Beriman Kepada Kejadian Isra’ dan Mi’raj

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewedhafidzahullah

Mukjizat yang juga besar yang Allah taqdirkan untuk memuliakan Nabi-Nya adalah Isra wal Mi’raj. Allah -Subhanahu wa Ta’al- berfirman :
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(Al-Israa’:1)
Seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya wajib mengimani Isra dan Mi’raj yang merupakan mukjizat besar yang membuktikan kenabian beliau -’alaihi shalatu wa sallam- dan sekaligus memuliakannya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang kafir dan orang-orang sesat.Diriwayatkan bahwa setelah Nabi diIsrakan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha di Palestina dalam waktu yang sangat singkat beliau menceritakan kepada manusia ketika itu. Ini merupakan fitnah dan ujian untuk membuktikan siapa yang sungguh-sungguh beriman kepada Nabi-Nya dan siapa yang tidak. Adapun mereka yang setengah-setengah dalam beriman apalagi orang-orang kafir maka mereka akan ragu, bahkan tidak percaya dengan berita tersebut. Adapun orang-orang yang beriman maka ia akan berkata seperti ucapan Abu Bakar Ash-Shidiq -radhiallahu ‘anhu-:”Sungguh aku percaya walaupun lebih daripada itu!”.
Hanya saja di akhir-akhir ini ketika manusia telah banyak tertipu dengan kesesatan Syiah dan Mu’tazilah yang lebih mengutamakan akalnya; maka mereka mulai ragu. Mereka mulai mempermasalahkan keshahihan hadits Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan pula dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan. Adapun Mu’tazilah karena terlalu sombong dengan akalnya, sedangkan Syiah karena mereka dengki dengan Iman-Iman Ahlul-Hadits yang meriwayatkannya. Maka perlu kiranya kami mengingatkan kembali kepada kaum muslimin bahwa berita ini merupakan tes keimanan yang harus kita imani karena keshahihan riwayat ini telah disepakati oleh seluruh pakar-pakar Hadits dan Ulama Ahlus-Sunnah sejak dulu sampai hari ini.
“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(Al-’Ankabuut :1-3)
Kita bawakan kisah Isra dan Mi’raj dari riwayat yang paling shahih yang disepakati dalam Bukhari dan Muslim. Dan kami terjemahkan sesuai dengan apa adanya, bagi yang mengerti bahasa Arab silahkan merujuk kepada aslinya.
Telah berkata Imam Muslim -rahimahullah- : “Menyampaikan kepadaku Syaiban bin Farruh, ia berkata: Menyampaikan kepadaku Hammad bin Salamah. Ia berkata: Menyampaikan kepadaku Tsabit Al-Bunanai dari Anas bin Malik -radhiallahu’anhu- bahwa Rasulullah -shallahu’alaihi wa sallam- bersabda : “Didatangkan kepadaku Buroq yaitu sebuah kendaraan putih, panjang, lebih besar dari keledai, tapi tidak sebesar bighal, dalam keadaan meletakkan sayapnya ke ujung ekornya. Maka aku menaikinya hingga sampai ke Baitul Maqdis, kemudian aku ikat kendaraan itu di pegangan pintu Masjidi Al-Aqsha dimana semua para Nabi biasa mengikat kendaraan mereka disana, kemudian aku memasuki masjid, shalat dua rakaat lalu keluar, kemudian Jibril mendatangiku dengan membawa dua bejana; yang satu berisi susu, yang lain berisi khamer. Maka akupun memilih bejana yang berisi susu, maka berkata Jibril: ”Engkau telah memilih fitrah”. Kemudian aku dimi’rajkan ke langit, Jibrilpun meminta izin agar dibukakan pintu langit yang pertama (yang paling dekat dengan bumi.-pent). Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu? Jibril -‘alaihi salam- menjawab: Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jibril ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Maka tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam -‘alaihi salam-, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.
