan ini dengan kacamata ilmiah.

Memang ada sebagian para penuntut ilmu yang telah menulis tentang masalah ini walaupun dengan cara yang ringkas โ€“ semoga Allah membalas kebaikan mereka -, dan penulis juga memahami bahwa mungkin tulisan ini bersifat penjelasan, sekaligus bantahan terhadap sebagian tulisan tersebut, yang pada hakekatnya tidak memberikan hak yang semestinya terhadap bahasan ini.

Yang jelas, penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan masalah ini dengan cara ilmiah. Namun sebagai manusia biasa, keadaanya seperti kata pepatah โ€œtiada gading yang tak retakโ€, sehingga kalau di dalamnya ada kekeliruan, baik isi maupun penulisan, kami dengan lapang dada menerima kritikan tersebut, dan semoga itu menjadi pahala tersendiri untuknya disisi Allah โ€“ jalla jalalahu -.

Balikpapan, Maโ€™had Ibnul Qoyyim
28 Syaโ€™ban 1428 H

Abu Karimah Askari bin Jamal

============================ » Read more

HUKUM SHALAT TANPA BERSUCI DAN DENGAN PAKAIAN YANG NAJIS BAGI ORANG YANG SAKIT

๐Ÿ”‰Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Seharusnya orang yang sakit, shalat sesuai kondisinya. Dia shalat dalam kondisi berwudhu. Namun jika tidak mampu wudhu, maka dia bertayamum. Jika tidak mampu tayamum, maka dia shalat meskipun tanpa wudhu dan tayamum.

๐Ÿ‘•Dia shalat dengan pakaian yang suci. Jika tidak mampu, maka dia shalat meskipun dengan pakaian yang najis dan tidak mengapa baginya.

Jika bisa hendaknya dia shalat di atas tempat tidur yang suci. Namun jika tidak bisa hendaknya dia menghamparkan sesuatu yang suci di atasnya. Jika tidak bisa, maka dia shalat meskipun ada najis karena darurat.
Yang penting orang yang sakit hendaknya tidak mengakhirkan shalat, bahkan hendaknya dia shalat bagaimanapun kondisinya berdasarkan firman Allah Ta’ala:
» Read more

[AUDIO] Kitab Al Mulakhosul Fiqhi

download-pdf-ebooks.org-wq-10637๐Ÿ“ค DOWNLOAD MP3 kajian Kitab Al Mulakhosul Fiqhi

๐ŸŽ™Pemateri al-Ustadz Helmi Abdul Qodir Bajri -hafidzhahullah-

๐Ÿ•ฐKajian ini dilaksanakan setiap hari Ahad jam 10.00 wib s.d selesai

๐Ÿ•ŒTempat Kajian : Masjid Abu Bakar ash Shiddiq, Kompleks Maโ€™had Dhiyaus Sunnah. Jl. Elang Raya โ€“ Dukuh Semar Gg. Putat RT 06/RW 03, Kel. Kecapi, Kec. Harjamukti. 45142

๐Ÿ—บ Peta Google : http://goo.gl/maps/7n7jl

๐Ÿ“š Download Kitab Al Mulakhosul Fiqhi pdfnya jilid 1 disini dan jilid 2 disini.

(Kitab yang ada pada link ini mungkin berbeda dengan kitab yang dipakai oleh al-Ustadz Helmi Abdul Qodir Bajri -hafidzahullah- saat pembahasan, tapi inti pembahasan dan matannya sama in syaa Allah)

๐Ÿ“ค Download Audio (MP3) Lengkapnya di bawah ini โ–ผ (In syaa Allah diupdate setiap ada kajian baru).

โ–ถ Silahkan dicopy dan didownload untuk kepentingan dakwah dan Tholabul ilmi (dengan tetap mencantumkan sumbernya)

» Read more

MENISBATKAN KEPADA MADZHAB IMAM YANG EMPAT

4 madzhab๐Ÿ”‰Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan hafizhahullah

Pertanyaan:
Bolehkah fanatik kepada suatu mazhab (pendapat) yangย  seseorang menganutnya pada salah satu hukum syariat meskipun dalam hal ini menyelisihi dengan yang benar? Ataukah boleh meninggalkannya dan mengikuti madzhab yang benar pada sebagian hal? Dan apa hukum berpegang satu madzhab saja?

