Tidak Ada Masalah Sepele Dalam Agama Ini ( Bantahan Terhadap Syubhat 1)

Tidak Ada Masalah Sepele Dalam Agama Ini ( Bantahan Terhadap Syubhat 1)

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Dalam masalah penerapan sunnah sering dilontarkan syubhat-syubhat dari ahlul bid’ah yang menyebabkan umat enggan dan tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Di antaranya syubhat-syubhat yang dipropagandakan oleh para politikus yang berbaju da’i. Mereka selalu meremehkan masalah fiqih dan hukum-hukum syari’at dan menganggapnya sebagai perkara remeh dan sepele. Mereka menganggap pelajaran-pelajaran seperti tauhid uluhiyah, fiqih syari’ah dan lain-lainnya sebagai kulit (qusyur) dan bukan inti (lubab) dari ajaran agama ini. Atau mereka menganggapnya sebagai furu’ (cabang) dan bukan perkara ushul (pokok).

Perhatikan perkataan Abdurrahman Abdul Khaliq ketika mengkampanyekan pentingnya mengenali situasi politik (shifatul ashr) dalam kasetnya sebagai berikut: “Sayang sekali pada hari ini kita memiliki syaikh-syaikh para ulama yang hanya mengerti qusyur (kulit Islam) yang sudah lewat masanya…..”

Para ulama yang tidak mengetahui shifatul ashr dianggap sebagai orang-orang yang jumud dan hanya mengerti qusyur atau kulit Islam saja. Ini meru-pakan bentuk pelecehan dan meremeh-kan syariat Allah Azza wa Jalla yang dibawa oleh para ulama tersebut.

Di tempat lain ia menyatakan bahwa para ulama dikatakan sebagai mumi yang badannya hidup di zaman kita, sedangkan akal dan pikiran mereka ada di masa lalu. Atau dengan istilah dia yang lain ‘cetakan lama’, ‘ulama haid dan nifas’, dan seterusnya.

Ucapan-ucapan ini sama dengan ucapan seluruh ahlul bid’ah sejak dahulu, apakah dari kalangan mu’tazilah ataupun yang lainnya. Seperti apa yang diucapkan oleh ‘Amr bin Ubaid: “Ilmunya imam Syafi’i tidak keluar dari celana dalam perempuan”. Atau istilah-istilah lain yang lebih mengerikan dari ini.

Semua perkataan itu bertujuan sama, yaitu merendahkan ilmu-ilmu fiqih seperti hukum haid, nifas, thaharah, mandi junub, dan segala hukum-hukum yang berkaitan dengan fiqih. Mereka menganggap bahwa perkara itu sangat rendah yang seharusnya kita lebih mementingkan perkara yang lebih besar, yaitu wawasan politik, mengenal situasi politik (shifatul ‘ashr), atau menurut istilah Ikhwanul Muslimin tsaqafah islamiyah, atau fiqhul waqi’ menurut istilah sururiyyin, dan sistem kepartaian dan demokrasi serta berbagai macam perkara yang mereka anggap bisa meme-nangkan mereka dalam percaturan poli-tik dan mencapai puncak kekuasaan yang mereka inginkan.

Para ulama membantah syubhat mereka ini dari beberapa sisi:

1. Jika pembagian tersebut bertujuan ha-nya untuk mementingkan yang ushul dan meremehkan yang furu’, maka ini adalah pembagian yang batil.

Kita katakan kepada mereka: ”Tidak ada dalam agama ini perkara yang remeh” seperti dikatakan oleh Imam Malik. Pada suatu saat Imam Malik pernah di-tanya dengan satu pertanyaan, kemudian beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Mendengar jawaban ini si penanya terhe-ran-heran dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah masalah yang sepele, dan aku bertanya tentang hal ini semata-mata karena ingin memberi tahu kepada sang amir (penguasa)”. Melihat hal ini, Imam Malik marah seraya berkata: “Kau kata-kan ini masalah sepele dan remeh? Tidak ada dalam agama ini perkara yang re-meh! Tidaklah kau mendengar ucapan Allah Azza wa Jalla:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً. المزمل: 5

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. (Al-Muzammil: 5)
Oleh karena itu seluruh ilmu agama ini semuanya berat, khususnya karena akan dipertanyakan pada hari kiamat (Tarti-bul Madariq, Qadli ‘Iyadl 1/184; Lihat Dlarurarul Ihtimam bis Sunnatin Nabawiyyah, hal. 118)

Perhatikanlah ucapan Imam Malik di atas, bahwasanya perkara agama ini semuanya penting dan berat karena akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Ucapan itu cukup sebagai bantahan terhadap syubhat dari ahlul bid’ah yang membagi-bagi agama ini menjadi Qusyur wa Lubab (kulit dan inti), kemudian mereka meremehkan perkara yang mereka anggap qusyur. Demi-kian pula sebagian yang lain yang mem-bagi agama ini menjadi Ushul wal Furu’ (Pokok dan Cabang), dan menganggap remeh masalah furu’ dengan kalimat-kalimat yang banyak diucapkan seperti: “Inikan masalah furu’, kenapa harus di-ajarkan?” atau kalimat: “Janganlah ka-lian disibukkan dengan masalah furu’” dan lain-lainnya.

Ahlul bid’ah selalu sinis terhadap ahlus sunnah yang senantiasa mengkaji, mempelajari, menulis masalah-masalah fiqih seperti gerakan-gerakan shalat atau masalah-masalah fiqih lainnya dan men-cemoohkan mereka dengan kalimat-kali-mat di atas.

2. Pembagian ini merupakan pembagian bid’ah yang tidak ada asalnya.

Dalam hal ini kita dengarkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahima-hullah: “Adapun pembagian agama ini dengan istilah masalah ushul dan furu’ adalah pembagian yang tidak ada dasar-nya (tidak ada asalnya). Pembagian itu tidak berasal dari para shahabat, para tabi’in maupun yang mengikuti mereka dengan ihsan, dan tidak pula dari para imam kaum muslimin. Istilah ini se-sungguhnya diambil dari kaum mu’ta-zilah dan yang sejenis dengan mereka dari ahlul bid’ah. Kemudian istilah ter-sebut dipakai oleh sebagian ahlu fiqih da-lam kitab-kitab mereka, padahal pemba-gian ini sangat kontradiktif”. (Masail Maridiniyah, hal. 788; Lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Bar-jas, hal. 111)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika membicarakan pembagian agama menjadi ushul dan furu’: “Semua pem-bagian yang tidak dapat dibuktikan de-ngan al-Qur’an dan as-Sunnah serta prin-sip-prinsip syariat, hal itu adalah pem-bagian yang batil dan harus dibuang. Ka-rena pembagian seperti ini adalah salah satu dari dasar-dasar kesesatan umat”. (Mukhtashar ash-Shawaiqul Mursalah, 2/415)

3. Tidak ada definisi yang disepakati oleh mereka sendiri, manakah yang dimak-sud ushul dan mana yang dianggap furu’.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah diatas, pembagian ini sangat kontradiktif. Ketika kita tanyakan kepada mereka apakah yang kalian anggap se-bagai ushul ternyata mereka sendiri berselisih pendapat.

Sebagian mereka menganggap masalah keyakinan (aqidah) sebagai ushul dan masalah amaliyah (ibadah) sebagai furu’. Kalau demikian apakah mereka menganggap bahwa shalat sebagai furu’, padahal seluruh umat Islam mengerti bahwa shalat adalah merupakan salah satu prinsip pokok ajaran Islam?

Sebagian yang lain mengatakan bah-wa yang merupakan ushul adalah perkara-perkara yang meyakinkan (muta-watir), sedangkan yang tidak mutawatir dianggap sebagai perkara furu’ yang meragukan. Ini pun terbantah karena masalah keyakinan itu berkaitan dengan ilmu, sehingga berbeda-beda pada tiap orang. Bagi para ulama yang mengerti ilmu hadits, mereka sangat yakin terha-dap seluruh hadits shahih, apakah ia mutawatir ataupun tidak.

Sebagian yang lain menyatakan bah-wa perkara ushul adalah perkara-perkara yang wajib, sedangkan perkara-perkara yang tidak wajib dianggap furu’. Kalau begitu apakah boleh kita meremehkan perkara yang tidak wajib?

Sebagian lagi menyatakan bahwa yang merupakan perkara ushul adalah masalah yang disepakati oleh para ulama, sedangkan masalah furu’ adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Bahkan sebagian lainnya menyatakan bahwa seluruh perkara, baik aqidah, iba-dah, maupun hukum adalah furu’, sedangkan intinya adalah bersikap baik terhadap sesama manusia (akhlaq kema-nusiaan).

