Mereka adalah Orang-orang Pilihan

Sahabat Rasulullah adalah Orang-orang Pilihan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)

Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shollallahu alaihi wasallam itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah dan Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Di masa sekarang, shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menjadi sekelompok orang yang asing. Keberadaan mereka sebagai “perantara” agama yang dibawa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kepada umat berikutnya telah banyak dilupakan orang. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba memahami agama ini, sebagian besar tidak lagi menjadikan para shahabat sebagai rujukan. Tokoh-tokoh yang muncul belakangan atau pimpinan kelompoknya lebih mereka sukai untuk dijadikan sebagai teladan. Sementara para shahabat sebagai orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap agama malah mereka jauhi. » Read more

Bertaubat dan Kembali Berbuat Dosa

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:  Saya seorang pemuda, Allah telah memberi saya hidayah untuk meniti jalanNya yang lurus, saya memohon kepada Allah keteguhan hati. Akan tetapi saya masih memiliki sisa-sisa dosa yang saya belum mampu terbebas darinya. Hanya saja, saya bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa ini, saya memohon ampun kepadaNya, akan tetapi saya mengulanginya dan saya terjatuh padanya. Setelah hal itu terjadi, saya menyesal dan bertaubat kepada Allah akan tetapi tanpa faedah. Maka saya mengharap bimbingan apa yang mesti saya lakukan agar saya bisa mendidik jiwaku untuk beribadah kepada Allah, dan mantaati-Nya, dan bermaksiat terhadap nafsuku yg sangat mengajak kepada kejelekkan. Apakah saya berdosa dengan taubatku dari suatu dosa kemudian kembali diriku mengulangi dosa tersebut?

Jawaban: Segala pujian kesempurnaan milik Allah yg telah memberimu petunjuk untuk bertaubat, dan mengkaruniakanmu untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’aala. Ketahuilah wahai akhy, bahwasanya taubat itu menghapus dosa yg lalu. Sebagaimana islam juga menghapus dosa yg lalu. Selama engkau-bihamdillah- setiap kali terjatuh pada sebuah dosa, engkau bersegera bertaubat dengan jujur, maka engkau di atas kebaikkan in syaa Allah.Maka taubat itu menghapus dosa yg lalu, engkau tidak akan disiksa atas dosa yg engkau telah bertaubat darinya, karena sebab engkau mengulangi dosa tersebut sekali lagi. Engkau hanya akan disiksa dengan dosa yg engkau ulangi yg engkau lakukan. Kemudian jika engkau bertaubat dari hal itu, akan dihapus darimu dosa itu juga, dan demikian seterusnya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya-jalla wa’ala.

Jika engkau jujur dalam bertaubat, dan engkau menyesali atas apa telah lalu, engkau bertekad dengan tekad yg jujur untuk tidak mengulangi dan engkau meninggalkan dosa itu. Kemudian ternyata engkau diuji lagi dengannya setelah itu, maka Allah memaafkan atas apa yg telah lewat dengan taubat yg telah lalu.Dan engkau mesti melawan nafsumu untuk tidak terjatuh dalam dosa lagi, hal ini dengan beberapa cara, diantaranya :

Pertama : Berlindung diri kepada Allah dan memohon hidayah, taufik dan penjagaan padaNya. Agar Allah menolong dirimu menghadapi nafsumu dan melawannya. Agar Allah menolongmu menghadapi syaitanmu sampai engkau selamat darinya.

Dan Allah Yang Maha Suci berfirman :: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‎ ‎.البقرة‎ ‎186”Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku ini dekat. Aku mengkabulkan doanya orang yang berdoa jika dia berdoa padaKu.” (QS. Al-Baqarah 186)

Dialah yang berfirman Yang Maha Suci :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ‎ ‎غافر:60”Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Ghafir 60)

Yang kedua : Engkau harus menjauhi sebab-sebab yang bisa menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau berteman dengan orang-orang yg melakukannya, maka mesti engkau jauhi mereka sehingga mereka tidak menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau masuk rumah-rumah yg bisa menyeretmu kepada maksiat, maka jauhilah rumah-rumah tersebut berhati-hatilah darinya.Demikian, lihatlah sebab-sebab (maksiat) dan jauhilah.

Perkara ketiga ‎: Melihat kepada akibat buruk maksiat, renungilah akibat-akibat tadi, bahwasanya akibatnya itu sangat buruk, akibatnya sangat buruk. Kadang engkau akan tertimpa tidak bisa bertaubat, maka engkau akan merugi, wal’iyadzu billah. Maka hati-hatilah engkau dari akibat buruk dosa-dosa.Dan fikirkanlah sering-sering, bahwasanya engkau terkadang mendapat taufik untuk bisa taubat, kadang tidak mendapat taufik untuk bertaubat. Hati-hatilah dari maksiat dan jauhilah. Teruslah bertaubat dan jangan engkau tinggalkan. Maka ketika engkau diberi taufik untuk perkara-perkara ini, maka Allah akan menjagamu dari kejelekkan nafsumu, dari syaitanmu. Hanya Allahlah pemilik taufik.

