Hari Raya Bersama Kaum Muslimin dan Penguasanya

Hukum asal penentuan awal bulan Syawwal (Hari raya ‘Iedlul Fithri) adalah dengan ru’yatul hilal (melihat bulan sabit) berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنهما)
Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian ber’iedlul fithri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka kalian perkirakanlah. (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما)
“Memperkirakan” ketika hilal terhalang oleh awan atau lainnya adalah dengan menggenapkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain sebagai berikut:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه)
Berpuasalah kalian jika kalian melihatnya (hilal) dan ber’iedlul fithrilah kalian jika kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari. (HR. Bu-khari Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)
Maka jika yang terhalang adalah hilal Syawwal, genapkanlah bulan Ramadlan 30 hari.
» Read more

HUKUM ORANG YANG TERUS SAHUR DI SAAT ADZAN DAN SETELAH ADZAN

📀 Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Apa hukum orang yang terus sahur dan minum di waktu adzan, di tengah adzan, atau seperempat jam setelah adzan Shubuh?

Jawaban: » Read more

BERSAHUR DAN BERIFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Sahur dan buka puasa merupakan dua amalan yang cukup berarti dalam ibadah puasa seseorang. Ia tidak hanya sekedar makan dan minum, namun ia justru sebagai ibadah yang membedakan antara kita kaum muslimin dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashoro). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Amr bin Ash bahwa Rosulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda :
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Pembeda antara shaumnya kita dengan shaumnya Ahlul Kitab (adalah) adanya makan sahur.” (H.R Muslim)
Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah bahwa Rosulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ
“Akan terus Islam ini jaya selama kaum muslimin masih menyegerakan berbuka (ifthor), karena sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashoro selalu menundanya.” (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim. Dihasankan oleh Asy Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud no. 2353 dan Shohih Targhib no. 1075) » Read more

Keutamaan Tarawih

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed –hafidzahullah

Shalat tarawih sangat dianjurkan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-walaupun beliau tidak mewajibkannya.  Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa siapa yang menegakkan qiyamur ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Disyariatkan qiyamur ramadlan atau shalat tarawih secara berjama’ah, maka inilah yang lebih utama daripada shalat tarawih sendirian.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:
“Kami berpuasa bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada bulan Ramadhan, maka beliau tidak menegakkan qiyamul lail bersama kami hingga tersisa tujuh hari.  Kemudian menegakkan qiyamul lail bersama kami ketika sudah tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian ketika tersisa enam hari, beliau tidak menegakkan qiyamul lail bersama kami. Kemudian ketika tersisa lima hari, beliau menegakkan qiyamul lail bersama kami, hingga lewat pertengahan malam.  Kemudian aku (Abu Dzar) berkata: “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya engkau menambahi shalat sunnah pada sisa malam ini untuk kami!.” Maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam  hingga selesai, maka dicatat baginya sebagai shalat seluruh malam”. » Read more

Berpuasa dan berhari raya bersama Kaum Muslimin

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwasanya Nabi  -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
Puasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Idul Fitri adalah hari di mana  kalian berbuka dan Idul Adha adalah hari ketika kalian menyembelih kurban”. (HR. Tirmidzi, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)
Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam At- Tirmidzi dari Ishaq bin Ja’far bin Muhammad, dia berkata: “Menyampaikan kepadaku Abdullah bin Ja’far dari Utsman bin Muhammad dari Abi Hurairah  -radhiallahu ‘anhu-”.
Imam At-Tirmidzi mengomentari hadits ini dengan ucapan: “Hadits hasan gharib.”
Asy-Syaikh al-Albani berkata : “Saya katakan bahwa sanad hadits ini bagus, para perawinya semua tsiqah (terpercaya). Hanya pada Utsman bin Muhammad yaitu Ibnul Mughirah bin Akhnas ada pembicaraan sedikit tentangnya. Berkata al-Hafidh dalam at-Taqrib: Jujur, namun kadang keliru”. (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, hadits no. 224, hal. 440)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Majah, Ad Daruquthni dan Abu Dawud, dari jalan-jalan yang lain.
Selain itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata : » Read more

Bolehkah Shalat Tarawih dan I’tikaf Di Masjid Yang Berbeda

BOLEHKAH SHALAT TARAWIH DAN I’TIKAF DI MASJID YANG BERBEDA

Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan حفظه الله

Pertanyaan: Saya ingin beri’tikaf, tetapi saya membuat persyaratan bahwasanya saya akan shalat tarawih di masjid lain karena saya senang dengan bacaan imam di masjid tersebut. Apakah yang seperti ini boleh?

Jawaban:

Perkara tersebut boleh.  Akan tetapi, menyelisihi yang lebih afdhal dikarenakan yang afdhal adalah Anda shalat tarawih di masjid tempat Anda beri’tikaf. Ini yang afdhal karena Anda akan menetap di masjid tersebut, yaitu masjid tempat Anda beri’tikaf.

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14891 / http://forumsalafy.net/?p=11878

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

********************************

ما حكم الشرط للمعتكف؟

السؤال : أريد أن أعتكف مع اشتراط أن أصلي التراويح في مسجد آخر رغبة في قراءة ذلك الإمام ، هل يجوز ذلك لي؟

الجواب :

يجوز ذلك ، لكنه خلاف الأفضل، الأفضل أن تصلي التراويح في المسجد الذي أنت مُعتكف فيه ، هذا هو الأفضل، لتبقى في المسجد ، ويكون بقاؤك في المسجد الذي أنت مُعتكف فيه.

» Read more

1 2