Ada pula yang menyatakan seperti apa yang banyak diucapkan akhir-akhir ini bahwa masalah yang merupakan po-kok agama ini adalah berjuang mencapai kekuasaan melalui sistem demokrasi, wa-laupun harus mengorbankan prinsip aqi-dah, ibadah dan akhlaq, karena mereka anggap sebagai furu’.

Akhirnya setiap aliran sesat yang ingin membuang atau meremehkan suatu masalah akan mengatakan masalah itu adalah furu’.

4. Jika pembagian ini dilakukan bertu-juan untuk meremehkan perkara-per-kara yang mereka anggap sebagai fu-ru’, maka ini adalah sebesar-besar kebatilan, karena Allah memerintah-kan kita untuk memeluk agama ini secara keseluruhan.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاً تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ. البقرة: 208

Hai orang-orang yang beriman, masuk-lah kalian ke dalam Islam secara keselu-ruhan, dan janganlah kalian turut lang-kah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 208)

Menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “As-Silmi adalah Islam, sedang-kan Kaaffah maknanya adalah keselu-ruhan”. Berkata Mujahid: “Amalkanlah seluruh amalan dan seluruh kebaikan”. Juga berkata Ibnu Katsir: “Allah meme-rintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang membenarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar mengambil seluruh syariat-syariat Islam, mengamalkan selu-ruh perintah-perintahnya dan mening-galkan seluruh yang dilarangnya”.

Demikianlah para ulama menafsir-kan ayat di atas, yakni ambillah dari sya-riat Islam ini secara keseluruhan. Jangan memilih-milih atau mengambil sebagian dan meremehkan sebagian lainnya. Para ulama tidak membedakan mana yang ushul dan mana yang furu’. Mereka tidak pula membedakan mana yang Qusyur dan mana yang Lubab. Kita wajib meng-ambilnya secara keseluruhan sebagai agama Allah yang mulia dan kita wajib menghormatinya. Jika hal itu perkara wajib, maka kita harus mengamalkannya. Dan jika hal itu adalah perkara yang mustahab, maka kita dianjurkan untuk mengamalkannya. Kalaupun kita tidak mengamalkannya (karena bukan wajib), kita tetap tidak boleh merendahkannya dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele dengan menyebutkan sebagai perkara furu’, qusyur, juziyyat dan isti-lah-istilah yang lainnya.

4. Kerasnya para shahabat kepada orang-orang yang meremehkan sunnah, walaupun pada perkara-perkara yang dianggap furu’.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ketika beliau berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ. (متفق عليه

“Janganlah kamu cegah perempuan-perempuan kalian (untuk) mendatangi masjid.” (HR. Bukhari Muslim)

Kemudian berkatalah anaknya: “Demi Allah, aku akan melarang mereka ke masjid”. Mendengar ucapan tersebut Ib-nu Umar marah dan memaki anaknya dengan caci makian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya, seraya berkata: “Saya katakan ‘Rasulullah berkata’, ke-mudian kamu mengatakan: “Demi Allah akan saya larang?!”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar bah-wasanya ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ائْذِنُوْا النِّسَاءَ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسَاجِدَ

Izinkanlah oleh kalian wanita-wanita pergi ke masjid”.

Maka berkatalah anaknya: “Kalau begitu mereka akan mengambilnya sebagai per-mainan”. Maka Ibnu Umar pun memukul dadanya seraya berkata: “Aku sampaikan kepadamu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kamudian kamu mengatakan: “Tidak?!!””

Berkata Imam Nawawi (mengomen-tari riwayat di atas): “Padanya ada dalil untuk menghukum orang yang menen-tang sunnah dan yang membantah de-ngan akal pikirannya”. Wallahu a’lam.

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 4)

Kebodohan Ingkarus Sunnah IV (Gerakan Sholat Dalam A-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Sesungguhnya kelompok ingkarus-sunnah hanyalah satu kelompok pemalas dan bodoh yang berusaha mencari alasan untuk dapat menghindar dari beban-beban ibadah. Betapa tidak, mereka dengan terang-terangan dan arogan menentang kewajiban shalat dan puasa, padahal keduanya disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an. Bahkan mereka berani memperolok-olokkan orang yang melakukan shalat dengan menyatakan sebagai penyembahan terhadap dinding. Karena mereka menganggap shalat hanyalah doa, maka setiap orang yang berdoa, maka dia telah mengerjakan shalat.

Apakah mereka menganggap diri mereka mengikuti al-Qur’an? Sungguh mereka tidak mengikuti al-Hadits dan tidak pula mengikuti al-Qur’an. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Kalau saja mereka membaca al- Qur’an dengan benar mereka akan tahu bahwa semua gerakan-gerakan shalat, bahkan juga bacaan bacaannya terdapat dalam al-Qur’an.

Perintah Shalat
Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan untuk shalat di antaranya firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا ِلأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. البقرة: 110

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kalian usahakan bagi diri kalian, tentu kalian akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah: 110)

وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ. الأنعام: 72

Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepada-Nya.Dan Dialah Rabb Yang kepada-Nya-lah kalian akan dikumpulkan. (al-An’aam: 72)

Perintah-perintah shalat ini sangat banyak dalam al-Qur’an. Dan sebagian besarnya diiringi dengan gerakan-gerakan shalatnya, seperti berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain. Maka tidak bisa diartikan secara sempit hanya berdoa. Kita lihat ayat-ayat berikut:

Perintah Berdiri
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memelihara shalat kemudian menyebutkan salah satu gerakannya yaitu berdiri.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ. البقرة: 238

Peliharalah segala shalat (kalian), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalat kalian) dengan khusyu`. (al-Baqarah: 238)

Perintah ruku’
Pada ayat lain Allah memerintahkan untuk menegakan shalat kemudian menyebutkan perintah ruku’ di dalamnya.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku. (al-Baqarah: 43)

Perintah sujud
Demikian pula perintah sujud tidak kalah banyaknya dalam al-Qur’an. Yang juga beriringan dengan perintah shalat. Lantas kapan mereka sujud jika tidak dalam shalat?
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً. الإنسان: 26

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (al-Insaan: 26)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الحج: 77

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, beribadahlah kepada Rabb kalian dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapatkan kemenangan. (al-Hajj: 77)

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا. النجم: 62

Maka bersujudlah kepada Allah dan beribadahlah kepada (Dia). (an-Najm: 62)

Shalat tidak hanya berdoa
Kalau saja shalat hanya berdoa tentu bisa dilakukan sambil berdagang dan bekerja. Namun Allah menyebutkan dalam ayatnya jika kita selesai shalat silakan bekerja kembali mencari karunia Allah. Maka jelaslah bahwa shalat adalah lebih dari sekedar berdoa.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الجمعة: 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung. (al-Jum’at: 10)

Waktu-waktu shalat
Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kewajiban shalat adalah kewajiban yang berwaktu. yakni memiliki waktu-waktu yang tertentu. Allah berfrman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا. النساء: 103

Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat (kalian), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kalian telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (an-Nisaa’: 103)

Maka jelas sekali –bagi orang yang berakal dan mengerti bahasa arab— bahwa shalat bukan hanya berdoa yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun satu ibadah khusus yang tertentu waktunya.
Bahkan waktu-waktu shalat yang lima pun Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Di antaranya:
Allah subhanahu wa Ta’ala sebutkan shalat subuh dan shalat ‘Isya dalam ayat berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. النور: 58

Hai orang-orang yang beriman, henaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian (luar) kalian di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kalian, sebahagian kalian (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (an-Nuur: 58)

Demikian pula Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan shalat fajar dan shalat ashar dengan ungkapan: “sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari”.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. ق: 39

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Qaaf: 39)

Sedangkan shalat sejak dhuhur sampai malam dengan kalimat sebagai berikut:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا. الإسراء: 78

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (shalat dhuhur) sampai gelap malam (shalat maghrib dan isya) dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disak-sikan (oleh malaikat). (al-Isra’: 78)

Allah subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan shalat pada dua penghujung siang (shalat fajar dan shalat maghrib) dan pada malam hari (shalat isya).
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ. هود: 114

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Huud : 114)

Perintah baca al-Qur’an dalam Shalat
Allah berfirman :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ… المزمل: 20

Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an… (al-Muzzammil: 20)

Bacaan ruku’
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bertasbih dalam ayatnya:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ. الواقعة: 74

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha agung. (al-Waaqi’ah: 74)

Maka barang siapa yang mengikuti Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “subhaana rabbiyal ‘adhimi” ketika ruku’ maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.