Sumber :http://www.binbaz.org.sa/mat/20881/print

Alih Bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Apakah Harus Ambil Air Wudhu Apabila Tersentuh Wanita?

Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta’lim-ta’lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira. (Abdullah di Salatiga)

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim:
Masalah batal atau tidaknya wudhu’ seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada di antara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu’ seperti Al-Imam Az-Zuhri, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidaklah membatalkan wudhu. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Asy-Syaikh Muqbil t pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa dan walhamdulillah beliau memberikan jawaban yang gamblang. Sebagaimana yang Saudara harapkan untuk mengetahui fatwa ahlul ilmi tentang permasalahan ini, kami paparkan jawaban Asy-Syaikh sebagai jawaban pertanyaan Saudara. Namun, di sana ada tambahan penjelasan dari beliau yang Insya Allah akan memberikan tambahan faidah bagi Saudara. Kami nukilkan ucapan beliau dalam Ijabatus Sail hal. 32-33 yang nashnya sebagai berikut:
Beliau ditanya: “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu, baik itu menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram), istrinya, ataupun selainnya?” Maka beliau menjawab: “Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara yang haram, dan telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani dalam Mu’jamnya dari Ma’qil bin Yasar t mengatakan, Rasulullah r bersabda:

“Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah t berkata, Rasulullah r bersabda:
“Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan.”
Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram) tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah.
Mengenai masalah membatalkan wudhu atau tidak, maka menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’ menurut pendapat yang benar dari perkataan ahlul ilmi. Orang yang berdalil dengan firman Allah U:

“atau kalian menyentuh wanita…” (An Nisa: 43)
Maka sesungguhnya yang dimaksud menyentuh di sini adalah jima’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas c.
Telah diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah x, Nabi r shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu Nabi r.
Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’ berdalil dengan riwayat yang datang di dalam As-Sunan dari hadits Mu’adz bin Jabal z bahwa seseorang mendatangi Nabi r dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi r terdiam sampai Allah U turunkan:
“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan.” (Hud: 114)
Maka Nabi r berkata kepadanya:
“Berdirilah, kemudian wudhu dan shalatlah dua rakaat.”
Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu’adz bin Jabal z. Ini satu sisi permasalahan. Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak bisa menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu, karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu, dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas c menafsirkan ayat ini dengan jima’. Wallahul musta’an.

Sumber:http://asysyariah.com/menyentuh-wanita-membatalkan-wudhu/

Rekaman Kajian Al-Istighosah atau Berdoa kepada Selain Allah Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (Syarh Kitabut Tauhid)

Bismillah
Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah Purwokerto

Bersama : Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed

Dengan membawakan tema : Al-Istighosah Atau Berdo’a Kepada Selain Alloh Termasuk Kesyirikan dari Kitab Fathul Majid (syarh kitabut tauhid)

Waktu : 10.00 WIB s/d Selesai

Hari/Tanggal : Sabtu, 19 Robi’ul Awwal 1436 H / 10 Januari 2015 M

Tempat : Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

➡ Sesi 1 (1.17.48)
http://bit.ly/1sh0gM9

➡ Sesi 2 (26.26)
http://bit.ly/1sh16J5

➡Sesi Tanya Jawab (12.29)
http://bit.ly/1w77q0V

Selengkapnya lihat di
http://www.mahad-alfaruq.com/ audio-kajian-islam-ilmiah- purwokerto-10-januari-2015-m/

Semoga Bermanfaat

Baarokallohu fiikum

© Tasjilat Al Faruq Purwokerto
www.mahad-alfaruq.com

Hukum Menikah karena Hamil Duluan

Al Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah

Pertanyaan:
Bagaimana hukum menikah setelah hamil duluan? Karena saat ini ini marak terjadi di masyarakat.

Jawab:
Akibat pergaulan bebas, tidak ada aturan. Dan yang sangat disayangkan, sebagian orang tua membiarkan hal ini, dibiarkan. Kalau ada teman laki-lakinya yang ingin bertamu ke rumah, maka alasan orang tuanya ke belakang. “Maaf, ada kebutuhan di belakang”. Dia dibiarkan berdua.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi, no.2165)

Setan yang bermain di situ, akhirnya terjadi perzinaan, wal’iyadzubillah. Sehingga, tidak sedikit para wanita, mereka dalam kondisi hamil sebelum menikah. Hamil diluar pernikahan, Allahul musta’an. Para wanita yang tidak memelihara kehormatannya, hidup bebas. Mendapatkan godaan dari seorang laki-laki, akhirnya tergoda. Dengan mudahnya dia dipengaruhi. Sehingga dalam keadaan belum menikah dia sudah dalam keadaan hamil.

Ini apa hukum menikah dalam keadaan seperti ini? Hukumnya tidak sah.

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (QS: Ath-Thalaaq Ayat: 4)

Adapun pada saat dia hamil, lalu kemudian dia menikah maka pernikahan itu tidak sah. Pernikahan tersebut adalah pernikahan yang tidak sah. Dan tidak diperbolehkan bagi seorang yang telah mengetahui hukum ini, lalu kemudian dia menikahi seorang wanita yang dalam keadaan hamil. Apabila dia mengetahui hukumnya, lalu dia masa bodo, dan dia tetap menikahi wanita tersebut, maka pernikahannya itu bathil. Sebab wanita itu belum hilang masa iddahnya. Dalam artian dia harus ditunggu sampai melahirkan. Setelah itu dinikahkan.

Ada sebagian mengatakan, “ya tapi malu, bagaimana? masa dia hamil dalam keadaan tidak punya suami, malu”. Sudah sejak awal, dia tidak punya rasa malu. Dari awal, dia sudah tidak punya rasa malu. Kenapa dia biarkan dirinya terjerumus ke dalam perbuatan nista seperti itu? Kalau dia punya rasa malu, hendaknya dia memelihara kehormatannya. Apakah setelah kemudian terjadi kecelakaan, lalu kemudian hendak ditutupi rasa malu ini? Lalu kemudian kita melanggar syari’at Allah subhanahu wata’ala?

Menikahkan begitu saja dalam keadaan hamil? Sekarang ini subhanallah. Akhirnya semakin maraknya hal ini, sebagian pemuda menganggap enteng permasalahan ini. Orang tua tidak setuju? Gampang. Katanya orang Makassar, silariang. Sudah bawa lari saja sekalian, bawa lari sehari, dua hari, kecelakaan, Allahul musta’an. Sudah, lalu kemudian menggampangkan permasalahan ini. Orang tuanya ngamuk-ngamuk sementara waktu. Pikirnya seperti itu. Sudah, dinikahkan saja. Menuntut tanggung jawab. Laki-laki ya mau saja dia bertanggung jawab. Tapi tidak seperti itu keadaannya. Tidak seperti itu keadaannya, tidak diperbolehkan. Kecuali apabila dia telah melahirkan.

Jika dilakukan dalam keadaan tidak tahu, bagaimana hubungan nasab anak dan ayahnya? Karena yang ana tahu, anak hasil zina dinisbatkan kepada ibunya. Sedangkan dalam kasus tersebut, status anak adalah hasil zina. Tapi yang menikahi ibunya juga ternyata ayah kandungnya?

Berbeda halnya apabila seorang tidak mengetahui hukum. Orang tuanya menyangka bahwa itu boleh-boleh saja. Boleh menikahkan anak meskipun dalam keadaan hamil. Berpegang kepada fatwa sebagian ustadz misalnya. Akhirnya terjadilah pernikahan, anaknya dalam keadaan hamil menikah. Ini apa hukumnya? Maka hukumnya sah, dibangun di atas pengetahuan dia yang jahil ketika itu. Atau ada seorang yang telah memfatwakan kepadanya dengan fatwa tersebut. Maka dibangun di atas hukum yang diyakini ketika itu.

Meskipun kita mengatakan, yang shahih dalam permasalahan ini bahwa seorang wanita menikah dalam keadaan hamil hukumnya tidak sah. Makanya kita mengatakan bagi orang yang sudah mengetahui hukum ini, lalu dia melakukannya maka pernikahannya bathil. Tapi seorang misalnya tidak mengetahui, dia menyangka bahwa itu boleh. Mungkin ada yang memfatwakan kepadanya. Maka dibangun di atas persangkaan sebelumnya bahwa yang demikian menurut mereka sebelum itu adalah diperbolehkan. Maka tidak perlu diulangi, sah.

Oleh karena itu, para sahabat yang mereka masuk ke dalam islam, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memerintahkan kepada mereka untuk mengulangi akad pernikahannya. Tapi dibangun di atas keyakinan mereka dahulu. Keyakinan jahiliyah. Mereka menganggap pada masa itu, pernikahan mereka di masa jahiliyah itu sah, maka itu sah. Padahal kalau kita membaca sejarah pernikahan jahiliyah, macam-macam cara mereka. Dan sekian banyak cara itu tidak sejalan dengan syari’at islam.

Akan tetapi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mempertanyakan itu. Ketika mereka semua masuk ke dalam islam, nabi tidak pernah memerintahkan kepada mereka untuk mengulangi akadnya. Untuk mengulangi akad pernikahan. Dibangun di atas keyakinan mereka dahulu bahwa yang demikian sah. Bahkan ada seorang sahabat (Ghailan As-Tsaqafi) ketika dia masuk islam, datang kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia mengatakan “Ya rasulullah, saya masuk islam dan saya memiliki sembilan istri, apa yang harus saya lakukan?”

Kata nabi ‘alaihi shallatu wasallam:

“أَمْـسِكَ أَرْبَـعًا , وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ”

“Pertahankanlah istrimu empat saja, dan ceraikan istri-istrimu yang lainnya”. (Riwayat Ahmad, Syafi’i, Tarmizi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Daraquthni dan Baihaqi)

Rasul tidak mengatakan, lepaskan dulu semua, nanti akad baru. Tidak demikian, maka ini menunjukkan bahwa apa yang diyakini sebelumnya, maka dibangun di atas keyakinan sebelumnya.

Adapun status anak tersebut, maka anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya. Anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya. Dia tidak punya ayah, meskipun laki-laki tersebut dia yang melakukannya. Tetap tidak boleh dinisbatkan kepadanya itu ayah. Dinisbatkan kepada ibunya. Karena itu bukan orang tuanya secara syar’i. Bukan orang tuanya secara syar’i. Tetapi tetap tidak diperbolehkan bagi dia untuk menikahi anak tersebut.

Kalau misalnya ada seorang laki-laki, dia berzina dengan seorang wanita. Akhirnya wanita itu melahirkan anaknya dalam keadaan laki-laki ini tidak menikah dengan wanita tersebut. Anaknya ini dewasa akhirnya menjadi remaja, bolehkah laki-laki yang pernah berzina dengan ibunya menikahi anaknya? Jawabannya tidak boleh, karena itu bagian darinya meskipun tidak berstatus sebagai ayah. Meskipun secara syar’i tidak berstatus sebagai ayah, tapi itu bagian dari dirinya dan tidak diperbolehkan.

Download Audio disini

Sumber: http://www.thalabilmusyari.web.id/2013/08/hukum-menikah-karena-hamil-duluan.html

Keadaan Musafir yang Tertinggal Salat Jumat

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan:
Seorang musafir mendatangi salat Jumat di suatu masjid, dan mendapati jamaah salat pada tasyahud akhir, apakah dia salat 4 rakaat atau salat dengan salatnya mereka (yakni salat Jumat, pent.)?

Jawab:
Seorang musafir tidak diwajibkan mengerjakan salat Zuhur melainkan dengan diqashar. Apabila ia mendapati shalat jama’ah kurang dari 1 rakaat, wajib baginya mengerjakan shalat Zuhur, dan shalat Dzuhur baginya adalah dengan diqashar 2 rakaat saja, karena dia bukanlah seorang yang mukim tetapi seorang musafir. Adapun apabila dia mendapati salat jamaah 1 rakaat, dia menambah 1 rakaat dan teranggap baginya sebagai salat Jumat.

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 16/61
Alih bahasa: Abdulaziz Bantul
Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan
::http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/01/musafir-yang-tertinggal-shalat-jumat.html

Jamaah Tahdzir Adalah Jamaah Rahmah

Audio Tanya Jawab

Pertanyaan:

Apa tanggapan ustadz tentang tuduhan kita adalah Jama’ah Tahdzir?

Jawab:

Sudah dijawab bahwa ternyata JAMA’ATU TAHDZIR adalah JAMA’ATU RAHMAH..!! Golongan yang sangat penyayang kepada ummatnya.

Ketika ditanyakan kepada beberapa ulama tentang “ucapanmu begini, begini pada mereka..” … “itu bukan begini bukan begitu..”, Apa jawaban mereka, jawaban ulama..??

Kami (para ulama, -pen.), “Arham bihim min abaa-ihim wa ummahatihim” (kami lebih sayang kepada mereka dari bapak mereka dan ibu mereka)…!! Bapak ibu mereka, memperingatkan dari bahaya api dunia, “hati-hati nak, itu bahaya”, api dunia..!! “Hati-hati nak, jangan main di jalan nakti ketabrak”, bahaya dunia..!! …. tapi kami memperingatkan mereka dari bahaya akhirat.”

Mana yang lebih penting..?? Mana lebih arham..?? Para ulama arham bihim..!! maka kita dikatakan sebagai Jama’tu Tahdzir untuk melecehkan.. Na’am.

Pertanyaan:

Apakah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir orang-perorangan?

Jawab:

Na’am. Ikhwani fiddin a’azzakumullah, ini berarti harus dikaji kembali kitab-kitab manhaj ini..

Dulu, Sururiyyah yang yang terdahulu … Salaf mereka yang jelek … sururiyyah yang lama … mengatakan, “tidak boleh mentahdzir dengan ta’yin. Cukup mentahdzir itu dengan umum saja.. Hati-hati dari bid’ah..” Titik. Jangan mengatakan, “fulan Syiah … jangan..!!” Ini sudah dibantah panjang lebar oleh masyayikh kibar. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sudah dibantah. Tidak benar ini.. Hati-hati dari syiah, tapi ngak tahu syiah yang mana ya..?

Ikhwani fiddin a’azzakumullah, sebutkan “fulan syi’i rafidhi”, fulan hizbi mubtadi’ … dan contohnya terlalu banyak. Sangat-sangat banyak. Termasuk dalam hadits, suatu rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ditentang oleh seseorang dengan muka yang memerah, dengan mata yang melotot, dengan otot leher yang keluar, suara yang keras,

“Yaa Muhammad i’dil..!!” (Wahai Muhammad, berbuat adillah..!!)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam betul-betul marah dengan orang ini. Sampai menyatakan, “Siapa yang berbuat adil jika aku tidak adil?”

Umar Ibnu Al-Khattab mengatakan, “Ya rasulullah biar aku penggal lehernya orang ini.. Ini munafik orang ini..” … menafikan keadilan nabi, apa bukan munafik?

Tetapi Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “biarkan dia, karena khawatir manusia akan mengatakan bahwa Rasulullah membunuh sahabatnya.”

Tetapi apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah itu? “Akan keluar dari orang ini …” ta’yin atau tidak ta’yin..?? ta’yin atau tidak ta’yin..?? TA’YIN!!

“… Akan keluar dari orang ini …” dengan isyarat kepada dia. “Orang ini nanti akan memunculkan model manusia seperti seperti ini … seperti ini … Shalatnya mengalahkan shalat kalian, puasanya mengalahkan puasa kalian, tetapi keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruannya..”

Maka dengarkan ucapan para ulama yang menerangkan hadits ini bahwa ini tahdzir dari orang tersebut dan jangan dengarkan ucapan Salman Audah, As-Surury..!! Hizbi yang menyatakan hadits yang sama, “Lihatlah Rasulullah orang ini mengkritik dirinya dibiarkan BEBAS MERDEKA..”

Kata siapa BEBAS MERDEKA, Yaa Haadza.?? Diperingatkan dengan keras “Akan keluar dari orang ini seperti ini … seperti ini …” digambarkan dengan jeleknya, masih belum cukup kalau belum dilengkapi ucapan Rasulullah ini dengan ucapan berikutnya, “Kalau aku temui mereka, aku akan bantai, aku akan perangi mereka seperti diperanginya kaum ‘Ad.”

Masih ada lagi kalimat yang berikutnya, “mereka sejelek-jelek makhluk..!!” bayangkan… “sebaik-baik kalian adalah yang dibunuh oleh mereka sedangkan mereka adalah sejelek-jelek bangkai dibawah naungan langit..!!”

Ini semua menggambarkan tentang ini (tahdzir, pen).. nanti kedepannya akan begini.. Peringatan.. Tahdzir..

Baarakallahu fiikum.

Maka dari para Salaf sangat banyak, dari shahabat, dari tabi’in, dari tabi’ tabi’in.. akan dibahas dalam babnya dalam Kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur …

Download audio:
http://bit.ly/1vY5pnT

Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullah

Audio Tanya Jawab Kajian kitab “Fathul Majid” // Sabtu, 20 Shafar 1436H – 13/12/2014M — Masjid Agung Baitussalam Purwokerto

Download kajian lengkap di sini: http://www.alfawaaid.net/2014/12/audio-al-ustadz-muhammad-as-sewed-al.html

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

Siapakah Abdul Hadi Al-Umairi, Apakah Boleh Diambil Ilmunya?

Pertanyaan:

Ustadz, ana tanya siapa sih Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi, apakah boleh diambil ilmunya?

Jawab:

Saya juga tanya.. siapa ya..??

Artinya apa? Gak dikenal.. MAJHUL!!
Tanyakan kepada Syaikh Ubaid juga ngak tahu..!!
Tanyakan ke Syaikh Rabi’ juga ngak tahu..!!

Yang saya ketahui hanya 1 jam 48 menit ceramahnya dia..menghabiskan Ustadz Luqman. Itu saya dengar lengkap!! Hampir-hampir saya ngak pernah sebetah itu mendengarkan sampai 2 jam.. tapi saat itu betul-betul saya dengarkan sampai akhir.

Banyak pertanyaan di benak saya??

Pertama ketika dia hanya karena seorang yang dia kata, “saya ngak ngerti siapa dia tapi dia begini dan begitu..”, artinya bukan ulama tapi membantahnya sampai dua jam. Menurut saya BERLEBIHAN..!! Iya kan..

Coba Syaikh Rabi dikatakan, “Syaikh katanya ustadz Muhammad, ente majhul..”, kira-kira dijawab 2 jam?? Ngak akan lah..!! Siapa saya kan gitu..!! Ini marah-marah 2 jam.. atau satu jam 48 menit tepatnya..

Yang kedua, …

▶… dengarkan selengkapnya dalam rekaman audio di bawah.

Download audio:
http://bit.ly/174CuJY

Audio Tanya Jawab Kajian Banyumas // Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafidzahullah // 18 Dzulqa’dah 1435H – 13/09/2014M // Ma’had Al Faruq Kalibagor, Banyumas

〰〰〰
Dipublikasikan:
www.alfawaaid.net

✪ WhatsApp Syarhus Sunnah

****************************************************

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhali حفظه الله Mentahdzir Syaikh Abdul Hadi Al-Umairy & Dustanya Kafilah MLM

Pada tanggal 13 Rabi’ul awwal 1436 H, ana dimudahkan untuk bisa bertemu dengan Al-Allamah Al-Walid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah Ta’ala, bersama beberapa ikhwan yang ikut rombongan umrah dengan ana, dan juga beberapa ikhwan yang bekerja di perusahaan bin Laden. Kami mengerjakan shalat maghrib di masjid yang biasanya Syaikhuna Rabi’ Hafizhahullah shalat di masjid tersebut.

Setelah usai shalat,ana bersalaman dengan Beliau, dan memberitakan bahwa Abdul Hadi Al-Umairi akan datang ke Indonesia dalam waktu beberapa hari ini, dan dia mentahdzir Luqman Ba’abduh dan membela Dzulqarnaen. Apakah kami menghadirinya?

Maka beliau dengan spontan menjawab sambil mengisyaratkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri berkali-kali:

لا…..لا……حذروا منه

“Tidak….tidak….peringatkan (manusia) darinya.

Pernyataan Beliau ini juga disaksikan oleh beberapa ikhwan, diantaranya Ustadz Abu Yahya solo, dan Asrul Pangkep.

Dengan persaksian, nampak nyatalah kedustaan sebagian mereka yang mengatakan adanya kedekatan hubungan antara Al-Allamah Rabi’ -Hafizhahullah wa Syafaah- dengan Abdul Hadi Al-Umairi.

Ditulis oleh: Abu Muawiyah Askari bin Jamal || Makkah Al-Mukarromah, Senin, 13-14 Rabiul awwal 1436H, Bertepatan dengan tanggal: 05/01/2015M

Penyebarannya telah diizinkan oleh Ustadz Askari hafizhahullah

〰〰〰
Sumber WhatsApp TIS

** Judul Artikel dari Kami

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=9253

Menjaga Kesucian Darah, Harta, dan Kehormatan Sesama Muslim

Di antara perkara yang sering merusak ukhuwah Islamiyah ialah adanya sikap dari sebagian kita yang tidak mau memaklumi bila saudaranya berbuat salah atau keliru. Padahal kesalahan yang dilakukan oleh seseorang itu bisa jadi karena lupa, salah paham, bodoh, karena belum tahu ilmunya atau karena terpaksa sehingga berbuat demikian.

Sikap pukul rata (gebyah uyah) ini banyak terjadi di kalangan kaum muslimin, bahkan juga di kalangan Ahlus Sunnah. Ketika ada orang yang berbuat salah, bukannya dinasihati atau diingatkan, malah dihadapi dengan sikap permusuhan. Terkadang digelari sebutan-sebutan yang jelek atau malah ia dijauhkan dari kaum muslimin.

Sikap yang lebih ekstrim dalam masalah ini adalah apa yang ditunjukkan kelompok Khawarij. Mereka lebih tidak bisa melihat saudaranya yang berbuat kesalahan. Orang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, dalam pandangan mereka, telah terjatuh dalam kekafiran hingga halal darah dan hartanya.

Kondisi ini tentu akan bermuara pada pecahnya ukhuwah di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim dengan sebab sebuah dosa atau kesalahan yang ia kerjakan, selama ia masih menjadi ahlul qiblat (masih shalat). Seperti dalam masalah-masalah yang masih diperselisihkan kaum muslimin di mana mereka berpendapat dengan suatu pendapat yang kita anggap salah, maka tidak bisa kita mengkafirkannya. Karena Allah memberi udzur kepada mereka. Allah berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Rabb mereka, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami pikul. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Al-Baqarah: 285)

Disebutkan dalam riwayat yang shahih (HR. Muslim dari Abu Hurairah dalam Shahih beliau) bahwa Allah telah mengabulkan doa para nabi dan doa orang-orang beriman ini. Sehingga diangkatlah pena dari orang-orang yang berbuat kesalahan karena lupa atau karena ia tidak mengerti ilmunya. Juga bagi orang yang tidak sanggup memikul suatu beban.”
Orang-orang Khawarij tidak mau membedakan hal-hal tersebut. Menurut mereka, barangsiapa berbuat dosa maka dia menentang Al-Qur`an. Barangsiapa menentang Al-Qur`an berarti menentang Allah dan barangsiapa menentang Allah berarti dia kafir. Mereka menyamakan semua perbuatan salah dan menganggapnya sebagai kekafiran.

