Bagaimana Kalau Imam Lupa Duduk Tasyahud Awal?

🌿HUKUM MENINGGALKAN TASYAHUD AWAL LALU BERDIRI DAN KEMBALI SETELAH SEMPURNA BERDIRI🌿

*Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah*

*Pertanyaan:*
Saya shalat di salah satu masjid dan terjadi lupanya imam dengan tasyahud awal dan berdiri tegak lalu makmum mengingatkan dengan tasbih sehingga imam kembali lalu duduk untuk bertasyahhud. Kemudian berdiri menyempurnakan shalat dengan bentuk yang benar. Namun setelah kami selesai shalat seseorang berkata: Wahai manusia sesungguhnya shalat kalian batal. Maka kami mohon perhatian dari Anda yang mulia penjelasan hukum masalah ini?

*Jawaban:*
Para ulama berkata: Sesungguhnya jahl murakkab (kebodohan yang rangkap) lebih jelek dari jahl basith (tidak tahu secara keseluruhan).Jahl murakkab adalah bahwasannya seseorang tidak mengetahui, namun dia tidak mengetahui bahwasannya dia tidak tahu. Ini tentunya sebuah musibah. […]

Bolehkah Menikah dengan Anak Tiri Ayah?

Pertanyaan:  Ayah saya menikah dengan seorang wanita yang memiliki anak perempuan yang masih menyusu. Setelah pernikahannya dengan ayah saya, wanita tersebut menyapih anak perempuannya. Ayah saya berkeinginan kelak bila anak perempuan tersebut telah besar, ia hendak menikahkan saya dengannya. Pertanyaannya, apakah hal tersebut dibolehkan bagi saya?

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin  menjawab:

Boleh ia menikah dengan anak perempuan yang merupakan rabibah (anak tiri/anak istri) ayahnya tersebut. Boleh bagi anak laki-laki suami menikah dengan rabibah ayahnya.

Yang menjadi kaidah di sini, pernikahan yang diharamkan dalam hubungan mushaharah atau hubungan yang terjalin karena pernikahan seorang pria dengan seorang wanita adalah ushul dan furu’ [1] istri bagi si suami secara khusus dan tidak bagi kerabat suami [2]. Demikian pula ushul dan furu’ suami menjadi haram untuk menikahi si istri secara khusus dan tidak haram untuk menikahi kerabat si istri. Akan tetapi, tiga golongan darinya, diharamkan dengan semata-mata akad, sedangkan satu golongan lagi harus disertai dengan dukhul [3], dengan perincian sebagai berikut: […]

Mengenal Jual Beli dengan Sistem Kredit dan Hukumnya

riba kredit

Kepada ustadz, saya mempunyai pertanyaan dan mohon penjelasannya.

PERTANYAAN :

Bagaimana hukumnya jual-beli barang dengan sistem kredit? Apakah sama dengan riba? Demikian pertanyaan saya, atas jawaban ustadz, saya ucapkan jazakallahu khairan katsiran.
Halimah
asy…@plasa.com

JAWAB :

Jual beli dengan sistem kredit (cicilan), yang ada di masyarakat digolongkan menjadi dua jenis:

– Jenis pertama, kredit dengan bunga. Ini hukumnya haram dan tidak ada keraguan dalam hal keharamannya, karena jelas-jelas mengandung riba.

– Jenis kedua, kredit tanpa bunga. Para fuqaha mengistilahkan kredit jenis ini dengan bai’ at-taqsith. Sistem jual beli dengan bai’ at-taqsith ini telah dikaji sejumlah ulama, di antaranya: […]

Apa Itu Sujud Sahwi dan Bacaannya

Apakah yang dimaksud dengan Sujud Sahwi?

Jawab: Sujud sahwi adalah dua kali sujud (baik sebelum atau setelah salam) yang dilakukan karena lupa melakukan sesuatu bacaan atau gerakan dalam sholat yang disyariatkan atau ragu dalam sholat (seperti ragu tentang jumlah rokaat).