Bacaan sujud
Allah juga telah memeritahkan kita untuk bertasbih dengan kalimat:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى. الأعلى: 1

Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha tinggi. (al-A’laa: 1)

Maka barang siapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: ”subhaana rabbiyal a’la” maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.
Demikian pula bacaan ruku’ dan sujud sekaligus yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir-akhir hidupnya yaitu ketika mendapatkan ayat Allah yang turun ketika itu dalam surat An Nashr.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا. النصر: 3

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan minta ampunlah, sesungguhnya Dia maha menerima taubat. (an-Nashr: 3)

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk membaca dalam ruku’ dan sujudnya: subhanakallahumma rabbana wabihamdika allahummaghfirli.
Dengan demikian sangat jelas sekali bagi orang yang membaca dan mengikuti al-Qur’an dengan benar bahwa shalat adalah satu ibadah tertentu, dengan gerakan tertentu, pada waktu tertentu dan bacaan tertentu pula. siapa yang telah mengikuti apa yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya maka ia telah melaksanakan semua perintah Allah di atas. Sedangkan mereka yang mengingkari sunnah dan meninggalkan ibadah shalat, kapan mereka melaksanakan perintah-perintah Allah di atas?!

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 141/Th. III 29 Jumadil ula 142 H/15 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 3)

Kebodohan Ingkarus Sunnah III (Al-Qur’an Terpelihara Lafal dan Maknanya)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Setelah kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menjelaskan makna-makna al-Qur’an, maka Allah pun menjaga keotentikan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjamin terpeliharanya al-Qur’an secara lafadh dan maknanya. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ. الحجر: 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-dzikra (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr: 9)

Tentunya penjagaan ini tidak hanya pada lafadznya. Apa jadinya jika al-Qur’an terjaga lafadznya tetapi tidak terjaga makna-maknanya? Bagaikan penemuan lafadz-lafadz asing peninggalan jawa kuno atau mesir kuno dalam keadaan tidak ada yang mampu memahaminya.. Atau dipahami makna-makna kalimatnya tetapi tidak dipahami maksud-maksudnya sehingga manusia berselisih dan bertikai dalam memahaminya.
Sungguh tidak demikian dengan al-Qur’an! Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula bahasa Arabnya yang sampai hari ini masih dipakai dan dipergunakan. Demikian pula Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula maksud-maksudnya dan contoh-contoh prakteknya yang terkandung dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Alhamdulillah. Sehingga al-Qur’an terjaga secara lengkap lafadh, makna dan contoh prakteknya.

Oleh karena itulah Allah menyebut dalam kalimat di atas dengan kalimat “Adz-Dzikra” (peringatan) yang tentunya mencakup al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai bukti kita lihat kalimat yang sama pada ayat lain sebagai berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاًّ نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. النحل: 43

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai adz-dzikra (pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (an-Nahl: 43)

Apakah “ahludz dzikri” adalah orang yang hanya mengerti al-Qur’’an secara lafadz-lafadznya saja? Atau para ulama yang memahami al-Qur’an, al-Hadits dengan keterangan tafsir dan penjelasanya dari para sahabat, tabiin dan para Ulama? Tentu saja yang dimaksud adalah yang kedua yaitu para ulama yang mengerti ilmu agama secara lengkap.

Para pengingkar sunnah rupanya terpengaruh dengan racun-racun orientalis yang berupaya untuk membuat keraguan terhadap keotentikan hadits. Mereka mengatakan bahwa “hadits ditulis setelah sekian puluh tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Atau syubhat Syi’ah rafidhah yang mengatakan: “para sahabat adalah para politikus yang berebut kekuasaan maka mereka berlomba-lomba membuat hadits palsu untuk mendukung pribadinya”. Dan lain-lain.
Untuk membantah syubhat syi’ah cukup dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang memuji para shahabat dan menyebutkan keutamaan mereka.

Mengapa mereka membedakan al-Qur’an dan al-hadits padahal keduanya sampai kepada kita dengan cara yang sama yaitu dengan cara periwayatan?
Kalau alasan mereka bahwa al-Qur’an telah tercatat semasa nabi masih hidup, maka kita katakan bahwa al-hadits pun tercatat semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika alasan mereka bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, maka kita katakan bukankah hadits pun banyak yang diriwayatkan secara mutawatir?

Syubhat Orientalis
Sesungguhnya mereka para pengingkar sunnah adalah buah hasil upaya pengkaburan yang dilancarkan oleh orientalis barat. Mereka mengatakan: “Hadits-hadits ditulis setelah 90 tahun wafatnya Rasulullah, setelah banyak yang terlupakan dan hilang sehingga hadits-hadits seringkali melampaui batas dan berlebih-lebihan”.

Yang mereka maksud –sepertinya— adalah bahwa masa penulisan hadits secara resmi dengan perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Padahal bukan berarti tidak ada para shahabat yang menulis secara pribadi, seperti tulisan Abdullah bin Amr bi Ash yang catatan-catatannya dia beri nama ash-Shadiqah.
Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa kali menyuruh untuk menulis masalah-masalah fiqih seperti masalah zakat, perjanjian Hudaibiyah, khutbah beliau dan lain-lain. Di antaranya ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,:

أُكْتُبُوْا ِلأَبِي شَاهٍ. رواه البخاري

Tulislah untuk Abi Syah! (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 1 hal. 278)

Shahifah ash-Shadiqah
Adapun penulisan hadits oleh Abdullah bin Amr bin Ash adalah dengan izin khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disebutkan dalam riwayat Bukhari dari Wahb bin Munabbih dari saudaranya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِ صلى الله عليه وسلم أَحَدٌ أَكْثَرُ حَدِيْثًا عَنْهُ مِنِّي إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُوا فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ. رواه البخاري مع الفتح ج 1 رقم 113 ص 279

“Tidak ada seorang pun yang lebih banyak riwayat haditsnya daripada aku kecuali yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia dulu menulis, sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari juz 1 hal. 279)

Ibnu Hajar dalam Syarhnya menukil lafadh lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Abdullah bin Amr bin Ash:

مَا كَانَ أَحَدٌ أَعْلَمَ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنِّي إِلا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ بِيَدِهِ وَيَعِيهِ بِقَلْبِهِ وَكُنْتُ أَعِيهِ بِقَلْبِي وَلاَ أَكْتُبُ بِيَدِي وَاسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكِتَابِ عَنْهُ فَأَذِنَ لَهُ. رواه أحمد والبيهقي والعقيلي، انظر فتح الباري ج 1 ص 280

Tidaklah seorang pun yang lebih mengetahui hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam> dariku kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia menulis dengan tangannya dan memahami dengan hatinya. Sedangkan aku memahami dengan hatiku tapi aku tidak menulis dengan tanganku. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk menulis ucapan-ucapannya. Maka Rasulullah pun mengizinkannya”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan al-Uqaili dengan sanad yang hasan).

Demikian pula diriwayatkan langsung dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa dia berkata:

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ. رواه أحمد وأبو داود، انظر فتح الباري ج 1 ص 281

Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku seraya berkata: “Apakah engkau menulis segala sesuatu dari Rasulullah, padahal dia manusia yang berbicara kadang marah, kadang ridha?” Aku pun berhenti menulis dan aku sampaikan kejadian itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata seraya mengisyaratkan dengan jarinya ke mulut beliau: “Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku ini kecuali kebenaran”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Oleh karena itu para ulama memadukan riwayat-riwayat di atas dengan riwayat larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis selain al-Qur’an, yaitu:

لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي. رواه مسلم

Jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an! Barangsiapa yang menulis selain al-Qur’an hendaklah menghapusnya! (HR. Muslim)

Mereka memadukannya dengan beberapa pendapat. Di antaranya mereka ada yang menyatakan bahwa hadits larangan tersebut terbatalkan dengan hadits diizinkannya menulis hadits. Yang demikian karena hadits yang melarang penulisan hadits terjadi pada awal sejarah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan diizinkannya menulis terjadi pada masa-masa akhir ketika sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an sudah turun.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 457.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwasanya hadits yang melarang adalah melarang untuk mencampurkannya dalam satu catatan antara al-Qur’an dan hadits. Demikian pula pendapat yang lain bahwa larangannya adalah umum sedangkan kebolehannya adalah khusus bagi Abdullah bin Amr bin Ash, sehingga dengan ini kekhawatiran tercampurnya al-Qur’an dan hadits hilang. (Lihat Fathul Bari, juz 1 hal. 281)

Semua ini menunjukkan bahwa hadits pun sudah ada yang tercatat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Maka tidak ada yang meragukan keotentikan hadits yang memang telah terbukti kebenarannya riwayatnya, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit seperti para orientalis kafir, Syi’ah Rafidhah dan para pengingar sunnah.