Syaikhul Islam melanjutkan: “Khawarij yang telah salah dalam hukum ini oleh Rasulullah diperintahkan untuk diperangi.
Rasulullah n bersabda:
لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ قَتَلْتُهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Sungguh jika aku sempat menjumpai mereka, aku akan perangi mereka, aku akan tumpas layaknya kaum Aad.” (Muttafaqun alaihi)
Allah l juga memerintahkan untuk memerangi mereka. Allah l berfirman:
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ
“Kalau ada dua kelompok kaum mukminin berperang maka damaikanlah keduanya. Kalau salah satunya memberontak, maka perangilah mereka sampai mereka kembali kepada Allah.” (Al-Hujurat: 9)

Ketika Ali bin Abi Thalib benar-benar menjumpai orang-orang Khawarij, maka beliau bersama para sahabat pun memerangi mereka. Begitupun seluruh imam baik dari generasi sahabat, tabi’in, atau setelah mereka sepakat bahwa Khawarij itu harus diperangi. Namun Ali bin Abi Thalib tidak mengkafirkan mereka.

Begitu pula sahabat yang lain seperti Sa’d bin Abi Waqqash dan lainnya, mereka juga memerangi orang-orang Khawarij. Namun mereka tetap menganggap Khawarij itu sebagai kaum muslimin. Sehingga cara memeranginya pun berbeda dengan memerangi orang kafir. Bila orang kafir diperangi maka hartanya menjadi ghanimah, wanita dan anak-anak mereka menjadi tawanan. Sedangkan memerangi Khawarij tidak demikian. Mereka hanya diperangi sampai mereka mau kembali ke jalan Allah dan kembali taat kepada penguasanya.

Ali bin Abi Thalib memerangi Khawarij setelah terbukti mereka menumpahkan darah dan merampas harta kaum muslimin dengan zalim. Ali bin Abi Thalib berkata: “Demi Allah, aku akan perangi mereka sampai tidak tidak tersisa 10 orang pun di antara mereka.”
Ketika para sahabat menyebut mereka sebagai kafir, maka Ali berkata:
لاَ، مِنَ الْكُفْرِ فَرُّوْا
“Tidak. Mereka justru lari dari kekufuran.”
Sikap orang-orang Khawarij yang demikian yakni khawatir terjatuh pada kekafiran inilah yang menyebabkan mereka memiliki sikap ekstrim dalam melihat perbuatan dosa. Apa akibatnya? Terjadilah perpecahan dan pertumpahan darah di tengah-tengah kaum muslimin.

Kesesatan Khawarij yang telah jelas diterangkan oleh nash dan disepakati kaum muslimin –bahkan membuat mereka boleh diperangi– tidak menyebabkan mereka boleh untuk dikafirkan. Apalagi beragam kelompok lain yang bermunculan pada masa ini, di mana mereka dihinggapi berbagai kekeliruan dan kebodohan, maka mereka tidak bisa untuk dikatakan sebagai kafir. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu tentang apa yang diperselisihkan.”
Inilah perbedaan antara Khawarij dengan Ahlus Sunnah. Khawarij menganggap kafir kaum muslimin, dan khususnya Ahlus Sunnah, karena dianggap sebagai kelompok yang pro thaghut (pro pemerintah). Namun demikian kita tetap tidak mengkafirkan mereka. Inilah bijaknya Ahlus Sunnah. Mereka berjalan dengan ilmu, bukan dengan emosi. Mereka mengetahui bahwa hukum asal darah kaum muslimin adalah terjaga. Begitu pula dengan kehormatan dan harta kaum muslimin, semuanya terjaga.

Nabi menyatakan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim saat Haji Wada, beliau n berkata:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ
“Sungguh darah, harta, dan kehormatan kalian adalah suci seperti sucinya hari ini (hari Arafah), seperti sucinya bulan ini (bulan Dzulhijjah) dan seperti sucinya negeri ini (Makkah), hingga hari kalian bertemu Rabb kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena itu kita jangan sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang sama dengan Khawarij. Yaitu tidak membedakan antara orang yang salah karena lupa, tidak tahu atau terpaksa, dengan para penentang Sunnah. Hingga akhirnya kita menyamaratakan dan menyikapi mereka dengan sikap yang sama, yaitu memusuhi dan menjatuhkan kehormatannya.
Kita harus menjaga agar darah kaum muslimin tidak tertumpah dengan cara yang dzalim, begitu pula dengan harta dan kehormatan mereka. Karena darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin adalah suci sebagaimana sucinya Hari Arafah, sucinya Kota Mekkah, dan bulan Dzulhijjah. Kita harus menjaga kemuliaan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin sebagaimana kita menjaga kemuliaan hari Arafah, Kota Makkah, dan bulan Dzulhijjah.

Dalam permasalahan ini memang ada pengecualian. Seperti dibolehkan untuk menumpahkan darah kaum muslimin karena qishash, hukum rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, atau karena seseorang keluar dari agama Islam (murtad) yang tentunya semua ini dilakukan oleh penguasa. Ini adalah perkara pengecualian yang dibolehkan untuk menumpahkan darah seorang muslim. Dalam permasalahan harta, dibolehkan saat mengambilnya dalam rangka menjalankan perintah zakat. Sedangkan dalam masalah kehormatan, dibolehkan untuk menerangkan keadaan seorang mubtadi’ (ahlul bid’ah) -yang memiliki pemikiran berbahaya dalam masalah agama- di muka umum, sehingga umat Islam selamat dari pemikirannya.
Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah harta. Seluruh kaum muslimin harus saling menjaga harta saudaranya. Jangan sampai kita merampas harta orang lain secara dzalim, jangan menipu, atau berhutang dengan niat untuk tidak membayar. Semua perbuatan ini juga terlarang sebagaimana terlarangnya menumpahkan darah kaum muslimin.
Sungguh merupakan kejadian yang benar-benar memalukan jika ada seorang yang mengaku Ahlus Sunnah memakan harta saudaranya dengan cara yang dzalim dalam masalah perdagangan atau hutang piutang hingga terjadi permusuhan di antara mereka. Terjadi saling boikot, saling tahdzir, saling mencela, dan sebagainya hanya karena semata-mata masalah uang. Masalah ini bisa menjadi besar dan berbahaya, yang semuanya berawal hanya karena tidak dijaganya harta sesama muslim.
Untuk urusan menumpahkan darah sesama muslim, barangkali Khawarij yang paling ahli. Namun untuk urusan memakan harta sesama muslim dengan cara yang dzalim, melanggar kehormatan saudaranya yang mestinya jangan sampai dilanggar, ternyata terjadi juga di kalangan orang-orang yang mengaku Ahlus Sunnah.

Karena itu saya wasiatkan kepada kita semua dan kaum muslimin, takutlah kepada Allah. Kita bicara tentang Khawarij, bahwa mereka itu kelompok sesat yang telah melanggar hadits Rasulullah n tentang larangan menumpahkan darah sesama muslim dengan cara yang dzalim, sementara di saat yang sama kita pun melanggar hadits tersebut pada sisi yang lain.

Perbuatan mengambil harta sesama muslim dengan cara yang batil atau melanggar kehormatannya, merupakan dua keharaman yang memiliki kedudukan sama sebagaimana larangan menumpahkan darah seorang muslim dengan cara yang batil. Karena tiga masalah ini disebutkan oleh Rasulullah n dalam satu hadits di atas sebagai perkara yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar.

Mari kita mulai dari yang kecil. Kita jaga kehormatan kaum muslimin, kita hormati sesama Ahlus Sunnah dengan tidak saling mengghibah dan mencari aib saudaranya. Bila kita dapati saudara kita berbuat keliru atau melakukan sebuah kemaksiatan, maka yang pantas dilakukan adalah memberi nasihat kepadanya dengan cara yang baik. Inilah semestinya sikap seorang Ahlus Sunnah kepada saudaranya. Bukan dengan mendiamkan dan kemudian menceritakan perbuatan saudaranya itu kepada orang banyak.

Di dunia ini tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bila setiap orang dicari-cari kesalahannya, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat. Yang terjadi kemudian adalah saling membongkar aib, yang pada akhirnya jatuhlah kehormatan kaum muslimin secara bersama. Akan jeleklah keadaan kaum muslimin di mata orang lain.

Lebih-lebih bagi yang menyandang nama Ahlus Sunnah, bisa menyebabkan dakwah ini jatuh. Karena itu, jangan sampai kita menganggap remeh perkara ini. Ghibah kepada sesama muslim akan menyebabkan kehormatan kaum muslimin jatuh. Begitu pula ghibah kepada para dai dan lebih-lebih kepada para ulama, juga akan menyebabkan kehormatan mereka jatuh. Ini semua bisa menyebabkan rusaknya dakwah dan hilangnya ukhuwah Islamiyah.
Wallahu a’lam.

(Diambil dari ceramah beliau di Masjid Nurul Barokah, Yogyakarta, tanggal 27 Shafar 1428/19 Maret 2007)

Sumber: http://asysyariah.com/al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/