Dauroh Sehari: Mewaspadai Golongan Mu’tazilah Banci & Khawarij Gaya Baru (KGB)

MUHADHOROH ILMIYAH ISLAMIYAH

WASPADAI Golongan Mu’tazilah Banci dan Khawarij Gaya Baru (KGB)*

* Pembahasan dari Kitab Ushulus-Sunnah karya Imam Al-Humaidy -rahimahulllah- syarah Syaikh Abdullah Al-Bukhari -hafidzahullah-

PEMATERI INSYAALLAH
✔ Al Ustadz Muhammad bin ‘Umar As-Sewed -Hafizhahullah-

Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq (komplek PonPes Dhiyaus Sunnah).

Waktu: Ahad, 20 Jumadil-Akhir1435 H / 20 April 2014 M
09.00 WIB s.d Selesai

Live di radio 107.7 MHz Adh-Dhiya FM

Live streaming:
1. Http://salafycirebon.com (radio adhdhiya)
2. Http://Radiorasyid.com (radio rasyid)
3. Http://miratsul-anbiya.net
CP : Ahmad Salafy 081312222345

Rute Menuju Ma’had Dhiyaus Sunnah, Cirebon

Shahabat Bukan Munafik (Bantahan Terhadap Syubhat Ke-4)

Shahabat Bukan Munafik (Bantahan Terhadap Syubhat Ke-4)

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Di antara Syubhat dari kaum Syi’ah dan kaum mutasyayi’in (kaum yang terpe-ngaruh dengan syubhat Syi’ah) adalah ucapan mereka: “Shahabat nabi itu tidak semuanya mukmin, ada pula di antara mereka yang munafik”, “Masalah iman itu kan masalah ha-ti, bisa jadi pada lahirnya mereka seperti mukmin akan tetapi hatinya kafir”, atau ucapan: “Siapa tahu Abu Bakar dan Umar ternyata munafik”. Ucapan-ucapan syubhat dan tasykik (membikin keraguan) ini sering diucapkan oleh mereka untuk meragukan kemuliaan dan keimanan para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada akhirnya menjatuhkan kedudukan mereka.

Sesungguhnya, jika pertanyaan mereka adalah: “Siapa tahu hati mereka?”, maka jawabannya sangat jelas . Allahlah yang maha Mengetahui hati mereka sebagaimana dise-butkan dalam firman-Nya:

 

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ. [العنكبوت: 11]

Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (Al-Ankabut: 11)Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ… ال عمران: 179
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisih-kan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)… (Ali Imran: 179)

 

Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mem-permalukan musuh-musuh-Nya dan akan di-ketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir 1/468)

Juga Allah mengancam orang-orang munafik untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ (29) وَلَوْ نَشَآءُ َلأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ. محمد: 29-30
Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mere-ka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-k-iasan perkataan mereka dan Allah menge-tahui perbuatan-perbuatanmu. (Muhammad: 29-30)

 

Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ. العنكبوت: 1-3
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) berkata: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami te-lah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang benar dan sesung-guhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut: 1-3)

 

Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah gangguan dan penyik-saan dari kaumnya di Mekah. Sebagian mere-ka disiksa dengan api. Sebagian lainnya di-usir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.

Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Mekah sebelum hijrah adalah orang-orang yang telah terbukti keislaman dan keima-nannya, dan terbebas dari tuduhan munafik, karena tidak mungkin ada seorang yang ber-pura-pura masuk Islam ketika itu untuk dicaci-maki, dan disiksa.

Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحشر: 8
(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari har-ta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hasyr: 8)

 

Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).

Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi daripada diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. الحشر: 9
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Mu-hajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9)

 

Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat al-Muflihuun (orang-0rang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan). Merekalah yang disebut sebagai as-Saabiqunal Awwalun yaitu kaum muha-jirin dan kaum Anshar.

Jihad Sebagai Tolok Ukur

Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.Tentu saja mereka (orang-orang mu-nafiq) itu adalah kaum yang paling tidak suka sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah un-tuk berjihad, terlihat bahwa merekalah yang paling pertama menolak dan menghindarinya dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah de-ngan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafik).
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ. محمد: 31
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian. (Muhammad: 31)

 

Tentang mereka yang lulus pada ujian ini, Allah katakan:

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال: 74
Dan orang-orang yang beriman dan ber-hijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediam-an dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Me-reka memperoleh ampunan dan rezeki (nik-mat) yang mulia. (Al-Anfaal: 74)

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحجرات: 15
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mere-ka tidak ragu-ragu dan berjuang (ber-jihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be-nar. (Al-Hujuraat: 15)

 

Dalam ayat di atas, Allah kembali memuji mereka dan menggelarinya sebagai ash-Shaadiquun yaitu orang-orang yang jujur dan be-nar-benar beriman, bukan kaum munafik.

Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa kejadian.