Jawaban:
Bermadzhab dengan salah satu madzhab imam yang empat yaitu madzhab imam ahlussunnah yang empat yang sudah terkenal yang ada, dihafal dan ditulis kaum muslimin sertaย  menisbatkan kepada salah satu madzhab tidak terlarang. Maka dikatakan: fulan Syafi’i, , fulan Hanafi, dan fulan Maliki. Julukan ini sudah ada sejak dulu diantara ulama bahkan pada ulama senior dikatakan fulan.Hanbali seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah al-Hanbali, Ibnul Qayyim al-Hanbali dan lainnya tidaklah mengapa.
Sehingga sekedar menisbatkan kepada suatu madzhab tidak terlarang, namun dengan syarat tidak terbelenggu dengan madzhab tersebut sehingga diambil semua perkara yang ada, baik yang haq maupun batil, baik yang benar maupun yang salah. Akan tetapi diambil darinya perkara yang benar dan apa yang diketahui sebagai kesalahan tidak boleh diamalkan. Adapun jika tampak baginya pendapat yang kuat, maka dia wajib » Read more

Jual Beli Motor Riba

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafidzahullah

Jual Beli Motor

Dua orang melakukan jual-beli secara kredit. Pembeli mencari motor yang dia pilih sesuai selera dalam keadaan pemegang uang (penjual) tidak memiliki motor tersebut. Setelah pembeli mendapat motor yang dia inginkan, pemegang uang memberi uang untuk membayar motor tersebut.

Terjadilah akad jual-beli dengan kesepakatan, pembeli harus kredit motor tersebut sebesar lima juta, sedangkan motor tersebut dibeli dengan harga 4,2 juta. Perlu diketahui pemegang uang/penjual tidak pernah memegang motor tersebut sejak dibeli sampai terjadinya akad. Apakah yang seperti itu termasuk riba?ย  » Read more

Hukum Sumbangan untuk Acara Perayaan Agustusan

Hukum Sumbangan untuk Acara Perayaan Agustusan

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafidzahullah ta’ala-

โœนโœนโœน

Biasanya dalam bulan Agustus para pamong desa meminta dana Agustusan di masyarakat untuk mensukseskan beragam agenda acara yang mereka buat, seringnya disebutkan minimalnya.

Bila kita memahami apa yang telah diuraikan di atas, maka kita akan tahu bahwa penarikan dana ini tidak sesuai syar’i dengan alasan sebagai berikut :

โถ Termasuk membantu acara yang tidak ada bimibinganya dalam agama Islam. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman :

ูˆูŽุชูŽุนูŽุงูˆูŽู†ููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจุฑู‘ู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุนูŽุงูˆูŽู†ููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฅูุซู’ู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูุฏู’ูˆูŽุงู†ู ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู

โ€œDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al Maidah: 2]

โท Penarikan dana tersebut tidak berdasar pada sebuah Perda sedikitpun bahkan terkesan memaksa, terbukti mereka marah bila ada yang tidak menyumbang. » Read more

Ini Dia Tata Cara Shalat Gerhana

TATA CARA SHALAT GERHANA

Hukum Shalat Gerhana

Shalat kusuf (gerhana) disyariatkan oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan dan mencontohkannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat kusuf:

  1. Kebanyakan ulama berpandangan bahwa hukumnya adalah sunnah muakaddah (yang ditekankan).
  2. Ulama yang lain berpendapat bahwa shalat kusuf hukumnya wajib.

Ini yang dikuatkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Beliau menyebutkan bahwa ini juga pendapat Ibnu Khuzaimah, Abu Awanah, dan dipilih oleh asy- Syaukani rahimahullah serta Shiddiq Hasan Khan.

Tata Cara Shalat Gerhana

Berikut ini beberapa hal terkait dengan tata cara shalat gerhana. » Read more

Mengangkat Tangan pada Takbir-Takbir Tambahan pada Dua Shalat โ€˜Ied

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR JENAZAH DAN DUA SHALAT โ€˜IED (IEDUL FITHRI DAN IEDUL ADHA)

 

  1. Mengangkat Kedua Tangan pada Takbir-Takbir Shalat Jenazah

Para ulama sepakat bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah.(1)

Dan yang terjadi perselisihan di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama: mengatakan bahwa tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani. ย Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang pendapat beliau.(2)

Pendapat kedua: mengatakan bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin Umar, Umar bin Abdil Aziz, Athaโ€™, Yahya bin Saโ€™id, Qais bin Abi Hazim, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafiโ€™i, Al-Auzaโ€™i, Abdullah bin Mubarak, dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallahu alaihi wasallam.(3) » Read more