Selanjutnya aku dinaikkan ke langit kedua. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu?” Jibril -‘alaihi salam- menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Maka tiba-tiba aku bertemu dengan dua anak pamanku; Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya -’alaihimaa salam-, lalu keduanya menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Selanjutnya aku dinaikkan ke langit yang ketiga. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu? Ia menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Maka tiba-tiba kami bertemu dengan Yusuf -’alaihi salam-. Sungguh dia telah diberi dengan setengah keindahan, lalu iapun menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Kemudian aku dinaikkan ke langit keempat. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Lalu kami bertemu dengan Idris -’alaihi salam-. Maka iapun menyambutku dan mendoakan aku. Allah berfirman tentangnya:
“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”.(Maryam:57)
Kemudian aku dinaikkan ke langit kelima. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu? Ia menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Lalu kami bertemu dengan Harun -’alaihi salam-. Maka iapun menyambutku dan mendoakan aku.
Kemudian aku dinaikkan ke langit keenam. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Lalu kami bertemu dengan Musa -’alaihi salam-. Maka iapun menyambutku dan mendoakan aku.
Kemudian Jibril membawaku ke langit ketujuh. Maka Jibrilpun meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Kemudian dikatakan kepadanya :”Siapa kamu?” Ia menjawab :”Jibril”. Dikatakan lagi :”Siapa yang bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Jibril -‘alaihi salam- ditanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?” Jibril menjawab: “Ya, dia sudah diutus”. Lalu dibukakan pintu langit untuk kami. Lalu kami bertemu dengan Ibrahim -’alaihi salam- dalam keadaan beliau sedang bersandar di Baitul-Ma’mur yaitu sebuah bangunan yang setiap harinya dimasuki oleh 70.000 Malaikat, setelah keluar mereka tidak kembali lagi selama-lamanya. Kemudian Jibril mengajak aku ke Sidratul-Muntaha yaitu sebuah pohon yang daun-daunnya seperti telinga gajah dan buahnya seperti kendi-kendi, ketika tertutup dengan sesuatu yang menutupinya maka iapun berubah. Sungguh tidaklah seorangpun dari makhluq Allah yang bisa menggambarkan betapa indahnya pohon tersebut. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang di wahyukan-Nya dan di wajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam.
Kemudian akupun turun ke tempat Musa -’alaihi salam- , ia berkata: “Apa yang telah Allah wajibkan kepadamu dan kepada umatmu?” Aku menjawab: “50 shalat”. Nabi Musa berkata: “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup dengan beban itu. Sungguh aku berpengalaman dengan Bani Israil dan mengetahui keadaan mereka”. Maka akupun kembali kepada Rabbku dan berkata: “Wahai Rabbku, ringankanlah untuk umatku”. Maka dikurangi untukku 5 shalat. Kemudian akau kembali kepada Musa dan aku katakan: “Digugurkan untukku 5 shalat”. Maka ia berkata: “Umatmu tidak akan sanggup dengan yang demikian. Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah kepada-Nya keringanan”. Maka aku terus pulang pergi antara Rabbku dan Musa -’alaihi salam-. Hingga Rabbku berkata: “ Ya Muhammad. Sesungguhnya itu 5 shalat sehari semalam. Dan masing-masing shalat mendapatkan 10 kali lipat pahala, maka itulah 50 shalat. Barangsiapa yang memiliki niat untuk melakukan kebaikan namun belum mengerjakannya dicatat 1 kebaikan. Jika dia mengamalkannya, maka dicatat 10 kebaikan. Dan barangsiapa yang berniat ingin mengerjakan kejelekan, namun tidak mengerjakannya, maka dicatat baginya 1 kebaikan. Jika dia mengerjakannya, maka dicatat baginya sebagai1 dosa” .
Kemudian aku turun hingga berakhir kepada Musa -’alaihi salam-, maka aku kabarkan kepadanya, lalu Musa berkata: “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan”. Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata: “Sungguh aku telah kembali kepada Rabbku berulang kali, hingga aku malu kepada-Nya”.(H.R. Bukhari dan Muslim, lafadz ini dari Muslim)
Namun yang perlu diperhatikan dalam riwayat ini adalah :
1.Bahawa Isra dan Mi’raj adalah kekuasaan Allah dan bagi Allah semuanya mudah. Maka janganlah kita berpikir ; bagaimana mungkin Rasulullah bertemu dengan para Nabi di setiap tingkatan langit, padahal Nabi di alam dunia sedangkan mereka di akhirat. Karena seorang yang beriman kepada Allah akan berkata bagi Allah semuanya mudah, Allah yang menghidupkan dan mematikan dan Allah pula yang akan membangkitkan. Maka yang menganggapnya mustahil adalah orang-orang yang lupa terhadap kekuasaan Allah.
2.Tidak ada ikhtilaf bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada waktu Isra dan Mi’raj.
3.Tidak ada sedikitpun yang menunjukkan kelemahan Rasulullah -shallahu’alaihi wa sallam- berbolak-baliknya beliau antara Musa dengan Rabbnya dalam masalah kewajiban shalat, tidak seperti yang diberitakan oleh tokoh-tokoh Syiah. Sikap menerimanya beliau dan kewajiban shalat 50 waktu adalah dari sifat beliau yang mulia yang selalu taat kepada Rabbnya. Adapun kembalinya beliau setelah menemui Musa -alaihi sallam- untuk diringankan kewajiban shalat adalah karena kasih sayang beliau kepada umatnya sebagaimana Allah katakan :
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”.(At-Taubah :128)
Sedangkan kenapa baru setelah bertemu Musa -alaihi sallam- beliau minta keringanan untuk umatnya? Karena Musa lebih dulu berpengalaman menghadapi manusia dan pengikut yang banyak dari Bani Israil. Maka wajarlah bahwa beliau mengetahuinya setelah bertemu Musa -alaihi sallam-.
4.Bahwa Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- diIsrakan dan diMi’rajkan dengan jasadnya. Demikian menurut pendapat yang shahih.
5.Diperselisihkan riwayat-riwayatnya apakah Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- melihat Rabbnya atau tidak. Dan yang rajih menurut Ibnul-Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumallah- bahwasanya Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- tidak melihat Rabbnya dengan mata dan kepalanya dengan dalil ucapan beliau, ketika Abu Dzar -radhiallahu ‘anhu- bertanya :
“Apakah engkau melihat Rabbmu?” Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam-menjawab :”Cahaya, bagaimana aku dapat melihatnya ”. (H.R. Muslim)
Sedangkan cahaya adalah hijab atau tirainya sebagaimana dalam riwayat Abu Musa -radiallahu ‘anhu-;
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan kepada kami 5 perkara, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t itu tidak pernah tidur dan mustahil Dia tidur…Hingga ucapannya…Tirai-Nya adalah cahaya”.(H.R. Muslim)
Adapun riwayat yang menyebutkan beliau melihat Rabbnya adalah dengan hatinya atau di dalam mimpinya, juga dengan dalil ucapan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- :
“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya”.(An-Najm:17)
Adapun ayat yang menyatakan;
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain”.(An-Najm:13)
Lafadz “رآه “ (melihatnya) pada ayat diatas adalah melihat Jibril -’alaihi sallam-.
6.Beliau melihat dalam perjalannanya orang-orang yang diadzab. Dan para ulama menyebutkan yang dimaksud adalah adzab di alam Barzakh.
7.Berkata Ibnul-Qoyyim -rahimahullah- :”Ketika pagi harinya Rasulullah -shallahu’alaihi wa sallam- menceritakan kepada kaumnya maka pertentangan mereka terjadi sangat keras.

Sumber :

📇 Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi 24 / th.IV – 15  R a j a b  1429 H / 18  J u l i  2008 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *