Hadirilah Dauroh Ilmiah Cirebon Bertema “Gelombang Pengkhianatan Syiah Dalam Sejarah Islam”

Hadirilah Dauroh Ilmiah Cirebon Bertema “Gelombang Pengkhianatan Syiah Dalam Sejarah Islam”

Pemateri: Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafidzahullah

Waktu:
Sabtu, 12 Sya’ban 1436H / 30 Mei 2015 (ba’da Ashar sd selesai (khusus ikhwan)
Ahad, 13 Sya’ban 1436H/ 31 Mei 2015 Pukul 09.00 WIB s.d selesai

Tempat:
Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq
Komplek Ponpes Dhiyaus Sunnah
Jl. Elang Raya, Dukuh Semar, Kecapi, Harjamukti, Cirebon

Insya Allah disiarkan langsung di : Radio Adh-Dhiya RM 107.7 Mhz

Live streaming: http://salafycirebon.com/ dan RII (Radio Islam Indonesia)
Aplikasi RII bisa anda install dari android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.radioislam

Dauroh Dhiyaus Sunnah

Bagaimana Memanfaatkan Bunga Bank?

Pertanyaan: Seseorang memiliki bunga (bank) dalam jumlah yang besar –semoga Allah menyucikan kita dan melindungi muslimin darinya–. Apakah boleh dia menyalurkannya untuk kegiatan-kegiatan yang baik, seperti membangun perguruan tinggi syariah atau madrasah tahfidzul Qur’an secara khusus, dan kegiatan-kegiatan baik lainnya secara umum? Dan apakah membangun masjid dengannya haram atau makruh, atau hanya kurang baik? Berikan fatwa kepada kami, semoga Allah menambahkan ilmu kepada Anda sekalian.

Jawab: Bunga riba termasuk harta yang haram. Allah berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Seseorang yang memiliki sesuatu dari harta tersebut hendaknya berusaha membersihkan diri darinya, dengan menginfakkannya pada hal yang bermanfaat bagi muslimin. Di antaranya membangun jalan, membangun sekolah, dan memberikannya kepada orang-orang fakir. Adapun masjid, tidak boleh dibangun dari harta riba. Tidak halal pula bagi seseorang untuk senantiasa mengambil atau memanfaatkan bunga.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih Al-Fauzan, Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, Bakr Abu Zaid
(Fatawa Al-Lajnah, 13/354, fatwa no. 16576)

Menabung di Bank Ribawi

Seseorang memiliki sejumlah uang dan menyimpannya di bank demi keamanan hartanya dan agar bisa menunaikan zakatnya bila telah berlalu satu haul. Bolehkah hal yang seperti ini? Berikanlah penjelasan kepada kami. Jazakumullah khairan.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab: Tidak boleh menyimpan di bank-bank ribawi meskipun tidak mengambil bunganya. Karena hal ini mengandung sikap tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Allah sungguh telah melarang hal tersebut. Namun, bila seseorang terpaksa melakukannya dan tidak mendapatkan tempat untuk menjaga hartanya kecuali di bank-bank ribawi, maka tidak mengapa insya Allah, karena darurat. Allah berfirman:

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (Al-An’am: 119)

Bila dia mendapatkan suatu bank Islami atau tempat aman yang tidak mengandung unsur tolong-menolong dalam dosa dan ketakwaan, di mana dia bisa menyimpan hartanya di sana, tidak diperbolehkan baginya menyimpan hartanya di bank ribawi. (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 19/414, pertanyaan no. 253)

Transfer Uang Menggunakan Jasa Bank

Apakah dibolehkan menabung di bank yang bermuamalah dengan riba bila seorang muslim mengkhawatirkan dirinya? Dan apakah hukum bermuamalah dengan bank tersebut pada perkara yang tidak mengandung riba, semacam transfer uang ke luar atau dalam negeri, yang di dalamnya terkandung maslahat untuk kami (muslimin) terbatas pada bank tersebut?

Jawab: Pertama, menabung uang di bank-bank tersebut yang bermuamalah dengan riba tidaklah dibolehkan walaupun tidak mengambil bunganya. Karena di dalamnya terdapat unsur saling membantu dalam hal dosa dan permusuhan, sementara Allah telah berfirman:

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah: 2)

Kecuali bila seorang muslim khawatir hartanya hilang (kecurian atau semacamnya, ed.) dan tidak mendapatkan cara lain untuk menjaganya kecuali di bank riba, maka diperbolehkan baginya untuk melakukannya, tanpa adanya bunga atas tabungan itu. Hal ini dalam rangka mengambil mudharat yang lebih kecil dan menangkal mudharat yang lebih besar.

Kedua, bermuamalah dengan bank yang memakai riba dalam hal yang mubah semacam mengirim/mentransfer uang adalah boleh ketika dibutuhkan untuk itu. Adapun berhubungan dengan bank dalam hal yang haram, tidaklah diperbolehkan.

Allahlah yang memberi taufiq, semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakil: Abdurrazzaq ‘Afifi, anggota: Abdullah bin Qu’ud (Fatawa Al-Lajnah, 13/351-352, fatwa no. 4997)

Meminta Bunga Bank

Apakah boleh seseorang meminta bunga dari uang seseorang yang telah meninggal –yang dahulu ditabungkan– ketika uang itu hendak diambil? Kalau tidak boleh, apakah bunga bank tersebut dibiarkan diambil oleh bank tersebut, baik untuk kepentingan bank atau selainnya?

Jawab: Bila seorang muslim wafat dan meninggalkan harta di sebagian bank ribawi di mana ada bunganya, ahli waris atau para walinya yang lain tidak boleh mengambil bunga tersebut untuk kepentingan mereka, karena Allah mengharamkan riba. Rasulullah n juga melaknat orang-orang yang memakannya, menulisnya, dan menjadi saksinya.

Namun jangan biarkan bunga itu ada di bank tersebut, bahkan ambil dan salurkanlah secepatnya pada kegiatan-kegiatan kebaikan. Seperti menyantuni orang fakir, melunasi utang orang yang kesulitan membayarnya, dan sejenisnya. Bagi orang yang berwenang terhadap pokok harta tersebut, hendaknya mengambilnya dari bank. Karena keberadaannya di bank adalah salah satu bentuk saling membantu dalam dosa dan permusuhan. Kecuali bila terpaksa untuk tetap menyimpannya di sana, maka tidak mengapa namun tanpa bunga, seperti jawaban pertanyaan pertama yang telah lalu.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa alihi wshahbihi wasallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakil: Abdurrazzaq Afifi, anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

Dalam permasalahan seseorang yang menyimpan uang di bank dan ia mengetahui haramnya riba, apakah ia harus mengambil uangnya saja atau beserta ribanya, terdapat perbedaan pendapat. Asy-Syaikh Al-Albani t menyatakan dalam kaset Silsilatul Huda wa Nur (no. 231), bahwa ada yang berpendapat riba tersebut tidak diambil secara mutlak, adapula yang berpendapat boleh diambil dan diberikan kepada fuqara. Ada lagi yang berpendapat riba tersebut boleh diambil tapi jangan dimanfaatkan olehnya secara pribadi. Namun riba tersebut hendaknya diberikan untuk pembuatan fasilitas umum yang dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama seperti jalan atau saluran air, dan yang sejenisnya.

Sumber:Asy Syariah Edisi 053http://asysyariah.com/hukum-menabung-di-bank-ribawi/

Menyikapi Suami Yang Terjangkiti Virus al-Halaby

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry حفظه الله

Ditanya:

Semoga Allah memberkahi Anda, Syaikh kami.

Pertanyaan ketujuh:

Telah terjadi pada sebagian masyarakat dan ini contoh kasusnya, yaitu ada seorang wanita dari Libya bertanya: Bahwa suaminya sangat terpengaruh dengan al-Halabi dan fanatik dengannya, membelanya bahkan menyebarkan kalamnya.

Dia telah dinasehati berkali-kali oleh beberapa kerabat istrinya, tapi dia belum menerima, maka ikhwah salafiyyin dari kerabat istrinya memboikot dia dan terjadi pemutusan hubungan. Ada sebagian orang tua dari kalangan awam yang meminta kerabat salafiyyin untuk minimalnya memberi salam padanya.

Bagaimana sikap yang syar’i kepada suami saya? Dalam keadaan kerabatku yang salafy mulai membenciku dan kurang bagus muamalahnya kepadaku, dan suamiku mengancam cerai jika kerabatku masih terus memboikotnya. Saya mengharapkan nasehat dan penjelasan. Jazaakumullohu khairaa

Jawaban:

1. Yang pertama: Kita meminta kepada Allah agar mengembalikan suami anda ke jalan yang benar dan memberi hidayah kepadanya.