Apakah hukum sujud sahwi?

Jawab: Para Ulama’ sepakat bahwa sujud sahwi adalah disyariatkan.

Namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya dalam 3 hal utama:

a) Wajib, menurut pendapat al-Hanafiyah.
b) Sunnah (mustahab), menurut pendapat al-Malikiyyah dan Asy-Syafiiyah, namun menjadi wajib bagi makmum jika Imam melakukannya.
c) Kadangkala hukumnya wajib, mustahab, dan mubah (boleh), tergantung apa yang terlupa dilakukan dalam sholat, menurut al-Hanaabilah. Jika yang terlupakan adalah termasuk kewajiban sholat, maka hukumnya wajib. (disarikan dari al-Fiqhu ‘alal madzaahibil arba’ah karya Abdurrahman al-Jaziiri juz 1 halaman 706).

Dalam hal ini pendapat yang rajih adalah pendapat yang menyatakan bahwa hukum sujud sahwi sesuai dengan apa yang terlupa dalam sholat. Jika yang terlupa adalah kewajiban, maka hukum sujud sahwi adalah wajib. Wallaahu A’lam. […]

Tata Cara Ringkas Shalat Gerhana (Bulan/Matahari)

Tata cara shalat gerhana Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam:

  1. Takbiratul ihram.

  2. Membaca doa istiftah, ta’awwudz, dan membaca basmalah secara sir (pelan).

  3. Membaca surah Al-Fatihah dan surah secara jahr (keras). Bacaan pada berdiri pertama rakaat pertama ini dipanjangkan, dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma diterangkan “…kurang lebih sepanjang surah Al-Baqarah…” (HR. Al-Bukhari no. 1052, Muslim no. 907).

  4. Bertakbir kemudian ruku dengan memanjangkan ruku. Membaca doa ruku dengan diulang-ulang.

  5. Kemudian berdiri dari ruku sambil mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” ketika badan sudah tegak sempurna mengucapkan, ”Rabbana walakal hamd.”

  6. Setelah itu tidak sujud, namun terus berdiri panjang, dan kembali membaca Al-Fatihah dan surah. Namun berdiri kedua pada rakaat pertama ini agak lebih pendek dibandingkan berdiri pertama.

  7. Bertakbir kemudian ruku dengan memanjangkan ruku. Membaca doa ruku dengan diulang-ulang. Ruku kedua ini agak lebih pendek dibandingkan ruku pertama.

  8. Kemudian berdiri dan ruku sambil mengucapkan ”Sami’allahu liman hamidah,” ketika badan sudah tegak sempurna mengucapkan, ”Rabbana walakal hamd,” ini adalah i’tidal, dan dipanjangkan juga. Berdasarkan hadits dari sahabat Jabir Radhiyallahu ’anhu, maka Nabi memanjangkan berdiri sampai-sampai (sebagian makmum) tersungkur, lalu beliau ruku dan memanjangkannya, lalu bangkit berdiri dan memanjangkannya, lalu ruku dan memanjangkannya, kemudian bangkit berdiri dan memanjangkannya, kemudian beliau sujud dua kali…” (HR. Muslim no. 904).

[…]

Hukum Sutrah Dalam Shalat

Pengertian Sutrah

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah subhanahu wata’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Hukum Sutrah

Hukum sutrah diperselisihkan oleh ahlul ilmi, antara yang berpendapat wajib dengan yang berpendapat sunnah. Jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah, sehingga berdasarkan pendapat ini bila ada yang lewat di hadapan orang yang shalat sementara tidak ada sutrah di hadapannya tidaklah membatalkan shalatnya1, namun hanya mengurangi (nilai) shalatnya. Di samping itu, sutrah merupakan penyempurna shalat yang dikerjakan, ia tidak masuk dalam amalan shalat. Dengan begitu, hal ini merupakan indikasi (qarinah) yang mengeluarkan perkaranya dari wajib kepada mustahab. (Asy-Syarhul Mumti’1/728, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939-940, Taudhihul Ahkam, 2/58). […]