Setiap mereka berupaya untuk meng-hindari jihad dengan kedustaan-kedustaan dan sumpah-sumpah palsu, Allah menurun-kan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata kaum munafik…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya”. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa-siapa orang-orang munafik. Bahkan kaum muslimin setelahnya dan kita semua mengetahui siapa para muna-fik itu satu persatu.Allah berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالاً لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ. ال عمران: 167
Dan supaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka ber-kata: “Sekiranya kami mengetahui peperangan, tentulah kami mengikutimu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan de-ngan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Ali Imran: 167)

 

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. الحشر: 11
Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada sauda-ra-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kalian diusir nis-caya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (Al-Hasyr: 11)

 

يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلآءِ دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. الأنفال: 49
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfaal: 49)

 

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا. الأحزاب: 12
Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (Al-Ahzaab: 12)

 

Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah juga jelaskan mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti al-Mukhalafuun (yakni orang-orang yang meng-hindar dari jihad), “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.

Allah berfirman:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لاَ تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ. التوبة: 81
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan ting-galnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mere-ka berkata: “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (At-Taubah: 81)

 

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. الفتح: 11
Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merinta-ngi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hati-nya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerang-an) yang dapat menghalang-halangi ke-hendak Allah jika Dia menghendaki kemu-dharatan bagimu atau jika Dia meng-hendaki manfa’at bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Fath: 11). Wallahu a’lam

Para Shahabat Tidak Ma’shum ( Bantahan Terhadap Syubhat Ke-3)

Para Shahabat Tidak Ma’shum ( Bantahan Terhadap Syubhat Ke-3)

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As  Sewed

Pada edisi kali ini kami lanjutkan kajian jawaban tentang syubhat-syubhat dalam penerapan sunnah yang merupakan kelanjutan dari edisi ke-22.

Para penentang sunnah memiliki berbagai macam syubhat untuk menggugurkan keotentikan sunnah nabawiyah. Di antara langkah-langkah mereka untuk menjatuhkan sunnah adalah sebagai berikut:

1. Menjatuhkan kedudukan para shahabat, khususnya yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah, Aisyah dan segenap istri-istri nabi.

2. Menjatuhkan para ulama ahlul hadits, khususnya yang banyak dipegang oleh ahlus sunnah seperti Bukhari dan Muslim.

3. Menjatuhkan para khalifah-khalifah dan pemerintahan waktu itu. Khususnya penguasa yang memberantas kebid’ahan syi’ah dan khawarij, seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan khalifah-khalifah Bani Umayyah.

4. Mencela fiqih dan ulama ahlul fiqh.

5. Melecehkan hadits-hadits dan memperolok-0lokkannya dengan tujuan menjatuhkan para perawinya.

Pada edisi kali ini kita bahas yang pertama yaitu menjatuhkan kedudukan dan kehormatan para shahabat serta melecehkannya agar ditolak hadits-hadits yang dibawanya, maka yang paling banyak dicerca dijatuhkan adalah para shahabat yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah, Aisyah dan lain-lain. Di antara tokoh sesat yang menulis tentang Abu Hurairah dengan berbagai macam tuduhan kepadanya adalah Abu Royyah, seorang orientalis dari Mesir dan Abdul Husain al-Musawwi, seorang tokoh syi’ah rafidlah itsna atsariyah. Keduanya menulis buku dengan judul Abu Hurairah, di dalamnya penuh dengan tuduhan, cacian, kritikan, bahkan pernyataan bahwa Abu Hurairah dalah pendusta pertama dalam sejarah Islam.

Hampir semua aliran sesat berupaya menjatuhkan kedudukan para shahabat. Ini adalah upaya mereka untuk mengugurkan hadits-hadits yang dibawa oleh mereka. Sehingga untuk selanjutnya mereka bebas menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu mereka. Pertama kaum kaum khawarij yang menganggap kafir Ali dan Muawiyah, menghalalkan darah Utsman bin Affan, mengkafirkan kedua penengah antara Ali dan Muawiyah, dan seluruh pengikut mereka. Akhirnya dengan itu mereka menafsirkan al-Qur’an secara ekstrim tidak melalui pemahaman sunnah yang dibawa oleh para shahabat.

Berikutnya kaum syi’ah rafidlah yang merupakan lanjutan kaum Saba’iyah, pengikut Abdulah bin Saba’ juga menjatuhkan hadits kedudukan para shahabat, mengkafirkan sebagian dari mereka, memfasikkan sebagian yang lain dan mencerca hampir seluruh para shahabat.

Dengan demikian mereka dengan beraninya menafsirkan ayat al-Qur’an dengan hawa nafsu dan kesesatan mereka. Kemudian tidak ketinggalkan kaum mu’tazilah pun golongan yang menuhankan akalnya juga melecehkan para shahabat dengan bahasa mereka: “Mereka lebih selamat, tetapi kami lebih tahu”. Yang demikian karena mereka merasa lebih alim dari sisi pengetahuan umum fisika, kimia dan biologi dan ilmu-ilmu lainnya sehingga menganggap dirinya lebih hebat dalam menafsirkan al-Qur’an sebaliknya mereka menganggap para shahabat bodoh, jumud, terbelakang, kuno, pikiran mereka tidak berkembang dan kalimat-kalimat celaan lainnya.