Catatan para shahabat
Apalagi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, yang berarti seluruh ayat-ayat al-Qur’an telah turun secara lengkap, maka para shahabat pun sepakat memahami bolehnya mencatat hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat itu muncullah berbagai macam shahifah-shahifah yang merupakan catatan para shahabat yang mereka tulis di dalamnya ucapan-ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti shahifah Abu Hurairah yang diberi nama ash-Shahifah dan disalin ulang serta diriwayatkan oleh muridnya Hammam ibnu Munabbih. Demikian pula shahifah-shahifah lain seperti Shahifah Sa’ad bin Ubadah al-Anshari, Shahifah Abu Musa al-Asy’ari, Shahifah Jabir bin Abdullah, Shahifah Abdullah bin Abi Aufa dan lain-lain. Bahkan di antara salinan buku-buku tersebut kini masih ada dan terpelihara di museum-museum Eropa. Semestinya para orientalis itu sudah mengetahuinya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Shahifah Abdullah bin Amr bin Ash diriwayatkan oleh cucunya Amr bin Syuaib dari ayahnya dari beliau radhiallahu ‘anhu. Maka hadtis ini adalah hadits yang tershahih. Bahkan sebagian ulama ahlul hadits menjadikannya sederajat dengan sanad Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar (rantai emas). (Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 458)

Riwayat di atas dikatakan tershahih, karena rantai para perawinya hanya ada 3 orang dan semuanya terpercaya.
Apakah setelah penjelasan ini para pengingkar sunnah masih ragu-ragu terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sungguh tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak hadits, kecuali kemalasan mereka untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena pada intinya semua yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara rinci perintah dasarnya ada dalam al-Qur’an. Seperti perintah untuk menegakkan shalat lima waktu dengan rincian-rinciannya. Kalau mereka jujur mengikuti al-Qur’an, niscaya mereka akan dapati semua gerakan-gerakan dan bacaanya ada dalam al-Qur-’an.
Mengapa mereka tidak shalat?

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 140/Th. III 15 Jumadil ula 142 H/01 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 2)

Kebodohan Ingkarus Sunnah II (Al-Hadits tafsir dari Al-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menerangkan Al Qur’an

Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur-’an dengan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam agar menerangkan pada manusia makna-makna ayat yang terkandung di dalamnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan sekedar tukang pos yang bertugas mengantarkan surat –-seperti anggapan kelompok sesat ingkarus sunnah— yang mengantarkan surat tanpa ada hubungannya dengan isi surat tersebut. Namun lebih dari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditugaskan untuk menyampaikan, menerangkan, mencontohkan dan membimbing menusia dengan Al Qur’an.Kalau mereka jujur berpegang dengan al-Qur’an, tentu mereka telah membaca ayat-ayat Allah yang memerintahkan Nabi-Nya untuk tugas-tugas tersebut, di antaranya:

Perintah penyampaian
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ. المائدة: 67

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (al-Maidah: 67)

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ. المائدة: 99

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (al-Maidah: 99)

Allah berfirman:

وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. العنكبوت: 18

Dan jika kalian mendustakan, maka umat yang sebelum kalian juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (al-Ankabut: 18)

Allah juga berfirman:

وَمَا عَلَيْنَا إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. يس: 17

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas. (Yaasiin: 17)

Perintah penyampaian ini tentunya adalah dengan penyampaian yang jelas. Bukan hanya menyampaikan lafadz-lafadz tanpa kejelasan makna.
Maka Allah pun menyatakan bahwa beliau di utus untuk menerangkan dan mejelaskan makna-makna al-Qur’an sebagai berikut:

Perintah untuk menerangkan
Allah berfirman:

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. النحل: 44

Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (an-Nahl: 44)

Allah berfirman:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ. النحل: 64

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (an-Nahl: 64)

Allah juga berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. المائدة: 15

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan ba-nyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang terang. (al-Maidah: 15)

Allah juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. ابراهيم: 4

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Ibrahim: 4)

Perintah untuk memberikan contoh teladan
Di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi easallam pun diutus oleh Allah untuk memberikan contoh dalam penerapan al-Qur-’an. Maka jadilah beliau sebagai orang pertama yang menerapkan al-Qu’an secara utuh. Kemudian Allah memerintahkan kepada manusia.manusia untuk mengikutinya dan meneladaninya.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. الأحزاب: 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab: 21)

Perintah untuk mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Setelah Allah mengutus RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberikan contoh teladan dalam pengamalan al-Qur’an, maka Allah pun memerintahkan kita untuk mengikutinya sebagaimana dalam ayat-ayat berikut: .

Allah berfirman:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لاَ يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ. يس: 20-21

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yaasiin: 20-21)

Dan Allah berfirman

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ال عمران: 31

Katakanlah(wahai Nabi): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Ali Imran: 31)

Allah juga berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. الأعراف: 158

Katakanlah(wahai Nabi): “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.(al-A’raaf 158)

Maka Allah subhanahu wa Ta’ala pun menguji kaum muslimin dengan perintah-perintahNya untuk membuktikan siapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sungguh-sungguh dan siapa yang sombong dan menolak untuk mengikutinya.

Allah berfirman:

… جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ… البقرة: 143

… Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…(al-Baqarah: 143)

Kemudian Allah menggambarkan bagaimana orang-orang beriman mendudukkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ikutan dan teladan dengan firman-Nya:

رَبَّنَا ءَامَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ. ال عمران: 53

Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). (Ali Imran: 53)

Sebaliknya orang-orang kafir merasa enggan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Allah berfirman tentang mereka sebagai berikut:

فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلاَلٍ وَسُعُرٍ. القمر: 24

Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sungguh kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila” (al-Qamar: 20)

Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari hadits
Maka jelaslah bahwa al-Qur’an tidak akan dapat dipisahkan dari Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi easallam. kita harus memahaminya seperti yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menerapkannya seperti penerapan beliau.

Dengan demikian kita harus mengetahui ucapan Rasul tentang al-Qur’an dan harus tahu pula perbuatan-perbuatan beliau dalam menerapkan al-Qur’an.
Inilah rahasianya mengapa Allah sering menyebut al-Qur’an dalam ayat-ayat Nya beriringan dengan al-Hikmah.
Seperti ucapan Allah:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ. البقرة: 151

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kalian) Kami telah mengutus kepada kalian Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan mensucikanmu- dan mengajarkan kepada-mu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.(Q.S. Al Baqarah 151)

Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. البقرة: 231

…Dan ingatlah nikmat Allah pada kalian, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian yaitu al-Kitab (al- Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…(al- Baqarah: 231)

Al-kitab sangat jelas maksudnya ya-itu al-Qur’an, kalau begitu apakah gerangan al-Hikmah yang mengiringinya? Sungguh, tidak ada ucapan siapapun yang pantas disebut bersama al-Qur’an kecuali ucapan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apakah mereka akan menafsirkan al-Hikmah dengan al-Qur’an pula, sehingga ayat itu berbunyi: “mengajarkan al-Qur’an dan al-Qur’an?”
Atau mereka akan menafsirkan al- Hikmah adalah ucapan Isa Bugis atau ucapan guru-guru dan tokoh-tokoh mereka sendiri?

Sungguh sangat picik sekali, kalau mereka sampai meninggalkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menggantinya dengan ucapan manusia biasa yang bodoh dan baru belajar bahasa arab kemarin sore?

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 139/Th. III 8 Jumadil ula 142 H/25 Mei 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)

Manunggaling Kawula Gusti

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Setelah kesesatan kaum sufi meyakini adanya ilmu laduni, maka pada terminal akhir, mereka akan merasa sampai pada tingkatan fana’ (melebur/menyatu dengan Dzat Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah= ketuhanan) dan naasuut (insaniyyah= kemanusiaan). Menurut mereka, secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia memiliki sifat ilahiyyah.

Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Aqidah ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. Munculnya aqidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di zaman sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata.

Bukti adanya Aqidah ini dalam tubuh kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti al-Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in, Ibnu Arabi dan masih banyak lagi yang lainnya dalam karya-karya mereka. Cukuplah apa yang kami sajikan di bawah ini sebagai saksi atas keberadaan aqidah ini pada kaum sufi.

