[IBROH] KISAH ASHABUL UKHDUD

Kisah Ashabul Ukhdud adalah kisah yang haq dari lisan Rasulullah-shalallahu โ€˜alaihi wa sallam- dalam riwayat Muslim -rahimahullah-. Bukan dongeng atau khurafat yang diucapkan oleh para juru kunci tempat-tempat keramat.
Kisah yang juga disingung dalam Al-Qurโ€™an ini menunjukkan ketabahan orang-orang yang beriman di masa pemerintahan thoghut yang dhalim. Sungguh kisah mereka sangat mengagumkan dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil daripadanya. Bahkan diantara keistimewaan orang-orang beriman tersebut adalah dengan diabadikannya kisah mereka dalam Al-Qurโ€™an.
Kisah tersebut sebagai berikut:
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim (nomer hadits 3005) dari Shahabat Shuhaib bin Sinan -radhiyallahu โ€˜anhu-; bahwasanya Rasulullah -shalallahu โ€˜alaihi wa sallam- bersabda :
โ€œPada zaman dahulu sebelum kalian, hidup seorang raja yang memiliki tukang sihir. […]

Cinta Kepada Rasululullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- (II)

Oleh :
โœ๐Ÿผ Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed โ€“hafidzahullahโ€“

3.CINTA AKAN MEMBAWA SESEORANG UNTUK CINTA KEPADA ORANG-ORANG YANG DICINTAI KEKASIHNYA

Kenyataan ini sudah difahami oleh setiap manusia yang berakal. Maka semestinya kita mengerti bahwa jika mencintai Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– berarti mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah. Sedangkan Rasulullah hanya mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah –Subhanahu wa Taโ€™ala-. Maka jelaslah bahwa cinta kepada Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– konsekuensinya adalah cinta kepada orang-orang beriman yang tidak merusak imannya dengan kesyirikan, mengikuti Sunnah dan tidak mengotorinya dengan bidโ€™ah.
โ€œSesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang salehโ€.(Al-Aโ€™raaf:196) […]

Cinta Kepada Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (I)

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed โ€“hafidzahullahโ€“

Tentunya cinta kepada pribadinya dan cinta pula pada akhlak dan perangainya, serta cinta kepada sunnah dan ajaran yang dibawanya. Sehingga kita dapati seorang muslim yang beriman bahwa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah utusan Allah pastilah mencintainya.

1. CINTA MEMBAWA SESEORANG UNTUK SELALU DEKAT DENGAN YANG DICINTAINYA

Maka seorang yang cinta kepada Allah dia akan semangat untuk dekat kepada-Nya dengan ibadah dan beramal shalih. Demikian pula orang yang cinta kepada Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– maka ia ingin dekat bersama Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– dalam suka dan dukanya. Seperti para Shahabat , mereka rela meninggalkan keluarga dan sanak familinya untuk hijrah ke Madinah bersama Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– . Demikian pula generasi setelahnya dari para Tabiโ€™it-Tabiโ€™in, mereka tidak sempat untuk dekat dan bertemu dengan pribadi Rasulullah –shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-, namun mereka tetap berupaya untuk dekat dengan jalan mempelajari Sunnah-Sunnahnya, mengamalkannya, sebagaimana dikatakan oleh penyair : […]

Ittibaโ€™ Kepada Rasululah -shallallahuโ€™alaihi wa sallam- (II)

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed โ€“hafidzahullahโ€“

MENERIMA KEPUTUSAN HUKUM NABI -shallallahu’alaihi wa sallam-

Termasuk taat kepada Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- adalah menerima keputusan-keputusan hukum Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dengan lapang dada, tidak ada rasa berat apalagi menolak. Allah berfirman :

โ€œMaka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnyaโ€.(An-Nisaโ€™:65)

Dalam ayat diatas Allah bersumpah dengan namanya bahwa seseorang tidak dikatakan beriman hingga dia menjadikan Rasulullah sebagai hakim yang memutuskan keputusan-keputusan hukum diantara mereka, kemudian menerimanya sepenuh hati.

Allah juga berfirman: […]

Ittiba’ Kepada Rasululah -shallallahu’alaihi wa sallam- (I)

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed โ€“hafidzahullahโ€“

ANTARA TAAT DAN KEPERCAYAAN

Masalah ketaatan tidak lepas dari keimanan dan kepercayaan. Siapa yang beriman dan percaya bahwa Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah, pasti ia akan mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. Karena memang diutusnya Rasul adalah untuk ditaati.

โ€œDan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allahโ€.(An-Nisaaโ€™:64)

Maka orang yang tidak mau mentaatinya berarti ia belum mengakui bahwa Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- adalah utusan Allah.