Bolehkah Menjadikan Bunyi Klakson Sebagai Pengganti Salam

Hukum Menyalakan Klakson Sebagai Pengganti Salam

❍ Berkata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمہ الله تـــعالـــﮯ :

❍ وأما ما يفعله بعض الناس إذا مرّ وهو يركب سيارته فإنه يضرب البوق ، فإن هذا لا يكفي في السلام ، وليس من السنة، اللهم إلا أن بعض الناس يقول : ( أنا لا أريد به السلام ؛ لكن أريد أن ينتبه ثم أسلم عليه ) هذا أرجو ألا يكون به بأس ، وأما أن يجعله بدلاً عن السلام ، فإن هذا – لا شك – خلاف السنة ، ( فالسنة أن يسلم الإنسان بلسانه -وإذا كان الصوت لا يُسمع- فإنه يشير بيده ؛ حتى ينتبه البعيد أو الأصم . . ❍

📚 شرح رياض الصالحين ( ٤ / ٤٠٤)

“Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang apabila dia melewati (seseorang) ketika dia mengendarai mobilnya, kemudian dia menyalakan klakson, hal ini tidak cukup sebagai salam, dan bukan termasuk sunnah, kecuali mungkin sebagian orang mengatakan:” Aku tidak menginginkan dengannya salam, akan tetapi aku hanya ingin agar dia lebih perhatian setelah itu aku mengucapkan salam padanya,” […]

Mengganti “faidah” dengan FAIDAH

(Ralat terhadap copas saya tentang keutamaan memandang istri)

✍🏼 Al-Ustadz Muhammmad bin ‘Umar As-Sewed حفظه الله

Alhamdulillaah was sholatu was salam ala Rasulillah wa ala aalihi wa ashhabihi wa man tabi’a hudahu ila yaumil qiyamah.
Tulisan ini sebagai ralat dan penyesalan saya yang mengcopas faidah tanpa merujuk ke kitab aslinya. Hanya karena berhusnudzhan dengan penulis dan grupnya yang notabene ada orang-orang yang lebih berilmu dari saya.

Namun yang juga mendorong saya mengcopas adalah isinya yang sangat menarik dan mendidik.
Agar kita menyalurkan hasrat syahwat kita kepada yang halal.
Agar kita mensyukuri nikmat istri yang telah Allah berikan.
Juga agar kita berbagi keceriaan satu sama lain.

Tetapi karena hadits ini dha’if bahkan maudhu’. Maka tidak bisa dijadikan hujjah.
Sedangkan kita ingin agar faidah yang kita harapkan tetap kita dapati. Karena seringkali sebagian orang mengira jika hadits itu dhaif maka yang benar adalah sebaliknya. Padahal tidak mesti demikian. Kadang hadits itu dha’if, tetapi maknanya benar dan terkandung dalam hadits-hadits shahih.

Maka kita bawakan beberapa hadits yang shahih yang menggantikan bahkan menyempurnakan faidah-faidah yang kita harapkan: […]

[ TANYA-JAWAB ] Sisa Mani Keluar dari Farji, Membatalkan Wudhu?

Bagaimana hukumnya bila seorang istri saat shalat mengeluarkan sisa mani dari farjinya? Dikarenakan sebelumnya dia berjima’ dengan suaminya. Apakah dia harus membatalkan shalatnya. Dan apakah itu membatalkan wudhu?

and…@hotmail.com

 

Dijawab Oleh: al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari […]

[ TANYA-JAWAB ] Siapa Saja Mahram Itu??

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah مُحْرِمٌ , mimnya di-dhammah, yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Adapun mahram bahasa Arabnya adalah ,مَحْرَمٌ mimnya di-fathah.

Mahram dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mereka kita bagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama, mahram karena nasab (keturunan), kedua mahram karena penyusuan, dan ketiga mahram mushaharah (kekeluargaan karena pernikahan).

Kelompok yang pertama ada tujuh golongan:

[…]