  1. Al-Hallaj berkata: “Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata.” (ath-Tha-waasin, hal. 129)Ia juga berkata:
    “Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi. Maha suci Engkau Maha suci aku. Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku Kemaksiatan kepada-Mu adalah kemaksiatan kepadaku
    Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampun-anku “
    (Diwanul Hallaj, hal. 82)Di tempat lain ia berkata:
    “Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu. Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
    Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami”
    (ath-Thawaasin, hal. 34)
  2. Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
    Tidak ada shalat kecuali hanya untukku. Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih al-Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi, hal. 64)
  3. Abu Yazid al-Busthami berkata: ”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (an-Nuur Min Kalimati Abi Thaifut, hal. 106 karya Abul Fadhl al-Falaki)Akhirnya dia pun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!”
    Lebih dari itu dia menuturkan pula aqidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Dia pun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (an-Nuur, hal. 84)Dia pernah ditanya pula tentang perihal tasawuf, maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.

    Aqidah Manunggaling Kawula Gusti ini telah membawa kaum sufi pada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Menurut ajaran ini tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.

  4. Ibnu Arabi berkata:
    “Tuhan itu adalah hamba dan hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya, kalau demikian siapa yang di bebani syariat? Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
    Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? “
    (Fushulul Hikam, hal. 90)
  5. Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin al-Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja”. (Suufiyat, hal. 27)

Syubhat-syubhat kaum Sufi dalam menopang aqidah ini
Jika diperhatikan sepintas terhadap ucapan-ucapan di atas, orang awam sekalipun mampu menolak atau bahkan mengutuk aqidah mereka ini dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang seakan-akan menunjukkan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam agama ini?! –tentunya menurut persangkaan mereka.

Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa dirinya telah digiring pada pengakuan aqidah ini ketika mendengar dalil-dalil tersebut?
Di antara syubhat yang mereka jadikan dalil adalah kesalahpahaman mereka terhadap:

  1. Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ…Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada. (al-Hadiid: 5)
  2. Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya sendiri. (Qaaf: 16)
  3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Qudsi:…وَمَا يَزَالٌ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا… رواه البخاري“…Dan senantiasa hamba-Ku mendekat-kan diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya… (HR. Bukhari)

Bantahan syubhat mereka
Dengan mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah di bawah bimbingan para ulama terpercaya, kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada sarang laba-laba yang sangat rapuh.

  1. Tentang firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.
    Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””. (Dar’ut Ta’arudh, 6/250)
  2. Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.
  3. Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menya-takan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. (Fathul Bari)Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam)

Beberapa ucapan batil berkait dengan aqidah ini

  1. Dzat Allah ada di mana-mana
    Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Di mana Allah?”
    Sesungguhnya jawaban ini telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta kesepakatan Salaf.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa, 5/125)
  2. Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba.
    Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “Adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang bersih justru bertentangan dengan keyakinan tersebut.” (Syarhu Haditsin Nuzuul, hal 375)

Beberapa ayat al-Qur’an yang membantah Aqidah ini
Ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar batil.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ .

Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (az-Zukhruf: 15)

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kalian berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy Syuraa: 11)

Perhatikanlah! Ketika Allah subhanahu wa Ta’ala menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman:

لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, tatkala ia tetap di tempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf: 143)

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Islam al-Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan as-Salafy Jember dengan sedikit editing)

Sumber : Risalah dakwah Manhaj Salaf Edisi: 135/Th. III 04 Rabi’ul Awwal 1428 H/23 Maret 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 1)

Kebodohan Ingkarus sunnah I (Menolak Hadits Berarti Menolak Al-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Munculnya aliran sesat ingkarus sunnah adalah sebuah fenomena yang sangat mengherankan. Seorang yang berakal sehat pasti akan memahami bahwa al-Qur’an dan sunah tidak mungkin dapat dipisahkan. Betapa tidak, Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan berkali-kali dalam al-Qur’an untuk mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang yang mentaati al-Qur’an pasti akan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita lihat beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut, di antaranya:

  1. Diutusnya Rasul untuk ditaati
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ
    الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا. النساء: 64Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan am-pun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (an-Nisaa’: 64)
  2. Wajib taat kepada Rasul
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. المائدة: 59Dan taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (al-Maaidah: 59)يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ. الأنفال: 20

    Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling daripada-Nya, sedangkan kalian mendengar (perintah-perintah-Nya), (al-Anfaal: 20)

    …وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. المجادلة: 13

    …dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (al-Mujaadilah: 13)

    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. التغابن: 12

    Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (at-Taghaabun: 12)

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. النساء: 80

    Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (an-Nisa’: 80)

  3. Wajib menerima keputusan Rasul
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا. الأحزاب: 36Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (al-Ahzaab: 36)
  4. Wajib menerima ajaran Rasul
    …وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. الحشر: 7…Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (al-Hasyr: 7)
  5. Taat kepada rasul merupakan ketaatan kepada Allah
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. النساء: 80Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (an-Nisaa’: 80)
  6. Taat kepada Rasul ciri orang beriman
    …وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. الأنفال: 1…dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian adalah orang-orang yang beriman. (al-Anfaal: 1)وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. التوبة: 71

    Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(at-Taubah: 71)

    وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ. النور: 47

    Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (an-Nuur: 47)

    إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. النور: 51

    Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (an-Nuur: 51)

  7. Taat kepada Rasul akan mendapatkan hidayah
    قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ. النور: 54Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul; dan jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kalian sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepada kalian. Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (an-Nuur: 54)
  8. Rahmat bagi yang mentaati Rasul
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. ال عمران: 132Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat. (Ali Imran: 132)وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. النور: 56

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kalian diberi rahmat. (an-Nuur: 56)

  9. Taat kepada Rasul mendapatkan jannah
    تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. النساء: 13(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang-siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisaa’: 13)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. الأحزاب: 71

    niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengam-puni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (al-Ahzaab: 71)

  10. Taat kepada Rasul adalah syarat diterimanya amalan
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ
    تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ. محمد: 33Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kalian merusakkan (pahala) amal-amal kalian. (Muhammad: 33)
  11. Taat kepada Rasul jalan keluar dari perselisihan
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
    وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً. النساء: 59Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-nya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.(an-Nisaa’: 59)وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ. الأنفال: 46

    Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Anfaal: 46)

  12. Menolak taat kepada rasul terancam adzab yang pedih
    …وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا. الفتح: 17…Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (al-Fath: 17)
  13. Penyesalan orang-orang yang tidak taat kepada Rasul
    يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ. الأحزاب: 66Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. (al-Ahzaab: 66)

Dengan demikian jelaslah kebodohan kelompok ingkarus sunnah dan jelas pula bahwa mereka tidak mengikuti al-Qur’an sedikitpun. Maka para ulama menghukumi mereka dengan kafir!
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ. ال عمران: 32

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imran: 32)

Lagi pula hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan tafsir dari al-Qur-’an, yang tidak mungkin akan dapat dipisahkan.

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 138/Th. III 16 Rabi’ul Akhir 1428 H/04 Mei 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Metode Selamat (Bagian 2)

Metode Selamat

(Lanjutan Bagian 1)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

10 Masalah takdir
Para ulama ahlus sunnah sejak zaman shahabat sampai hari ini berkeyakinan bahwa semua apa yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ. القمر: 49

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan taqdir. (al-Qamar: 49)

Namun mereka tetap berupaya dan berusaha untuk beramal sesuai dengan perintah Allah dalam syariat-Nya. Dengan keyakinan bahwa Allah yang menentukan mereka tidak sombong dengan usahanya dan terus berharap kepada Allah.
Dengan prinsip ini mereka selamat dari kesesatan aliran Qadariyah dan Mu’tazilah yang mengingkari adanya taqdir Allah dan juga selamat dari kesesatan aliran Jabriyyah yang pasrah kepada taqdir dan tidak mau berupaya dan berusaha, bahkan mereka menolak syariat dan menganggap bahwa orang kafir tidak bersalah dan tidak perlu dicela dan orang yang beriman tidak perlu dipuji karena semua itu dengan taqdir Allah.

11. Masalah ketaqwaan
Ahlus sunnah menilai seseorang dengan ketaqwaannya, tidak melihat turunan atau bentuk tubuhnya, apalagi status sosialnya. Karena menurut mereka orang yang paling mulia adalah orang yang paling taqwa.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujuraat: 13)

Ketaqwaan yang dimaksud adalah taat dan tunduknya seseorang kepada al-Qur’an dan sunnah, maka jika aqidah seseorang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah demikian pula amalan ibadahnya mengikuti sunnah, maka dia adalah seorang yang bertaqwa secara lahirnya, sedangkan hatinya adalah urusan Allah subhanahu wa Ta’ala.

12. Masalah pergaulan
Para ulama ahlus sunnah sejak dulu selalu memperingatkan agar berhati-hati dalam pergaulan agar kita tidak ‘bergaul’ kecuali dengan seorang yang taqwa yaitu yang bertauhid, berpegang dengan sunnah dan mengikuti jejak para shahabat. Atau paling tidak dengan orang awam yang masih menghormati sunnah. Hal ini adalah dalam rangka menjaga kita agar jangan sampai terbawa dengan pemikiran-pemikiran rancu dan pemahaman sesat. Tentunya para ulama memperingatkan yang seperti ini berdasarkan ayat dan hadits seperti:

يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً. الفرقا: 28

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). (al-Furqan: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِطُ. رواه أحمد

Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka lihatlah sesorang di antara kalian dengan siapa dia bergaul. (HR. Ahmad)

Dengan prinsip ini kita selamat dari kejumudan sufi yang tidak bergaul dan tidak amar ma’ruf nahi mungkar mengikuti para biarawati di gereja-gerejanya dan selamat pula dari kelompok yang justru membanggakan “keluwesannya” dalam bergaul. Mereka bisa bergaul dengan kelompok sesesat apapun sehingga mereka dikenal dengan istilah ‘dai gaul’, moderat, yang akhirnya sadar atau tidak sadar ia melenceng jauh dari jalan sunnah.

13. Masalah pengkafiran
Ahlus sunnah tidak sembarangan mengkafir-kafirkan kaum muslimin. Karena menurut mereka tidak setiap orang yang melakukan perbuatan kufur, maka ia kafir. Seperti perbuatan seorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah perbuatan kufur seperti ayat Allah:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ. المائدة: 44

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (al-Maaidah: 44)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah “kufrun duuna kufrin” yang artinya perbuatan kufur yang tidak membawa pada kekafiran. (Atsar riwayat Hakim; dan dishahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Dzahabi)

Maka bagi seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa jadi kafir keluar dari Islam, bisa jadi pula seorang yang berdosa besar namun tidak kafir, yang demikian tergantung keadaan niat, keadaan ilmu yang sampai padanya dan lain-lain.
Dengan ini mereka selamat dari kesesatan khawarij yang menyamaratakan mereka yang bodoh, terpaksa, terbawa hawa nafsu atau yang menentang Allah dan rasul-Nya dengan sengaja, maka mereka pun mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.

14. Masalah tabdi’
Dalam masalah tabdi’ pun para ulama memiliki kaidah agar kita tidak sembarangan mencap seorang sebagai ahlul bid’ah (mubtadi’) karena tidak setiap orang yang melakukan kebid’ahan berarti dia mubtadi’. Bisa jadi ia tidak mengerti, maka yang diperlukan adalah memberikan pengertian kepadanya. Atau bia jadi ia memakai hadits yang dikira shahih ternyata hadits tersebut dhaif, maka yang diperlukan adalah penjelasan tentang kedhaifan hadits tersebut.

Dengan dakwah sunnah kepada mereka dengan jelas dan gamblang akan terbedakan mana orang-orang yang bodoh dan tidak mengerti dan mana para penentang sunnah yang menentang hadits shahih dengan perasaan dan hawa nafsunya (ahlul ahwa).
Dengan kaidah ini kita selamat dari pemikiran ekstrim haddadiyyah yang meninggalkan kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang terlgelincir pada beberapa kebid’ahan seperti Ibnu Hajar dan Imam Nawawi.

15. Masalah dakwah
Dalam masalah dakwah para ulama mengelompokkan manusia dalam tingkatan-tingkatan tertentu dengan cara dakwah tertentu pula seperti ucapan Ibnul Qayyim bahwa manusia ada 3 jenis.

Manusia yang siap menerima, maka didakwahi dengan hikmah yaitu dengan ilmu (perintah dan larangan).

Manusia yang tergoda dengan dunia maka dia didakwahi dengan mauidhah hasanah yaitu dengan targhib dan tarhib (kabar gembira dan ancaman).

Manusia yang menentang dakwah , maka didakwahi dengan bantahan-bantahan yang baik dengan hujjah-hujjahnya yang tegas dan jelas.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. النحل: 125

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (an-Nahl: 125)

16. Masalah Hikmah
Menurut ulama ahlus sunnah, makna hikmah tidak mesti harus selalu berbuat lembut, tidak pula harus selalu keras. Hikmah di samping bermakna ilmu seperti point di atas, juga dapat bermakna ketepatan dalam penerapan dakwah. Kapan ki-ta harus bersikap keras dan kapan pula kita harus bersikap lembut?
Adapun hukum asal dalam berdakwah adalah dengan kelembutan. Kalau ternyata cukup dengan kelembutan, mengapa harus dengan kekerasan? Namun pada saat dan dalam kondisi tertentu, sikap keras kadang-kadang diperlukan, karena seekor sapi tidak akan mengerti kecuali dengan cemeti.
Dengan prinsip ini, maka mereka selamat kejelekan-kejelekan yang diakibatkan salah penempatan.

17. Masalah Jama’ah
Perintah jama’ah menurut para ulama ahlus sunnah adalah masyarakat muslimin yang dipimpin oleh seorang penguasa muslim. Mereka memahami hadits-hadits tentang jama’ah dengan makna ini, seperti apa yang terdapat dalam hadits:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. متفق عليه

Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan pimpinannya. (HR. Bukhari Muslim)

…عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ اْلاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ… رواه الترمذي

Wajib bagi kalian berjama’ah dan jauhilah dari perpecahan. Karena sesungguhnya setan beserta orang yang satu, dan dengan dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menghendaki tengah-tengahnya surga, maka wajib baginya bersama jama’ah. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim; Syaikh al-Abani menshahihkannya dalam Shahih Jami’ ash-Shagir)

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً. متفق عليه

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari penguasanya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang melepaskan dari jama’ah sejengkal saja kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. (HR. Bukhari Muslim)

Betapa mengerikannya kalau hadits-hadits seperti di atas ditarik pada makna kelompok-kelompok, organisasi-organisasi atau partai-partai tertentu. Karena yang akan terjadi adalah kebingungan masyarakat muslimin. Jika mereka ada dalam kelompok yang satu dianggap jahiliyyah oleh kelompok yang lain. Jika ia tunduk kepada pimpinan kelompok A, maka akan dianggap bughat (pemberontak) oleh kelompok B.

18. Masalah Imamah
Berkaitan dengan point di atas, ahlus sunnah menyatakan bahwa seorang imam adalah penguasa yang benar-benar memiliki kekuasaan di wilayahnya, selama mereka masih muslimin. Bukan pimpinan orgaisasi, ataupun kelompok-kelompok sempalan, walaupun mereka menamakan dirinya sebagai Jama’ah Islamiyah (JI). Apalagi pimpinan-pimpinan partai tertentu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…وَمَنْ يُطِعِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي. متفق عليه

Barangsiapa yang mentaati penguasanya maka ia telah mentaatiku. Dan barang-siapa yang bermaksiat kepada penguasanya, maka ia telah bermaksiat kepadaku. (HR. Bukhari Muslim)

19. Masalah Bai’at
Demikian pula dengan masalah baiat yang bermakna sumpah setia dengan nama Allah untuk tetap tunduk dan taat, ahlus sunnah menyatakan bahwa baiat itu hanya ditujukan kepada imamul a’zham yaitu penguasa muslim selama ia muslim dan masih mengerjakan shalat, bukan kepada pimpinan kelompok organisasi atau pun partai-partai tertentu.

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً. رواه مسلم

Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat dengan tidak ada hujjah baginya. Dan barangsiapa yang mati dan tidak ada di lehernya baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. (HR. Muslim)

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika setiap kelompok mempunyai imam, JI dengan imamnya sendiri, demikian pula dengan Islam Jama’ah, Jama’ah Muslimin (Jamus), NII dan lain-lainnya, dan semuanya mengajak kaum muslimin berbaiat kepada imamnya masing-masing?. Sedangkan jika ada dua/lebih kepemimpinan yang dibaiat, maka diperintahkan untuk memerangi salah satunya. Maka mesti yang akan terjadi adalah perang saudara sesama muslimin.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا بُوْيِعَ خَلِيْفَتَانِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا. رواه مسلم

Jika dibai’at dua khalifah, maka perangilah yang terakhir dari keduanya. (HR. Muslim)

Demikianlah prinsip-prinsip ahlus sunnah secara ringkas yang kami sarikan dari kitab-kitab para ulama seperti: Aqidah Salaf oleh Imam Abu Utsman Ash-Shabuni, Syarhus Sunnah oleh Imam al-Barbahari, asy-Syari’ah oleh imam al-Aajurri, Majmu’ Fatawa juz 3 dan 4 oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan lain-lain.