2. Yang kedua: Sabarlah dalan menghadapi ujian ini, dan haraplah pahala dari-Nya serta tetaplah berbuat baik kepada suamimu dan berbicaralah kepadanya dengan lemah lembut, terlebih jika kalian sudah memiliki anak. Coba ajak bicara dengan kata: “wahai abu fulan”, “wahai abu fulanah”.

3. Ketiga: al-Halabi seorang mubtadi’ sesat dan tidaklah ada yang membelanya, kecuali orang yang semisal dengannya atau dia jahil. Kebid’ahan al-Halabi sangat jelas, dia ingin berpolitik dalam dakwah ini bahkan dia menggembosi dakwah dan dia mentolelir kebid’ahan dan ahli bid’ah dan mendukung ahli bid’ah.

Adapun kalau dia mentalakmu, maka ini di luar tanggung jawabmu, dan kalau dia benar mentalakmu, maka yakinlah Allah akan memberi jalan keluar kepadamu. Allah berfirman:

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka akan diberikan jalan keluar [Qs. At-Talaq]

Ini janji Allah, jika engkau benar-benar yakin maka pasti Allah akan memberi jalan keluar.

Adapun sikap kerabatmu yang salafiyyin, maka katakan kepada suamimu: “aku tidak bisa mencegah mereka, ini adalah urusanmu wahai suamiku dengan mereka. Saya tidak memiliki ilmu sehingga bisa mengatakan kepada mereka, “Jangan boikot suamiku!””

Tapi saya berpendapat tidak mengapa jika kerabatmu bertemu suamimu di pertemuan-pertemuan umum, dan dia berjabat tangan dengan mereka atau dia mencukupkan dengan memberi salam kepada mereka semua dan tidak berjabat tangan dengan mereka salafiyyin. Wallahu a’lam

Alihbahasa : Syabab Forum Salafy

http://ar.miraath.net/fatwah/11270

BAGAI MANA MENYIKAPI SUAMI YANG TERJANGKITI VIRUS AL-HALABY

PENERIMAAN SANTRI BARU (PUTRA & PUTRI) Mahad Dhiyaus Sunnah Tahun Ajaran 1436/1437H – 2015/2016M

بسم الله

PENERIMAAN SANTRI BARU (PUTRA & PUTRI) Mahad Dhiyaus Sunnah Tahun Ajaran 1436/1437H – 2015/2016M

MA’HAD DHIYAUS SUNNAH CIREBON

Jl.Elang raya Rt.06/03 komplek Ma’had Dhiya’us Sunnah Dukuh semar Harjamukti – Kota Cirebon

=======================

Membuka Jenjang Pendidikan :

1. Tarbiyatul Aulad ( Anak usia 4 s.d 5 tahun ) lama pendidikan 2 th.

2 . MTT (Ma’had Tahfidz Terpadu)/ setingkat SD ( Anak usia 6 s.d 7 th) lama pendidikan 6 th
[ tidak menginap ]

3. MTS ( mutawassithah ) / setingkat smp ( Anak usia 12 s.d 16 tahun) lama pendidikan 3 smpe 5 tahun
[ Santri Mts wajib menginap ]

4. TD ( TADRIBUD DU’AT ) Diperuntukkan bagi pelajar yang berusia 17 th keatas
[ santri TD wajib menginap ]

===================
Informasi pendaftaran :

Abdulloh toto
081395688853

Abu hisyam
087729746853

Abu zaid kusnendi
085318337714

Waktu pendaftaran :

Mulai tgl 15 rojab s.d 16 sya’ban 1436 H
( 4 Mei s.d 3 Juni 2015)

Hari : senin s.d kamis
Waktu : 09.00 s.d 14.00 wib
16.00 s.d 17.00 wib
10.00 s.d 12.00 wib ( khusus Banat)

Tes seleksi, interview dn tes kesehatan tgl 16 Sya’ban 1436 H/3 Juni 2015

Pengumuman hasil tes tgl. 21 Sya’ban 1436 H atau tgl. 8 Juni 2015

Daftar ulang tgl. 22 – 28 sya’ban 1436 H atau tgl. 9 – 28 juni 2015

Mulai masuk/belajar insyaa Allah hari selasa tgl 12 syawal 1436 H atau tgl. 28 Juli 2015

Info lebih lanjut kunjungi di website kami

www.salafycirebon.com

Baarokallahu fiikum