Demikian pula halnya kaum sufi yang membagi tingkatan manusia dalam agama menjadi beberapa tingkatan dari yang paling rendah yaitu tingkatan syari’at kemudian tingkatan ma’rifat, dan kemudian tingkatan hakekat. Tingkatan yang tertinggi derajatnya para wali yang tidak terikat lagi dengan syariat dan sudah mengerti hakekat segala sesuatu dan dapat menyingkap segala tabir-tabir ghaib. Kelompok inipun sama menganggap remah dan merendahkan para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka dianggap masih tingkatan syariat yang terendah masih tingkatan syariat yang terendah masih terpaku pada halal haram secara lahir, ini merkea ucapkan agar kaum muslimin memaklumi kesesatan mereka dan kemaksiatan mereka karena menganggap syariat mereka karena menganggap syariat mereka syariat batin yang dipahami hanya oleh para wali dan kassaf.

Demikianlah bisa dikatakan seluruh aliran sesat, para pengekor hawa nafsu, ahlil bid’ah dengan segala macam alirannya, yang dulu atau pun yang sekarang sama-sama berusaha menjatuhkan dan melecehkan para shahabat. Bahkan tokoh-tokoh hizbi, politikus, para demokrat yang mengatasnamakan agama pun sama menganggap para shahabat tidak berkembang pikirannya, jumud dan terbelakang. Termasuk para khawarij gaya baru seperti Sayyid Quthb dalam bukunya keadilan sosial dalam Islam yang melecehkan Utsman bin Affan dan juga Maududi dalam bukunya Khilafah-Khilafah Kerajaan yang melecehkan para shahabat seperti Muawiyah dan lain-lain.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika kita berusaha membela para shahabat dari tuduhan-tuduhan mereka muncul pula di hadapan kita kelompok lain yang tidak kalah bahayanya, kelompok yang tidak jelas di pihak manakah ia, benderanya hanya ucapan persatuan dan persatuan, slogannya adalah kalimat jangan berpecah belah, jargonnya adalah ucapan yang terus diulang-ulang jangan saling salah menyalahkan. Kelompok ini membantah pembelaan kita terhadap para shahabat dengan kalimat: “Shahabat kan memang tidak ma’shum, bisa saja mereka punya salah”.

Sunguh kalimat ini mengerikan dari caci-makian ahlul bid’ah kepada para shahabat karena kalimat ini bersayap atau dengan kata lain merupakan syubhat yang mengandung hak dan kebatilah sekaligus di dalamnya. Kalimat sejenis inilah yang dikatakan oleh Imam Ali radhiallahu’anhu:

كَلِمَةٌُ حَقٌّ يُرَادُ بِهَا الْبَاطِلُ

Kalimat yang hak, tapi yang dimaukan dengannya kebatilan.

Jika seorang ahlus sunnah yang cinta kepada para shahabat mendengar cacian ahlul bid’ah kepada para shahabat, niscaya mereka akan bangkit ghirahnya dan membela para shahabat radhiallahu ‘anhum. Tetapi jika mendengar kalimat dari kelompok aneh dia tas bahwa para shahabat tidak ma’shum, niscaya dia akan bingung bahkan bisa jadi terfitnah dan terbawa untuk memaklumi segala cacian ahlus bid’ah tersebut. Inilah yang menyebabkan ucapan kelompok-kelompok ini lebih berbahaya dan lebih menipu.

Kita ahlus sunnah wal jama’ah beriman bahwa tidak ada yang ma’shum dan terjaga dari kesalahan, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah para shahabat:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya.

Apalagi pada perkara-perkara yang telah disepakati oleh mareka, maka Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin kebenarannya, seperti dalam sabda beliaushalallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى الضَّلاَلَةِ

Tidak akan bersepakat umatku atas kesesatan.

Dan Imam Ahmad menyatakan yang dimaksud Ijma’ adalah kesepakatan para shahabat. Karena setelah mereka manusia sulit untuk bersepakat. Sedangkan kesalahan dan kekeliruan para shahabat tidak mungkin sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفا: 4

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia. (Al-Anfaal: 4)

Kesalahan-Kesalahan yang merupakan khilaf dan kealpaan itupun telah dijamin akan mendapatkan ampunan oleh Allah dalam ayat-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا. الفتح: 29

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath: 29)

Dalam hadits dinyatakan pada ahlul badr bahwa Allah berfirman kepada mereka sebagai berikut:

اعْمَلُوْا مَا شْئْتُمْ وَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ. (متفق عليه

Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian. (HR. Bukhari Muslim)

Adapun masalah kedustaan apalagi atas nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu tidak mungkin mereka lakukan dengan dalil ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُؤْمِنُ لاَ يَكْذِبُ

Orang yang beriman tidak akan berdusta.

Sedangkan kita sudah mengetahui dalam surat al-anfaal dia tas, bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, maka para ulama ahlus sunnah wal jama’ah telah sepakat secara keseluruhan bahwa para shahabat adil dan jujur sehingga semua riwayat mereka diterima. Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali orang-orang yang sesat.