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 125/Th. III 22 Dzulhijjah 1427 H/12 Januari 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti HP 081564690956.

Metode Selamat (Bagian 1)

Metode Selamat

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Metode salaf, ahlus sunnah wal jaa’ah dalam memahami agama ini sangat tepat dan selamat dari berbagai macam penyimpangan.

1. Dalam masalah Tauhid
Mereka, para ulama ahlus sunnah selalu mementingkan tauhid dan menjeaskan bahwa tauhid لا اله إلاا الله bermakna “Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah” (uluhiyyah), sebagaimana terkan-ung dalam ayat:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا… النساء: 36

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun… (an-Nisaa’: 36)

Dengan prinsip ini, mereka selamat dari kekafiran atheisme yang tidak bertuhan dan selamat pula dari paganisme yang bertuhan banyak.

2. Dalam masalah Asma’ wa Sifat
Mereka, para ulama ash-habul haits (ahlus sunnah) tidak berani berbicara tentang sifat-sifat Allah kecuali apa yang telah dikatakan oleh Allah dalam al-Qur’an dan apa-apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih. Mereka tidak berani pula menarik maknanya kepada makna lain selain apa yang terdapat pada teksnya. Karena masalah sifat-sifat Allah adalah ghaib, tidak ada seorang pun yang dapat menebak-nebak atau memikirkan dzat Allah.

وَلِلَّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. الأعراف: 180

Hanya milik Allahlah asma’ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (al-A’raaf: 180)

Mereka tidak berani pula membayangkan seperti apa atau bagaimananya.
Maka di samping mereka selamat agamanya, juga selamat akalnya. Orang-orang yang mencari-cari sendiri tentang dzat Allah akan tersesat agamanya dan orang yang membayangkan seperti apa atau bagaimana Allah akan rusak akal-nya.

3. Dalam masalah Ibadah
Mereka, para pengikut salafus shalih, tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sunnah). Mereka tidak berani merubah-rubah, mengganti, mengurangi atau menambahi dari hasil pemikirannya sendiri. Sebagaimana para rasul memerintahkan kepada kaumnya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ. الشعراء: 144

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (asy-Syu’araa: 144)

Yakni bertakwanya kepada Allah tetapi dengan mengikuti dan mentaati rasul-Nya. Maka Tata cara ibadah menurut mereka sudah baku (tauqifiyyah) tidak bisa diubah-ubah.
Dengan demikian mereka selamat dari kebid’ahan-kebid’ahan (ajaran-ajaran baru) yang tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang pertama. Dan selamat pula dari kesesatan para pengingkar sunnah yang menciptakan agama baru.

4. Dalam masalah sunnah
Mereka –sesuai dengan sebutannya ahlus sunnah– senantiasa berpegang dengan sunnah (ajaran nabi) sebagai tafsir dari al-Qur’an, sehingga mereka dapat memahami al-Qur’an dengan tepat seperti apa yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena ucapan, perbuatan dan perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah terjemahan dari al-Qur’an. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. رواه مسلم وأحمد وأبو داود

Bahwasanya perangai Rasulullah adalah al-Qur’an. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

sehingga mereka selamat dari kesalahpahaman dalam panafsiran al-Qur’an dan selamat dari kesesatan.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضُ. رواه الحاكم عن أبي هريرة، وصححه الألباني

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelah berpegang dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Dan keduanya tidak akan terpisah hingga menemuiku di telaga Haud. (HR. Hakim; Syaikh al-Albani menshahihkanya dalam Shahih Jami’us Shaghir)

5. Dalam pemahaman terhadap al-Qur’an dan sunnah
Mereka mengetahui bahwa generasi terbaik umat ini adalah para shahabat nabi. Maka mereka meyakini bahwa para shahabat lebih memahami al-Qur’an dan sunnah. Sehingga dalam memahami, menyimpulkan dan menerapkan al-Qur’an dan sunnah, mereka melihat ucapan-ucapan para shahabat dan keterangan-keterangan dari mereka, karena yang akan mendapatkan keridhaan dari Allah adalah para shahabat Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. التوبة: 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah: 100)

Sehingga mereka selamat pula dari kesalah-pahaman dan kekeliruan dalam penerapan al-Qur’an dan sunnah.

6. Dalam masalah shahabat nabi
Ahlus sunnah menganggap bahwa para shahabat adalah generasi yang terbaik dan semuanya merupakan rawi-rawi yang adil dan jujur, sehingga mereka menerima riwayat-riwayat haditsnya. Bagi mereka kesepakatan para shahabat merupakan dalil (hujjah) setelah al-Qur’an dan sunnah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa umatku tidak akan sepakat atas kesesatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ. رواه الترمذي عن ابن عمر، وصححه الألباني في صحيح جميع الصغير

Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan. Dan tangan Allah di atas jama’ah. (HR. Tirmidzi; Syaikh al-Albany menshahihkannya dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)

Sebagaimana disebutkan dalam atsar dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah melihat para hamba dan mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebaik-baik hati para hamba, maka ia jadikan untuk diri-Nya dan diutus sebagai rasul-Nya. Kemudian Allah melihat hati-hati para hamba dan melihat hati-hati para shahabat adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah jadikan sebagai pendukung-pendukungnya, pembela-pembela-Nya dan berperang di atas agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin itu sebagai kebaikan, maka di sisi Allah hal itu baik. Sebaliknya apa yang dilihat oleh mereka sebagai kejelekan, maka di sisi Allah hal itu merupakan kejelekan. (Atsar Hasan Mauquf; diriwayatkan oleh Thayalisi, Ahmad dan Hakim menshahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi; Demikian komentar Syaikh al-Albani dalam Takhrij Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 470)

Keyakinan ini menyelamatkan mereka dari apa yang telah menyesatkan kaum Syi’ah Rafidhah. Dengan caci-makian mereka terhadap para shahabat, gugurlah syariat ini, karena para shahabat adalah pembawa-pembawa ilmu dan rantai rawi yang pertama yang menjembatani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan generasi-generasi setelahnya.

7. Dalam masalah hadits
Para ulama ahlus sunnah tidak sembarangan menerima riwayat suatu hadits, karena sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ucapan-ucapan para shahabat (atsar-atsar) didapat oleh mereka melalui silsilah para rawi yang telah mereka periksa, apakah rawi-rawi tersebut terpercaya (tsiqah), kuat hafalannya (dhabit), sanadnya bersambung (mutashil) ataukah kebalikannya. Sehingga dengan ilmu (Musthalahul hadits) tersebut, mereka memisahkan antara hadits-hadits yang shahih dan hadits-hadits yang dhaif. Kemudian mereka memakai yang shahih dan meninggalkan yang dhaif.

Hingga mereka selamat dari penyimpangan dikarenakan menyangka itu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan selamat dari kebid’ahan yang dikira perintah nabi ternyata bukan dan selamat pula dari ancaman-ancaman Allah terhadap orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam sebuah hadits yang mutawatir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ. متفق عليه

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempatnya dalam neraka. (HR. Bukhari Muslim dan lain-lainnya)

8. Dalam masalah jihad
Jihad dengan makna perjuangan dakwah menyampaikan syariat agama Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus berlangsung setiap saat sepanjang masa.

Adapun jihad bermakna perang menumpahkan darah musuh merupakan ibadah yang dilakukan secara berjama’ah yang tidak bisa dilakukan kecuali bersama seorang penguasa (imam). Dan yang diperangi adalah orang-orang kafir harbi. Namun bukan menunggu munculnya imam tertentu seperti Syi’ah Rafidhah, tapi dengan penguasa muslim yang ada sekarang.

Dengan prinsip mereka ini, kaum muslimin selamat dari fitnah dan kekacauan. Kalau saja dibiarkan setiap muslim “berperang” sendiri-sendiri, membunuh orang-orang kafir di mana pun dia temui, maka akan terbunuh orang kafir yang tidak layak dibunuh (perempuan, anak-anak, kafir dzimni, dan kafir mu’ahad) bahkan bisa jadi akan membunuh orang-orang muslim yang dianggap kafir. Maka yang terjadi adalah kekacauan dan pertumpahan darah sesama kaum muslimin.

9. Dalam masalah iman
Para ulama ahlus sunnah sejak zaman salafus shalih sampai hari ini meyakini bahwa iman bisa bertambah dan bisa berkurang bahkan bisa hilang sama sekali. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

(Bersambung)

Belajar Mengucapkan “SAYA TIDAK TAHU”

Belajar Mengucapkan “SAYA TIDAK TAHU”

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Di samping golongan para pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, ada pula golongan yang “sok tahu”. Mereka berbicara sesuatu tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal itu akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata yaitu mata dunia, Ya’juj wa ma’juj adalah pasukan mongol dan lain-lain.

Maka pada kesempatan kali ini akan kami bawakan beberapa dalil dan ucapan para shahabat dan ulama yang membimbing kita untuk bejalar mengatakan “tidak tahu” terhadap hal-hal yang memang tidak diketahui, apalagi pada perkara-perkara ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Allah Subhanahu Wara’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً. (الإسراء: 36)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan ten-tangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya. (al-Israa’: 36)

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan kepada kita agar tidak berbicara tentang sesuatu, kecuali dengan ilmu. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan perkara-perkara ghaib, apakah yang berkaitan dengan dzat Allah, perbuatan Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau pun perkara-perkara yang belum terjadi dan akan datang seperti tanda-tanda hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka atau pun yang selainnya.
Dalam masalah-masalah tersebut, kita tidak mungkin bisa mengetahuinya dengan panca indera atau akal kita. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang diberitakan dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih sesai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat Radhiallahu ‘anhum

Mu’adz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu ketika ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tentang sesuatu yang tidak diketahui, maka beliau menjawab allahu wa rasuluhu a’lam. Disebutkan dalam satu hadits yang diriwayat-kan dari Mu’adz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam berkata kepada Mu’adz:

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟

Ya Mu’adz tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?
Mu’adz Radhiallahu ‘anhu menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَلاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْئًا.

Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bertanya lagi:

أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟

Tahukah engkau apa hak mereka jika telah menunaikannya?
Mu’adz menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan adab seorang shahabat ketika ditanya dengan sesuatu yang tidak dia ketahui, mereka mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”1).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam sendiri pun diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menjawab “allahu ‘alam” ketika ditanya tentang ruh, karena itu adalah urusan Allah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً. (الإسراء: 85)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urus-an Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (al-Isra’: 85)

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak malu untuk mengatakan “tidak tahu” pada perkara-perkara yang memang Allah tidak turunkan ilmu kepadanya. Atau beliau menunda jawabannya hingga turun jawaban dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Hikmah dari jawaban-jawaban beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam ini adalah: kaum Yahudi dan Musyrikin mengetahui betul bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak mengucapkan dari hawa nafsunya, melainkan wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Jika ada keterangan wahyu dari Allah beliau jawab, dan jika tidak, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam menundanya.

Imam asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya tentang satu masalah, beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Maka si penanya heran dan berkata: “Apakah engkau tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’, padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?” Beliau menjawab: “Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’ ketika Allah tanya:

أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. (البقرة: 31)

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!”. (al-Baqarah: 31)

Maka para malaikat menjawab:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. (البقرة: 32)

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (al-Baqarah: 32)
(Lihat ucapan asy-Sya’bi dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadllihi (2/51) melalui Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim karya Salim bin ‘Ied al-Hilali).

Dakwah ini adalah menyampaikan apa yang Allah turunkan dan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam jelaskan. Bukan buatan sendiri, berpikir sendiri, atau memberat-beratkan diri dengan sesuatu yang tidak ada ilmu padanya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ. (ص: 86-88)

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri).” Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi. (Shaad: 86-88

Karena ayat inilah Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu marah ketika ada seseorang yang berbicara tentang tanda-tanda hari kiamat dengan tanpa ilmu. Beliau Radhiallahu ‘anhu berkata:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيُقُلْ: اللهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ اللهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ عَلَيْهِ وَسَلاَّمَ: ((قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ)).

“Barangsiapa yang memiliki ilmu maka katakanlah! Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu maka katakanlah: ‘Allahu a’lam!” Karena sesungguhnya Allah telah mengatakan kepada nabi-Nya: ((“Kata-kanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (me-maksakan diri”))”.
(Atsar riwayat ad-Darimi juz 1/62; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayaanil Ilmi, juz 2/51; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 797; al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqih; melalui nukilan Hilyatul Alimi al-Mu’allim, hal. 59)

Demikian pula Abu Bakar Shiddiq radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang tafsir suatu ayat yang tidak beliau ketahui, beliau menjawab: “Bumi mana yang akan aku pijak, langit mana yang akan menaungiku, mau lari ke mana aku atau apa yang akan aku perbuat kalau aku mengatakan tentang ayat Allah tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki”. (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, juz 2/52; Bai-haqi dalam al-Madkhal, no. 792. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’allim, hal. 60)

Diriwayatkan ucapan yang semakna dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu dan juga dinukilkan dari para shahabat oleh para ulama setelahnya seperti Maimun bin Mihran, Amir asy-Sya’ bi, Ibnu Abi Mali-kah dan lain-lain. (Lihat sumber yang sa-ma hal. 60)
Pernah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab: “Aku tidak mempunyai ilmu tentangnya”, (padahal pada saat itu beliau sebagai khalifah –pent.). Beliau berkata setelah itu: “Duhai dinginnya hatiku (3x)”. Maka para penanya berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, apa maksudmu?” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjawab: “Yakni dinginnya hati seseorang ketika ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui, kemudian ia menjawab: “Wallahu a’lam”“. (Riwayat ad-Darimi 1/ 62-63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 794 dari jalan yang banyak. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 60)

Kejadian yang sama juga terjadi pada Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma , ketika beliau ditanya: “Apakah bibi mendapatkan warisan?” Be-liau menjawab: “Saya tidak tahu”. Kemudian si penanya berkata: “Engkau tidak tahu dan kami pun tidak tahu, lantas…?” Maka Ibnu UmarRadhiallahu ‘anhuma berkata: “Pergilah kepada para ulama di Madinah, dan tanyalah kepada mereka”. Maka ketika dia berpaling, dia berkata: “Sungguh mengagumkan, seorang Abu Abdirrahman (Yakni Ibnu Umar radhiallahu ‘anhum) ditanya sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau katakan: “Saya tidak tahu”. (Riwayat ad-Darimi 1/63; Ibnu Abdi Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171-172; al-Baihaqi dalam al-Madkhal, 796. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 61)

Datang seseorang kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah bertanya tentang satu masalah hingga beberapa hari beliau belum menjawab dan selalu mengatakan: “Saya tidak tahu”. Sampai kemudian orang itu datang dan berkata: “Wahai Abu Abdillah, aku akan keluar kota dan aku sudah sering pulang pergi ke tempatmu (yakni meminta jawaban)”. Maka Imam Malik menundukkan kepalanya beberapa saat, kemudian mengangat kepalanya dan berkata: “Masya Allah Ya hadza, aku berbicara adalah untuk mengharapkan pahala. Namun, aku betul-betul tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilya, 6/323; Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi, 2/53; Baihaqi dalam al-Madhkal no. 816; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, 2/174; Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim, hal. 63).

Dari beberapa ucapan di atas, kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita ketahui dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dilarang untuk berbicara pada sesuatu yang tidak kita ketahui.

Sebagai penutup kita dengarkan nasehat seorang ulama sebagai berikut:
“Belajarlah engkau untuk mengucapkan ’saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu –pent.), karena sesungguh-nya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai engkau tahu. tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, maka mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga kamu tidak tahu”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 2/55 melalui nukilan Hilyatul ‘Alim al-Mu’alim, Salim bin ‘Ied al-Hilaly, hal. 66)

Perhatikanlah pula ucapan Imam asy-Sya’bi rahimahullah : “Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu”. (Riwayat ad-Darimi 1/ 63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2/173; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 810. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 65)
Maka kalau seseorang ’sok tahu’ tentang sesuatu yang tidak ada ilmu padanya, berarti bodoh di atas kebodohan. Yakni bodoh tentang ilmunya dan bodoh tentang dirinya (Tidak menyadari kebodohannya).

Catatan Kaki:
1) Jawaban di atas diucapkan jika pertanyaannya berkaitan dengan masalah syari’at. Namun, jika perta-nyaannya berkaitan dengan masalah takdir dan sejenisnya, jawabannya cukup dengan “wallahu a’lam”, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam sendiri pun tidak mengetahuinya. (Demikianlah yang kami dapatkan dari Syaikh ‘Utsaimin dalam majlisnya).

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 74/Th. II 07 Rajab 1426 H/12 Agustus 2005 M

1 2