Tidak Ada Masalah Sepele Dalam Agama Ini ( Bantahan Terhadap Syubhat 1)

Tidak Ada Masalah Sepele Dalam Agama Ini ( Bantahan Terhadap Syubhat 1)

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Dalam masalah penerapan sunnah sering dilontarkan syubhat-syubhat dari ahlul bid’ah yang menyebabkan umat enggan dan tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Di antaranya syubhat-syubhat yang dipropagandakan oleh para politikus yang berbaju da’i. Mereka selalu meremehkan masalah fiqih dan hukum-hukum syari’at dan menganggapnya sebagai perkara remeh dan sepele. Mereka menganggap pelajaran-pelajaran seperti tauhid uluhiyah, fiqih syari’ah dan lain-lainnya sebagai kulit (qusyur) dan bukan inti (lubab) dari ajaran agama ini. Atau mereka menganggapnya sebagai furu’ (cabang) dan bukan perkara ushul (pokok).

Perhatikan perkataan Abdurrahman Abdul Khaliq ketika mengkampanyekan pentingnya mengenali situasi politik (shifatul ashr) dalam kasetnya sebagai berikut: “Sayang sekali pada hari ini kita memiliki syaikh-syaikh para ulama yang hanya mengerti qusyur (kulit Islam) yang sudah lewat masanya…..”

Para ulama yang tidak mengetahui shifatul ashr dianggap sebagai orang-orang yang jumud dan hanya mengerti qusyur atau kulit Islam saja. Ini meru-pakan bentuk pelecehan dan meremeh-kan syariat Allah Azza wa Jalla yang dibawa oleh para ulama tersebut.

Di tempat lain ia menyatakan bahwa para ulama dikatakan sebagai mumi yang badannya hidup di zaman kita, sedangkan akal dan pikiran mereka ada di masa lalu. Atau dengan istilah dia yang lain ‘cetakan lama’, ‘ulama haid dan nifas’, dan seterusnya.

Ucapan-ucapan ini sama dengan ucapan seluruh ahlul bid’ah sejak dahulu, apakah dari kalangan mu’tazilah ataupun yang lainnya. Seperti apa yang diucapkan oleh ‘Amr bin Ubaid: “Ilmunya imam Syafi’i tidak keluar dari celana dalam perempuan”. Atau istilah-istilah lain yang lebih mengerikan dari ini.

Semua perkataan itu bertujuan sama, yaitu merendahkan ilmu-ilmu fiqih seperti hukum haid, nifas, thaharah, mandi junub, dan segala hukum-hukum yang berkaitan dengan fiqih. Mereka menganggap bahwa perkara itu sangat rendah yang seharusnya kita lebih mementingkan perkara yang lebih besar, yaitu wawasan politik, mengenal situasi politik (shifatul ‘ashr), atau menurut istilah Ikhwanul Muslimin tsaqafah islamiyah, atau fiqhul waqi’ menurut istilah sururiyyin, dan sistem kepartaian dan demokrasi serta berbagai macam perkara yang mereka anggap bisa meme-nangkan mereka dalam percaturan poli-tik dan mencapai puncak kekuasaan yang mereka inginkan.

Para ulama membantah syubhat mereka ini dari beberapa sisi:

1. Jika pembagian tersebut bertujuan ha-nya untuk mementingkan yang ushul dan meremehkan yang furu’, maka ini adalah pembagian yang batil.

Kita katakan kepada mereka: ”Tidak ada dalam agama ini perkara yang remeh” seperti dikatakan oleh Imam Malik. Pada suatu saat Imam Malik pernah di-tanya dengan satu pertanyaan, kemudian beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Mendengar jawaban ini si penanya terhe-ran-heran dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah masalah yang sepele, dan aku bertanya tentang hal ini semata-mata karena ingin memberi tahu kepada sang amir (penguasa)”. Melihat hal ini, Imam Malik marah seraya berkata: “Kau kata-kan ini masalah sepele dan remeh? Tidak ada dalam agama ini perkara yang re-meh! Tidaklah kau mendengar ucapan Allah Azza wa Jalla:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً. المزمل: 5