Dalam Al-Qur’an pun tidak sedikit ayat yang memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Diantaranya firman Allah -Taโ€™ala- […]

Bukti-Bukti Kenabian Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewedhafidzahullah

1. Persaksian Khadijah bintu Khuwailid -radiallahu โ€˜anha-
Manusia secara fitrah dapat membedakan seorang yang jujur dan seorang yang dusta, bahkan pada pengaku-pengaku penemuan tertentu sekalipun mudah dibuktikan siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Apalagi seorang Nabi dengan seorang pengaku Nabi, yang tentunya di dalam kenabian terkandung ilmu, amal dan sifat-sifat mulia yang harus ada. Maka tentunya akan mudah sekali dibedakan antara Nabi yang diutus oleh Allah dengan para pendusta-pendusta pengaku Nabi.
Bagaimanapun seorang menutupi kebohongannya pasti akan tergelincir dan terlepas dari mulutnya atau dari sikapnya yang menunjukkan kalau dia berdusta. Demikianlah apa yang Allah taqdirkan kepada para pendusta agar terbukti kedustaannya. Allah berfirman :
โ€œDan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamuโ€.(Muhammad : 30) […]

Beriman Kepada Kejadian Isra’ dan Mi’raj

Oleh : ๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewedhafidzahullah

Mukjizat yang juga besar yang Allah taqdirkan untuk memuliakan Nabi-Nya adalah Isra wal Mi’raj. Allah -Subhanahu wa Ta’al- berfirman : โ€œMaha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihatโ€.(Al-Israaโ€™:1)

Seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya wajib mengimani Isra dan Mi’raj yang merupakan mukjizat besar yang membuktikan kenabian beliau -โ€™alaihi shalatu wa sallam- dan sekaligus memuliakannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang kafir dan orang-orang sesat. […]

BERSAHUR DAN BERIFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Sahur dan buka puasa merupakan dua amalan yang cukup berarti dalam ibadah puasa seseorang. Ia tidak hanya sekedar makan dan minum, namun ia justru sebagai ibadah yang membedakan antara kita kaum muslimin dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashoro). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Amr bin Ash bahwa Rosulullah -Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-ย  bersabda :
ููŽุตู’ู„ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตููŠูŽุงู…ูู†ูŽุง ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฃูŽูƒู’ู„ูŽุฉู ุงู„ุณู‘ูŽุญูŽุฑู
โ€œPembeda antara shaumnya kita dengan shaumnya Ahlul Kitab (adalah) adanya makan sahur.โ€ (H.R Muslim)
Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah bahwa Rosulullah -Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- bersabda :
ู„ูŽุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุธูŽุงู‡ูุฑู‹ุง ู…ูŽุง ุนูŽุฌู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ ูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑููˆู†ูŽ
โ€œAkan terus Islam ini jaya selama kaum muslimin masih menyegerakan berbuka (ifthor), karena sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashoro selalu menundanya.โ€ (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim. Dihasankan oleh Asy Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud no. 2353 dan Shohih Targhib no. 1075) […]

Keutamaan Tarawih

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed –hafidzahullah

Shalat tarawih sangat dianjurkan oleh Rasulullah –Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-walaupun beliau tidak mewajibkannya.ย  Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam– bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู
โ€œBarangsiapa siapa yang menegakkan qiyamur ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah laluโ€. (HR. Bukhari dan Muslim)
Disyariatkan qiyamur ramadlan atau shalat tarawih secara berjama’ah, maka inilah yang lebih utama daripada shalat tarawih sendirian.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:
โ€œKami berpuasa bersama Rasulullah -Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- pada bulan Ramadhan, maka beliau tidak menegakkan qiyamul lail bersama kami hingga tersisa tujuh hari.ย  Kemudian menegakkan qiyamul lail bersama kami ketika sudah tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian ketika tersisa enam hari, beliau tidak menegakkan qiyamul lail bersama kami. Kemudian ketika tersisa lima hari, beliau menegakkan qiyamul lail bersama kami, hingga lewat pertengahan malam.ย  Kemudian aku (Abu Dzar) berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya engkau menambahi shalat sunnah pada sisa malam ini untuk kami!.” Maka Rasulullah -Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- bersabda:
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑูููŽ ุญูุณูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู‚ููŠูŽุงู…ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู
โ€œSesungguhnya seseorang jika shalat bersama imamย  hingga selesai, maka dicatat baginya sebagai shalat seluruh malam”. […]

Berpuasa dan berhari raya bersama Kaum Muslimin

Oleh :
๐Ÿ’ปย  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwasanya Nabiย  -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda :
ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููุทู’ุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชููู’ุทูุฑููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูุถูŽุญู‘ููˆู†ูŽ
โ€œPuasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Idul Fitri adalah hari di manaย  kalian berbuka dan Idul Adha adalah hari ketika kalian menyembelih kurbanโ€. (HR. Tirmidzi, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)
Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam At- Tirmidzi dari Ishaq bin Ja’far bin Muhammad, dia berkata: “Menyampaikan kepadaku Abdullah bin Ja’far dari Utsman bin Muhammad dari Abi Hurairahย  -radhiallahu ‘anhu-โ€.
Imam At-Tirmidzi mengomentari hadits ini dengan ucapan: “Hadits hasan gharib.”
Asy-Syaikh al-Albani berkata : “Saya katakan bahwa sanad hadits ini bagus, para perawinya semua tsiqah (terpercaya). Hanya pada Utsman bin Muhammad yaitu Ibnul Mughirah bin Akhnas ada pembicaraan sedikit tentangnya. Berkata al-Hafidh dalam at-Taqrib: Jujur, namun kadang keliru”. (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, hadits no. 224, hal. 440)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Majah, Ad Daruquthni dan Abu Dawud, dari jalan-jalan yang lain.
Selain itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata : […]