Zuhud Dalam Urusan Dunia

zuhudHUKUM HADITS: (BERLAKU ZUHUDLAH KAMU DALAM URUSAN DUNIA, NISCAYA ALLAH AKAN MENCINTAIMU) DAN PENJELASAN MAKNANYA

🔉Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Ada hadits yang berbunyi:

ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس

“Berlaku zuhudlah kamu dalam urusan dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berlaku zuhudlah kamu terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.”

Apakah hadits ini shahih dan jika shahih, maka mohon jelaskan kepada kami? Semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda

Jawaban:

» Read more

Keimanan Kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (II)

gua hira2. Sifat Risalah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Setelah kita mengimani sifat basyariah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-  kitapun dituntut untuk mengimani sifat kerasulannya. Sebagaimana Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman :

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

“Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini kecuali hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”(Al-Israa’:93)
Sifat kerasulan inilah yang diingkari oleh kaum musyrikin. Mereka tidak menerima kalau ada seorang manusia diutus sebagai Rasul. Allah -Ta’ala- berfirman tentang mereka :

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka:”Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” (Al-Israa’:94)
Maka walaupun Ahlus-Sunnah meyakini bahwa Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wa sallam- adalah seorang manusia, namun mereka meyakini bahwa ia adalah seorang manusia yang memiliki keistimewaan-keistimewaan: ia adalah sebaik-baik manusia, manusia pilihan, seorang yang diutus sebagai Rasul, pembawa agama ini kepada manusia dan seorang yang diwahyukan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala- untuk diterangkan kepada manusia. » Read more

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim bagian 3

book-ikhlas

Sekali lagi Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan nikmat-Nya kepada Ibrahim ‘alaihissalam dan merahmati pula istrinya Sarah yang telah berusia lanjut dan mandul dengan berita gembira akan lahirnya seorang putra dari rahimnya, yaitu Ishaq ‘alaihissalam.

Sebagaimana dengan nabi-nabi terdahulu, ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya, mereka juga mendurhakainya. Allah subhanahu wa ta’ala pun kemudian memutuskan untuk menyiksa mereka. Nabi Luth ‘alaihissalam sendiri boleh disebut sebagai murid Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sehingga hak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadapnya sangat besar.

Datanglah para malaikat yang diutus untuk menghancurkan kaum Nabi Luth ‘alaihissalam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam wujud manusia. Ketika mereka menemuinya dan mengucapkan salam, beliau menjawab salam itu dan segera menjamu mereka. Allah subhanahu wa ta’ala memberi rezeki yang luas dan kedermawanan kepada beliau di mana rumah beliau merupakan persinggahan para tamu.

Diam-diam beliau segera menemui istrinya kemudian menjumpai tamunya sambil membawa daging anak sapi gemuk yang telah matang dan menyuguhkannya kepada mereka. Beliau berkata,

» Read more

SALAFIYYAH TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR

jalan panjang

🔉Syaikh Muhammad Amman al-Jami rahimahullah berkata:

“Barangsiapa yang diberi keteguhan oleh Allah Ta’ala dan teguh di atas aqidah yang diyakini oleh Rasulullah ‘Alaihish Shalatu Wassalam terhadap Rabbnya dalam menetapkan seluruh sifat Allah Ta’la–dan ini yang diyakini para sahabat dan tabi’in– barangsiapa berjalan di atas manhaj ini, niscaya dia termasuk golongan yang selamat bagaimanapun zaman yang akan datang.

Manhaj yang baik itu telah diketahui dan sudah menjadi kesepakatan. Barangsiapa ingin menjadi termasuk golongan yang selamat–dengan ijin Allah Ta’ala dan taufiq-Nya–hendaknya dia belajar manhaj. Hendaknya dia yakin dalam memahami manhaj dan berjalan di atas manhaj ini. Hendaknya dia tidak melihat waktu yang dia berada padanya. Karena arti salafiyyah–sebagaimana anggapan sebagian orang yang sok pintar–masa sementara yang telah berakhir!
» Read more

Keimanan Kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (I)

Rasulullah1.Sifat Basyariyah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Oleh :
💻  Al Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed -hafidzahullah-

Beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad -shalallahu’alaihi wa sallam- adalah beriman bahwa seorang manusia, laki-laki, dari kalangan Arab, dari suku Quraisy, dari Bani Hasyim, yang bernama Muhammad bin Abdillah -shalallahu ‘alaihi wa sallam-  adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- untuk menyampaikan risalah dakwah tauhid.
Dikatakan seorang manusia karena dia tidak memiliki sifat ketuhanan, tidak memiliki sifat Rububiyah, Uluhiyah atau sifat-sifat yang khusus bagi Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.  Allah berfirman :
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا
“Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini kecuali hanyalah seorang manusia biasa yang menjadi rasul?”(Al-Israa : 93)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa”.  (Fushilat : 6)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.(Al-Kahfi : 110)
Dalam ayat-ayat diatas Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar menyatakan bahwa dirinya memang manusia biasa, » Read more

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim ke 2

book-ikhlasKarena menghancurkan seluruh berhala milik kaumnya—hanya menyisakan patung yang paling besar—Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun ditangkap dan dibawa ke tengah lapangan. Namun sesungguhnya inilah yang diharapkan beliau agar dirinya bisa menegakkan hujjah (keterangan) di depan orang banyak.

Setelah kaumnya berkumpul, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibawa ke hadapan mereka:

قَالُوٓاْ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا بِ‍َٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ٦٢ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا

“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya….’.” (al-Anbiya: 62—63)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata demikian sambil memberi isyarat ke arah patung yang masih utuh. Kaum Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berada dalam dua posisi: mau mengakui kebenaran karena tidak mungkin (tidak masuk akal) bila sebuah benda padat yang dibuat oleh tangan mereka sendiri mampu melakukan penghancuran terhadap patung-patung lain, atau mengatakan bahwa patung itulah yang menghancurkan patung-patung lain dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bebas dari tuduhan. Padahal sudah sama diketahui bahwa mereka tidak akan mungkin menjawab dengan jawaban kedua. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengatakan sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَسۡ‍َٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ ٦٣

“Maka tanyakanlah kepada berhala itu, kalau mereka memang dapat berbicara.” (al-Anbiya: 63)

(Ayat) ini menghubungkan suatu masalah dengan sesuatu yang mereka ketahui bahwa itu adalah mustahil. Pada waktu itu tampak jelas kebenaran, mereka pun mengakuinya dan kembali kepada kesadaran, lalu berkata sebagaimana diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٦٤ ثُمَّ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ

“Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menzalimi (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk..” (al-Anbiya: 64—65)

Yakni, mereka mengakui kebatilan sifat Ilahiyyah pada berhala tersebut dalam waktu yang begitu singkat. Tampak hujjah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat itu juga, sehingga tidak mungkin lagi bagi mereka untuk sombong menolak kebenaran tersebut.

» Read more