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. (Al-Muzammil: 5)
Oleh karena itu seluruh ilmu agama ini semuanya berat, khususnya karena akan dipertanyakan pada hari kiamat (Tarti-bul Madariq, Qadli ‘Iyadl 1/184; Lihat Dlarurarul Ihtimam bis Sunnatin Nabawiyyah, hal. 118)

Perhatikanlah ucapan Imam Malik di atas, bahwasanya perkara agama ini semuanya penting dan berat karena akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Ucapan itu cukup sebagai bantahan terhadap syubhat dari ahlul bid’ah yang membagi-bagi agama ini menjadi Qusyur wa Lubab (kulit dan inti), kemudian mereka meremehkan perkara yang mereka anggap qusyur. Demi-kian pula sebagian yang lain yang mem-bagi agama ini menjadi Ushul wal Furu’ (Pokok dan Cabang), dan menganggap remeh masalah furu’ dengan kalimat-kalimat yang banyak diucapkan seperti: “Inikan masalah furu’, kenapa harus di-ajarkan?” atau kalimat: “Janganlah ka-lian disibukkan dengan masalah furu’” dan lain-lainnya.

Ahlul bid’ah selalu sinis terhadap ahlus sunnah yang senantiasa mengkaji, mempelajari, menulis masalah-masalah fiqih seperti gerakan-gerakan shalat atau masalah-masalah fiqih lainnya dan men-cemoohkan mereka dengan kalimat-kali-mat di atas.

2. Pembagian ini merupakan pembagian bid’ah yang tidak ada asalnya.

Dalam hal ini kita dengarkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahima-hullah: “Adapun pembagian agama ini dengan istilah masalah ushul dan furu’ adalah pembagian yang tidak ada dasar-nya (tidak ada asalnya). Pembagian itu tidak berasal dari para shahabat, para tabi’in maupun yang mengikuti mereka dengan ihsan, dan tidak pula dari para imam kaum muslimin. Istilah ini se-sungguhnya diambil dari kaum mu’ta-zilah dan yang sejenis dengan mereka dari ahlul bid’ah. Kemudian istilah ter-sebut dipakai oleh sebagian ahlu fiqih da-lam kitab-kitab mereka, padahal pemba-gian ini sangat kontradiktif”. (Masail Maridiniyah, hal. 788; Lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Bar-jas, hal. 111)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika membicarakan pembagian agama menjadi ushul dan furu’: “Semua pem-bagian yang tidak dapat dibuktikan de-ngan al-Qur’an dan as-Sunnah serta prin-sip-prinsip syariat, hal itu adalah pem-bagian yang batil dan harus dibuang. Ka-rena pembagian seperti ini adalah salah satu dari dasar-dasar kesesatan umat”. (Mukhtashar ash-Shawaiqul Mursalah, 2/415)

3. Tidak ada definisi yang disepakati oleh mereka sendiri, manakah yang dimak-sud ushul dan mana yang dianggap furu’.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah diatas, pembagian ini sangat kontradiktif. Ketika kita tanyakan kepada mereka apakah yang kalian anggap se-bagai ushul ternyata mereka sendiri berselisih pendapat.

Sebagian mereka menganggap masalah keyakinan (aqidah) sebagai ushul dan masalah amaliyah (ibadah) sebagai furu’. Kalau demikian apakah mereka menganggap bahwa shalat sebagai furu’, padahal seluruh umat Islam mengerti bahwa shalat adalah merupakan salah satu prinsip pokok ajaran Islam?

Sebagian yang lain mengatakan bah-wa yang merupakan ushul adalah perkara-perkara yang meyakinkan (muta-watir), sedangkan yang tidak mutawatir dianggap sebagai perkara furu’ yang meragukan. Ini pun terbantah karena masalah keyakinan itu berkaitan dengan ilmu, sehingga berbeda-beda pada tiap orang. Bagi para ulama yang mengerti ilmu hadits, mereka sangat yakin terha-dap seluruh hadits shahih, apakah ia mutawatir ataupun tidak.

Sebagian yang lain menyatakan bah-wa perkara ushul adalah perkara-perkara yang wajib, sedangkan perkara-perkara yang tidak wajib dianggap furu’. Kalau begitu apakah boleh kita meremehkan perkara yang tidak wajib?

Sebagian lagi menyatakan bahwa yang merupakan perkara ushul adalah masalah yang disepakati oleh para ulama, sedangkan masalah furu’ adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Bahkan sebagian lainnya menyatakan bahwa seluruh perkara, baik aqidah, iba-dah, maupun hukum adalah furu’, sedangkan intinya adalah bersikap baik terhadap sesama manusia (akhlaq kema-nusiaan).

Ada pula yang menyatakan seperti apa yang banyak diucapkan akhir-akhir ini bahwa masalah yang merupakan po-kok agama ini adalah berjuang mencapai kekuasaan melalui sistem demokrasi, wa-laupun harus mengorbankan prinsip aqi-dah, ibadah dan akhlaq, karena mereka anggap sebagai furu’.

Akhirnya setiap aliran sesat yang ingin membuang atau meremehkan suatu masalah akan mengatakan masalah itu adalah furu’.

4. Jika pembagian ini dilakukan bertu-juan untuk meremehkan perkara-per-kara yang mereka anggap sebagai fu-ru’, maka ini adalah sebesar-besar kebatilan, karena Allah memerintah-kan kita untuk memeluk agama ini secara keseluruhan.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاً تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ. البقرة: 208

Hai orang-orang yang beriman, masuk-lah kalian ke dalam Islam secara keselu-ruhan, dan janganlah kalian turut lang-kah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 208)

Menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “As-Silmi adalah Islam, sedang-kan Kaaffah maknanya adalah keselu-ruhan”. Berkata Mujahid: “Amalkanlah seluruh amalan dan seluruh kebaikan”. Juga berkata Ibnu Katsir: “Allah meme-rintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang membenarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar mengambil seluruh syariat-syariat Islam, mengamalkan selu-ruh perintah-perintahnya dan mening-galkan seluruh yang dilarangnya”.

Demikianlah para ulama menafsir-kan ayat di atas, yakni ambillah dari sya-riat Islam ini secara keseluruhan. Jangan memilih-milih atau mengambil sebagian dan meremehkan sebagian lainnya. Para ulama tidak membedakan mana yang ushul dan mana yang furu’. Mereka tidak pula membedakan mana yang Qusyur dan mana yang Lubab. Kita wajib meng-ambilnya secara keseluruhan sebagai agama Allah yang mulia dan kita wajib menghormatinya. Jika hal itu perkara wajib, maka kita harus mengamalkannya. Dan jika hal itu adalah perkara yang mustahab, maka kita dianjurkan untuk mengamalkannya. Kalaupun kita tidak mengamalkannya (karena bukan wajib), kita tetap tidak boleh merendahkannya dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele dengan menyebutkan sebagai perkara furu’, qusyur, juziyyat dan isti-lah-istilah yang lainnya.

4. Kerasnya para shahabat kepada orang-orang yang meremehkan sunnah, walaupun pada perkara-perkara yang dianggap furu’.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ketika beliau berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ. (متفق عليه

“Janganlah kamu cegah perempuan-perempuan kalian (untuk) mendatangi masjid.” (HR. Bukhari Muslim)

Kemudian berkatalah anaknya: “Demi Allah, aku akan melarang mereka ke masjid”. Mendengar ucapan tersebut Ib-nu Umar marah dan memaki anaknya dengan caci makian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya, seraya berkata: “Saya katakan ‘Rasulullah berkata’, ke-mudian kamu mengatakan: “Demi Allah akan saya larang?!”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar bah-wasanya ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ائْذِنُوْا النِّسَاءَ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسَاجِدَ

Izinkanlah oleh kalian wanita-wanita pergi ke masjid”.

Maka berkatalah anaknya: “Kalau begitu mereka akan mengambilnya sebagai per-mainan”. Maka Ibnu Umar pun memukul dadanya seraya berkata: “Aku sampaikan kepadamu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kamudian kamu mengatakan: “Tidak?!!””

Berkata Imam Nawawi (mengomen-tari riwayat di atas): “Padanya ada dalil untuk menghukum orang yang menen-tang sunnah dan yang membantah de-ngan akal pikirannya”. Wallahu a’lam.

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 4)

Kebodohan Ingkarus Sunnah IV (Gerakan Sholat Dalam A-Qur’an)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Sesungguhnya kelompok ingkarus-sunnah hanyalah satu kelompok pemalas dan bodoh yang berusaha mencari alasan untuk dapat menghindar dari beban-beban ibadah. Betapa tidak, mereka dengan terang-terangan dan arogan menentang kewajiban shalat dan puasa, padahal keduanya disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an. Bahkan mereka berani memperolok-olokkan orang yang melakukan shalat dengan menyatakan sebagai penyembahan terhadap dinding. Karena mereka menganggap shalat hanyalah doa, maka setiap orang yang berdoa, maka dia telah mengerjakan shalat.

Apakah mereka menganggap diri mereka mengikuti al-Qur’an? Sungguh mereka tidak mengikuti al-Hadits dan tidak pula mengikuti al-Qur’an. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Kalau saja mereka membaca al- Qur’an dengan benar mereka akan tahu bahwa semua gerakan-gerakan shalat, bahkan juga bacaan bacaannya terdapat dalam al-Qur’an.

Perintah Shalat
Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan untuk shalat di antaranya firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا ِلأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. البقرة: 110

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kalian usahakan bagi diri kalian, tentu kalian akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah: 110)

وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ. الأنعام: 72

Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepada-Nya.Dan Dialah Rabb Yang kepada-Nya-lah kalian akan dikumpulkan. (al-An’aam: 72)

Perintah-perintah shalat ini sangat banyak dalam al-Qur’an. Dan sebagian besarnya diiringi dengan gerakan-gerakan shalatnya, seperti berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain. Maka tidak bisa diartikan secara sempit hanya berdoa. Kita lihat ayat-ayat berikut:

Perintah Berdiri
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memelihara shalat kemudian menyebutkan salah satu gerakannya yaitu berdiri.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ. البقرة: 238

Peliharalah segala shalat (kalian), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalat kalian) dengan khusyu`. (al-Baqarah: 238)

Perintah ruku’
Pada ayat lain Allah memerintahkan untuk menegakan shalat kemudian menyebutkan perintah ruku’ di dalamnya.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ. البقرة: 43

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku. (al-Baqarah: 43)

Perintah sujud
Demikian pula perintah sujud tidak kalah banyaknya dalam al-Qur’an. Yang juga beriringan dengan perintah shalat. Lantas kapan mereka sujud jika tidak dalam shalat?
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً. الإنسان: 26

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (al-Insaan: 26)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الحج: 77

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, beribadahlah kepada Rabb kalian dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapatkan kemenangan. (al-Hajj: 77)

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا. النجم: 62

Maka bersujudlah kepada Allah dan beribadahlah kepada (Dia). (an-Najm: 62)

Shalat tidak hanya berdoa
Kalau saja shalat hanya berdoa tentu bisa dilakukan sambil berdagang dan bekerja. Namun Allah menyebutkan dalam ayatnya jika kita selesai shalat silakan bekerja kembali mencari karunia Allah. Maka jelaslah bahwa shalat adalah lebih dari sekedar berdoa.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. الجمعة: 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung. (al-Jum’at: 10)

Waktu-waktu shalat
Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kewajiban shalat adalah kewajiban yang berwaktu. yakni memiliki waktu-waktu yang tertentu. Allah berfrman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا. النساء: 103

Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat (kalian), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kalian telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (an-Nisaa’: 103)

Maka jelas sekali –bagi orang yang berakal dan mengerti bahasa arab— bahwa shalat bukan hanya berdoa yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun satu ibadah khusus yang tertentu waktunya.
Bahkan waktu-waktu shalat yang lima pun Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Di antaranya:
Allah subhanahu wa Ta’ala sebutkan shalat subuh dan shalat ‘Isya dalam ayat berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. النور: 58

Hai orang-orang yang beriman, henaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian (luar) kalian di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kalian, sebahagian kalian (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (an-Nuur: 58)

Demikian pula Allah subhanahu wa Ta’ala menyebutkan shalat fajar dan shalat ashar dengan ungkapan: “sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari”.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. ق: 39

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Qaaf: 39)

Sedangkan shalat sejak dhuhur sampai malam dengan kalimat sebagai berikut:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا. الإسراء: 78

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (shalat dhuhur) sampai gelap malam (shalat maghrib dan isya) dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disak-sikan (oleh malaikat). (al-Isra’: 78)

Allah subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan shalat pada dua penghujung siang (shalat fajar dan shalat maghrib) dan pada malam hari (shalat isya).
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ. هود: 114

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Huud : 114)

Perintah baca al-Qur’an dalam Shalat
Allah berfirman :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ… المزمل: 20

Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an… (al-Muzzammil: 20)

Bacaan ruku’
Allah subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bertasbih dalam ayatnya:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ. الواقعة: 74

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha agung. (al-Waaqi’ah: 74)

Maka barang siapa yang mengikuti Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “subhaana rabbiyal ‘adhimi” ketika ruku’ maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.

Bacaan sujud
Allah juga telah memeritahkan kita untuk bertasbih dengan kalimat:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى. الأعلى: 1

Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu yang maha tinggi. (al-A’laa: 1)

Maka barang siapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: ”subhaana rabbiyal a’la” maka dia telah melaksanakan perintah Allah di atas.
Demikian pula bacaan ruku’ dan sujud sekaligus yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir-akhir hidupnya yaitu ketika mendapatkan ayat Allah yang turun ketika itu dalam surat An Nashr.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا. النصر: 3

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan minta ampunlah, sesungguhnya Dia maha menerima taubat. (an-Nashr: 3)

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk membaca dalam ruku’ dan sujudnya: subhanakallahumma rabbana wabihamdika allahummaghfirli.
Dengan demikian sangat jelas sekali bagi orang yang membaca dan mengikuti al-Qur’an dengan benar bahwa shalat adalah satu ibadah tertentu, dengan gerakan tertentu, pada waktu tertentu dan bacaan tertentu pula. siapa yang telah mengikuti apa yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya maka ia telah melaksanakan semua perintah Allah di atas. Sedangkan mereka yang mengingkari sunnah dan meninggalkan ibadah shalat, kapan mereka melaksanakan perintah-perintah Allah di atas?!

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 141/Th. III 29 Jumadil ula 142 H/15 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..

Kebodohan Ingkarus Sunnah (Bagian 3)

Kebodohan Ingkarus Sunnah III (Al-Qur’an Terpelihara Lafal dan Maknanya)

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Setelah kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menjelaskan makna-makna al-Qur’an, maka Allah pun menjaga keotentikan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjamin terpeliharanya al-Qur’an secara lafadh dan maknanya. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ. الحجر: 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-dzikra (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr: 9)

Tentunya penjagaan ini tidak hanya pada lafadznya. Apa jadinya jika al-Qur’an terjaga lafadznya tetapi tidak terjaga makna-maknanya? Bagaikan penemuan lafadz-lafadz asing peninggalan jawa kuno atau mesir kuno dalam keadaan tidak ada yang mampu memahaminya.. Atau dipahami makna-makna kalimatnya tetapi tidak dipahami maksud-maksudnya sehingga manusia berselisih dan bertikai dalam memahaminya.
Sungguh tidak demikian dengan al-Qur’an! Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula bahasa Arabnya yang sampai hari ini masih dipakai dan dipergunakan. Demikian pula Allah memelihara al-Qur’an dengan memelihara pula maksud-maksudnya dan contoh-contoh prakteknya yang terkandung dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Alhamdulillah. Sehingga al-Qur’an terjaga secara lengkap lafadh, makna dan contoh prakteknya.

Oleh karena itulah Allah menyebut dalam kalimat di atas dengan kalimat “Adz-Dzikra” (peringatan) yang tentunya mencakup al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai bukti kita lihat kalimat yang sama pada ayat lain sebagai berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاًّ نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. النحل: 43

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai adz-dzikra (pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (an-Nahl: 43)

Apakah “ahludz dzikri” adalah orang yang hanya mengerti al-Qur’’an secara lafadz-lafadznya saja? Atau para ulama yang memahami al-Qur’an, al-Hadits dengan keterangan tafsir dan penjelasanya dari para sahabat, tabiin dan para Ulama? Tentu saja yang dimaksud adalah yang kedua yaitu para ulama yang mengerti ilmu agama secara lengkap.

Para pengingkar sunnah rupanya terpengaruh dengan racun-racun orientalis yang berupaya untuk membuat keraguan terhadap keotentikan hadits. Mereka mengatakan bahwa “hadits ditulis setelah sekian puluh tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Atau syubhat Syi’ah rafidhah yang mengatakan: “para sahabat adalah para politikus yang berebut kekuasaan maka mereka berlomba-lomba membuat hadits palsu untuk mendukung pribadinya”. Dan lain-lain.
Untuk membantah syubhat syi’ah cukup dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang memuji para shahabat dan menyebutkan keutamaan mereka.

Mengapa mereka membedakan al-Qur’an dan al-hadits padahal keduanya sampai kepada kita dengan cara yang sama yaitu dengan cara periwayatan?
Kalau alasan mereka bahwa al-Qur’an telah tercatat semasa nabi masih hidup, maka kita katakan bahwa al-hadits pun tercatat semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika alasan mereka bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, maka kita katakan bukankah hadits pun banyak yang diriwayatkan secara mutawatir?

Syubhat Orientalis
Sesungguhnya mereka para pengingkar sunnah adalah buah hasil upaya pengkaburan yang dilancarkan oleh orientalis barat. Mereka mengatakan: “Hadits-hadits ditulis setelah 90 tahun wafatnya Rasulullah, setelah banyak yang terlupakan dan hilang sehingga hadits-hadits seringkali melampaui batas dan berlebih-lebihan”.

Yang mereka maksud –sepertinya— adalah bahwa masa penulisan hadits secara resmi dengan perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Padahal bukan berarti tidak ada para shahabat yang menulis secara pribadi, seperti tulisan Abdullah bin Amr bi Ash yang catatan-catatannya dia beri nama ash-Shadiqah.
Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa kali menyuruh untuk menulis masalah-masalah fiqih seperti masalah zakat, perjanjian Hudaibiyah, khutbah beliau dan lain-lain. Di antaranya ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,:

أُكْتُبُوْا ِلأَبِي شَاهٍ. رواه البخاري

Tulislah untuk Abi Syah! (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 1 hal. 278)

Shahifah ash-Shadiqah
Adapun penulisan hadits oleh Abdullah bin Amr bin Ash adalah dengan izin khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disebutkan dalam riwayat Bukhari dari Wahb bin Munabbih dari saudaranya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِ صلى الله عليه وسلم أَحَدٌ أَكْثَرُ حَدِيْثًا عَنْهُ مِنِّي إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُوا فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ. رواه البخاري مع الفتح ج 1 رقم 113 ص 279

“Tidak ada seorang pun yang lebih banyak riwayat haditsnya daripada aku kecuali yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia dulu menulis, sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari juz 1 hal. 279)

Ibnu Hajar dalam Syarhnya menukil lafadh lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Abdullah bin Amr bin Ash:

مَا كَانَ أَحَدٌ أَعْلَمَ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنِّي إِلا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ بِيَدِهِ وَيَعِيهِ بِقَلْبِهِ وَكُنْتُ أَعِيهِ بِقَلْبِي وَلاَ أَكْتُبُ بِيَدِي وَاسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكِتَابِ عَنْهُ فَأَذِنَ لَهُ. رواه أحمد والبيهقي والعقيلي، انظر فتح الباري ج 1 ص 280

Tidaklah seorang pun yang lebih mengetahui hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam> dariku kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Amr bin Ash. Karena dia menulis dengan tangannya dan memahami dengan hatinya. Sedangkan aku memahami dengan hatiku tapi aku tidak menulis dengan tanganku. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk menulis ucapan-ucapannya. Maka Rasulullah pun mengizinkannya”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan al-Uqaili dengan sanad yang hasan).

Demikian pula diriwayatkan langsung dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa dia berkata:

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ. رواه أحمد وأبو داود، انظر فتح الباري ج 1 ص 281

Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku seraya berkata: “Apakah engkau menulis segala sesuatu dari Rasulullah, padahal dia manusia yang berbicara kadang marah, kadang ridha?” Aku pun berhenti menulis dan aku sampaikan kejadian itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata seraya mengisyaratkan dengan jarinya ke mulut beliau: “Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku ini kecuali kebenaran”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Oleh karena itu para ulama memadukan riwayat-riwayat di atas dengan riwayat larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis selain al-Qur’an, yaitu:

لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي. رواه مسلم

Jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an! Barangsiapa yang menulis selain al-Qur’an hendaklah menghapusnya! (HR. Muslim)

Mereka memadukannya dengan beberapa pendapat. Di antaranya mereka ada yang menyatakan bahwa hadits larangan tersebut terbatalkan dengan hadits diizinkannya menulis hadits. Yang demikian karena hadits yang melarang penulisan hadits terjadi pada awal sejarah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan diizinkannya menulis terjadi pada masa-masa akhir ketika sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an sudah turun.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 457.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwasanya hadits yang melarang adalah melarang untuk mencampurkannya dalam satu catatan antara al-Qur’an dan hadits. Demikian pula pendapat yang lain bahwa larangannya adalah umum sedangkan kebolehannya adalah khusus bagi Abdullah bin Amr bin Ash, sehingga dengan ini kekhawatiran tercampurnya al-Qur’an dan hadits hilang. (Lihat Fathul Bari, juz 1 hal. 281)

Semua ini menunjukkan bahwa hadits pun sudah ada yang tercatat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Maka tidak ada yang meragukan keotentikan hadits yang memang telah terbukti kebenarannya riwayatnya, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit seperti para orientalis kafir, Syi’ah Rafidhah dan para pengingar sunnah.

Catatan para shahabat
Apalagi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, yang berarti seluruh ayat-ayat al-Qur’an telah turun secara lengkap, maka para shahabat pun sepakat memahami bolehnya mencatat hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat itu muncullah berbagai macam shahifah-shahifah yang merupakan catatan para shahabat yang mereka tulis di dalamnya ucapan-ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti shahifah Abu Hurairah yang diberi nama ash-Shahifah dan disalin ulang serta diriwayatkan oleh muridnya Hammam ibnu Munabbih. Demikian pula shahifah-shahifah lain seperti Shahifah Sa’ad bin Ubadah al-Anshari, Shahifah Abu Musa al-Asy’ari, Shahifah Jabir bin Abdullah, Shahifah Abdullah bin Abi Aufa dan lain-lain. Bahkan di antara salinan buku-buku tersebut kini masih ada dan terpelihara di museum-museum Eropa. Semestinya para orientalis itu sudah mengetahuinya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Shahifah Abdullah bin Amr bin Ash diriwayatkan oleh cucunya Amr bin Syuaib dari ayahnya dari beliau radhiallahu ‘anhu. Maka hadtis ini adalah hadits yang tershahih. Bahkan sebagian ulama ahlul hadits menjadikannya sederajat dengan sanad Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar (rantai emas). (Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 458)

Riwayat di atas dikatakan tershahih, karena rantai para perawinya hanya ada 3 orang dan semuanya terpercaya.
Apakah setelah penjelasan ini para pengingkar sunnah masih ragu-ragu terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sungguh tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak hadits, kecuali kemalasan mereka untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena pada intinya semua yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara rinci perintah dasarnya ada dalam al-Qur’an. Seperti perintah untuk menegakkan shalat lima waktu dengan rincian-rinciannya. Kalau mereka jujur mengikuti al-Qur’an, niscaya mereka akan dapati semua gerakan-gerakan dan bacaanya ada dalam al-Qur-’an.
Mengapa mereka tidak shalat?

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 140/Th. III 15 Jumadil ula 142 H/01 Juni 2007 M

Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 200,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab & Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan/Abu Urwah, HP 081564634143; Sirkulasi/pemasaran: Abu Abdirrahman Arief Subekti..